Minggu, 09 Mei 2010

Cerita Rakyat Sebagai Dasar Budi Pekerti Masyarakat Desa Sembalun

Masyarakat Desa Sembalun


I Wayan Sudarma

Abstrak

Kebudayaan merupakan esensi kehidupan masyarakat. Mengenal kebudayaan sendiri berarti mengenal aspirasinya dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Kebudayaan menunjukkan jati diri seseorang. Perilaku seseorang sebagai individu akan menunjukkan kebudayaan komunitas masyarakat tertentu. Hal ini berkaitan dengan wujud kebudayaan dari suatu masyarakat yang terdiri dari pengetahuan budaya untuk memahami lingkungannya. Cerita rakyat sebagai bagian dari kebudayaan merupakan pengetahuan budaya yang penyebarannya dilakukan secara lisan turun temurun. Cerita rakyat menyiratkan pengetahuan budaya dalam bentuk makna-makna berupa norma-norma kehidupan yakni sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial dan sebagainya. Selain itu, bila dicermati lebih mendalam, cerita rakyat juga menyimpan nilai-nilai berupa kejujuran, rendah hati, kesetiaan, kepahlawanan, hukum karma, yang tentunya dapat dipakai landasan prilaku masyarakat baik secara individu maupun kelompok.
Kata kunci: Cerita rakyat, Norma Prilaku, Kolektivitas/masyarakat.
http://varianwisatabudayasundakecil.blogspot.com


A. PENDAHULUAN
Cerita rakyat adalah karya sastra, salah satu pengetahuan sosial masyarakat di bidang seni yang dimiliki dan dikembangkan oleh suatu komunitas tertentu, merupakan hasil interaksi internal maupun ekternal di kalangan komunitas tersebut. Ciri-cirinya lebih ditekankan pada konsep lokalitas atau tempatan yang diikat oleh lingkungan tertentu. Cerita rakyat merupakan salah satu budaya lokal. Di dalamnya berisi seperangkat nilai etika, estetika, yang menjadi pedoman perilaku manusia dalam mewujudkan cara-cara hidup. Sebagai warisan budaya, maka masyarakat mempelajarinya dan mematuhi norma-norma serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada. Dalam pengembangannya, cerita rakyat merupakan bagian dari sistem kesenian ini di dukung oleh unsur-unsur kebudayaan lain (7 unsur kebudayaan) sehingga antara unsur budaya yang satu dengan yang lain saling memiliki keterkaitan. Dikatakan demikian karena sistem kesenian merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berkaitan dengan unsur budaya lainnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh pendukung kebudayaan tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Keterkaitan ini juga tampak dalam kebudayaan sistem religi atau keagamaan, misal saja seni tari (di Bali) ada yang disakralkan seperti Tari Sangyang, Baris Gede, dan sebagainya yang kaitannya dengan upacara keagamaan di Bali. Seni tenun “ulos” pada orang Batak erat hubungannya dengan berbagai upacara adat, seperti upacara perkawinan atau kematian, dan seterusnya. Kesenian dalam konteks cerita rakyat dapat dipandang sebagai norma atau aturan tak tertulis untuk mengarahkan seseorang bertata krama dalam kehidupan sehari-hari. Aturan-aturan tersebut dapat berlaku dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun lingkungan formal yang kesemuanya itu merupakan kebudayaan ideal.
Nilai, norma, ataupun aturan-aturan dalam bentuk tata krama juga terdiri dari suatu rangkaian adanya interaksi antara orang tua dengan anak, ayah dengan ibu, dan juga di antara anak-anak (dalam keluarga itu sendiri). Bertumpu pada interaksi ini, para orang tua seyogyanya dapat menitipkan pesan moral kepada anak melalui media cerita rakyat tanpa merasa dipaksakan sebelum mereka tidur.
Karya sastra berupa cerita rakyat merupakan kreativitas para pujangga zaman dulu yang secara substansi selalu mengacu pada ajaran-ajaran dharma sehingga dapat dipakai sebagai landasan bertingkah laku oleh generasi pewarisnya. Cerita rakyat secara umum selalu menyimpan nilai-nilai kearifan yang terselubung dan perlu penyikapan bagi para pembaca karya sastra sehingga makna yang ada di dalamnya dapat dicerna atau ditangkap mendekati kebenarannya. Biasanya nilai yang tertuang tersebut berupa norma-norma kehidupan dalam bentuk etika sopan santun yang perlu dipedomani sebagai wahana kehidupan di masyarakat. Atas dasar konsep pemikiran terurai di atas, maka upaya pelestarian warisan budaya tersebut tidak dapat lepas dari penggalian sumber-sumber kebudayaan daerah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Kebudayaan daerah merupakan sumber potensial bagi terwujudnya kebudayaan nasional yang memberikan corak karakteristik kepribadian bangsa.
Bila ditinjau dari sifat-sifat budaya, kebudayaan tersebut memiliki sifat universal, artinya terdapat sifat-sifat umum yang melekat pada setiap budaya yang antara lain; budaya itu milik bersama, budaya berkaitan dengan situasi masyarakatnya, dan budaya berfungsi untuk membantu manusia, (Mulyadi, 1999). Sejalan dengan hal ini, bahwa budaya berfungsi sebagai pedoman hidup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia, (Suparlan, dalam Mulyadi, 1999). Dengan demikian keberadaan cerita rakyat sebagai warisan budaya sangat perlu dilestarikan sebagai dasar tuntunan prilaku masyarakat.
Fenomena ini sangat dilematis, di satu sisi sebagai masyarakat tradisional (generasi tua) ingin mempertahankan dan melestarikan karya sastra berupa cerita rakyat sebagai warisan budaya para leluhurnya, sedangkan di sisi lain sebagai suatu amcaman karena pengaruh globalisasi ada indikasi keberadaan budaya ini semakin punah.
Peneliti membatasi pembahasan kajian cerita ini, yakni pada kajian nilai dan kelayakan keberadaan cerita rakyat yang ada, dalam rangka pelestarian nilai budaya sebagai warisan para leluhur di wilayah Sembalun Nusa Tenggara Barat ini. Selain itu, peneliti berupaya mencari cerita rakyat yang dianggap paling populer di lingkungan masyarakat Sembalun. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam kajian. Selanjutnya, dan memilah cerita rakyat yang masih dianggap layak dilestarikan dalam kehidupan masyarakat di zaman global ini. Lingkup wilayah penelitian hanyalah terbatas pada Desa Sembalun serta cerita-cerita rakyat yang masih dipertahankan sebagai acuan tingkah laku dari masyarakatnya.
Desa Sembalun Lawan, luas wilayah Desa Sembalun Lawang adalah 9.455 jiwa dengan 2264 kepala keluarga. Desa Sembalun Lawang yang memiliki luas 116,72 km2 dihuni oleh 9455 jiwa dari 6 dusun yang ada, sehingga dapat diketahui kepadatan penduduknya lebih kurang 80,8 jiwa perkilo meter.
Masyarakat Desa Sembalun Lawang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Bidang pertanian yang digeluti penduduk setempat adalah pertanian ladang dan sebagian kecil juga persawahan. Masyarakat petani di daerah ini dalam mengolah lahan pertaniannya sedikit berbeda dengan di daerah lain, di mana pelaksanaannya baik di sawah maupun di ladang juga terlihat melibatkan kaum ibu-ibu, dan bukan hanya didominasi oleh kaum laki-laki saja. Pola tanam yang dilakukannya adalah padi, bawang putih, dan sayur-sayuran. Untuk lahan sawah dan lahan kering atau tegalan pada umumnya ditanami sayur-sayuran dan buah-buahan atau perladangan.


B. KAJIAN CERITA RAKYAT MASYARAKAT
DESA SEMBALUN LAWANG

Beberapa Sinopsis Cerita Rakyat
Sebelum lanjut melangkah pada pokok pembahasan, ada baiknya penulis paparkan beberapa sinopsis cerita rakyak yang ada di Desa Sembalun atau yang ada di Nusa Tenggara Barat, karena Desa Sembalun merupakan bagian dari wilayah NTB. Meskipun lain wilayah (desa atau kota) namun masih dalam satu wilayah propinsi, penulis yakin kemiripan bahkan kesamaan alur cerita yang dipakai sampel sinopsis relatif sama. Sebuah cerita rakyat yang ada di satu wilayah akan ada beberapa kemiripan dengan wilayah lain asal masih dalam satu wilayah Indonesia. Hal ini merupakan suatu kelaziman dalam kehidupan budaya di mana kebudayaan merupakan suatu hal yang bersifat dinamis dan saling mempengaruhi. Cerita rakyat yang dimiliki oleh masyarakat Desa Sembalun merupakan bagian kebudayaan kolektif masyarakat Suku Sasak NTB, hanya sedikit versinya dikemas disesuaikan dengan alam lingkungan daerah setempat oleh pengarang sehingga bagi para penikmat folklore tersebut itu dirasakan sebagai suatu kenyataan. Ada beberapa sinopsis cerita rakyat yang penulis ambil sebagai sampel untuk bahan kajian sebagai berikut;

1. Kisah Nama Desa Sembalun
Dikisahkan di sebuah tempat ada hidup 7 pasang suami istri yang kehidupa,nnya sangat sederhana. Keadaan alamnya waktu itu masih berupa tanah rawa-rawa yang sulit digunakan untuk sumber penghidupan. Berpuluh-puluh tahun ke-7 pasang suami istri tersebut mendiami kawasan itu tidak pernah mengalami perkembangan, baik dari penghidupan maupun dari jumlah penduduk. Dalam keadaan mandeg seperti itu kemudian ada dua orang pendatang membawa perubahan besar. Kedua orang tersebut bernama Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya.
Dikisahkan kedua Raden ini langsung memanggil ketujuh pasutri ini dan memberikan beberapa pertanyaan, “hai manusia, maukah kalian menjadi manusia yang beradab, dengan berpakaian yang selayaknya? Maukah kalian menyembah Allah sebagai penciptamu? dan seterusnya. Merasakan keadaannya melarat seperti itu akhirnya ketujuh pasutri serempak menyetujuinya. Selanjutnya kedua Raden tersebut memberikan 4 (empat) macam pelajaran sebagai pegangan hidup; 1) Kuberikan kalian adat dan Agama Islam sebagai pegangan hidupmu, 2) Kuberikan kalian Kitab Al-Qur’ an sebagai pedoman adat agamamu, 3) Kuberikan kalian padi (seikat padi merah) sebagai makananmu untuk beribadah, 4) Kuberikan kalian alat untuk bertani dan senjata membela adat serta agamamu. Kemudian kedua raden ini menyiapkan tanah persawahan sebagai tempat untuk menanam padi bagi ketujuh pasutri ini. Dikisahkan dalam membuat sawah para raden ini mengucapkan Bismilah sambil memutar-mutar tongkatnya dengan ucapan “sawah enjang-enjang” (hiyang-hiyang) yang artinya Allah-lah segala sesuatu bisa terwujud atau sukses dan dengan Allah-lah sesuatu bisa hidup dan berkembang. Mulai saat itu ketujuh pasutri diberi nama panggilan Nek Islamin, Nek Kerta Negara, Nek Bagia, Nek Rasani. Setelah keempat pelajaran yang dilengkapi dengan tanah yang luas selesai maka kedua raden tersebut berkata, “ Mulai saat ini tanah bumi atau tanah tempat kalian hidup kuberi nama Sembahulun atau tanah Sembahulun. Kalian ingat dan waspada, bahwa waktu-waktu mendatang akan menghadapi peperangan, namun jangan khawatir kalian pasti mendapat pertolongan.

2. Bening dan Gagak
Dikisahkan ada seorang anak bernama “Bening” tinggal dengan ayah dan ibu tirinya. Ibu tirinya sangat kejam terhadap Bening bila ayahnya tidak ada di rumah. Apa bila ayahnya di rumah, ibu tiri Bening menunjukkan kasih sayang berlebihan terhadap Bening, sehingga ayahnya percaya bahwa ibu tiri Bening sangat sayang kepada Bening meskipun sang ayah tidak ada di rumah. Akhirnya suatu ketika Si Bening dapat curi dengar pembicaraan ayah dan ibunya yang dalam pembicaraan mengungkap rencana ayahnya akan pergi jauh mencari nafkah sampai berminggu-minggu bahkan bulanan. Mengetahui hal tersebut, Bening ketakutan akan siksaan ibu tirinya bila ayahnya pergi, apalagi berlama-lama. Pada saat itu pula, malam hari Bening memutuskan untuk kabur.
Singkat cerita, karena perginya malam hari tak terasa Bening tiba di sebuah tempat dan ternyata tempat itu adalah hutan rimba yang penuh dengan binatang buas siap menerkam siapa saja. Mengetahui situasi semacam ini, Bening pasrah dan hanya bisa berdoa dengan tulus dan kusuk. Tenyata doa Bening dikabulkan oleh Tuhan sehingga binatang-binatang yang siap menerkam seperti harimau ikut bersedih dan meninggalkan tempat di mana Bening berada. Demikian juga binatang-binatang lain, hanya seekor burung gagak yang masih tinggal di sana karena kasihan melihat kesedihan Si Bening. Dalam kisahnya, si gagak selalu membantu Bening dengan mencarikan berbagai macam buah untuk Bening. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya Bening menjadi bingung, bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya si gagak ini? dari mana juga gagak mendapatkan bahan makanan untuk dirinya, karena kebingungan maka Bening memutuskan pasrah diri dan berdo’a minta bantuan petunjuk kepada Tuhan.
Ketika itu Bening bersimpuh mohon petunjuk Tuhan “Ya Allah, perlihatkanlah kebesaran-Mu!, saya tidak yakin kalau gagak sahabatku adalah seekor burung. Tunjukkanlah kebesaran-Mu Ya Allah……! Ucapan itulah yang terucap tak henti-henti sambil menengadahkan kedua tangannya. Setelah Bening mengakhiri do’anya, di samping kanannya duduk seorang laki-laki tampan dalam posisi berdo’a penuh kekhusukan, dengan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena telah mengampuni dosa-dosanya dan mengembalikan wujudnya semula dari kutukan menjadi seekor gagak karena seringnya menyakiti hati orang tuanya. Demikian juga mengucapkan terima kasih kepada Bening berkat do’anya dia bisa kembali berubah wujud menjadi manusia kembali. Akhirnya Bening diajak pulang ke rumah pemuda tampan tersebut yang tenyata adalah seorang putra raja dari Kerajaan Antah-Barantah, dan mereka pun menikah serta diangkat menjadi raja dan permaisuari hidup bahagia. Bapak dan ibu tiri Bening pada saat itu dikisahkan sudah tua dan sangat menderita, tetapi setelah diketahui demikian kedua orang tuanya ditarik ke istana dan hidup bahagia bersama.

3. Makna Cerita Rakyat bagi Masyarakat
Cerita rakyat merupakan tradisi lisan budaya masyarakat yang penyebarannya dilakukan secara lisan turun-temurun. Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk dari folklor memiliki cirri-ciri khusus yang harus dicermati oleh masyarakat. Ciri-ciri dimaksud antara lain; 1) Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, 2) Folklor bersifat tradisional, disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau standar, 3) Folklor ada (exst) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda, karena penyebarannya dari mulut ke mulut, 4) Folklor bersifat anonim, 5) Folklor biasanya mempunyai bentuk perumus atau berpola, 6) Folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan kolektif, 7) Folklor bersifat prologis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum, 8) Folklor menjadi milik bersama dari kolektif tertentu, 9) Folklor bersifat polos dan lugu, (Danandjaya, 2002 : 4). Cerita yang termasuk bagian dari folklor memiliki cirri-ciri seperti ciri folklor pada umumnya, misalnya cerita rakyat mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif suku bangsa, yaitu sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendam.Di samping mempunyai kegunaan, cerita rakyat juga mengandung makna atau arti yang mendalam bagi penganut kebudayaan dalam suatu kolektif suku bangsa, (Marjanto, 2005 : 10). Seiring dengan kajian ini, berikut akan diuraikan makna yang terkandung dalam cerita rakyat bagi masyarakat Desa Sembalun sebagai salah satu komunitas yang hidup bersama dalam satu wilayah.

a. Cerita Rakyat sebagai Dasar Asal-usul Nama Desa
Sebelum membahas tentang kajian cerita rakyat lebih jauh, ada baiknya diuraikan dahulu unsur-unsur yang ada dalam sebuah cerita rakyat, sehingga kita tahu bagaimana dan ke mana arah isi cerita bersangkutan. Adapun unsur-unsur yang dimaksud antara lain; insiden, latar, tokoh, dan amanat. Insiden dalam sebuah karya sastra adalah peristiwa yang terjadi dalam cipta sastra yang berupa cerita. Latar adalah tempat, waktu, dan suasana peristiwa itu terjadi. Tokoh cerita adalah pelaku yang memainkan cerita tersebut. Amanat dalam cerita merupakan kesan dan pesan yang disampaikan berdasarkan atas pengetahuan pengarang yang ingin disampaikan kepada orang lain melalui perantara cerita yang dikarangnya itu.
Dalam sub bahasan pertama akan mengacu pada sinopsis kisah nama Desa Sembalun, yang dikisahkan tentang keberadaan sekelompok masyarakat primitif, yang digambarkan keberadaannya sangat terkebelakang di segala bidang. Kisah ini berlaku secara kolektif di kalangan masyarakat di Desa Sembalun. Dipandang dari alur ceritanya sangat menarik dan masyarakat setempat yakin dan percaya sampai sekarang bahwa latar belakang nama Sembalun berawal dari cerita tersebut. Masyarakat juga beranggapan bahwa apa yang diceritakan dalam kisah tersebut merupakan sejarah awal berdirinya nama Desa Sembalun, namun bagi kaum sejarawan sepertinya belum tepat bila itu dianggap sejarah karena kurangnya bukti-bukti tertulis sebagai penguat sejarah, seperti diceritakan kedatangan Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya kurang jelas bahkan tidak ada tahun kedatangannya, dan dari mana berasal kedua raden tersebut. Peristiwa yang terjadi memang kelihatan saling kait-mengait secara logis sehingga membangun alur atau plot cerita. Kejadian-kejadian yang erat tak dapat dipisahkan membuat alur cerita sangat bagus dan diyakini oleh masyarakat sampai sekarang.
Bila dikaji lebih mendalam, semua unsur yang ada menjadi satu keterikatan antara insiden, latar, tokoh, dan amanat sehingga isi cerita sangat menarik dan seolah-olah cerita tersebut merupakan sejarah desa yang patut diyakini dan dipercaya oleh masyarakatnya. Dalam alur ceritanya terselip peristiwa yang menunjukkan kedua raden pendatang tersebut memberikan pelajaran berupa empat petunjuk yang salah satunya dinyatakan “wahai engkau manusia, ini kuberikan kalian Kitab Al-Qur’an sebagai pedoman adat agamamu”. Mengingat di Desa Sembalun mayoritas muslim, dalam kisah ini ada indikasi cara-cara penyebaran ajaran Agama Islam oleh Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya, namun sayang asal muasal Beliau tidak diketahui dan tidak diceritakan selanjutnya. Demikian juga setelah Beliau memberikan empat petunjuk pelajaran dan sebidang luas tanah sawah untuk garapan ketujuh pasutri di atas, juga meninggalkan pesan bahwa dalam waktu-waktu mendatang akan ada peperangan yang menurut akal sehat sebagai orang awam hal itu tidak mungkin diketahui. Peristiwa inilah yang membuat bahwa kisah ini merupakan karangan para pujangga atau pemuka masyarakat terdahulu yang diwariskan kepada generasi sampai sekarang.

b. Cerita Rakyat sebagai Dasar Upacara
Seperti pesan yang diamatkan oleh Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya pada kisah di atas, bahwa dalam beberapa tahun mendatang Desa Sembalun akan mengalami peperangan-peperangan sebagai sebuah godaan. Pernyataan kedua raden tersebut dalam kisahnya menjadi kenyataan, berselang beberapa tahun setelah mengalami pertambahan penduduk menghadapi tiga peperangan berturut-turut sebagai berikut:
Perang Ketupat menghadapi Iblis. Pada masa ini masyarakat Sembalun berperang mati-matian melawan iblis yang kuat dan sukar dihancurkan. Dikisahkan bahwa tentara iblis ini tidak bisa dilawan dengan senjata tajam berupa parang ataupun pedang, karena setiap satu iblis ditebas menjadi dua atau tiga potong, jumlahnya semakin banyak, karena potongan tebasan tadi berubah menjadi iblis yang baru, hidup dan menyerang lebih ganas lagi. Keadaan ini mengakibatkan jumlah penduduk semakin berkurang dan jumlah iblis semakin bertambah, hingga suatu ketika muncul bantuan dari tiga orang pendatang seperti yang pernah dijanjikan oleh Raden Hari Pati dan Haria Mangun Jaya. Ketiga pendatang tersebut bernama Raden Ketip Muda, Raden Sayid Hamzah, dan Raden Patih Jorong. Ketiga raden ini dengan mudah mengalahkan tentara iblis yang garang tersebut dengan senjata yang tidak masuk akal yakni berupa “ketupat”. Ketiga penolong tersebut melawan tertara iblis dengan cara melempar ketupat tersebut tiga kali ke arah para iblis, lemparan pertama pada tanggal 5 dengan mengucapkan tanggal 5, lemparan kedua pada tanggal 15 dengan mengucapkan tanggal 15, dan lemparan ketiga pada tanggal 25 dengan mengucapkan tanggal 25. Pada lemparan ketiga dilakukan, tentara iblis hilang lenyap ketika itu juga tanpa bekas. Setelah selesai peperangan, ketiga raden penolong tadi berpesan kepada masyarakat Sembalun yang masih tersisa: 1) Kamu harus mengambil air setiap kali panen padi sebagai tanda kemenangan melawan iblis. 2) Setiap tiga tahun sekali kamu harus memotong kerbau sebagai rasa syukurmu atau kemenangan menghadapi peperangan. Kedua pesan tersebut oleh masyarakat Sembalun dilaksanakan sebagai “Upacara Nagyu Ayu” sebuah nama upacara tradisional yang dilaksanakan setiap 3 (tiga) tahun sekali oleh masyarakat Sembalun sampai sekarang.
Perang Panah Racun. Setelah iblis dikalahkan oleh penduduk atas bantuan tiga raden terkisah di atas, kali ini para iblis balas dendam menyerang lagi dengan menggunakan panah beracun. Bentuk serangan ini dilakukan dari jarak jauh, karena jarak dekat para iblis tidak berani lagi menginjakkan kakinya di bumi Sembalun. Sasaran para iblis adalah tanaman pertanian penduduk tanah Sembalun. Dalam serangan ini, penduduk tidak bisa berbuat banyak karena dalam peperangan ini pihak musuh tidak menampakkan dirinya, tetapi yang tampak hanyalah racun atau hama yang menyerang tanaman petani. Petani mulai putus asa karena segala jenis tanaman pertanian mereka tiada hasil dan selalu gagal. Adanya situasi yang kurang menguntungkan penduduk petani, ketika itulah datang seorang penolong yakni Raden Patra Guru yang dianggap masih dari kelompok orang-orang sebelumnya. Raden Patra Guru memberi petunjuk kepada penduduk tanah Sembalun cara mengalahkan serangan tersebut yakni dengan memberikan obat penawar berupa air yang diperoleh dari mata air Timba Bau yang konon airnya harum seperti harum mewangi. Perang panah beracun dapat diatasi oleh penduduk Sembalun dan secara berangsur-angsur tanaman di sawah mulai membaik seperti sedia kala dan untuk memperingati kemenangan itu dilakukan “Upacara Biji Tawar”.
Perang Bala. Dalam serangan perang ini penduduk tanah Sembalun menghadapi serangan wabah penyakit yang diderita oleh semua penduduk dan seluruh masyarakat tidak bisa beraktivitas seperti layaknya seorang petani. Perang ini merupakan perang terbesar yang dihadapi oleh penduduk karena tidak bisa saling tolong menolong satu sama lain. Dalam keadaan masyarakat kebingungan, tak disangka datang keenam raden penolong di atas langsung memberikan petunjuk caranya menghadapi perang wabah penyakit dengan senjata ampuh yang disebut senjata “tolak Balak” yaitu berupa Asma Allah “Lailahaillallah” Akhirnya perang melawan balak dengan kemenangan di pihak penduduk tanah Sembalun maka berakhirlah peperangan yang menjadi rintangan perkembangan penduduk Semabalun. Menurut asumsi penulis, awal dari “Upacara Tolak Bala” adalah peristiwa ini yang berlaku sampai sekarang.
Alur cerita di atas merupakan rangkaian kisah sebelumnya yaitu kelanjutan dari kisah sinopsis nama Desa Sembalun di atas. Alur ceritanya berlanjut dari mulai munculnya nama Desa Sembalun sampai keadaan desa mulai normal dan stabil. Bagi masyarakat Desa Sembalun kisah di atas diyakini sebagai sejarah desa mereka sampai sekarang tanpa terikat dengan penulisan kesejarahan yang ada. Kisah tentang asal-usul Desa Sembalun terurai di atas tidak ditemukannya pengarang yang pasti/jelas, demikian juga bila ditinjau dari sudut kesejarahan sepertinya tidak kuat, karena peristiwa dan penokohan kisah di atas kebanyakan bersifat imajinatif, seperti para raden penolong penduduk masyarakat Sembalun asal-muasalnya tidak pasti, peristiwa yang terjadi tidak ada tangal dan tahun yang jelas, yang ada keterkaitan hanyalah latar atau setting peristiwa yang dikemas dengan amanat berdasarkan pengetahuan pengarang sehingga asumsi penulis lebih cenderung pada cerita fiksi. Bila masyarakat memiliki keyakinan bahwa cerita di atas merupakan latar belakang sejarah desa mereka, hal itu juga tidak salah dan sah-sah saja, mereka meyakini karena tempat-tempat peristiwa yang dipakai sebagai latar dalam cerita di atas merupakan kenyataan yang ada sekarang. Hal itu sebenarnya tidak penting untuk dibahas, yang jelas adanya upacara-upara tradisonal masyarakat Sembalun yang dilaksanakan sekarang dilatarbelakangi oleh rangkaian alur cerita terurai di atas.

c. Cerita Rakyat sebagai Dasar Membangun Pekerti Masyarakat.
Membangun karakter pekerti masyarakat penerapannya di lapangan tidak semudah mengucapkannya. Setidaknya hal ini perlu pemahaman tentang keberadaan kebudayaan lokal yang dimiliki. Untuk dapat memahami tentunya dengan dasar pendidikan, sehingga terjadi keterkaitan yang sangat erat antara pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat bersangkutan. Cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan harus dipelajari untuk dapat dipahami maknanya. H.A.R Tilaar menyebutkan; ada tiga unsur penting dalam kebudayaan yang patut dipahami, yakni kebudayaan sebagai suatu tata kehidupan (order), kebudayaan sebagai suatu proses, dan kebudayaan mempunyai suatu visi tertentu (goals). Aplikasinya di lapangan tentu melalui pendidikan, karena pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik di dalam masyarakat. Di samping itu, pendidikan juga kata benda yang berarti mempunyai suatu visi kehidupan yang hidup dalam suatu masyarakat. Pendidikan adalah suatu proses penaburan benih-benih budaya dan peradaban manusia yang hidup dan dihidupi oleh nilai-nilai atau visi yang berkembang dan dikembangkan di dalam suatu masyarakat. Inilah pendidikan sebagai suatu proses pembudayaan, (Tilaar, 1999 : 9).
Berangkat dari pengertian tadi, cerita rakyat sebagai bagian dari kebudayaan baru dipahami setelah dipelajari, karena dalam alur cerita rakyat yang merupakan bagian dari kebudayaan memiliki banyak tata kehidupan yang patut di contoh sebagai dasar membangun pekerti manusia yang pada akhirnya menunjukkan jati diri masyarakat bersangkutan. Di masyarakat pedesaan secara umum, khususnya di Desa Sembalun cerita rakyat masih hidup dengan baik di kalangan masyarakat, sehingga interaksi-interaksi orang tua secara lisan sebagai pendidik menyalurkan kepada anak-anak mereka dengan harapan dapat mengerti atau memahami keberadaan kebudayaan berupa cerita rakyat yang penuh makna dan nilai sebagai landasan kehidupan
Dalam upaya memahami cerita rakyat sebagai dasar tata kehidupan, kita dapat mengacu pada salah satu sinopsis cerita di atas yaitu cerita rakyat yang berjudul Bening dan Gagak. Bila dicermati lebih mendalam, isi ceritanya bukan saja memberi pelajaran kepada anak-anak sebagai landasan bersikap ke depan, namun juga bagi orang tua mestinya dapat mengambil ikmah apa yang tertuang dalam cerita tersebut. Agar sedikit mendapat gambaran tentang nilai-nilai luhur yang ada dalam cerita Bening dan Gagak di atas, ada baiknya penulis mencoba membahas sebagai berikut.

d. Cerita Rakyat sebagi Cermin Kehidupan para Ayah yang memiliki Istri Lebih dari Satu.
Cerita rakyat Bening dan Gagak di atas, mengisyaratkan kepada seorang ayah untuk waspada kepada istri kedua di mana dalam alur cerita diilustrasikan si Bening mempunyai seorang ibu tiri yang sangat kejam, namun kekejamannya terhadap anak tirinya(Bening) sang ayah tidak tahu. Di sisi lain si anak saking takutnya tidak berani mengadukan perlakuan ibu tiri kepada ayahnya, sehingga terjadilah dua pemahaman yang berbeda dan bertentangan terhadap nasib seorang anak. Saking tidak tahan menghadapi ibu tirinya si Bening sebagai tokoh utama dalam cerita, pergi meninggalkan rumah setelah mendengar ayahnya akan pergi jauh dalam waktu yang lama. Ilustrasi singkat cerita rakyat di atas, menyimpan makna yang perlu dipahami oleh seorang ayah (duda) terhadap keberadaan anaknya bila punya ibu tiri. Cerita ini merupakan cerminan kehidupan di kalangan masyarakat luas utamanya bagi seorang ayah yang menduda dan telah punya anak dari isti pertamanya. Nilai-nilai yang tersimpan adalah pelajaran bagi seorang ayah bila ingin mencari istri kedua setelah istri pertama tiada. Bila masyarakat (seorang duda) berkeinginan memiliki istri lagi, mengacu pada alur cerita ini, tentunya akan mempertimbangkan nasib anak dari istri pertamanya setelah mendapatkan istri yang baru. Di sini bukan berarti ada pelarangan untuk kawin lagi, namun jauh sebelumnya harus ada kesepakatan antara sang ayah dengan calon istri yang baru keberadaan anak yang telah ada sebelum mereka melangkah untuk melangsungkan menikah. Mengacu pada alur cerita ini menandakan bahwa dalam sebuah cerita rakyat nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya tidaklah semata-mata penerapannya hanya untuk anak-anak saja, namun juga bagi masyarakat umun termasuk yang sudah dewasa sehingga dalam menghadapi kehidupan keluarga ke depan visi harmonis dalam keluarga dapat terwujud. Di samping itu, dengan memahami kebudayaan (cerita rakyat) masyarakat luas dalam berprilaku betul-betul akan mempertimbangkan perbuatannya terhadap akibat yang mungkin terjadi

e. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Cerita Bening dan Gagak
Dasar acuan bahasan ini juga pada sinopsis cerita Bening dan Gagak yang menunjukkan adanya insiden atau peristiwa dalam sebuah keluarga yang dibangun dan dikemas oleh pengarang dalam penyatuan ide-ide yang ingin disampaikan. Kejadian-kejadian yang diramu dan saling kait-mengait secara logis akan membangun alur atau plot cerita. Dalam cerita ini dikisahkan sebuah keluarga dengan tokoh utama Si Bening selaku anak tiri, di mana dia dalam kesehariannya selalu menderita di samping ditinggal oleh ibu kandungnya, juga mempunyai ibu tiri yang sangat kejam. Sedangkan ayahnya yang menjadi tumpuan hidup satu-satunya, tidak tahu persis dengan apa yang dialami oleh Si Bening, sehingga singkat cerita Si Bening pergi ke hutan demi menghindari siksaan ibu tirinya. Sesampainya di hutan, peristiwa supranatural terjadi yaitu para binatang buas kasihan melihat kesedihan Si Bening setelah dia berdoa sesaat kepada Tuhan, dan binatang-binatang buas semuanya pada kabur kecuali si Gagak yang ternyata dia merupakan jelmaan seorang pangeran raja yang mendapat kutukan. Singkat cerita setelah Gagak menjelma kembali menjadi seorang pangeran dan mengajak Bening ke kerajaan serta dinikahi dan hidup bahagia, maka berakhirlah cerita Bening dan Gagak. Kesatuan ide pengarang dalam cerita Bening dan Gagak bila dicermati dan direnungkan akan memberikan suatu inspirasi bagi masyarakat di mana dalam cerita tersebut ibaratnya sebuah cermin kehidupan yang mengandung bermacam-macam nilai yang patut kita ditiru dan diambil ikmahnya. Beberapa nilai penulis tangkap dalam cerita ini antara lain; nilai estetika, etika, kesetiaan, hukum karma.
1) Nilai estetika adalah nilai keindahan yang tersimpan pada cerita Si Bening dan Gagak tertuang dalam kesatuan ide pengarang untuk mengaitkan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain dengan menitipkan pesan menarik sehingga alur cerita yang dirasakan oleh penikmat cipta sastra sungguh terpesona. Keterkaitan peristiwa yang diperankan oleh tokoh jahat (ibu tiri) sebagai penyiksa dengan tokoh yang disiksa (Bening) sebagai orang sengsara, dengan diakhiri peristiwa terbalik yakni Si Bening bahagia setelah menjadi permaisuri dan si ibu tiri sengsara merupakan alur cerita yang sangat diharapkan oleh para pembaca, sebab secara umum masyarakat sangat membeci kekerasan terhadap anak, terutama terhadap anak tiri. Ramuan pengarang dalam mengkemas ide-idenya ini akan merangsang para pembaca mengikuti atau membaca kisah selanjutnya sampai cerita tersebut berakhir.
2) Nilai etika. Tokoh yang diperankan oleh Bening dalam cerita Bening dan Gagak melukiskan perbuatan yang terpuji dan luhur. Dia selalu berperilaku jujur dan sopan, meskipun mendapat siksaan yang sangat kejam dari ibu tirinya, namun dia tetap berlaku sangat sopan, tidak mau mengadukan kepada ayahnya, dia tetap berpikir, berkata, dan berbuat baik terhadap siapa saja. Di samping itu, dia juga berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini terbukti ketika dia berada di hutan berhadapan dengan binatang-binatang buas. Prilaku Bening ini merupakan cermin kehidupan yang patut di contoh oleh masyarakat dari semua kalangan. Sebagai seorang anak, dia selalu menunjukkan prilaku ajaran putra sesana, ajaran yang memberi pengetahuan bahwa sebagai seorang anak harus bakti, hormat, dan menolong orang tuanya. Dalam kehidupannya dia tidak memiliki rasa dendam, meskipun selalu mendapat siksaan. Ini dibuktikan ketika ayah dan ibu tirinya sengsara, si Bening mengajaknya hidup bersama bahagia di istana. Nilai etika ini merupakan sarana pengatur kehidupan bersama di masyarakat. Nilai sangat menentukan dalam setiap budaya masyarakat, terlebih lagi dizaman modern ini ikatan nilai-nilai moral dirasakan sangat melemah, bahkan di dalam pergaulan masyarakat krisis nilai-nilai moral dirasakan sangat parah, untuk itu peran cerita rakyat yang merupakan bagian dari folklor sangat diperlukan sebagai dasar rambu-rambu kehidupan dalam berprilaku.
3) Nilai Kesetiaan. Cerita di atas sedikit telah disinggung, bahwa dalam amanat cerita Bening dan Gagak, pengarang telah menyelipkan beberapa nilai luhur yang patut diteladani sesuai kemampuan imajinasinya. Termasuk juga nilai kesetiaan tergambar pada tokoh Bening dan Gagak ketika mereka berada di hutan. Nilai kesetiaan Bening terlihat dituangkan kepada orang-orang yang dicintai, seperti kepada orang tuanya, kepada gagak sahabat sejatinya, dan juga terhadap teman-teman dalam pergaulannya. Kemudian nilai kesetiaan juga terlihat pada tokoh gagak yang taat menjalani hukuman atau kutukan karena sebelumnya merasa bersalah sampai waktu yang ditentukan berakhir. Setelah gagak menjelma kembali menjadi seorang pangeran dan mempersunting Bening, juga pengarang menitipkan pesan nilai kesetiaannya antara sang Pangeran dengan Bening sebagai suami isteri. Selanjutnya Bening yang sudah bahagia menjadi permaisuri di istana, tidak melupakan orang tuanya yang pada saat itu kondisinya sangat menderita dan ditarik untuk hidup bahagia bersama di istana. Pengarang sangat jeli menyelipkan amanatnya melalui tokoh dari masing-masing pemeran sehingga kesatuan alur cerita yang ada menumbuhkan emosional para pembacanya.
4) Hukum karma. Kita hidup di jagad raya tentunya percaya terhadap adanya hukum karma. Dalam ajaran Hindu, hukum karma ini ada tiga jenis yaitu sancita karma, prarabda karma, dan kriyamana karma. Sancita karma artinya hasil perbuatan kita terdahulu (penjelmaan terdahulu) yang belum sempat dinikmati saat itu, kita nikmati pada kehidupan saat ini. Prarabda karma, merupakan hasil perbuatan kita sekarang dan langsung dinikmati pada kehidupan ini juga. Kriyamana karma adalah perbuatan kita pada kehidupan saat ini belum sempat kita nikmati sehingga kita akan nikmati pada kehidupan mendatang. Hukum karma juga termasuk ajaran Rwa Bineda, dua hal berlainan yang harus ada seperti siang malam, terang dan gelap, senang dan sedih, jahat dan baik, bahagia dan menderita, dan sebagainya. Dalam ajaran dharma disebutkan bahwa konsep Rwa Beneda merupakan hukum alam, alam kodrat, hukum takdir yang menganugrahkan bahwa perbuatan yang buruk dan jelek akan berpahala tidak baik, konsekwensinya yang bersangkutan akan menderita, sangsara, dan identik dengan neraka. Sebaliknya, perbuatan yang baik, jujur, rendah hati, akan berbuah kebaikan, kesenangan, kebahagiaan, dan identik dengan sorga. Kehidupan di dunia ini tak ubahnya bagaikan putaran roda yang hanya menunggu waktu untuk berada di bawah atau di atas sesuai dengan hukum sebab akibat yang ada. Dalam cerita Bening dan Gagak, awalnya dikisahkan Bening disiksa sampai mengalami penderitaan yang dalam, namun berselang beberapa lama karena Bening tidak punya salah, roda berputar, Si Bening menjadi permaisuri mendampingi raja dan sangat bahagia. Sebaliknya ibu tiri yang kejam, diberikan peran tokoh jahat oleh pengarang akhirnya mengalami kesengsaraan yang panjang. Itu semua merupakan hukum karma yang harus dia terima ketika bersama Bening kejamnya luar biasa. Masalah hukum karma, sebagai hakim adalah Tuhan Yang Maha Esa. Beliau akan memberikan ganjaran yang setimpal bagi orang yang berlaku jahat di luar norma-norma kemanusiaan, dan memberikan hadiah kepada orang yang berbuat baik, tidak pernah menyakiti sesama mahluk, sabar, tidak cepat emosi, selalu mendekatkan diri ke hadapan-Nya. Pada umumnya, manusia baru ingat Tuhan setelah mereka mengalami banyak penderitaan, pada saat mereka bahagia lupa dengan keberadaan Tuhan, seolah-olah dunia miliknya, dan biasanya kurang bersyukur.

Pembertahanan Budaya Tradisional di Era Modern.
Mengkaji tentang ketahanan budaya terhadap pengaruh modern di era global, penulis bertumpu pada padangan Winston Davis yang mengemukakan, bahwa masyarakat dan kebudayaan tradisional menyiapkan brikade untuk melindungi dirinya dari kemungkinan gangguan yang ditumbuhkan oleh perkembangan nilai-nilai ekonomi yang progresif yang diintroduksi melalui kapitalisme, (Davis dalam Geriya, 2000). Masyarakat tidak merasa khawatir dengan adanya kemajuan zaman dan globalisasi yang melanda negara ini, namun lebih cenderung khawatir terhadap ketahanan mental para generasi muda yang terkesan semakin mengabaikan nilai-nilai budaya tradisional yang ada, sehingga akan muncul kerusakan sosial dan kekejian moral yang diakibatkan tiadanya batasan perekonomian karena dipengaruhi oleh zaman global itu sendiri.
Dalam konteks kebudayaan lokal, masyarakat dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal tidak hanya menuju pada integrasi budaya, tetapi juga disintegrasi sejalan dengan proses globalisasi dan internasionalisasi nilai dan praktek sosial. Di kalangan masyarakat luas, proses globalisasi mendapat berbagai tanggapan dari berbagai komunitas masyarakat yang berbeda. Di satu sisi ada memandang dari sudut intergarasi, dan di sisi lain merupakan resistensi yang melahirkan suatu bentuk disintegrasi, atau terlihat adaptasi yang dilakukan masyarakat terhadap berbagai pengaruh arus tersebut. Perbedaan tanggapan masyarakat yang tampak dalam dimensi tersebut merupakan dasar dari perubahan-perubahan reorganisasi dalam berbagai aspek. Kearifan lokal yang di dalamnya termasuk cerita rakyat umumnya tertuang nilai-nilai luhur berupa pendidikan moral, etika, estekika sejalan dengan ajaran-ajaran keagamaan, namun merasa terusik setelah dipengaruhi oleh kemajuan jaman yang ada. Pengaruh perubahan reorganisasi kehidupan itu terhadap kehidupan keagamaan dapat terlihat pada tiga proses yang menjadi tanda dari keberadaan masyarakat modern. Pertama, proses materialisasi kehidupan yang mentransformasikan berbagai hal menjadi komuditi sehingga terjadi proses komudifikasi secara meluas dalam proses interaksi sosial. Kedua, tekanan sosial yang diakibatkan oleh etos kerja kapitalistik kemudian menyebabkan hidup menjadi proses pencaharian nilai tambah secara material. Ketiga, proses mobilitas yang menjadi fenomena terpenting di akhir abad keduapuluh ini yang mempengaruhi berbagai bentuk reorganisasi sosial, ekonomi, dan politik,(Abullah, 2008).
Seiring dengan pembertahanan kebudayaan, ketiga fenomena di atas sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat, dan merupakan kendala dalam upaya pelestarian kebudayaan lokal bagi sebuah komunitas. Desa Sembalun sebagai lokasi penelitian, setelah dicermati tanpa disadari mereka telah melakukan suatu brekade budaya di wilayahnya. Masyarakat setempat selalu melakukan kegiatan-kegiatan budaya sesuai dengan perputaran waktu yang telah ditentukan. Meskipun pengaruh global melanda wilayah ini, adaptasi pun tetap dilakukan, namun tidak pernah meninggalkan tradisi-tridisi budaya utamanya yang berkaitan dengan upacara agama. Di samping itu, secara inflisit keterkaitan jenis-jenis budaya yang ada selalu berdampingan sehingga dalam pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan. Salah satu contoh yang dapat penulis tampilkan dalam kajian ini adalah Upacara Ngayu-Ayu yang pada dasarnya diawalai dari sebuah kisah (cerita rakyat) yang diyakini oleh masyarakat, kemudian dalam pelaksanaannya dilengkapi dengan berbagai kesenian yang dianggap sakral, dirangkaikan dengan proses pelaksanaan upacara ngayu-Ayu tersebut. Secara simbolis upacara ini diberikan makna yang tinggi oleh masyarakat setempat atas dasar keyakinan sehingga brekade kebertahanan budaya masyarakat dapat terjaga. Hal ini bukan berarti masyarakat menutup diri dari pengaruh luar untuk berintegrasi, bahkan sangat menghargai dan menerima integrasi budaya luar dengan batasan-batasan yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Terlebih setelah masuknya pasar wisata ke dalam masyarakat petani Desa Sembalun yang mulai mempengaruhi kultur agraris menjadikan pandangan masyarakat sedikit meluas pada jaringan sosial dan berorientasi ke kawasan luar desa. Jujur diakui bahwa hal ini akan mempengaruhi begesernya orientasi masyarakat berkat melebarnya batas-batas interaksi dan batas pengetahuan penduduk. Sumber daya yang dapat dimobilisir menjadi lebih luas, karena mulai melintas batas desa. Wawasan berpikir masyarakat mulai meluas dengan munculnya ide-ide baru dalam hal sumber daya serta pemanfaatan peluang dan kesempatan dari luar tidak disia-siakan. Masuknya pasar wisata ke Desa Sembalun menjadikan aparat desa ataupun pemuka masyarakat membentuk kelompok-kelompok organisasi yang bergerak di bidang ini demi terkoordinirnya sumber daya. Salah satu kelompok organisasi yang telah terbentuk di desa ini adalah PAS ( Pariwisata Alternative Sembalun), tentunya memanfaatkan sumber daya yang bergerak di bidang kepariwisataan. Pembentukan kelompok organisasi semacam ini bertujuan mempermudah koordinasi antarsesama anggota dan memilah-milah sumber daya dari berbagai jenis pekerjaan sehingga masing-masing profesi masyarakat merasa terayomi dan saling memiliki keterkaitan satu sama lain.
Langkah ini dilakukan untuk menghindari terjadinya interfensi profesi di antara warga, dan secara tidak langsung telah membantu mempertahankan budaya-budaya lokal masyarakat setempat meskipun terjadi gempuran zaman modern secara mengglobal. Kerja sama antara tradisi lokal dengan modern sangat diperlukan dalam dunia wisata, sebab kebudayaan merupakan salah satu pendukung berkembangnya kepariwisataan. Pada umumnya kebudayaan sebagai pendukung pengembangan pariwisata cenderung mengarah pada hal-hal yang bersifat seni/estetis. Pada zaman modern ini juga ditandai dengan proses estetisasi kehidupan, yakni menguatnya kecenderungan hidup sebagai proses seni. Produk yang dikonsumsi tidak dilihat dari fungsi, tetapi dari simbol yang berakitan dengan identitas dan status, (Abdullah, 2008). Pada saat kecenderungan ini terjadi esensi kehidupan menjadi tidak penting karena sebagai sebuah seni, kehidupan itu memiliki makna keindahan sehingga yang dihayati dari hidup itu adalah citra, (Simmel dalam Abdullah, 2008). Hidupnya seni budaya dalam sebuah komunitas tertentu dapat dianggap sebagai penguat rangsangan masuknya kunjungan wisata ke kawasan tersebut, di sisi lain tanpa disadari oleh masyarakat pendukung industri wisata dan masyarakat lokal bahwa mereka telah mempertahankan budaya-budaya lokal yang menjadi miliknya dan wajib dilestarikan dan dikembangkan.

Relevansi Budaya Tradisional dengan Modern.
Dalam sub bahasan ini penulis bertumpu pada pengertian transmisi kebudayaan, artinya kebudayaan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Atas dasar pengertian tersebut, manusia sebagai aktor kebudayaan dapat mentransmisikan kebudayaan baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman. Selain itu, kebudayaan akan menunjukkan kepribadian seseorang, sebaliknya tanpa kepribadian kebudayaan itu tidak akan ada. Kepribadian manusia akan dapat mengajegkan kebudayaan dan sekaligus dapat memanipulasi kebudayaan. Jadi kebudayaan bukanlah sesuatu yang bersifat statis, tetapi sesuatu yang dinamis. Dalam mentransmisikan kebudayaan menurut Fortes dapat dilihat dari tiga unsur utama yaitu 1) unsur yang ditrasmisikan, 2) proses transmisi, dan 3) cara transmisi, (Fortes dalam Tilaar, 2000:54).
Mengacu pendapat Fortes di atas, maka muncul pertanyaan, unsur-unsur manakah yang ditransmisikan? Berdasarkan pengamatan, unsur-unsur yang ditransmisikan umumnya berupa nilai-nilai budaya, norma-norma, adat-istiadat, tradisi atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Tranmisi merupakan suatu proses dari kehidupan manusia. Manusia sebagai aktor kebudayaan akan selalu mentransmisikan budayanya seiring dengan kehidupan dan perjalanan zaman yang mereka lalui. Kebudayaan manusia tidak mungkin muncul murni begitu saja tanpa ada tumpuan budaya-budaya sebelumnya. Kiranya istilah transmisi ini sangat cocok dipergunakan dalam konteks pendidikan kebudayaan mengingat bergesernya nilai-nilai budaya sebuah komunitas dimanipulasi oleh manusia itu sendiri.
Pernyataan ini kiranya sejalan dengan pendapat H.A.R Tilaar, yang menyebutkan bahwa proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi, dan sosialisasi, (Tilaar, 2000:54). Proses imitasi dimaksud adalah proses suatu langkah peniruan, biasanya dilakukan atau dimulai dari lingkungan yang lebih sempit (lingkungan keluarga) menuju pada lingkungan yang lebih luas. Disebutkan bahwa manusia adalah aktor dan manipulator terhadap kebudayaannya, oleh karenanya unsur-unsur yang ada harus diidentifikasi. Pengidentifikasian sebuah unsur kebudayaan sifatnya sangat subyektif sesuai dengan tingkat kemampuan orang yang mengidentifikasi dari unsur kebudayaan tersebut.
Selanjutnya identitifikasi unsur kebudayaan harus disosialisasikan agar mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar. Maksudnya adalah untuk mendapat pengakuan sosial dari masyarakat sekitar, unsur budaya yang diidentifikasi tersebut harus cocok diterapkan di lingkungan sekitar, untuk mewujudkan keseimbangan dan keharmonisan hubungan antarsesama. Dalam peristiwa budaya semacam ini, maka akan muncul yang disebut akulturasi budaya, yaitu terjadinya proses pembauran budaya antarkelompok atau dalam kelompok yang lebih besar.
Bertumpu pada beberapa pendapat dan pernyataan di atas menandakan bahwa kebudayaan tidak akan mengalami perubahan secara prontal melainkan mengalami pergeseran secara perlahan seirama dengan perjalanan zaman yang dilalui. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semodern apapun kebudayaan sekarang tidak akan dapat berdiri sendiri tanpa dilandasi oleh kebudayaan sebelumnya. Pergeseran atau perubahan kebudayaan tentunya masih memiliki keterkaitan dengan kebudayaan sebelumnya. Artinya kebudayaan yang dianggap modern sekarang ini, selalu bertumpu pada kebudayaan yang ada sebelumnya. Salah satu contoh; tahun 70-an ke bawah, masyarakat Indonesia jarang bahkan belum mengenal yang namanya TV, pada saat itu yang dipakai media penyampaian nilai-nilai luhur budaya bangsa kepada anak-anak adalah melalui dongeng oleh para orang tua kita. Setelah zaman modern, mediasinya melalui alat-alat elektronik seperti TV, atau elektronik lainnya dengan dikemas secara fisualisasi dalam bentuk senetron, atau film kartun. Bila hal ini dicermati, tumpuan cerita sebenarnya sama dengan cerita tempo dulu, yang mengedepankan alur cerita pada pertentangan antara yang baik dengan yang buruk. Tampilan ini sebenarnya tetap merupakan media pendidikan yang perlu dicermati oleh para penikmat seni, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.

Sikap dan Prilaku Masyarakat terhadap Budaya Tradisional
di Zaman Modern.
Budaya tradisional di tiap-tiap daerah di Indonesia terkesan diabaikan, terlebih bagi anak-anak muda yang cenderung lebih menerima budaya luar yang dianggapnya modern. Benarkah ini berlaku juga di desa tradisional Sembalun Lombok Timur NTB? Masyarakat Desa Sembalun yang memiliki sikap terbuka tidak menutup diri dari berbagai pengaruh budaya luar demi perkembangan kemajuan desa mereka. Masyarakat membuka diri, dengan senamg hati menerima tamu/wisatawan yang datang serta menyediakan pasilitas-pasilitas yang menjadi kebutuhan wisatawan tersebut. Sikap masyarakat yang terbuka ini bukan berarti melupakan budaya lokal yang mereka miliki, justru memperkuat brekade untuk memperkuat lestarinya budaya-budaya lokal yang ada. Mereka beranggapan, dengan lestarinya budaya lokal yang unik merupakan suatu media ampuh untuk menarik minat wisatawan domestik ataupun asing datang ke wilayah ini. Desa Sembalun dengan rumah adatnya yang sangat tradisional serta obyek wisata alam seperti Segara Anakan merupakan modal yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obyek wisata tahun-tahun mendatang.
Kawasan Sembalun bila dipandang dari lokasi wilayahnya dapat dikatakan berada di pinggang Gunung Renjani, karena lokasi ini merupakan pertengahan antara naik ke puncak Gunung Renjani dan turun ke dataran wilayah perkotaan. Meskipun demikian, kawasan ini masyarakatnya secara menyeluruh telah mengenal barang elektronik produk-produk modern. Hal ini karena adanya jalan-jalan penghubung menuju lokasi sangat bagus, alat transportasi lancar sehingga mudah terjangkau. Sikap ramah tamah masyarakat salah satu faktor pendukung tingkat kunjungan wisata ke tempat ini. Masuknya pengaruh luar ke Desa Sembalun ini di samping adanya peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat, juga merupakan tantangan bagi masyarakat setempat yang perlu diwaspadai. Namun demikian, dengan kuatnya nilai-nilai budaya dan merupakan inti dari sebuah kebudayaan, serta kuatnya mental dan jati diri masyarakatnya dalam upaya pelestarian nilai budaya maka pengaruh luar dapat dinetralisir dan bisa disenergikan dengan budaya lokal yang ada. Adanya perpaduan pengaruh budaya luar dengan budaya lokal muncul defusi kebudayaan yang disebut akulturasi.
Dalam proses ini terjadi pembauran budaya antar kelompok atau antar etnis yang berbeda. Masyarakat tidak kaku menghadapi pengaruh luar, mengingat mereka telah membentengi diri menghadapinya dengan cara memilah, memilih, dan menyaring (filterisasi) pengaruh budaya luar yang mempengaruhi budaya lokal yang ada. Bermodalkan kekuatan jati diri demi upaya pelestarian nilai budaya lokal, masyarakat kelihatan tak merasa gentar dengan masuknya budaya-budaya luar yang dipridiksi dapat merusak tatanan budaya lokal. Bagi masyarakat setempat malah merasa diuntungkan bila banyak kunjungan yang datang ke kawasan ini, mengingat warganya akan lebih leluasa mendapatkan lowongan pekerjaan dari sektor lain selain jadi petani.
Banyaknya kunjungan wisata dari luar, kawasan ini akan membuka wawasan masyarakat setempat dalam melirik lapangan kerja baru yang kiranya lebih menjanjikan peningkatan sosial ekonomi masyarakat. Di sisi lain, bila terjadi persaingan antarkelompok atau perseorang maka akan terjadi stratifikasi ekonomi masyarakat dan mungking tertajinya ketimpangan-ketimpangan kemampuan di antara mereka sehingga memunculkan rasa kecemburuan sebagai pemicu konflik. Tantangan semacam ini perlu pemahaman yang mendalam demi terhindarnya konflik. Bila terjadi persaingan yang sehat dalam konteks perekonomian, maka masyarakat yang tinggal di wilayah ini akan mengalami suatu kemajuan yang positif, namun jika persaingan yang terjadi sifatnya tidak sehat, maka masyarakat di kawasan tersebut justru akan melangkah mundur. Sementara ini, atas dasar pantauan di lapangan menunjukkan bahwa masyarakatnya masih tetap menjunjung tinggi norma-norma adat dan nilai-nilai yang ada sebagai suatu rambu-rambu yang harus dipatuhi.

PENUTUP
Cerita rakyat merupakan bagian dari kebudayaan yang memiliki sistem nilai sebagai landasan bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kebudayaan dalam konteks cerita rakyat, bila dicermati alur-alur ceritanya, akan terdapat nilai-nilai yang baik dan juga kurang baik, sehingga memunculkan reaksi emosi kejiwaan bagi individu ataupun kolektif para pendengar atau penikmat cerita rakyat tersebut. Kita mengacu pada sinopsis cerita rakyat Si Bening di atas, ditafsirkan masyarakat pembaca kisah tersebut akan merasa terusik emosionalnya, kasihan melihat nasib Si Bening dan benci dengan tokoh lain yang dianggapnya jahat, dan seterusnya. Dalam jaringan kultural, sistem nilai, sistem norma, dan sistem aturan dapat mempengaruhi sikap mental yang selanjutnya dapat mempengaruhi perwujudan prilaku seseorang atau sekelompok massa.
Pada dasarnya kebudayaan menunjukkan jati diri seseorang atau merupakan ciri kemanusiaan itu sendiri, sehingga pengertian kebudayaan bersifat relatif, dapat meluas dan dapat menyempit. Pengertian ini menuntuk agar kebudayaan mampu berfungsi memberikan wawasan bagi masyarakat pendukungnya dalam hal potensi, pendekatan dan tujuan pembangunan. Artinya kebudayaan dalam konteks cerita rakyat bagi masyarakat mampu meberikan wawasan berpikir ke arah yang lebih positif setelah memahami alur-alur cerita yang umumnya mengisahkan antara kebaikan dengan kejahatan. Masyarakat mampu memilah dan memilih mana dianggap baik yang harus mereka tiru dan mana dianggap buruk/jahat yang harus ditinggalkan.

DAFTAR PUSTAKA
Astrid, S. Susanto. 1985. Pengantar Sosoilogi dan Perubahan Sosial. Jakarta: Binacita.
Bagus, I Gusti Ngurah. 1971. “Kebudayaan Bali” Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Jambatan.
Berry, W. John dkk. 1999. Psikologi Lintas Budaya, Riset dan Aplikasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kuntjaraningrat, 1984. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Kun Marjanto, Damarjati. 2005. ”Kajian Cerita Rakyat” Makalah Seminar, NTB.
Sura, I Gde. 1985. “Pengendalian Diri dan Etika dalam Ajaran Agama Hindu” Denpasar.
Sukada, I Made. 1985/1986. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia. Masalah Sistematika Struktur Fiksi. Denpasar: Fakultas Sastra UNUD.
Sembiring, Kencana. 2001. “Cerita Rakyat” Penataran Tenaga Teknis Tradisional”. Direktorat Tradisi dan Kepercayaan.
Soepomo, Sri Saadah. 2001. “Pranata Sosial dan Foklor” Penataran Tenaga Teknis Tradisional. Direktorat Tradisi dan Kepercayaan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Situs-Situs Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites