Minggu, 09 Mei 2010

ADAT DAN BUDAYA SUKU BOTI


I Made Satyananda


ABSTRACTS

Botinese community is a community who is still holding on firmly to their ancestors’ traditional inheritance. Their sattlement spreads through out the range of hills with their typical houses, i.e. Ume Kbubu, as a sleeping head quarter and kitchen, Loppo, as a place for relaxation an meeting, and Eku Tefas, as a place to receive guests. All of them join the nature.. Where as they worshipped Uis Neno because he determines whether they enter the heaven or to the hell. In every meeting, the spiritual leader of the Boti Dalam always teaches his followers to use anything traditional, in the sense of using their own producs, leko ka leko hiti kun leko neis, good or not, our own products are better. Living in a mutual life is a obligation planted in their individuals concerning the cuctoms, keeping and maintaining their surrounding nature of their settlement and to keep familial relationship tie among the members of the Botinese. In their life philosophy human beeings will be able to live safely, securely, peacefully, and prosperously if they keep, maintain and preserve the forests where they rely their life on.
The key words : settlement, Botinese community.
PENDAHULUAN
Indonesia adalah salah satu negara dengan heterogenitas tertinggi di dunia, berdasarkan kenyataan negeri ini terdiri dari lebih 14.000 pulau, 570 suku bangsa dengan sistem sosial budaya yang beraneka ragam. Masing-masing suku bangsa membangun dan mengembangkan kebudayaannya sendiri melalui berbagai pengalaman sejarah yang dimilikinya dan kemampuan adaptasinya dengan lingkungan serta melalui pengetahuan yang datang dari dalam dirinya sendiri.
Koentjaraningrat (1968:146)mengemukakan perwujudan dari suatu lingkungan budaya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan warganya sebagai suatu kesatuan sosial dan kebudayaan. Manusia-manusia yang hidup bersama dalam satu kesatuan wilayah menampakkan ciri-ciri (a) cinta wilayah, (2) adanya kepribadian kelompok, (3) warganya yang saling mengenal dengan frekuensi pergaulan yang relatif besar, (4) tidak memiliki aneka warna yang besar, (5) warga umumnya dapat menghidupi sebagian besar dari lapangan-lapangan kehidupan yang ada dalam wilayah itu.
Parsudi Suparlan (1980:20), menjelaskan bahwa dalam melangsungkan kehidupannya manusia di manapun secara langsung tergantung pada lingkungan alam dan fisik tempatnya hidup. Hubungan antara manusia dengan lingkungan fisik dan alamnya tidaklah semata-mata terwujud sebagai suatu hubungan di mana manusia mempengaruhi dan merubah lingkungannya D. Forde (1963 :463) dalam bukunya Habitat, Economy and Society, mengemukakan bahwa hubungan antara kegiatan manusia dengan lingkungan alamnya dijembatani oleh pola-pola kebudayaan yang dipunyai oleh manusia.
Suku bangsa Boti merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaan, yaitu kebudayaan Boti. Meskipun demikian, dalam kesatuan kebudayaan tersebut dijumpai pula adanya sejumlah variasi dan perbedaan kesatuan kebudayaan yang khas. Berkaitan dengan hal ini Haviland (1988:334) menyatakan bahwa meskipun kebudayaan merupakan milik masyarakat, namun kerap dijumpai perbedaan-perbedaan atau variasi-variasi subkultur, yakni seperangkat norma dan pola perilaku budaya tertentu yang diikuti oleh suatu kelompok dalam masyarakat yang lebih luas.
Pemukiman memiliki karakteristik, yaitu gambaran atau kenampakan tertentu menjadi ciri khas dari wujud suatu pemukiman. Adanya kenampakan tertentu yang menjadi ciri khas inilah membedakan antara kelompok pemukiman satu dengan yang lainnya. Karakteristik pemukiman meliputi tipe pemukiman, serta lingkungan pemukiman.
Parsudi Suparlan (1977:65), mengatakan bahwa manusia sebagai mahluk hidup selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam interaksi itu manusia mempengaruhi lingkungannya dan sebaliknya manusia juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Melalui proses interaksi tersebut manusia juga banyak belajar dan memperoleh pengetahuan tentang lingkungan mereka atau mengembangkan pemikiran yang dapat dipakai sebagai model untuk melakukan kegiatan dan juga menerangkan kedudukan manusia di alam semesta ini.
Berkenaan dengan interaksi manusia dengan lingkungannya kebudayaan kerap dipandang sebagai kerangka acuan atau pedoman bagi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya, sebagaimana dinyatakan Spredley (1972) bahwa kebudayaan merupakan kerangka acuan bagi manusia untuk menanggapi lingkungannya, Demikian juga halnya dengan berbagai suku bangsa yang ada di tanah air.
Adanya variasi-variasi atau perbedaan-perbedaan subkultur yang terdapat dalam kebudayaan Timor Tengah Selatan (TTS) tidak terlepas dari latar belakang historis masyarakat pendukungnya. Pola pemukiman yang unik dan khas yang dimiliki oleh berbagai suku bangsa yang ada di berbagai daerah kiranya perlu untuk dilindungi dan dilestarikan sebagai daya tarik budaya terutama bagi wisatawan manca negara. Penelitian mengenai pola pemukiman masyarakat Boti ini dilaksanakan di dusun Boti Dalam Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
Konsep yang tercakup dalam suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan ”kesatuan kebudayaan”, sedangkan kesadaran dan identitas tadi seringkali (tetapi tidak selalu) dikuatkan oleh kesatuan bahasa juga. Dengan demikian ”kesatuan kebudayaan” bukan suatu hal yang ditentukan oleh orang luar, melainkan oleh warga kebudayaan bersangkutan sendiri (Koentjaraningrat, 2000:264). Dalam kenyataan, konsep ”suku bangsa” lebih kompleks daripada apa yang terurai di atas. Hal ini disebabkan karena dalam kenyataan batas dari kesatuan manusia yang merasakan diri terikat oleh keseragaman kebudayaan itu dapat meluas atau menyempit tergantung pada keadaan.
Mengacu pendapat Leibo (1990), dengan tipe pemukiman yang disebut The line Village – yakni tipe desa dengan pemukiman penduduk bersifat linear. Rumah-rumah penduduk dibangun berjejer saling berhadapan dengan bentuk dan struktur bangunan yang seragam. Antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya tidak dipisahkan oleh tembok penyengker (tembok keliling) yang tinggi, sehingga pemukiman penduduk secara keseluruhan tampak seolah-olah terdiri dari satu bangunan rumah panjang.
Pola pemukiman mencerminkan pola hubungan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan, serta manusia dengan Sang Maha Pencipta. Hal ini sangat berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan akan perlindungan, baik nyata dan kepercayaan, serta pengaruh iklim dan cuaca, kebutuhan akan istirahat, dan kepraktisan pergi ke ladang, dan lain-lain.
Sehubungan dengan itu, lingkungan alam akan berfungsi sebagai penentu yang akan menentukan kehidupan berikutnya., diterminisme lingkungan yang melihat bahwa populasi manusia dengan perkembangan budayanya sangat ditentukan oleh lingkungan alamnya, secara bertahap sudah mulai ditinggalkan, mengingat dalam kenyataannya yang lebih berperan dalam lingkungan tersebut adalah manusia.
Meskipun lingkungan dapat mempengaruhi pola-pola kebudayaan dengan menghadirkan berbagai kendala, akan tetapi lingkungan sendiri tidak akan bisa menciptakan fenomena-fenomena sosial budaya (Darmika, dalam Purna 2005). Hubungan manusia dipandang sebagai faktor aktif terhadap lingkungannya. Sebaliknya, lingkungan akan banyak memberikan kemungkinan terhadap perkembangan kehidupan manusia.
Koentjaraningrat (1990:48), mengatakan bahwa ekologi budaya dapat diartikan sebagai pengaruh timbal balik lingkungan alam yang telah diubah oleh kebudayaan manusia pada suatu lokasi tertentu di muka bumi. Berkenaan dengan itu dapat dikatakan bahwa kebudayaan merupakan suatu proses adaptasi dari manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Demikian juga sebaliknya keberadaan suatu lingkungan akan dapat mendorong manusia untuk menciptakan kebudayaan.
Pendekatan tentang adaptasi manusia terhadap lingkungannya, juga dikemukakan oleh Soemarwoto (1997:48), di mana menurutnya dinyatakan adanya perubahan lingkungan terhadap lingkungan baik yang terjadi dengan cepat maupun lambat orang akan berusaha mengadaptasikan dirinya dengan perubahan itu, kendatipun adakalanya orang tidak berhasil mengadaptasi perubahan itu sebagai menghasilkan sifat (prilaku) yang tidak sesuai dengan lingkungannya. Jadi apabila lingkungan mengalami perubahan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi penghuninya baik manusia maupun binatang.
Dalam tulisan ini pendekatan ekologi budaya akan dipergunakan untuk menelaah tentang adaptasi dengan lingkungan yang berubah, sehingga tetap dapat bertahan hidup dengan teknologi atau cara yang dimiliki. Demikian juga sebaliknya dalam pendekatan ini juga akan digunakan untuk menelaah tempat ataupun hutan dan bukit dalam membentuk pola tindakan dari suatu masyarakat. Karena itu kesepakatan –kesepakatan masyarakat sebagai general agreement perlu didukung oleh kemampuan adaptasi manusia terhadap lingkungan yang berubah sehingga tetap dapat bertahan hidup dengan teknologi atau pengetahuan lokal yang dimilikinya. Demikian juga dalam menelaah peranan lingkungan sekitarnya, baik berupa air, tanah maupun tumbuh-tumbuhan yang ikut membentuk pola tindakan dari masyarakat Boti, seperti halnya dalam tindakan mempertahankan keberadaan sumber air dan mencegah terjadinya erosi di tempat tinggalnya di daerah lereng bukit.
Boti adalah nama salah satu desa di Kecamatan Kie, Kabupaten Timur Tengah Selatan Nusa Tenggara Timur. Di desa ini bermukim suku asli yang hingga kini masih tetap mempertahankan tradisi nenek moyangnya, terletak pada ketinggian 1500 di atas permukaan air laut. Orbitasi Desa Boti terletak lebih kurang 12 km dari kota Kecamatan Kie dan 60 km ke arah timur dari kota Soe ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan dan dapat dijangkau dalam waktu 2,5 jam sampai 3 jam dengan kendaraan roda empat maupun roda dua, dan 174 km dari kota Kupang ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Secara administratif Boti berbatasan dengan desa Oenlasi dan Nafi di di sebelah utara, desa Belek dan Neilmesek di sebelah timur, desa Aonobenak dan Babui di sebelah selatan dan di bagian barat dengan desa Naekpumek dan desa Baki. Desa Boti yang terletak di lereng bukit dengan kondisi tanah yang berbatu memiliki sektor pertanian lahan kering atau petani ladang sebagai sektor utama dan beternak dalam sekala kecil. Produksi hasil pertanian mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama jagung yang merupakan makanan pokok masyarakat Boti. Jumlah penduduk Desa Boti berdasarkan profil desa Boti 2006 adalah 2.135 jiwa terdiri atas 1035 jiwa laki-laki dan 1100 jiwa perempuan atau terdiri dari 519 Kepala Keluarga.
Dalam pendidikan penduduk masyarakat Desa Boti belum begitu maju, karena sebagian besar penduduk khususnya Boti Dalam dengan tradisi kuno melarang keturunannya untuk bersekolah, kalaupun mereka bersekolah hanya pada tingkat sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama, hanya beberapa orang saja yang tamat sampai ke sekolah lanjutan tingkat atas. Mengenai saran pendidikan yang ada di Desa Boti terdiri dari tiga sekolah dasar ( SD ) SD Negeri 1 Boti , SD Inpres dan SD Gemit yaitru sebuah sekolah dasar yayasan gereja Protestan Boti.
Kondisi alam Desa Boti yang terdiri dari pegunungan dan perbukitan dengan struktur tanah yang miring dengan kesuburan yang rendah, penduduk dituntut untuk bisa beradaptasi dengan alam. Hal ini dapat dijumpai dari sistem mata pencaharian penduduk yang umumnya bermata pencaharian bertani dengan sistem berkebun dan berladang pada lereng-lereng bukit dan pegunungan.
Di samping bertani masyarakat suku Boti juga mengusahakan berbagai jenis ternak dalam upaya menambah penghasilan. Terna-ternak yang dipelihara seperti sapi, babi, dan ayam. Hewan-hewan ini biasanya untuk dijual atau dikonsumsi sendiri. Di Desa Boti juga berkembang pengrajin-pengrajin kecil khususnya kerajinan tenun sebagai pekerjaan sampingan.


PEMBAHASAN
A. Sistem Religi
Kepercayaan (religi) masyarakat adalah paham yang bersifat dogmatis, terjalin dalam adat istiadat hidup sehari-hari dari berbagai suku bangsa yang mempercayai apa saja yang dipercayai oleh nenek moyangnya. Berbagai kebudayaan yang ada di muka bumi ini menganut kepercayaan bahwa dunia gaib dihuni oleh berbagai mahluk dan kekuatan yang tidak bisa dikuasai oleh manusia dengan cara-cara biasa. Karena itu dunia gaib biasanya ditakuti manusia (Koentjaraningrat, 1998: 203 ).
Masyarakat suku Boti Dalam sesungguhnya menganut sistem kepercayaan yang pada hakekatnya juga mengenal bahkan meyakini bahwa hidup ini diatur oleh tiga kekuatan seperti : Uis Neno, Uis Pah dan roh arwah leluhur ( Nitu ). Mereka sangat teguh mempertahankan dan melaksanakan aliran kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyangnya atau leluhurnya. Kepercayaan mereka diwujudkan dengan berbagai upacara adat yang masih terjaga dan terpelihara di daerah tersebut. Di sekeliling mereka hidup masyarakat lain yang sudah menganut agama Kristen (Protestan dan Katolik). Meskipun demikian, warga suku Boti di daerah ini masih setia dengan aliran yang dianut oleh para leluhur mereka. Meskipun berbeda aliran kepercayaan, namun dalam kehidupan sehari-hari warga dusun Boti Dalam ini menjunjung tinggi sikap toleransi, antara warga suku Boti Dalam dengan kepercayaan asli dengan warga masyarakat Boti yang sudah menganut agama.
Sesuai dengan ajarannya, warga suku Boti percaya bahwa apa yang dibuat manusia selama manusia hidup di dunia akan ikut menentukan jalan hidupnya di akhirat nanti. Sikap hidup baik dan benar semasa di dunia akan menuntun manusia kepada kehidupan yang kekal. Dalam kehidupan sehari-hari warga suku Boti yang masih teguh dengan ajaran leluhurnya, selalu dituntun oleh kepala sukunya agar selalu berbuat baik terhadap sesama, terhadap lingkungannya dengan menjaga, merawat dan melestarikan hutan yang semuanya itu merupakan suatu persembahan yang mulia kepada Uis Pah dan Uis Neno. Mereka yakin bahwa dengan begitu akan memperoleh pahala dari Sang Pencipta berupa berkat, perlindungan dan keselamatan, atau malah sebaliknya mendapat murka jika mereka berbuat jahat.

B. Adat dan Budaya
Budhi Santoso dalam Mone Kaka (2007:104), mengemukakan bahwa kehidupan suatu masyarakat secara garis besar mematuhi seperangkat tata tertib yang disebut adat istiadat. Kenyataannya adat istiadat merupakan cita-cita, norma-norma, pendirian dan sebagainya yang mengatur tingkah laku manusia. Dalam pengendalian sosial (social control) tercakup pengetahuan teknis dan empiris yang memungkinkan orang menanggapi lingkungan dalam arti luas secara efektif. Di samping pengetahuan empiris, tidak kalah pentingnya unsur non empiris yang seringkali dilandasi emosi yang kuat, yang mengatur tingkah laku keagamaan serta dikaitkan dengan dunia gaib. Pengetahuan empiris dan non empiris tersebut tertuang dalam etika, hukum, moral dan mitologi yang memperkuat dorongan atau larangan bagi orang untuk berbuat sesuatu. Boleh dikatakan bahwa pengendalian sosial merupakan faktor penertiban dalam suatu komunitas. Salah satu cara pengendalian sosial yang bermakna bagi kearifan lokal pada masyarakat Boti adalah sanksi yang dijatuhkan terhadap seseorang yang melakukan pelanggaran terhadap norma adat, misalnya kasus tindak kejahatan pencurian.
Jika seseorang melakukan pencurian ternak, hasil kebun atau harta benda lainnya, maka sanksinya bukan dengan hukuman fisik apalagi diproses secara hukum. Dalam hal pemberian sanksi kepada pelaku pencurian, para tetua adat suku Boti Dalam sangat menjunjung tinggi aturan adat dan ajaran kepercayaan mereka bahwa kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan. Dalam penyelesaian kasus tindak kejahatan pencurian, justru pelakunya sangat ”diuntungkan”. Pelaku malah diberikan harta berlipat ganda oleh tua-tua adat sesuai dengan jenis barang atau harta yang diambil oleh pelaku.
Menurut pemahaman masyarakat suku Boti Dalam berdasarkan aturan adat dan ajaran kepercayaan bahwa kejahatan jangan dibalas kejahatan dalam arti bila seorang manusia membuat pelanggaran karena secara terpaksa dan bukan dari niat pelakunya, tidak diberikan sanksi kurungan atau denda secara adat sebagaimana lazimnya dalam adat istiadat lainnya.
Filosofinya adalah jangan memperlakukan sesama yang sudah dalam kesulitan bertambah sulit. Tapi berilah ”Roh Kepercayaan” dan semangat baru, agar pelaku kejahatan dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan tidak mengulangi lagi perbuatan yang salah. Apabila seseorang mencuri satu ekor ayam, oleh tua-tua adat atau masyarakat suku Boti Dalam, akan memberikan beberapa ekor ayam kepada pelakunya. Atau bagi yang melakukan pencurian pisang, maka warga suku Boti Dalam secara bergotong royong menanam anakan pisang di kebun pelaku sehingga dapat memberikan efek jera bagi yang melakukan pencurian.
Atas dasar pengalaman tersebut, hingga kini orang-orang yang berasal dari luar suku Boti menjadi jera dan tidak pernah lagi melakukan pencurian terhadap masyarakat suku Boti Dalam.
a. Adat Perkawinan
Bagi warga masyarakat Boti Dalam, adat kawin mawin atau perkawinan secara adat hanya berlangsung di lingkungan sesama sukunya. Bila ada pria (laki-laki) dari luar suku Boti Dalam yang jatuh hati dengan wanita asli suku Boti Dalam dan bila berniat untuk memperistrinya, maka pria tersebut harus berjanji bahwa ia bersedia mengikuti tradisi Suku Boti Dalam. Demikian juga sebaliknya, bila terjadi ada gadis suku Boti Dalam menjalin hubungan dengan laki-laki diluar sukunya, maka dia hanya diperkenankan menetap di kampung adat Boti Dalam, apabila pria idamannya itu ikhlas untuk mengikuti adat istiadat suku Boti Dalam dan tinggal dalam lingkungan suku Boti Dalam.
Adat perkawinan suku Boti Dalam terdiri dari beberapa tahapan yang membutuhkan proses waktu 3 tahun lamanya, mulai dari proses melamar (masuk minta) hidup berkeluarga, sampai dengan peresmian adat setelah 3 tahun, kedua anak manusia tersebut tinggal serumah.
b. Masuk Minta
Untuk memperoleh seorang istri yang akan mendampingi hidupnya dalam rumah tangga, pertama-tama keluarga anak laki-laki yang diwakili seorang tetua adat, menghadap orang tua si gadis. Setelah kedua belah pihak saling melakukan tegur sapa, maka keluarga anak laki-laki segera mengutarakan isi hatinya menurut tutur adat setempat, bahwa kehadiran mereka untuk mencari tahu, apakah anak gadisnya sudah mempunyai calon suami atau belum.
Jika jawaban yang diperoleh, ternyata si gadis telah dilamar orang, maka pembicaraan lebih lanjut tidak dapat diteruskan. Namun apabila jawabannya belum ada yang melamar atau belum mempunyai jodoh, maka pada saat itu juga keluarga laki-laki akan menyampaikan maksudnya bahwa kedatangan mereka itu untuk melamar anak gadisnya.
c. Ikatan Adat
Apabila orang tua si gadis menerima lamarannya, maka acara berikutnya adalah pihak keluarga laki-laki menyerahkan syarat adat sebagai ikatan berupa 1 botol gula air (minuman tradisional yang berasal dari pohon nira) disertai 1 keping uang logam perak bernilai 25 rupiah atau 50 rupaih. Hanya inilah persyaratan adat yang diserahkan kepada keluarga perempuan.
Setelah menyerahkan syarat adat tersebut, maka orang tua si gadis dengan rela hati akan menyerahkan anaknya tinggal serumah dengan laki-laki yang melamarnya. Namun sebelumnya kepada pasangan baru yang akan mengarungi bahtera rumah tangga, diberikan nasehat khusus oleh orang tua mereka masing-masing, yang intinya sama yaitu agar mereka bahu membahu bekerja keras memeras keringat mengolah hidupnya sehingga kelak dapat menjadi manusia yang berguna. Kepada mereka juga diingatkan agar mematuhi aturan adat, selalu berbuat baik kepada sesama, menjaga dan merawat lingkungan alam sekitar, tidak merusak hutan atau membunuh binatang yang ada di dalamnya, hemat dalam hidup, menabung bila ada kelebihan apabila ada kesulitan sudah ada persediaan
d. Tinggal Serumah
Setelah mendapat restu dari kedua orang tua si gadis bahwa secara adat mereka boleh tinggal serumah, maka sejak itu bahtera rumah tangga dijalani. Seperti sebuah permulaan yang sulit, maka mereka harus memulai dari bawah yaitu membongkar tanah, membersihkan akar-akar rumput, memberi pupuk, menanti musim hujan, kemudian menanaminya dengan berbagai jenis bibit. Ketika bibitnya tumbuh, mereka harus membersihkan rumput, menggemburkan tanahnya, menjaganya agar tidak diganggu hama dan penyakit.
Bila tiba saatnya musim panen, dan upacara adatnya telah dilaksanakan, mereka harus bekerja keras mengumpulkan hasilnya, membersihkan dan menyimpan selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari harus pandai mengatur, mana yang bisa dijual untuk membeli kelengkapan alat rumah tangga atau kebutuhan hidup lainnya. Namun tidak boleh dilupakan, mereka harus mengaturnya dengan baik, agar persiapan syukuran adat setelah 3 tahun hidup berkeluarga dapat terlaksana karena merukapan kewajiban yang harus dilaksanakan, sebagaimana yang telah diikrarkan bersama dihadapan kedua orang tuanya. Apabila sampai terjadi ikrar tersebut tidak dilaksanakan, maka hidup mereka tidak akan luput dari musibah dan bencana, entah berupa sakit, penderitaan maupun gangguan lainnya.
e. Syukuran Adat
Setelah tiga tahun mengarungi bahtera rumah tangga, tiga tahun lamanya menyusun ekonomi rumah tangga, banyak suka dan duka dilalui, itulah kehidupan yang tidak akan terbebaskan dari sisi gelap dan terang dalam hidup berumah tangga menurut masyarakat suku Boti. Sebagai sebuah keluarga yang bernaung di bawah aturan adat, upacara syukuran setelah tiga tahun hidup berkeluarga mutlak harus dilaksanakan karena itu semua bahan yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pesta adat tersebut jauh-jauh hari telah dipersiapkan dan merupakan tanggung jawab kelurga baru tadi.
Setelah pesta selesai dilaksanakan, maka resmilah kedua anak manusia ini menjadi suami istri yang sah menurut hukum adat Boti, dan ini berarti proses waktu yang dibutuhkan oleh warga suku Boti untuk dapat hidup secara sah sesuai adat istiadat yang diwariskan leluhurnya adalah 3 tahun lamanya.
f. Upacara Menyambut Kelahiran
Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran seorang bayi bagi sebuah keluarga suku Boti diterima sebagai berkat paling berharga dari Tuhan Maha Pencipta. Masyarakat suku Boti menyambutnya dengan penuh rasa syukur melalui sebuah upacara adat. Pada saat melahirkan, menurut adat suku Boti, sang ibu dan bayinya, hanya tinggal dalam rumah selama 4 hari, bersama seorang pembantu wanita yang secara khusus ditugaskan untuk menjaga, melayani dan merawatnya. Ada sebuah syarat lain yang dijalankan selama 4 hari tersebut, bahwa tempat pembaringan ibu dan bayinya di tempatkan di dekat tungku api yang baranya selalu menyala.
Menurut kepercayaan warga Boti, kehangatan api bagi si bayi dan ibunya adalah untuk mendapatkan kekuatan, memulihkan tenaga, memberikan semangat hidup. Empat hari beristirahat bagi sang ibu merupakan saat untuk mengembalikan kelelahan tubuh yang amat menegangkan dalam hidupnya. Sedangkan 4 hari bagi si bayi merupakan kesempatan pertama menikmati dunia baru, di mana ia mendapat kekuatan dari kehangatan pelukan dan air kehidupan dari susu ibunya. Saat ini ia dengan bebas menangis, meronta-ronta semaunya. Dan setelah 4 hari berlalu, ibu bersama bayinya diperkenankan keluar rumah setelah melaksanakan upacara adat.
Setelah empat hari lamanya mengurung diri di dalam rumah, ibu bersama bayinya akan diterima dengan upacara adat yang telah dipersiapkan para tetua adat setempat. Untuk pesta syukuran ini semua keperluan upacara telah dipersiapkan sebelumnya.
Ketika saatnya tiba, ibu bersama bayinya ditemani pembantu yang merawat mereka, telah siap berdiri di depan pintu rumah bagian dalam, sementara di luarnya telah menanti para tetua adat yang siap menyambutnya. Pada saat inilah berlangsung tegur sapa dalam bahasa Timor yang terjemahannya sebagai berikut :
Tua Adat (TA) : Kamu berasal dari mana, Ibu Bayi (IB) : kami berasal dari
Lunu
Tua Adat (TA) : Kamu hendak kemanaIbu Bayi (IB) : kami ingin ke Seki
Tua Adat (TA) : Untuk apa kamu ke sana Ibu Bayi (IB) : Mau memetik sirih
dan pinang, Tua Adat (TA) : kamu datang membawa apa
(kalau bayinya perempuan ibunya akan menjawab)
Ibu Bayi (IB) : Kami datang membawa Ike dan Suti (peralatan menenun)
Tua Adat (TA) : Bekerjalah dengan sepenuh hati untuk memperindah
hidupmu
(kalau bayinya laki-laki ibunya akan menjawab)
Ibu Bayi (IB) : Kami datang membawa parang dan kapak
Tua Adat (TA) : Bekerjalah dengan sungguh-sungguh agar hidupmu berhasil

Setelah dialog singkat usai, ibu bersama bayinya keluar dari dalam rumah, menyalami tetua adat yang telah menanti di luar bersama warga setempat, sambil menikmati sirih pinang yang disuguhkan. Selanjutnya ia diantar menuju sungai (mata air) Sesampainya di tempat ini sang ibu mencelupkan kedua kakinya dalam air, kaki bayinya kemudian dibasuh. Setelah semuanya dijalani, mereka akan kembali ke rumah, disambut keloneng gong dan gedebam tambur, sebagai pertanda warga ikut bersuka cita, karena telah bertambah satu lagi jumlah penduduk Suku Boti. Pada kesempatan ini pada pergelangan tangan dan kaki si bayi dilingkar seutas benang berbentuk gelang sebagai simbol bahwa bayinya belum mempunyai nama panggilan. Ini berarti ia harus menanti sampai usianya sudah empat bulan, barulah berhak memperoleh nama panggilan sendiri.
Setelah bayi berumur 4 bulan, maka akan dilangsungkan upacara pemberian nama, yang dipimpin oleh tetua adat setempat. Di rumah orang tua si bayi, telah dibentangkan selembar tikar yang di atasnya tersedia 2 buah tempurung berisi air yang telah diberi doa secara adat. Dihadapan warga yang hadir, air dalam tempurung kemudian dipercikkan kepada si bayi yang dilakukan oleh tetua adat. Untuk memulai acara pemberian nama, syaratnya harus menunggu bayinya menangis. Di saat sedang menangis, masing-masing warga yang hadir secara bergiliran mengucapkan nama-nama yang ada hubungannya dengan silsilah keturunan warga Suku Boti seperti, Molo, Nune, Heka, Tosi, Woi, dan yang lainnya.
Pada saat penyebutan salah satu nama tadi bila tiba-tiba si anak berhenti menangis, maka nama yang disebutkan terakhir itulah yang akan ditetapkan sebagai nama dari bayi tadi. Nama inilah yang nantinya menjadi nama panggilan bagi si bayi sepanjang hidupnya. Menurut kepercayaan masyarakat Suku Boti, ada makna yang tersirat dibalik sikap menangis dan berhenti menangis dari si bayi yang masih suci jiwanya. Menangis berarti ia meminta diberi nama, Berhenti dari menangis pertanda ia senang dengan nama yang diucapkan terakhir itu.
Potong rambut atau cukur rambut yang dilakukan terhadap anak-anak suku Boti telah berlangsung sejak turun temurun. Anak-anak yang lahir baru akan dicukur rambutnya apabila ibunya telah hamil lagi. Apabila kita melihat seorang anak dari suku Boti rambutnya dicukur, ini merupakan pertanda bahwa ibunya sedang hamil. Menurut kepercayaan masyarakat suku Boti, kematian merupakan bagian dari kehidupan. Hidup dan mati merupakan satu kesatuan yang tak dapat dihindarkan oleh setiap manusia. Sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya, kematian bukanlah akhir dari segalanya, sebab dibalik kematian ada kehidupan yang baru.
Dalam pengertian yang lebih dalam, mereka mempercayai, apa yang telah diperbuat oleh manusia selama hidup di dunia, akan menentukan jalan hidupnya sesudah mengalami kematian. Semua perbuatannya selama hidup di dunia entah baik ataupun jahat, akan selalu diketahui oleh Uis Pah dan Uis Neno, dan hanya perbuatan yang baik sajalah yang akan diterima oleh Sang Pencipta, sedangkan perbuatan jahat akan mendapat hukuman atau ganjaran. Karena itu peristiwa kematian bagi suku Boti merupakan kenyataan yang harus diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia dan harus diupacarakan secara adat.
Bila ada warga yang meninggal dunia, maka keluarga duka akan segera menyampaikan peristiwa kematian tersebut kepada kepala suku Boti Dalam dan meminta petunjuk lebih lanjut untuk acara penguburannya. Sesuai dengan adat yang berlaku, setiap warga suku Boti Dalam yang meninggal dunia, tidak boleh jenazahnya disimpan lebih dari satu hari, artinya paling lama satu hari harus sudah dikebumikan.
Orang Boti Dalam yang meninggal dunia mayatnya tidak boleh dimasukkan ke dalam peti, mereka hanya menggunakan 2 batang kayu bulat yang digunakan untuk mengusungnya. Sebelum jenazah dikuburkan, terlebih dahulu saudara perempuan dari orang yang meninggal dunia membuang uang perak 100 rupiah ke tanah. Uang ini kemudian dipungut oleh Toinamaf (orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab sekaligus pemimpin upacara).
Toinamaf kemudian berjalan paling depan menuju ke tempat pelaksanaan pemakaman suku Boti Dalam yang bernama Ayo Fanu, diikuti oleh pengusung mayat dan warga lainnya. Setibanya di lokasi, toinamaf membuat goresan di tanah dengan uang seratus perak tadi, sebagai isyarat bahwa di situlah tempat kuburnya mayat tersebut. Secara serempak warga yang sudah ditugaskan langsung menggali di tempat toinamaf menggoreskan uang tadi.
Selesai menggali liang lahat, toinamaf membuang uang 100 perak tadi ke dalam liang kubur, disusul jenazah. Setelah ditutup dengan tanah, di atas makam diletakkan 1 tandan pisang, 2 buah kelapa, 7 bulir jagung dan 1 ekor anak babi yang telah dibunuh. Tujuannya adalah agar bahan makanan tadi menjadi bekal bagi orang yang meninggal menuju alam baka. Ketika acara penguburan selesai dilaksanakan, Toinamaf bersama warga suku lainnya kembali ke rumah duka untuk mengikuti acara lanjutan, antara lain menikmati makanan, dan minuman yang telah disiapkan. Pada kesempatan ini dibicarakan pula hal-hal yang berhubungan dengan rencana mengadakan upacara adat berikutnya.
Pada hari keempat keluarga duka kembali membuat upacara adat dengan membunuh dua ekor babi, satu besar dan satu kecil. Babi besar untuk jamuan makan bersama, sedangkan babi kecil untuk disimpan dalam rumah duka. Bersamaan dengan ini juga disiapkan dua buah tempat sirih pinang (okomama). Tempat sirih pinang tersebut yang satu untuk kaum wanita yang namanya okusloi dan satu lagi untuk kaum laki-laki yang disebut alumama. Kedua tempat sirih pinang ini digantung pada sebatang tiang yang ada dalam rumah keluarga duka. Dan alat-alat yang digantung ini baru dapat dibuka setelah 3 tahun peringatan meninggalnya anggota keluarga mereka. Setelah penantian yaitu 3 tahun meninggalnya anggota keluaga mereka, diselenggarakan acara adat untuk memperingatinya. Pada kesempatan ini tempat sirih pinang yang digantung pada tiang rumahnya, diturunkan dan dibuka isinya kemudian dibagi-bagikan kepada anak-anak yang mempunyai hubungan kerabat dengan orang yang meninggal.
Menurut keyakinan warga suku Boti, orang yang sudah meninggal mempunyai tanggung jawab menjaga dan menyuburkan lingkungan hutan di sekitarnya. Karena itu, di pekuburan ayofanu, warga setempat selalu membersihkannya dan menanaminya dengan berbagai jenis pepohonan. Pada setiap musim panen yang berlangsung setahun sekali, segenap warga Boti selalu menyambutnya dengan mengadakan upacara adat yang dipimpin langsung oleh kepala Suku Boti. Sebelum upacara dimulai, segenap warga Boti dilarang menikmati hasil panen mereka yang ada di kebun masing-masing. Apabila ada warga yang melanggar aturan adat ini, maka yang bersangkutan akan mendapat hukuman, berupa sakit atau musibah dalam hidupnya. Upacara panen ini berlangsung di hutan Fainmaten, tempat khusus bagi suku Boti untuk mengadakan doa dan persembahan kepada Uis Pah dan Uis Neno. Bahan-bahan yang dipergunakan antara lain sejumlah alat masak-memasak, peralatan makan dan minum, beras, babi, kambing dan sapi. Hewan-hewan ini akan disembelih sebagai hewan kurban, bagian dari syarat adat, juga disiapkan batangan jagung berbulir, tepung jagung dan jagung titi dicampur beras yang disimpan dalam tempat khusus. Bagi warga suku Boti, hutan fainmaten, dianggap sebagai hutan keramat yang tidak boleh dimasuki oleh kaum perempuan. Karena itu yang memasak dan melayani dan mengikuti upacara syukuran panen di hutan fainmaten adalah kaum laki-laki.
Doa syukur ini dipimpin langsung oleh kepala suku Boti sambil berdiri di depan tola yaitu altar adat, yang terbuat dari sebatang kayu yang berdiri tegak dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan dasarnya tertanam dalam tanah. Di sekitar kayu tegak tersebut, disusun batu-batu ceper, sebagai tempat untuk menyimpan bahan-bahan persembahan, sambil meniupkan seruling yang selalu bergantung di lehernya. Segenap warga suku Boti yang hadir dalam upacara ini sudah mengetahui maksud dari bunyi suling, dan dengan sendirinya mereka akan datang mendekat ke altar.
Setelah kepala suku memanjatkan doa-doa yang disampaikan dalam bahasa adat sebagai ungkapan syukur atas panen yang mereka peroleh, kemudian diteruskan dengan menyembelih seekor babi berbulu merah. Darah yang mengucur segera ditadah, kemudian diteteskan pada batu yang telah disiapkan dekat altar. Selanjutnya menaruh 3 genggam tepung jagung, 3 genggam jagung titi bercampur beras, masing-masing 3 kumpul di atas batu yang terletak di dekat altar. Selesai menghaturkan persembahan tadi, kepala suku Boti sebagai pemimpin upacara akan menutupnya dengan memanjatkan doa memohon kepada Uis Pah agar meneruskan doa-doa persembahan mereka yang amat sederhana kepada Uis Neno.
Selesai mengadakan doa syukur kepada Uis Pah, dilanjutkan doa syukur kepada Uis Neno yang juga dipimpin oleh ketua suku Boti. Adapun tempat melaksanakan doa ini adalah di puncak Bukit Fainmaten. Untuk mencapai tempat ini warga harus menapaki 73 anak tangga yang dibuat dari batu alam. Kepala suku berjalan paling pertama ke tempat pelaksanaan doa syukur ini. Setelah sampai di puncak bukit kepala suku akan meniup suling, sebagai pertanda bagi warga yang berada dekat altar persembahan yang berada di bawah pohon beringin tua. Setelah semua hadir, pimpinan upacara menyampaikan doa dalam bahasa adat sebagai ungkapan rasa syukur atas perlindungan dan keselamatan yang diberikan Uis Neno kepada warga Boti, melalui hasil panen yang cukup. Selesai berdoa kemudian dilanjutkan dengan menyembelih babi hitam. Darah segar yang pertama diteteskan pada batu persembahan yang sudah disiapkan dekat altar. Kemudian dilanjutkan dengan meletakkan 3 kumpul tepung jagung dan 3 jagung titi campur beras (setiap kumpul satu genggam) di batu yang telah disiapkan. Semua bahan persembahan ini disampaikan kepada Uis Neno. Sebagai penutup acara, kepala suku Boti memanjatkan doa kepada Uis Neno bahwa apa yang mereka persembahkan itu jauh dari kesempurnaan dan memehon dengan segala kerendahan hati, kiranya Sang Dewa sudi menyempurnakannya, seraya memohon berkat dan perlindungan bagi segenap warga Boti agar diajauhkan dari dosa, musibah dan aneka bencana.

C. Budaya Sebagai Potensi Pariwisata
Adat dan budaya suku Boti merupakan daya tarik wisata yang sangat diminati oleh wisatawan mancanegara meliputi arsitektur tradisional rumah, pakaian tradisional dan seni musik. Aset wisata ini dapat dikatagorikan sebagai produk budyaa fisik yang menyuguhkan sejumlah keunikan yang sangat memikat yaitu :
a. Arsitektur
Bangunan rumah tradisional suku Boti merupakan arsitektur tradisional Timor, di mana desain rumah mereka masih seperti tempo dulu. Rumah kediaman mereka baik bentuk maupun bahannya masih penuh nuansa Timor. Bahan bangunan rumahnya terbuat dari kayu, rumput ilalang, tali hutan, dan daun lontar semuanya merupakan bahan lokal.
b. Makanan Lokal
Makanan lokal yang biasa dihidangkan bagi tamu ataupun wisatawan berupa ubi kayu rebus atau bakar (laok hau) ubi jalar rebus atau lauk loli jagung rebus atau pen pasu dan yang lainnya selalu dibakar atau direbus saja. Makanan tradisional ini selalu dihidangkan dengan menggunakan sarana (piring, sendok, gelas) serba tradisional yang terbuat dari tempurung kelapa, kayu atau tanduk kerbau yang merupakan hasil kerajinan tangan mereka.
c. Pakaian Lokal
Setiap ada pertemuan, pemimpin spiritual suku Boti Dalam selalu mengajarkan kepada para pengikutnya untuk menggunakan segala sesuatu serba tradisional, dalam artian produk mereka sendiri, leko ka leko hiti kun leko neis, baik tidak baik, produksi kita sendiri lebih baik.
Dalam hal berpakaian, orang Boti Dalam selalu menggunakan pakaian adat yang merupakan hasil tenunan sendiri yang terbuat dari kapas, hasil tanaman sendiri. Pakaian adat untuk kaum laki-laki disebut Beti sedangkan untuk kaum perempuan disebut Tais. Pakaian adat tersebut berbeda-beda dalam pemanfaatannya yang disesuaikan dengan waktu kapan dipakai. Pakaian sehari-hari berbeda dengan pakaian pesta yang bisanya dilengkapi dengan berbagai perhiasan seperti aol noni (tempat sarung sirih pinang yang terbuat dari moti, suni atau pedang bagi laki-laki, pilut (destar kepala) bagi laki-laki, kil’noni (sisir kepala yang terbuat dari perak bagi perempuan) dan yang lainnya.
d. Seni Musik
Seni musik tradisional yang masih tumbuh dan berkembang dan masih dipertahankan sampai saat ini oleh masyarakat Timor pada umumnya dan Boti Dalam khususnya adalah tarian daerah (Bilut, Sbo’ot, Ma’ekat) yang diiringi dengan alat musik tradisional (leku, biyol, se’ne, feku, tufuf) dan lantunan lagu-lagu daerah Timor. Seni musik tradisional ini biasanya disuguhkan pada acara pesta atau menyambut tamu. Tamu kemudian diajak melantai bersama yang ditandai dengan pengalungan atau pelilitan selendang adat pada leher tamu tersebut.
e. Kerajinan
Pada hari kesembilan di mana masyarakat suku Boti Dalam berkumpul untuk bersembahyang dan mendengarkan nasehat dari kepala sukunya, pada hari itu pula mereka diwajibkan membawa berbagai peralatan untuk membuat kerajinan tangan seperti piring atau pi’ka, sendok atau so’ko gelas atau tu’ke yang dibuat dari tempurung kelapa atau sejenis kayu, yang biasanya digeluti oleh kaum laki-laki. Sedangkan kaum perempuan memintal benang, menenun, dan menganyam. Hasil kerajinan berupa kain adat (tai, beti alu, okomama, tuke) dan lain-lain, dikumpulkan kemudian diberi lebel nama, dipajang untuk dijual pada suatu tempat yang mereka bangun sendiri serba tradisional, mereka namakan koperasi kerajinan Boti.
Objek wisata budaya non fisik, kehidupan keseharian masyarakat animisme Boti dengan berbagai kesahajaan yang penuh nuansa budaya dalam ritual kepercayaannya, upacara pemberian nama, upacara perkawinan, dan upacara kematian yang penuh makna. Masyarakat Boti Dalam dengan segala kesahajaannya sangat ramah menerima tamu yang terekspresi lewat wajah dan perilaku yang polos, kesenangan dan keikhlasan menerima tamu. Setiap tamu group yang datang biasanya diterima di depan pintu gerbang dengan natoni (sapaan adat dalam bahasa Dawan) kemudian dikalungi selendang dan dipersilakan masuk.

D. Pola Pemukiman
Pemukiman adalah suatu bentukan artificial maupun natural dengan segala kelengkapannya yang dipergunakan oleh manusia baik secara individu maupun kelompok, untuk bertempat tinggal baik sementara maupun menetap dalam rangka menyelenggarakan kehidupannya (Yunus 1987:3).

1. Pola Perkampungan Mengelompok
Pola pemukiman atau perkampungan seperti ini terutama terdapat pada desa-desa di daerah dataran dan umumnya rumah-rumah mereka berjejer mengikuti jalan raya. Rumah-rumah dibangun pada daerah datar dan umumnya antara rumah yang satu dengan yang lainnya ada tembok pembatas yang jelas. Pemukiman seperti ini biasanya memiliki pusat desa baik berupa kantor desa maupun persimpangan jalan.

2. Pola Perkampungan Menyebar
Letak tofografi desa Boti 1500 meter di atas permukaan air laut atau berada pada daerah dataran tinggi memaksa penduduk untuk mendirikan pemukiman secara menyebar di daerah rata atau kemiringan yang cukup landai untuk menghindari adanya tanah longsor. Kondisi geografis yang demikian ini membuat masyarakat Boti Dalam menempatkan rumah adatnya baik Ume Kbubu maupun Lopo antara keluarga yang satu dengan yang lainnya letaknya cukup berjauhan. Penduduk suku Boti Dalam pola perkampungannya menyebar dan mereka membangun rumah menyatu dengan hutan yang ada di sekelilingnya. Penduduk menempatkan rumah-rumahnya sedemikian rupa berada di samping atau di bawah pohon yang cukup besar.
Menurut Filsafat hidup suku Boti, manusia akan hidup aman, tentram dan sejahtera, bila mereka menjaga, merawat dan melestarikan hutan. Hutan yang terawat dengan sendirinya akan mendatangkan awan, sebagai isyarat bahwa hujan akan menyertainya. Dengan adanya hujan (air) maka tanaman, hewan maupun manusia dapat hidup. Adanya hutan tanah menjadi subur, dan bahaya erosi dapat ditanggulangi. Bila tanah sudah subur dan hujan turun secara teratur, maka tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan panen yang berlimpah.
3. Bentuk Rumah
Dalam membangun rumah khususnya bangunan rumah warga suku Boti masih berarsitektur tradisional Timor asli. Desain rumah-rumah mereka masih seperti tempo dahulu. Rumah asli atau rumah adat orang Timor umumnya dan suku Boti khususnya berbentuk bundar, lantainya dari tanah dengan rangka atapnya berbentuk kerucut yang disebut Ume kbubu. Rumah Ume kbubu artinya rumah bulat karena berbentuk bulatan dan atapnya sampai ke tanah dengan fungsi sebagai tempat tidur. Rumah tradisional Ume kbubu yang biasa digunakan oleh penduduk kebanyakan adalah sebuah rumah kecil beratapkan alang-alang yang menjuntai ke tanah. Rumah ini disangga atau ditopang oleh 4 tiang utama dengan dinding-dindingnya melingkar mengikuti irama atap. Dinding rumah adat Ume Kbubu ini terjalin dari rangkaian atap yang tersusun sampai ke tanah. Guna menghindari adanya gerusan air pada musim hujan pada dasar rumah disusun bebatuan pipih sehingga tanah tidak mudah hanyut. Rumah Ume Kbubu tidak memiliki jendela, dan hanya ada satu pintu untuk keluar masuk penghuninya.
Dalam rumah hanya terdapat satu ruangan utama yang berfungsi sebagai tempat tidur dan dapur. Di bagian atasnya (atap) tepat di atas perapian terdapat loteng untuk menyimpan bahan makanan pokok yaitu jagung. Bangunan rumah adat ume kbubu ini sama sekali tidak menggunakan paku melainkan terikat erat dengan menggunakan tali temali yang terbuat dari kulit batang pohon. Pintu masuknya sangat kecil dan sempit serta sangat rendah dan jika hendak masuk ke dalam ruangan orang harus menundukkan kepala dan badan. Penghuni rumah adat ini adalah satu keluarga batih, dan di dalam rumah ini pula mereka makan, tidur, bekerja dan menerima tamu. Rumah ini juga merupakan tempat bagi wanita suku Boti memasak, dan menyimpan hasil ladang mereka.
Di samping Ume Kbubu, masyarakat suku Boti juga mengenal bangunan sebagai pendopo yang disebut Lopo. Bentuk bangunan lopo ini terbuka atau tidak memiliki dinding. Lopo berfungsi sebagai balai pertemuan untuk menerima tamu dan juga berfungsi sebagai lumbung tempat menyimpan hasil pertanian yaitu jagung. Konstruksi Lopo berupa bangunan atap bulat menyerupai kerucut yang ditopang 4 tiang langsung ke loteng atau gudang dan usuk-usuknya langsung duduk pada balok-balok yang disusun berdasarkan lebaran bulatan loteng. Lopo bangunan khas orang Timor yang dipergunakan untuk bersantai, tempat musyawarah dan tempat menyimpan makanan. Bahan bangunannya terbuat dari kayu, rumput atau ilalang, tali hutan, daun lontar yang semuanya merupakan bahan lokal. Untuk menghidari adanya kikisan air terutama pada waktu musim hujan bangunan Lopo ini pada dasarnya disusun bebatuan melingkar sesuai dengan bentuk bangunan di atasnya. Demikian juga halnya dengan tempat duduk yang ada di bangunan ini semuanya menggunakan bahan alami yang mereka dapatkan dari sekitar tempat tinggal mereka seperti, batu bulat maupun batu pipih. Memasuki pemukiman masyarakat suku Boti Dalam terkesan sangat alami dan mereka bangga dengan keadaan seperti itu.
Pada pemukiman suku Boti Dalam juga ada sebuah bangunan yang disebut dengan balai Eku Tefas (balai pertemuan) yang letaknya tidak jauh dari pemukiman mereka. Di balai inilah kepala suku Boti Dalam menjamu dan menerima tamu yang ingin mendalami kehidupan suku Boti. Bangunan ini sangat berbeda dengan bangunan lain yang ada di pemukiman tersebut, karena bangunan ini sudah ada sentuhan modern. Kendati bangunan ini sudah kena pengaruh luar, namun bangunan balai Eku Tefas, ini tidak pernah dipergunakan oleh masyarakat Boti Dalam sebagai tempat tidur. Setiap hari kesembilan menurut penanggalan masyarakat Boti, mereka mengadakan pertemuan di balai Eku Tefas. Mereka mendapatkan siraman rohani sesuai dengan kepercayaan masyarakat suku dan saling merefleksi apa yang telah mereka perbuat selama sepekan (sembilan hari).
Sebelum kita dapat mencapai perkampungan masyarakat suku Boti terlebih dahulu kita akan melewati sebuah pintu gerbang yang merupakan batas dari Desa Boti. Kondisi lingkungan pemukiman dari masyarakat suku Boti jalannya masih berupa tanah dengan batu kapur sebagai penahan dari undak menuju ke perkampungan. Masyarakat suku Boti sampai saat ini masih teguh dalam mempertahankan keaslian daerahnya dan hampir belum bisa menerima kehadiran industri modern atau bahan yang berasal dari buatan pabrik. Hanya pada hal-hal pokok mereka baru bisa mengadopsi dari dunia luar, karena bahan tersebut sepenuhnya belum bisa dihasilkan dari lingkungan mereka.
Masyarakat suku Boti dalam pembuatan dan penempatan pintu rumah menganut konsep arah utara selatan, karena arah ini akan mendapat pemberkatan dan rejeki pemiliknya bisa bertahan lama. Pola pemukiman dan penempatan rumah pada penduduk Boti Dalam tidak ada yang mengarah ke arah timur barat, karena menurut keyakinan mereka pintu rumah yang menghadap ke arah ini rejeki itu akan lewat begitu saja sebagaimana halnya berputarnya matahari.
Rumah tinggal masyarakat suku Boti Dalam berada di dalam kebun dan dibatasi oleh sebuah pagar keliling yang terbuat dari pelepah pohon kelapa atau pohon lontar yang banyak terdapat di daerah pegunungan di Desa Boti, maupun dahan kayu yang sudah kering. Pembuatan atau penempatan bahan-bahan tersebut diperuntukkan agar binatang peliharaan tidak masuk ke dalam pekarangan. Penduduk meletakkan ternak piaraannya di luar pagar keliling atau membuat kandang ternak di luar batas areal pemukimannya Perkampungan masyarakat Boti Dalam sungguh sangat asri menyatu dengan alam. Demikian juga halnya dengan ternak peliharaan mereka ditempatkan di luar pagar pembatas pemukiman. Pemempatan seperti ini mengisyaratkan kepada kita masyarakat Boti sangat menjaga ketenangan dan kesehatan.
PENUTUP
Komunitas Boti sebagai komunitas adat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan lingkungan alamnya. Dalam menjaga hubungan antara manusia dengan alam, konsep-konsep kosmologis berperan penting, sehingga sistem kepercayaan yang ada tidak hanya berperan mengatur hubungan-hubungan dengan kekuasaan yang lebih tinggi yang disebut dengan Uis Neno dan Uis Pah, tetapi kepercayaan mempunyai peran untuk mempertahankan kebudayaan materi yang sangat dibutuhkan dalam kelangsungan kehidupan manusia sebagai bagian dari komunitas tersebut.
Berbagai tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat suku Boti yang tinggal jauh terpencil di pedalaman, merupakan salah satu keunikan yang dapat dijadikan sebagai aset wisata budaya. Keaslian dan keteguhan masyarakat Boti dalam mematuhi warisan leluhurnya perlu mendapat perhatian dari instansi terkait, karena di dalamnya kaya dengan kearifan lokal yang mereka yakini dapat memberikan ketentraman dan ketenangan.

DAFTAR PUSTAKA
Adimiharja, Kusnaka. 1976. Kerangka Studi Antropologi Sosial Dalam Pembangunan. Bandung: Tarsito.
Daldjoeni, N dan A. Sujitno. 1979. Pedesaan, Lingkungan dan Pembangunan. Bandung: Alumni.
Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Puslitbang Pariwisata UGM. 2003. Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Laporan Akhir Hasil Penelitian.
Fischer. 1980. Pengantar Anthropologi Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT Pembangunan.
Foni, Wihelminus. 2004. Budaya Bertani Atoni Pah Meto: Siklus Ritus Bertani Lahan Kering Atoni Pah Meto Tunbaba Timor, Nusa Tenggara Timur. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures: Selected Essay. New York: Basic Books.
Harsojo. 1986. Pengantar Antropologi Jakarta : Bina Cipta.
John Rumung, Wens. 1998. Misteri Kehidupan Suku Boti. Kupang: Yayasan Boti Indonesia.
Kaka, Stef Mone dan Dominggus da Costa. 2007. TTS Ku Firdausku. Kupang: PT Grafika Timor Idaman.
Koentjaraningrat. 1974. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Koentjaraningrat. 1998. Pengantar Antropologi Pokok-Pokok Etnografi II Jakarta: Rineka Cipta.
Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.
Koentjaraningrat. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Maria, Siti, dkk. 2006. Kepercayaan Komunitas Adat Suku Dawan Pada Siklus Ritus Tani Lahan Kering di Kampung Maslete, Kecamatan Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Melalatoa, M. Yunus. 1995. Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia A – K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
O’dea, Thomas F. 1985. Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal. Jakarta: CV Rajawali.
Purna, I Made. 2005. Keteraturan dan Dinamika Suatu Masyarakat: Perspektif Teori Fungsional Struktural dan Teori Ekologi Budaya serta Teori Konflik, Dalam Buletin Jnana Budaya. Denpasar. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Salim, Emil. 1980. Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: CV Mutiara.
Subagya, Rachmat. 1981 Agama Asli Indonesia. Jakarta : Djaya Purusa.
Suparmo, R. 1977. Mengenal Desa. Jakarta: PT Intermasa.

0 komentar:

Poskan Komentar

Situs-Situs Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites