Minggu, 09 Mei 2010

Dampak Sosial Ekonomi Usaha Gerabah Terhadap Masyarakat Desa Banyumulek di Lombok NTB 1980 – 2002 (Suatu Kajian Sejarah)

Terhadap Masyarakat Desa Banyumulek
di Lombok NTB 1980 – 2002
(Suatu Kajian Sejarah)


I Made Sumarja, Nuryahman, Raj. Riana Dyah Prawitasari,
Cok. Istri Suryawati, dan I Putu Kamasan Sanjaya


ABSTRACT

Gerabah is an earthen object with shaped from moist clay and hardened by heat. At the first time Gerabah Banyumulek is introduced by Papuk Mulek area, particularly for its shape, and it’s making process. Gerabah Banyumulek has their unique gerabah style, its ornaments such as rattan mat, shells, cukli and ancient coin (metal money) ornaments beautifies gerabah-gerabah Banyumulek so make it looks more impressive and antique, if it is compared to the other gerabah from other areas.Until now gerabah become the charms of Banyumulek Countryside and it still provide the necessities of Banyumulek life hood society, which very influence the villager social life, such as the increasing of the villager social status, the increasing to obtain (haji) religious service of society and the rising of education level for the Banyumulek society. The increasing of people income, the neighborhood profit, and the increasing of employment opportunities are the mark of economic development in Banyumulek countryside. Thereby the craft of gerabah gives significant impact for the economic of social life in Banyumulek society
Keyword: The Craft of Gerabah – Social Economic Impact
http://varianwisatabudayasundakecil.blogspot.com


A. PENDAHULUAN
Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna diciptakan Tuhan. Salah satu keistimewaannya adalah manusia dilengkapi dengan akal dan pikiran. Aktivitas-aktivitas manusia melalui akal, pikiran, cipta, rasa dan karsa menghasilkan sebuah karya yang disebut dengan kebudayaan. Hasil karya tersebut menjadi kebanggaan bagi si pencipta sehingga senantiasa dijaga kelestariannya dan salah satu hasil karya manusia tersebut adalah gerabah dengan multifungsinya. Di pedesaan tidak jarang para ibu memilih menggunakan alat-alat rumah tangga yang dibeli di toko-toko kelontong dengan bahan aluminium, dengan alasan mudah didapat dan praktis. Sebetulnya para ibu lebih suka memasak menggunakan alat-alat dapur tradisional miliknya yang dulu, tetapi karena sudah banyak yang rusak dan ditambah sulitnya mendapatkan alat-alat dapur tradisional yang berkualitas baik, maka banyak yang beralih menggunakan alat-alat dapur yang berbahan aluminium. Padahal dari segi kenikmatan hasil masakan tentunya alat-alat dapur dari gerabah jauh lebih enak dan nikmat rasanya.
Perkembangan zaman yang demikian pesat memaksa manusia beradaptasi dengannya, namun lama-lama membuat suatu kejenuhan juga. Kesadaran akan kenikmatan hal-hal yang berbau alami kini mulai dirindukan kembali. Untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu manusia mulai kembali ke hal yang berbau tradisional. Hal ini tampak di hotel, restoran maupun di tempat-tempat makan lesehan telah ditawarkan pelayanan back to nature. Mulai dari dekorasi ruang, peralatan masak serta pelayanan yang bergaya tradisional. Maka berbondong-bondonglah mereka berburu alat-alat masak tradisional yang terbuat dari gerabah (Koran Tokoh, 2008: 10). Salah satu sentra kerajinan gerabah yang sangat terkenal bukan saja di pulau Lombok tetapi juga di Indonesia bahkan di beberapa negara di Eropa adalah kerajinan gerabah Desa Banyumulek.
Menurut ensiklopedia gerabah dapat didefinisikan sebagai sebuah benda yang terbuat dari tanah liat yang dalam proses pembuatannya dibakar dengan api. Gerabah atau tembikar mulai dikenal dan digunakan oleh manusia sekitar akhir masa Paleolitikum atau Neolitikum, yaitu ketika manusia telah menetap dan melakukan kegiatan pertanian atau hortikultura (Buletin Museum, 1994: 39).
Desa Banyumulek sudah dikenal dengan kerajinan gerabahnya, tentunya bahan, bentuk, dan proses pembuatannya mempunyai kekhasan dari gerabah yang terdapat di daerah lainnya terutama hiasan anyaman rotan, kerang, cukli dan kepingan uang logam kuno yang menghiasi gerabah-gerabah Banyumulek hingga terkesan indah dan antik. Hingga kini gerabah menjadi menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Desa Banyumulek. Kerajinan gerabah pada awalnya muncul pada masyarakat tradisional di pedesaan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan kehidupan sehari-hari dan kebutuhan akan peralatan rumah tangga seperti : kendi, gentong, ceret, pot, teko dan lainnya. Salah satu jenis produk gerabah khas desa Banyumulek yang sangat terkenal adalah kendi maling. Semula jenis benda-benda itu ditemukan pada situs-situs arkeologi. Hal ini memberikan sebuah bukti tentang kontak-kontak dan perhubungan dagang antar pulau Lombok dengan negara lain di masa lalu. Berdasarkan catatan sejarah pada masa perundagian, bahwa kerajinan gerabah tidak dapat dipisahkan dari pengaruh yang berkembang di Cina Selatan, Vietnam Utara, Taiwan dan Malaysia Timur. Selama ini, berbagai jenis keramik asing dan tembikar ditemukan di Lombok termasuk keramik dari Cina (Chinesee Aardweek), dan beberapa di antaranya telah menjadi koleksi museum Negeri NTB, sebutlah temuan di gunung Piring kecamatan Pujut berupa kendi. Benda-benda tersebut pada masa lalu memiliki fungsi dan nilai yang sangat tinggi bagi masyarakat seperti makna religi, berfungsi sebagai peralatan rumah tangga, nilai estetika dan bermakna sebagai status sosial bagi masyarakat (Religi, 2007: 36).
Pada awalnya kerajinan gerabah Desa Banyumulek merupakan suatu pekerjaan sampingan bagi masyarakatnya, karena pekerjaan utama masyarakat Banyumulek adalah petani maupun sebagai pedagang. Dalam perkembangan selanjutnya pekerjaan yang semula merupakan pekerjaan sampingan menjadi pekerjaan tetap karena hasil yang diperoleh dikatakan cukup baik seiring dengan perkembangan pariwisata di pulau Lombok pada era tahun 1980-an.
Selain itu Desa Banyumulek didukung oleh keadaan lingkungan alamnya yang dikelilingi oleh sungai yang disebut Kali Babak yang tiap-tiap musim penghujan selalu dilanda banjir, sehingga banyak terdapat pasir (geres) yang juga merupakan bahan dasar pembuatan gerabah, selain tanah liat (tanah malit) dan air. Tanah Liat dibeli dengan harga yang cukup murah dari wilayah lain yaitu di daerah Gunung Ketejer Kecamatan Gerung lebih kurang 3 Km dari Desa Banyumulek (Widyastuti dan Joko Prayitno, 1984: 15-17). Mudahnya memperoleh bahan-bahan baku pembuatan gerabah hingga kerajinan gerabah menjadi cukup eksis di desa Banyumulek.
Hasil kerajinan gerabah Desa Banyumulek tidak hanya dipasarkan di pasaran lokal saja tetapi juga pasaran nasional bahkan pasaran internasional. Gerabah Banyumulek telah menghiasi hotel-hotel maupun rumah-rumah para pengemar maupun kolektor diseluruh nusantara termasuk luar negeri, seperti disebut bahwa gerabah banyumulek telah diekspor ke Jepang dan sebagian Eropa (Gora, 2006: 38). Tentunya hal ini telah memberi dampak ekonomis yang sangat signifikan terhadap kehidupan masyarakat di desa Banyumulek.

B. SEJARAH MUNCULNYA KERAJINAN GERABAH
DI BANYUMULEK

a. Faktor Alam
Menurut Soekmono segala ciptaan manusia sesungguhnya hasil usahanya untuk mengubah dan memberi bentuk serta susunan baru kepada pemberian Tuhan sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rokhaninya, itulah yang dinamakan “kebudayaan” (Soekmono, 1973: 9). Salah satu hasil kebudayaan dari segi kebendaan adalah “gerabah”. Gerabah sebuah nama suatu benda hasil buatan manusia yang bahannya dari tanah liat dengan proses pembakaran dari api, memang sudah dikenal sejak jaman dulu. Akan tetapi kapan sejarah gerabah itu mulai dikenal manusia, hampir sebagian besar belum diketahui. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1991 : 216), gerabah atau tembikar mulai dikenal dan digunakan oleh manusia sekitar Masa Paleolitikum atau Neolitikum, yaitu ketika manusia telah menetap dan melakukan kegiatan pertanian (bercocok tanam). Di luar Indonesia, gerabah tertua ditemukan sekitar tahun 6.500 SM pada masyarakat Sumeria Kino di lembah Sungai Eufrat dan Mesir Kuno sekitar tahun 4.000 SM. Gerabah atau tembikar diciptakan dan dikembangkan manusia secara independent di kalangan masyarakat benua barat maupun timur. Namun ada masyarakat yang tidak mengenal atau menggunakan gerabah dalam kehidupan mereka, misalnya penduduk Polenesia. Diperkirakan bahan aku untuk gerabah tidak ditemukan didaerah mereka. Di Indonesia tradisi pembuatan gerabah tidak dikenal di kalangan penduduk suku bangsa di Irian Jaya (Papua).
Berbagai penyelidikan arkeologis di Indonesia membuktikan, bahwa benda-benda gerabah mulai dikenal pada masa bercocok tanam. Bekas-bekas yang pertama ditemukan tentang adanya barang-barang tembikar/gerabah berupa periuk belanga terdapat di lapisan teratas dari bukit-bukit kerang di Sumatera. Selain itu di pantai selatan Jawa antara Yogya dan Pacitan terdapat juga banyak pecahan-pecahan periuk belanga yang mempunyai cap tekstil yang sama halusnya dengan kain-kain Sumba sekarang. Melolo (Sumba Timur) banyak ditemukan periuk belanga yang ternyata berisi tulang-tulang manusia, dalam hal ini membuktikan bahwa soal penguburan yang serupa dengan apa yang masih juga terdapat pada berbagai suku bangsa sekarang. Mula-mula mayat itu ditanam dan kemudian setelah beberapa waktu tulang-tulangnya dikumpulkan untuk ditanam kedua kalinya dengan disertai berbagai upacara. Berdasarkan catatan sejarah pada masa perundagian, teknologi ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh yang berkembang di Cina Selatan, Vietnam Utara, Taiwan dan Malaysia Timur.
Berbagai penelitian terkait tentang jenis keramik asing dan gerabah ditemukan di Lombok dan beberapa diantaranya telah menjadi koleksi museum. Seperti hasil ekskavasi ditemukan gerabah di Situs Gunung Piring pada tahun 1976. Setidaknya museum setempat memiliki 583 koleksi keramik asing dan tembikar yang tersimpan di ruang pamer. Belakangan NTB termasuk sebagai daerah penghasil tembikar. Kenapa sampai lahir tradisi membuat gerabah di Lombok ? Hal tersebut disebabkan orang Sasak masih percaya pada cerita rakyat tentang Dewi Anjani. Dewi Anjani suatu ketika mengirimi burung pembawa pesan, Manuk Bree untuk menolong sepasang manusia yang menanak beras. Melalui burung itu, Dewi Anjani mengajari manusia mengolah tanah gunung menjadi periuk. Sebagian masyarakat Sasak juga masih menjadikan gerabah sebagai sarana untuk memvisualisasikan keyakinan mereka, juga ritual tertentu serta dongeng-dongeng rakyat. Mereka mengekpresikan lewat desain motif yang ditorehkan di dinding gerabah. Daerah-daerah penghasil gerabah di Lombok antara lain : Masbagik – Lombok Timur, Panujak – Lombok Tengah, Banyumulek – Lombok Barat. Para pembuat gerabah di Banyumulek, masih membuat symbol bulatan kecil bulan sabit, atau anak tangga yang diukir di dinding pemberasan (tempat beras). Jika pemberasan dianggap sebagai lumbung padi maka anak tangga ini adalah jalan menuju lumbung. Bulatan kecil adalah tanda seorang perempuan hamil sembilan bulan yang akan menanak nasi.
Desa Banyumulek sebagai pusat dan asal dari pembuatan gerabah terletak di wilayah Kabupaten Lombok Barat, Kecamatan Kediri, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini berjarak kurang lebih 10 km sebelah barat Kota Mataram, ibukota Propinsi Nusa Tenggara Barat. Desa Banyumulek mempunyai batas-batas wilayah antara lain : Di sebelah utara Kalibabak, di sebelah selatan Desa Gapuk, di sebelah timur Desa Rumok dan di sebelah barat Desa Bolok. Luas Desa Banyumulek 421.300 ha., wilayah ini tersebut menurut konstruksi tanahnya kurang menguntungkan bagi usaha pembuatan gerabah, karena letaknya berdekatan dengan Kalibabak yang tiap musim penghujan selalau dilanda banjir. Sehingga tanah disekitar desa tersebut terlalu banyak mengandung pasir.
Desa Banyumulek berpenduduk 9.872 orang terdiri dari laki-laki 4.616 orang dan wanita 5.253 orang (Monografi Desa Banyumulek, Tahun 2007). Sebagian penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Kehidupan masyarakat Banyumulek selain bertani juga bekerja di sektor lain sebagai sampingan, sektor yang dianggap sampingan itu antara lain adalah bergadang, pengrajin gerabah, dan lain-lain (jasa angkutan, jasa bangunan, jasa wisata, dan lain-lain). Dalam perkembangannya pekerjaan membuat gerabah yang semula merupakan pekerjaan sampingan (sambilan) diakibatkan oleh hasilnya boleh dikatakan lebih baik telah pula mendorong untuk menjadikan pekerjaan yang semula merupakan pekerjaan sampingan menjadi pekerjaan pokok. Penduduk yang paling banyak melakukan kegiatan membuat gerabah adalah dari Banyumulek Barat dan Banyumulek Timur. Para perajin terdiri dari kaum wanita yang paling banyak, anak-anak dewasa, dan orang tua. Menurut tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat setempat, asal-usul adanya gerabah di Banyumulek ini telah dimulai sejak berkembangnya masa Kerajaan Selaparang sekitar abad ke-17.
Tradisi lisan tersebut berkembang ketika seorang bernama Papuk Mulek yang mengaku berasal dari keturunan Selaparang menetap dan tinggal di Desa Banyumulek. Secara etimologis nama Banyumulek sendiri berasal dari kata “Banyu” yang berarti air, dan “Mulek” yang berarti memutar. Jadi air yang mengalir dari Kali Babak terus mengalir ke barat Desa Perampuan kemudian mengalir ke Desa Gapuk lantas air yang mengalir itu mengalir tersebut kembali lagi ke Kali Babak. Jadi air itu mengalir hanya memutar di wilayah itu saja sehingga desa tersebut dinamakan Desa Banyumulek. Selama Papuk Mulek menetap di Desa Banyumulek karena didorong oleh factor kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menimbulkan keinginan untuk membuat wadah. Pada mulanya mereka belajar membuat gentong untuk tempat air, periuk untuk nasi dan tepak (paso) sebagai bubungan rumah tempat tinggal yang dihiasi dengan bentuk kuda-kudaan dengan hasil yang memuaskan. Dengan demikian menjadilah Papuk Mulek sebagai tokoh yang yang dianggap sebagai pemula dari pembuatan gerabah di Desa Banyumulek (Widiastuti dan Joko Prayitno, 1983: 13). Sampai saat ini kerajinan gerabah di Desa Banyumulek dianggap sebagai usaha yang diwariskan oleh Papuk Mulek, dan dianggap sebagai nenek moyangnya.

b. Faktor Ekonomi
Adanya tuntutan hidup yang terus meningkat mendorong seseorang untuk mencari jalan guna memenuhi tuntutan tersebut. Peningkatan jumlah tuntutan itu mendorong seseorang untuk mencari alternatif-alternatif baru yang dianggap menjanjikan, terutama dalam bidang ekonomi. Orang mulai membandingkan antara pendapatan dan pekerjaan sebelumnya dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan. Apabila pekerjaan yang akan dilaksanakan menjanjikan nilai ekonomi lebih tinggi, maka secara otomatis akan dipilihlah pekerjaan atau profesi tersebut. Kondisi awal di Desa Banyumulek, sebelum kerajinan gerabah dianggap lebih menjanjikan dengan pekerjaan lain, sebagian besar penduduk mengutamakan pekerjaan di bidang pertanian. Akan tetapi dalam perkembangannya keadaan tersebut menjadi berbalik. Kini sebagian besar penduduk Banyumulek lebih mengutamakan sektor kerajinan dan industri kecil (gerabah). Industri/kerajinan ini merupakan usaha produktif dan kreatif di luar sektor pertanian, usaha ini tumbuh dan berkembang atas dorongan naluri manusia untuk membeli alat dan barang yang diperlukan bagi perlindungan diri dalam melangsungkan dan memperjuangkan hidupnya, maupun atas dorongan aktualisasi diri untuk menciptakan karsa dan karya di dalam hidupnya.
Upaya untuk lebih mengembangkan usaha ini, salah satu diantaranya adalah dengan mengadakan penganekaragaman dan memperluas kemungkinan penggunaan barang-barang kerajinan. Rintisan usaha ini tentunya memerlukan gairah kreatifitas yang tinggi, dan dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini akan dapat tercapai bila para pengusaha/pengrajin selalu bekerja dengan sungguh-sungguh, ulet dan terus mencoba mengembangkan jenis produk yang dihasilkan, hingga pada akhirnya akan mampu membuahkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu yang perlu dijaga adalah agar mutu dan kehalusan pembuatannya dapat tetap dipelihara, bahkan harus bisa ditingkatkan. Pilar utama kekuatan produk-produk kerajinan, jika dibandingkan dengan produk industri besar adalah pada keunggulan mutu dan kehalusan pembuatannya. Berkembangnya industri kecil/kerajinan gerabah di Banyumulek terjadi setelah adanya perkembangan dari dunia pariwisata. Bisnis gerabah mulai berkembang ketika sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat diperkenalkan awal tahun 1980-an. Beberapa warga kala itu dibina oleh Lombok Crafts Project New Zeland dalam seni kerajinan. Sudah banyak yang telah berhasil dibina, sampai akhirnyapun para perajin mampu membuka artshop dan kualitas kerajinannya bisa lebih baik (Religi, 2007 : 37).
Kedatangan wisatawan ke NTB semakin hari menambah jumlah customer. Banyak diantara mereka yang semula memesan di Bali, akhirnya bisa langsung melakukan transaksi di Lombok sekaligus melakukan pembinaan. Hal ini secara berangsur-angsur akan memperbaiki mutu kerajinan gerabah. Tahun 1989 tumbuh indusri-industri kecil yang memproduksi kerajinan gerabah, dimana hasil kerajinan tersebut banyak sekali diminati oleh wisatawan baik domestic maupun mancanegara, karena banyaknya permintaan kerajinan gerabah dari luar negeri seperti : Amerika, Jerman, Jepang, Selandia Baru, Australia, dan Negara-negara lain di Eropa. Mulai saat itu kehidupan masyarakat Desa Banyumulek menjadi desa yang maju dan ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Pada tahun 1994 Desa Banyumulek dinamakan Desa Sapta Pesona dan mata pencaharian masyarakat Desa Banyumulek yang utama adalah kerajinan ketrampilan gerabah.
Jumlah industri kecil (gerabah) yang ada di Desa Banyumulek sebagai berikut: Dusun Banyumulek Timur terdaapat 33 industri dengan 990 pekerja. Dusun banyumulek Barat terdiri dari 30 industri kecil dengan 900 pekerja, Dusun Muhajirin terdapat 6 industri kecil dengan 180 pekerja. Di Dusun Pengodang Indah terdapat 5 industri dengan 150 pekerja, Dusun Gubuk Baru terdapat 6 industri kecil dengan menyerap 180 pekerja. Di Dusun Kerangkeng terdapat 7 industri kecil dengan pekerja 210 orang, di dusun Lelede Desa terdapat 6 industri kecil dengan jumlah pekerja 180 orang. Di dusun Lelede Dasan terdapat 5 industri dengan pekerja 150 orang, di Dusun Lelede Kebon Daya terdapat 3 industri kecil dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 90 orang. Sedangkan di Dusun Dasan Bawak terdapat 18 industri kecil dengan 540 orang tenaga kerja (Data Statistik di Kantor Desa Banyumulek 2007).
Data tersebut di atas, dapat dilihat bahwa jumlah industri kecil kerajinan gerabah yang di Desa Banyumulek tersebar di 10 dusun sewilayah Banyumulek bisa dibilang sangat banyak dengan jumlah pekerja masing-masing industri kecil tersebut berkisar antara 10 – 30 orang. Sampai sekarang industri kecil pembuatan gerabah di Desa Banyumulek masih tetap berjalan dan tetap mendapatkan pesanan meski jumlahnya telah jauh berkurang dibandingkan dengan era tahun 1990-an di masa kejayaannya di mana pesanan gerabah bisa mencapai ribuan biji. Akibat dari Kerusuhan di Mataram-Lombok tahun 2000 dan juga bom Bali pada bulan Oktober 2002 memang membuat sektor pariwisata mengalami kelesuan yang berakibat pesanan gerabah merosot tajam, bahkan pernah tidak ada pesanan selama berbulan-bulan.
Meski demikian, pangsa pasar ekspor gerabah masih tetap menjanjikan dan bisa diharapkan. Tahun 2004 volume ekspor gerabah ke 30 negara mencapai 538,7 ton dengan nilai 934,861 dollar US, hal tersebut turun 32 prosen dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 1.380, 599 Dollar US. Tahun 2005 nilai ekspor meningkat lagi sebanyak 7,7 prosen dari 600.785 Dollar US, menjadi 647.152 Dollar US, pangsa pasar teranyak ke Amerika Serikat (Suara Bhumi Gora, 2006 : 38-39). Walaupun berbagai permasalahan termasuk diantaranya naiknya harga BBM mempengaruhi industri gerabah di Banyumulek, namun dari faktor ekonomi industri gerabah di Banyumulek telah membawa perubahan di berbagai bidang kehidupan.

c. Faktor Sosial
Gerabah sebagai fungsi sosial yaitu adanya beberapa bentuk gerabah yang dipergunakan untuk keperluan atau tempat alat-alat upacara. Bagi masyarakat suku Sasak di Lombok dalam melaksanakan berbagai upacara adatnya seperti misalnya upacara khitanan, kematian, perkawinan, danupacara lainnya. Dalam hal tersebut tampak benda-benda gerabah seperti periuk kecil dipergunakan untuk air suci, pedupaan digunakan untuk tempat kemenyan dan tepak (paso) dipergunakan pula untuk tempat air pada waktu memandikan penganten. Sama dengan umat Hindu di Lombok di dalam mereka melaksanakan upacara agama maupun upacara adapt, benda-benda gerabah seperti payuk peree dipergunakan Yadnya adalah korban suci dalam upacara Pitra Yadnya yaitu korban suci kepada para leluhur dan orang tua untuk menyatakan terima kasih dan rasa hormat kepada leluhur dengan mengadakan Sawe Preteka seperti upacara penguburan dan pengabenan. Payuk Peree tidak luput dari fungsinya sebagai tempat air suci (tirta). Adapula peralatan upacara lainnya seperti : pasepan, caretan, coblong, dan sebagainya sampai saat ini masih tetap dipergunakan.




C. SISTEM PRODUKSI, DISTRIBUSI DAN PEMASARAN KERAJINAN GERABAH

a. Sistem Produksi.
Asal usul dari pembuatan gerabah di Desa Banyumulek pertama-tama karena masyarakat desa ini sudah bisa menghasilkan bahan makanan seperti padi dan sayur-sayuran, sedangkan alat untuk memasak bahan itu mereka harus membeli dari daerah lain, sehingga dengan demikian supaya mereka tidak membeli ke daerah lain maka timbullah inisiatif dari masyarakat di sana untuk membuat sendiri. Keadaan demikan memaksa masyarakat untuk membuat gerabah sendiri. Pada mulanya hanya ditekuni oleh beberapa orang saja. Demikian pula jenis gerabah yang dibuat sifatnya terbatas seperti jangkih atau tungku dan lelie atau periuk yang hanya digunakan untuk keperluan rumah tangga saja. Kejadian ini akhirnya diketahui oleh masyarakat luas di Desa Banyumulek dan mereka tertarik serta mencoba untuk menggeluti kerajinan ini. Akhirnya berkembanglah pembuatan gerabah di Desa Banyumulek dan tersebar ke desa-desa lainnya bahkan sampai ke Lombok Barat. Pesanan barang-barang semakin meningkat dari desa-desa tetangga sehingga produksi gerabah semakin berkembang baik dilihat dari segi bentuk maupun motif yang dituangkan seiring dengan perkembangan zaman. hingga sekarang usaha kerajinan gerabah ini merupakan sektor perekonomian yang memegang peranan cukup penting bagi masyarakat Desa Banyumulek.
Tanah liat dan pasir adalah bahan utama dalam kerajinan gerabah di Desa Banyumulek. Tanah liat dalam bahasa Sasak disebut tanak malit dan pasir kali adalah geres. Tanah liat ini biasanya diperoleh dari gunung-gunung. Sayang Desa Banyumulek sebagai daerah penghasil gerabah tidak punya gunung sehingga para pengrajin di sini memperoleh bahan baku berupa tanah liat dari desa-desa tetangganya bahkan dari kecamatan lain seperti Kecamatan Gerung yakni di Gunung Ketejer lebih kurang tiga kilo meter di sebelah barat Desa Banyumulek dan juga berasal dari Gunung Lendang Andus Kecamatan Sekotong. Mereka ada yang mencari sendiri ke lokasi dengan harga yang lebih murah, namun ada juga pengrajin yang memperoleh bahan baku dari para pedagang yang langsung datang membawakan ke tempat kerja atau ke rumah pengrajin mempergunakan mobil dengan harga relatif lebih mahal. Satu mobil kijang tanah liat setelah sampai di Desa Banyumulek harganya mencapai Rp. 150.000 sampai dengan Rp. 160.000. Sedangkan untuk satu cidomo/dokar harganya sekitar Rp. 40.000. Pasir kali (geres) bisa diperoleh di kali-kali yang ada di sekitar Desa Banyumulek. Karena letaknya tidak terlalu jauh sehingga pada umumnya para pengrajin mengambil sendiri pasir ke kali.
Bahan baku untuk proses pembakaran hasil kerajinan adalah dari kayu bakar, jerami atau sampah yang sudah kering. Kayu bakar mereka peroleh dari ladang mereka sendiri namun ada juga yang membeli dari para pedagang. Jerami mereka peroleh dari sawah-sawah yang telah habis panen. Sedangkan sampah atau rumput kering diperoleh dari sisa-sisa makanan sapi yang dikumpulkan. Disamping bahan baku yang bagus ada juga beberapa peralatan yang menunjang proses produksi gerabah yang harus disiapkan seperti alat putar (dry ship) tempat menaruh adonan tanah liat yang sudah siap dikerjakan untuk dijadikan gerabah. Pisau pengerik adalah pisau kecik yang gunanya untuk meratakan gerabah pada bagian luar yang belum rata. Rembangan adalah alat yang dibuat dari kayu atau tanah liat yang bentuknya bundar pipih sebagai alas agar banda yang dibuat benar-benar bundar. Lelanggong adalah terbuat dari tanah liat bentuknya menyerupai mangkok, dipergunakan sebagai alas dari rembangan supaya mudah diputar-putar. Pemeratan adalah sobekan kain yang gunanya untuk menghaluskan bagian bibir benda yang sudah jadi dibentuk. Batu hitam kecil (Batu Lolet) adalah untuk menggosok-gosok gerabah yang sudah jadi sehingga menjadi halus permukaannya. Sabut kelapa juga sebagai alat bantu dalam pembentukan atau meratakan permukaan benda yang akan dibuat. Pengoahan adalah terbuat dari batok kelapa berbentuk agak bulat untuk menghaluskan bagian dalam benda yang setengah jadi. Leladikan/pengerab adalah terbuat dari pipihan bambu atau kayu yang diraut pada salah satu sisinya dibuat lekukan ke dalam yang dipergunakan untuk menghaluskan bibir benda. Penepong adalah terbuat dari bambu berbentuk bulat kecil pendek yang dipergunakan untuk alat melobangi benda (Widiastuti, 1984: 33-35)
Penggarapan gerabah di Desa Banyumulek, pada umumnya dilakukan oleh para ibu-ibu. Mereka sangat tekun bergelut dengan tanah liat di depan alat putar demi menambah penghasilan untuk menopang kehidupan rumah tangga mereka, di samping kreativitas dan melestarikan khasanah budaya bangsa yang diperoleh secara turun-temurun dari nenek moyangnya. Pengrajin gerabah yang paling banyak adalah dari Banyumulek Barat dan Banyumulek Timur. Sebagian besar pengrajin masih berpendidikan rendah. Secara tradisional dalam proses pembuatan gerabah masih menggunakan alat-alat yang sangat sederhana dan terdiri dari beberapa tahapan kerja seperti penjemuran tanah, perendaman dan pencampuran tanah liat, pembembentukan dan pengkilapan jenis kerajinan, pembakaran hasil produksi dan pemberian hiasan.
Tanah liat yang diperoleh dari gunung-gunung di sekitar Desa Banyumulek oleh para pengerajin gerabah dijemur di bawah sinar matahari terik supaya tanah liat tidak lengket. Biasanya dalam penjemuran ini dipakai alas seperti tikar, plastik dan terpal supaya lebih mudah mengambil. Tanah ditaburkan secara merata di atas alas tadi dan dijemur di pekarangan rumah atau di pinggir jalan agar cepat kering. Perendaman tanah liat biasanya dilakukan selama satu hari dengan mempergunakan alat perendam berupa paso yang cukup besar. Ada juga yang mempergunakan drum, bak mandi sehingga perendaman bahan bisa lebih banyak. Setelah perendaman dianggap cukup, maka dilanjutkan dengan proses pencampuran dengan pasir kali. Pasir kali ini sebelumnya dijemur sampai kering dan diayak sampai halus dengan alat ayak yang disebut erok geres. Alat ayak ini dibuat dari bahan bambu yang dianyam dan berlobang kecil-kecil. Ada juga para pengrajin yang menggunakan alat ayak terbuat dari kawat yang lobangnya agak kecil sehingga hasilnya lebih halus. Campuran antara tanah liat dengan pasir kali biasanya perbandingan dua banding satu. Dua bagian adalah tanah liat dan satu bagian adalah pasir kali.
Campuran ini kemudian diaduk aduk sampai rata. Adonan ini terus diremas-remas sampai terasa lembut. Bahkan ada pengrajin yang menginjak-injak campuran tanah liat untuk memperoleh bahan baku gerabah semakin bagus. Semakin lama proses adonan dibuat biasanya hasilnya semakin baik. Namun pemilihan tanah dan pasir juga sangat berpengaruh terhadap kwalitas barang yang akan dihasilkan. Oleh karena itu para pengrajin biasanya sangat berhati-hati dalam penentuan atau pembelian bahan baku gerabah. Setelah adonan jadi, ada yang membiarkan atau menyimpan selama satu malam. Tujuan penyimpanan adonan adalah supaya bisa tercampur secara merata antara pasir dengan tanah liatnya. Semakin merata adonan maka semakin mudah dikerjakan dan semakin bagus barang yang akan dihasilkan.
Setelah adonan atau campuran dianggap sudah bagus maka dilanjutkan dengan proses pembuatan gerabah sesuai dengan motif yang diinginkan. Adonan diambil secukupnya dan diletakkan pada sebuah rembagan (cetakan) dan yang paling pertama dibuat adalah bagian pantatnya. Selanjutnya dilakukan penambahan bakalan sedikit-demi sedikit pada bagian tepinya sesuai dengan bentuk yang mau dibuat. Setiap penambahan yang dilakukan maka harus dilakukan pembasahan pada bagian permukaannya. Biasanya para pengajin menggunakan kain sebagai alat bantu untuk membasahinya. Selama proses pembuatan benda-benda yang diinginkan rembagan terus diputar-putar dengan tangan. Hasil yang diperoleh kadang-kadang tidak sempurna sehingga perlu ada penambahan baik dari dalam maupun pada bagian luar gerabah. Setelah agak rata maka dilakukan penyempurnaan bentuk benda dengan penghalusan secara merata pada seluruh permukaan benda dengan bantuan alat berupa potongan serabut kelapa yang dibasahi dengan air. Apabila ada benda-benda yang perlu diberi lobang maka ada alat yang dipergunakan yang disebut penepong (Widiastuti, dkk., 1984: 22-26).
Proses selanjutnya adalah pengkerikan benda pada bagian luarnya dengan alat bantu berupa pisau kecil dan tipis. Proses pengkerikan ini bertujuan untuk meratakan seluruh permukaan benda atau ketebalan benda bisa merata. Setelah permukaan benda merata dilanjutkan dengan penggosokan dengan bantuan batu hitam yang disebut batu lolet. Tujuan penggosokan dengan batu lolet adalah untuk meratakan serta memadatkan permukaan benda sehingga barang yang dihasilkan mutunya baik. Penggosokan dilakukan secara merata pada bagian luar benda dan dilakukan dengan berhati-hati (tanpa tekanan yang terlalu keras) supaya benda tidak pecah. Barang yang sudah selesai di gosok dengan batu perlu dikeringkan dibawah sinar matahari sehingga kadar air yang terkandung di dalam benda menguap. Ada juga para pengajin menggunakan botol kecil (bekas obat) untuk penggosokan gerabah.
Setelah semua barang selesai digosok, dilanjutkan dengan proses pengkilatan untuk memperoleh barang kerajinan dengan mutu yang bagus. Zaman dahulu para pengrajin mempergunakan bahan pengkilap dengan kelapa yang dibakar. Kelapa yang sudah dibakar diparut kemudian diperas untuk mendapatkan santan yang kental. Santan ini dipergunakan untuk bahan pengkilapnya dengan cara digosok secara merata. Ada juga yang memakai buah jamplung. Buah jamplung dibakar sampai gosong kemudian dicari airnya untuk campuran pengkilap. Sekarang para pengrajin gerabah mempergunakan minyak solar untuk bahan pengkilapan barang-barang yang mereka produksi. Setelah kering maka barang-barang siap di bakar.
Persiapan sebelum pembakaran yang diperlukan adalah jerami, kayu api atau sampah yang kering. Persiapan pembakaran biasanya dilakukan oleh orang laki-laki. Sebelum pembakaran perlu diperhatikan keadaan cuaca sehingga tidak mengganggu proses pembakaran terutama yang membakar di tempat terbuka. Biasanya musim panas para pengrajin baru melakukan pembakaran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelum pembakaran penataan barang sangat perlu diperhatikan supaya hasil pembakaran barang memuaskan. Barang-barang ditaruh dalam keadaan tertelungkup dan diberi jarak antara barang yang satu dengan yang lainnya sehingga bahan bakar atau jerami bisa masuk ke sela-sela barang yang akan dibakar secara merata. Bila ada barang yang tidak terkena jerami maka hasil pembakaran nanti pasti kurang bagus atau ada bagian tertentu yang masih mentah sehingga mengurangi kwalitas barang. Apabila tempat pembakaran kurang luas maka barang bisa disusun tempatnya asal nanti dalam pembakaran bisa terkena api secara merata. Setelah tersusun rapi maka barang ditutup dengan jerami dan siap dibakar. Waktu yang dibutuhkan untuk pembakaran lebih kurang satu jam. Setelah barang dianggap matang barulah dilakukan pembongkaran barang.
Pembuatan warna pada benda dilakukan pada saat pembongkaran selesai. Apabila warna benda yang diinginkan adalah hitam, maka pada saat barang masih dalam keadaan panas langsung ditaburi sekam, rumput kering (bekas/sisa makanan sapi), dan ada juga yang memakai bekas parutan kelapa. Apabila ada barang yang masih belum hitam dalam arti hitamnya kurang merata, bisa diatasi dengan mempergunakan tinta bak supaya hasilnya mulus. Untuk mendapatkan hasil bintik-bintik dipergunakan kulit tulang asem. Kulit tulang asem digoreng terus ditumbuk sampai halus. Setelah halus direbus dan disaring lalu dimasukkan ke dalam alat semprot. Barang yang masih dalam keadaan panas disemprot sehingga hasilnya bintik-bintik. Sedangkan yang menginginkan warna barang kemerahan maka barang setelah selesai pembakaran dibiarkan begitu saja sampai dingin tanpa diberi apa-apa atau jangan sampai tersentuh oleh rumput kering disekitarnya. Sedangkan untuk finis luarnya digunakan cat miolek.
Berkat pembinaan secara intensif, muncul produk-produk yang dimodifikasi seperti gerabah yang diberi anyaman rotan. Pemberian anyaman rotan memang pekerjaan yang cukup rumit, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukannya. Modifikasi rotan memberikan daya tarik tersendiri bagi konsumen dan sudah barang tentu meningkatkan harga jual gerabah. Modifikasi dengan mempergunakan pasir putih dengan berbagai macam dalam arti untuk satu sampel barang terdiri dari berbagai dekorasi. Pembuatan dekorasi pasir pengerjaannya lebih mudah. Daun bajur, daun pisang dan pelepah pisang juga merupakan sarana untuk modifikasi gerabah yang cukup diminati oleh para konsumen. Ketiga bahan ini banyak terdapat di sekitar Desa Banyunulek. Daun dan pelepah pisang dikeringkan atau dijemur sampai betul-betul kering, baru ditempel pada gerabah sesuai selera atau desain pesanan. Kulit jagung bisa juga dijadikan dekorasi, yang proses pengerjaannya hampir sama dengan mempergunakan daun bajur. Ketak sejenis rumput yang tumbuh diladang-ladang sangat bagus dijadikan dekorasi pada gerabah. Ketak bahkan diperoleh dari luar Banyumulek untuk memenuhi kebutuhan pengrajin gerabah.
Modifikasi lain seperti terbuat dari kulit kayu, yang pada umumnya bahan ini dibawa langsung oleh pemesan. Kulit kayu diperoleh dari Irian Jaya, sehingga sangat sulit untuk mendapatkannya. Kerang laut merupakan bahan modivikasi gerabah yang banyak peminatnya. Kerang agak lebih mudah diperoleh karena banyak terdapat dipinggir pantai disekitar Lombok. Batik dan kulit telur banyak dipakai oleh pengrajin untuk desain-desain gerabah. Dulu kulit telur sebagai hiasan ditempel langsung pada gerabah, sehingga pengerjaannya sangat rumit. Sekarang sudah ada yang menjual kulit telur yang sudah ditempel pada kertas yang diberi warna dengan pewarna srriti dicampur dengan bensin. Untuk memperlihatkan corak yang lebih bagus kulit telur yang sudah diberi warna digosok dengan amplas halus sehingga hasilnya kelihatan antik. Kulit telur yang ditempel pada kertas pengerjaannya lebih mudah tinggal memotong sesuai dengan model yang diinginkan. Modifikasi yang paling banyak adalah dengan mempergunakan cat (cat tinta/cat topeng). Model desain cat ada yang dicat merata, ada yang dicat timbul dan ada juga yang dicat bintik-bintik.

b. Sistem Distribusi Gerabah.
Pemasaran atau distribusi yaitu suatu macam kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen (Mubyarto, 1981:140). Pemasaran juga berarti bekerja dengan pasar atau mencari manfaat dengan cara kerjasama dengan pasar. Sebagaimana diketahui bahwa hubungan kerjasama yang baik, akan dapat berlangsung lama jika keduanya merasa memperoleh manfaat (Depnaker RI, 1992: 11-12). Oleh sebab itu diperlukan komunikasi dua arah yang efektif, sehingga kemungkinan merugikan satu sama lain dapat diantisipasi. Perusahaan atau pengrajin memperoleh manfaat keuntungan dari upaya melayani konsumen, dan konsumen mendapat kepuasan atas manfaat dari pemakaian produk perusahaan. Sedangkan komunikasi dua arah diperlukan untuk mengetahui kemauan satu sama lain. Perusahaan atau pengrajin memerlukan informasi mengenai kebutuhan dan keinginan pasar agar dapat melayani secara tepat. Sebaliknya pasar atau konsumen membutuhkan informasi dari perusahaan mengenai pelayanan dan produk-produk yang dapat dinikmatinya. Jadi kalau dilihat sistem pemasaran dari produsen ke konsumen kerajinan gerabah di Desa Banyumulek terdapat dua jenis pemasaran yang biasa dilakukan yaitu pemasaran secara langsung dari pengrajin/produsen ke konsumen/pembeli dan pemasaran melalui perantara. Kedua jenis pemasaran ini sampai saat ini masih tetap dilakukan oleh para pengrajin di Desa Banyumulek.
Pemasaran gerabah di Desa Banyumulek pada umumnya dilakukan oleh orang laki-laki. Zaman dulu dengan transportasi dan komunikasi yang kurang lancar, para produsen atau pengrajin memasarkan gerabahnya secara langsung datang kedesa-desa tetangganya dengan cara memikul. Para pedagang mendatangi satu persatu rumah menawarkan barang dagangannya. Apabila para pedagang akan berjualan menuju tempat yang agak jauh seperti ke Lombok Tengah maka mereka terlebih dulu menumpang angkutan umum seperti bis dan setelah sampai di tempat tujuan baru mereka berjalan kaki menjajakan dagangannya.
Penjualan gerabah juga ada yang menggunakan sarana sepeda gayung dan sepeda motor. Dengan menggunakan sarana ini para pedagang agak lebih cepat dalam memasarkan dagangannya dan tenaga yang dikeluarkan agak lebih ringan. Mereka juga bisa pulang pergi tanpa harus menginap di desa tetangganya. Barang-barang yang biasa dipasarkan adalah barang keperluan rumah tangga seperti untuk memasak dan barang untuk perhiasan misalnya pot-pot bunga ukuran kecil. Semakin jauh tempat penjualan biasanya harga barang semakin mahal. Pemasaran langsung lainnya yaitu dengan cara membawa ke pasar terdekat dan para pengrajin menyewa toko/kios. Di samping menjual gerabah mereka juga melengkapi kiosnya dengan barang-barang lain untuk keperluan sehari-hari (sembako). Sekarang di Desa Banyumulek banyak pengrajin yang langsung membuka kios di depan rumah mereka untuk memajang barang-barang hasil kerajinannya. Sedangkan para pengrajin yang memiliki cukup modal mereka membuka Art Shop dengan koleksi barang beraneka ragam dan dalam jumlah yang cukup banyak. Pemasaran seperti ini memang lebih efektif dan tidak banyak menguras tenaga. Harga barang pada proses pemasaran seperti ini sudah dipatok atau sudah ada harga standarnya.
Pemasaran lewat perantara yang di maksud adalah pemasaran gerabah dari produsen sampai ke konsumen dilakukan oleh pedagang pengepul atau para pemilik modal besar. Perdagangan lewat perantara ini penuh dengan persaingan bisnis. Para konsumen besar selalu mencari barang kepada para pengrajin yang berani menjual barang-barangnya dengan harga murah. Apabila para pengrajin tetap bertahan dengan harga yang tinggi maka barangnya tidak akan laku-laku. Sedangkan disisi lain banyak pengrajin yang berani menjual barangnya dengan harga jauh lebih murah dengan harapan supaya cepat laku karena kebutuhan uang yang sangat mendesak. Penurunan harga barang secara besar-besaran atau banting harga sebenarnya merusak harga pasar yang sudah tentu merugikan para pengrajin itu sendiri. Namun hal ini tidak bisa dihindari karena para pengrajin terdesak hutang atau keperluan sehari-hari. Situasi seperti ini justru dimanfaatkan oleh para konsumen besar karena selalu menguntungkan mereka.
Sekarang ada juga yang memasarkan barang lewat internet sampai ke luar negeri seperti ke Jepang, Amerika Serikat, New Zielannd dan negara lainnya, yakni dengan memasang produk-produk atau contoh-contoh gerabah lewat internet. Apabila ada konsumen di luar negeri yang berminat maka mereka tinggal memesan barang dan jenis barang yang diinginkan. Masalah pengiriman barang dan pembayarannya tergantung kesepakatan antara pemesan dengan eksportir.

c. Fungsi Gerabah dalam Masyarakat.
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota-anggotanya seperti kekuatan alam, maupun kekuatan-kekuatan lainnya di dalam masyarakat itu sendiri yang tidak selalu baik baginya. Kecuali itu, manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik di bidang spiritual maupun material. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut di atas, untuk sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri (Soekamto, 2001: 194). Gerabah yang juga merupakan bagian dari unsur kebudayaan yang sampai saat ini masih berkembang dengan pesat di Desa Banyumulek mempunyai berbagai fungsi di dalam kehidupan masyarakatnya. Adapun fungsi gerabah bagi masyarakat adalah sebagai berikut.
Gerabah mempunyai fungsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam arti untuk memenuhi aktivitas sehari-hari yang berhubungan dengan keperluan di dapur seperti alat untuk memasak, alat untuk menyimpan dan sebagainya. Bentuk-bentuk gerabah sebagai alat rumah tangga pada umumnya sangat sederhana seperti; periuk besar (lelie) dipergunakan untuk memasak sayu-mayur, gentong untuk menyimpan air, pemongkang (kukusan) dipergunakan untuk mengukus, tepak (paso) dipergunakan untuk tempat mencuci barang-barang, ceret (kendi) adalah untuk tempat air minum, jangkih adalah tungku dari tanah, cubek adalah alat untuk menghaluskan bumbu, kekete adalah sejenis wajan yang dipergunakan untuk menggoreng kopi.
Gerabah sebagai peralatan dapur sampai saat ini masih diproduksi oleh para pengrajin di Desa Banyumulek karena barang ini masih banyak yang memakainya. Teknologi yang maju belum tentu bisa mengganti sesuatu yang masih sederhana atau yang masih tradisional, seperti alat-alat diatas. Mereka masih tetap mempergunakannya karena mereka bisa memproduksi sendiri, ada juga yang mengatakan alat memasak dari gerabah rasanya lebih enak dibandingkan dengan alat memasak yang diproduksi oleh pabrik seperti dari plastik, aluminium.
Walaupun sekarang zaman sudah modern dengan berbagai alat-alat yang diproduksi oleh pabrik dari bahan besi, plastik, aluminium dan sebagainya, namun gerabah dalam kegiatan-kegiatan tertentu (relegi) tidak mudah dapat digantikan dengan benda lain. Misalnya kendi yang terbuat dari gerabah masih digunakan sebagai alat upacara peresmian/pengukuhan dalam rangka memohon keselamatan. Masyarakat di NTB masih ada sampai sekarang yang menganut kepercayaan (relegi), menggunakan periuk gerabah kecil sebagai wadah ari-ari anak yang baru dilahirkan dan ditanam didepan rumahnya (Antara, 1994: 39-40).
Masyarakat suku Sasak di Lombok dalam melaksanakan upacara adatnya seperti upacara khitanan, kematian, perkawinan dan sebagainya gerabah masih tetap dipergunakan misalnya periuk kecil dipergunakan untuk tempat air suci, pedupaan dipergunakan untuk membakar kemenyan, dan tepak (paso) dipergunakan sebagai tempat air untuk memandikan penganten. Bahkan agama Hindu di Lombok lebih banyak mempergunakan alat-alat yang terbuat dari gerabah didalam melaksanakan upacara agama dan upacara adatnya (Widiastuti, dkk., 1984: 48-49). Upacara dalam agama Islam juga memakai gerabah sebagai salah satu sarananya seperti pedupan yaitu dulang kecil tempat membakar menyan. Hari Raya Idul Adha, dulang juga berfungsi sebagai tempat sesajen terutama pada waktu berziarah kekuburan untuk mengunjungi makam keluarganya.
Perkembangan selanjutnya dengan kemajuan zaman, teknologi dan pengaruh dari luar maka gerabah Banyumulek juga mengalami perubahan-perubahan baik modifikasi dalam berbagai bentuk, mutu bahan, teknik pembuatan, dan ilustrasi seni yang sangat menarik sesuai dengan keinginan pasar. Perkembangan modifikasi gerabah Banyumulek tidak terlepas dari faktor kepariwisataan di NTB yang mulai diperkenalkan pada tahun 1980-an. Bimbingan teknis oleh Lombok Craftts Project New Zealand dalam seni kerajinan juga berpengaruh terhadap perubahan desain gerabah yang ada di Banyumulek. Berbagai modifikasi dilakukan seperti dengan kulit telur, uang kepeng, rotan, pasir, kerang, kulit kayu, daun dan pelepah pisang dan yang lainnya menambah keindahan gerabah produksi Desa Banyumulek. Karena keindahannya sehingga banyak gerabah Banyumulek yang dipajang di rumah-rumah, toko, restoran, hotel, kantor-kantor baik di dalam maupun di luar negeri. Jadi gerabah sebagai produk kebudayaan saat ini penggunaannya sudah mulai bergeser yakni untuk dinikmati keindahannya karena berbagai modifikasi yang dituangkan di dalamnya. Bahkan gerabah juga merupakan salah satu barang yang dijadikan untuk meningkatkan status sosial di masyarakat. Dengan mengkoleksi gerabah yang harganya sangat mahal dan memiliki nilai seni yang tinggi, maka orang yang bersangkutan merasa bangga.

D. DAMPAK KERAJINAN GERABAH TERHADAP KEHIDUPAN EKONOMI DAN SOSIAL

a. Dampak dalam Kehidupan Ekonomi
Puncak kejayaan gerabah Banyumulek tahun 1990-an. Kerusuhan di Lombok pada tahun 2000 merupakan awal keruntuhan perdagangan gerabah di Banyumulek. Apalagi setelah tragedi bom Bali Oktober 2002 menambah semakin hancurnya perekonomian di Indonesia dan perdagangan gerabah Banyumulek khususnya. Namun sekarang pasar ekspor gerabah sudah mulai mengalami kenaikan dan masih tetap menjanjikan. Pada tahun 2004 volume ekspor gerabag ke 30 negara mencapai 538,7 ton dengan nilai 934,861 dolar AS, turun 32% dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 1.380.599 dolar AS. Tahun 2005 (hingga September) nilai ekspor meningkat 7,7 % dari 600.785 dolar AS, menjadi 647,152 dolar AS (Gora, 2006: 38-39). Produk-produk wisata yang terpencar di kota-kota dan terutama di daerah-daerah pedesaan maka pengeluaran wisatawan terjadi pula di tempat-tempat terpencar, itulah sebabnya maka pariwisata adalah wahana yang paling tepat untuk memencarkan pendapatan kepelosok daerah. Pendapatan yang merupakan pengeluaran wisatawan tersebut diterima langsung oleh produsen pariwisata yaitu masyarakat setempat dalam bentuk angkutan, akomodasi, makan minum, cenderamata, hiburan, dan lain-lain maka pariwisata merupakan sektor kegiatan yang paling ampuh untuk pemerataan (Sammeng, 2001). Semakin banyak wisatawan yang datang berkunjung ke suatu negara maka penerimaan devisa akan lebih banyak, demikian pula sebaliknya. Hal ini disebabkan berbagai pengeluaran dari para turis di daerah tujuan wisata seperti: pengeluaran untuk membeli barang-barang cendera mata, biaya transportasi, sewa hotel, dan biaya makan minum.
Salah satu motivasi wisatawan datang ke Lombok untuk melihat pusat-pusat atau sentral kerajinan yang ada. Pemerintah daerah dalam kaitan ini telah memberikan kesempatan yang lebih besar kepada pengrajin untuk menghasilkan produk mereka guna dipamerkan baik langsung maupun melalui artshop, pasar seni, shelter, showroom, yang ditempatkan di objek-objek wisata seperti yang dilaksanakan di Senggigi, Gili Trawangan, Kuta, Narmada dan lokasi-lokasi lainnya (Kanwil Deperindag Propinsi NTB, 1995).
Mengingat kesadaran wisata di kalangan masyarakat pengrajin dan pengusaha kecil di Lombok yang dirasakan masih sangat lemah, untuk itu diperlukan suatu pembinaan yang optimal. Selain itu juga jiwa kewiraswastaan di kalangan mereka juga masih kurang, berdasarkan pertimbangan tersebut maka pembinaan kepada pengrajin harus dilaksanakan oleh Pemda Tingkat I bekerjasama dengan Pemda Tingkat II (Kanwil Deperindag Propinsi NTB, 1995). Adanya pembinaan tersebut maka semakin meningkatkan kualitas kerajinan gerabah yang dihasilkan Desa Banyumulek. Kualitas yang semakin baik akan meningkatkan permintaan kerajinan gerabah sehingga semakin banyak pula produksi gerabah untuk memenuhi permintaan pasar. Pengrajin yang memiliki modal kemudian membuka artshop baik di desanya sendiri maupun di daerah lain di kawasan-kawasan objek wisata sebagai sarana pemasaran bagi hasil kerajinan pengrajin untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang berkunjung di Pulau Lombok. Semakin meningkatnya permintaan akan kerajinan gerabah, semakin meningkatkan taraf hidup pengrajin gerabah di daerah ini. Dengan penghasilan yang relatif lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dampak positif dari kerajinan gerabah yang ada di Desa Banyumulek ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Desa Banyumulek telah menjadi sentra kerajinan gerabah yang merupakan daerah tujuan wisata. Menurut Dara Windiyarti dkk (1994), Beberapa manfaat dan keuntungan dari pengembangan pariwisata diantaranya: 1) makin luasnya kesempatan usaha karena lapangan usaha yang timbul guna menyediakan keperluan wisatawan cukup luas seperti hotel, restoran, toko cendera mata dan sebagainya; 2) makin luasnya lapangan kerja karena untuk menjalankan jenis usaha yang tumbuh dibutuhkan tenaga kerja; 3) meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah yang berasal dari pembelanjaan dan biaya yang dikeluarkan wisatawan. Seperti juga yang dikemukakan Ni Ketut Ayu Sriasih (1997), melihat kegiatan masyarakat di daerah wisata banyak mengalami perubahan. Perkembangan dalam bidang pariwisata telah berpengaruh besar terhadap perubahan mata pencaharian masyarakat, banyak sektor yang dapat menampung tenaga kerja serta peningkatan di berbagai aspek ekonomi. Bidang pariwisata dapat menciptakan bidang usaha dan lapangan kerja baru sudah tentu akan mempunyai dampak terhadap peningkatan dalam penghasilan yang diterima masyarakat daerah pariwisata.
Selain dampak positif juga memberi dampak yang negatif bagi perekonomian masyarakat, sejalan dengan yang dikemukakan oleh Andi Mappi Sammeng (2001) bahwa 1) kegiatan pariwisata cenderung mendorong meningkatnya harga-harga, khususnya di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia; 2) Seringkali terjadi tidak meratanya pembagian pendapatan terutama di antara sektor pariwisata dan sektor tradisional, misalnya antara para pengrajin dan art shop; 3) Terjadinya demonstrasi effect yaitu pengaruh yang menimbulkan dorongan kepada masyarakat di daerah untuk mengikuti pola konsumsi dan pola pengeluaran yang tinggi.
Dampak negatif pengembangan pariwisata dalam bidang ekonomi khususnya dalam bidang pendapatan adalah ketergantungan yang terlalu besar pada wisatawan mancanegara. Perkembangan pariwisata menarik generasi muda di pedesaan untuk mencari nafkah di kota sehingga tenaga kerja di bidang pertanian di pedesaan semakin berkurang. Selanjutnya kemungkinan terjadinya degradasi kualitas SDM di pedesaan karena generasi mudanya meninggalkan desanya. Hal ini juga terjadi di Desa Banyumulek, sebagian masyarakat desa khsususnya generasi muda ada yang tertarik bekerja di daerah-daerah tujuan wisata lain misalnya di Pantai Sengigi, Pantai Kuta, Mataram, dan sebagainya sehingga generasi yang akan meneruskan pembuatan kerajinan gerabah semakin berkurang.
Dampak Bom Bali juga berdampak negatif bagi industri pariwisata daerah Nusa Tenggara Barat. Hal ini dilihat dari menurunnya jumlah wisatawan baik wisatawan dari luar negeri maupun wisatawan domestik yang menginap di daerah ini. Pada tahun 2002 jumlah wisatawan dari luar negeri (tamu asing) maupun wisatawan domestik yang menginap 125.506 orang sedangkan pada tahun 2003 jumlah wisatawan dari luar negeri maupun wisatawan domestik yang menginap berkurang menjadi 104.728 orang (BPS, 2003). Hal ini dirasakan pula oleh sebagian besar masyarakat terutama yang memiliki mata pencaharian yang berkaitan dengan bidang pariwisata seperti masyarakat Desa Banyumulek. Menurunnya kunjungan wisatawan mempengaruhi permintaan kerajinan gerabah sehingga produksi kerajinan gerabah juga berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan berkurang permintaan terjadi pengurangan produksi dan bahkan terjadi pengurangan tenaga kerja yang bekerja di kerajinan ini sehingga penduduk banyak yang berganti pekerjaan, ada yang kembali bertani dan usaha lainnya.

b. Dampak terhadap Kehidupan Sosial
Kerajian gerabah telah meningkatkan status kehidupan masyarakat. Status sosial yang semakin meningakat ini ditunjukkan dengan adanya semakin banyaknya masyarakat yang telah menunaikan ibadah haji. Pendapatan yang relatif tinggi menyebabkan mereka mampu menunaikan ibadah haji dan seperti dalam tatanan kehidupan masyarakat Islam orang-orang yang telah menjadi Haji dan Hajjah umumnya memiliki status sosial yang lebih tinggi dibandingkan yang belum menunaikan ibadah haji. Para Haji dan Hajjah tersebut dianggap memiliki pengetahuan keagamaan yang relatif lebih baik sehingga mereka lebih dihormati masyarakat biasa lainnya. Dengan demikian kerajinan gerabah di daerah ini juga telah mempengaruhi masyarakat secara religius atau keagamaan mereka lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Pengusaha yang relatif berhasil menjalankan usahanya tersebut umumnya juga dapat memberikan pendidikan yang relatif lebih baik kepada anak-anaknya sehingga mereka cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan mereka dapat membantu usaha orang tuanya dengan meningkatkan pengetahuannya tentang kerajinan gerabah karena mengambil pendidikan seni rupa yang sesuai dengan bidang usaha orang tuanya. Masyarakat Desa Banyumulek yang memiliki kerajinan gerabah juga memiliki ikatan persaudaraan dan kegotong royongan yang relatif erat, mereka saling membantu apabila ada yang mengalami musibah. Bahkan dalam menjalankan usahanya juga saling membantu apabila ada yang membutuhkan pertolongan, misalnya apabila ada pengusaha yang belum memiliki peralatan produksi mereka akan saling meminjamkan. Demikian juga dalam perkumpulan atau organisasi selalu berhubungan baik dalam menjalankan usaha maupun kehidupan sosial mereka. Dengan demikian kerajinan gerabah di Desa Banyumulek nantinya dapat mennunjukkan ciri khas kedaerahannya sehingga dapat menjadi cendera mata yang unik, dan selalu diminati masyarakat.

E. PENUTUP
Kerajinan gerabah di Desa Banyumulek merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka yang merupakan sumber penghidupan, kebanggaan, semangat yang diwarisi sejak dulu. Sejak berdirinya Desa Banyumulek kerajinan gerabah dirintis oleh Papuk Mulek. Mulanya gerabah yang dibuat adalah untuk kebutuhan rumah tangga seperti gentong, cerek, paso, periuk dengan teknologi tradisional dan bentuknya masih sangat sederhana. Barang-barang yang dibuat mulanya tidak diperdagangkan dan hanya untuk keperluan sendiri.
Setelah perkembangan zaman, gerabah Banyumulek mengalami perubahan terutama desain, teknologi dan sistem perdagangannya. Diperkenalkannya sektor kepariwisataan tahun 1980-an dan berkat bantuan dari pemerintah New Zealand maka teknologi produksi mengalami perubahan. Setelah mendapat pembinaan dari Lombok Crafts Project New Sealand dalam seni kerajinan, produksi gerabah semakin meningkat karena telah diberi bantuan alat putar untuk pembuatan gerabah. Permintaan desain dari para konsumen menimbulkan kreativitas baru bagi para pengrajin sehingga muncul berbagai gerabah dengan modivikasi baik mempergunakan cat, rotan, daun, kulit telor, kulit kayu, pasir dan sebagainya yang semuanya melahirkan karya yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Semakin berkembangnya teknologi gerabah maka semakin berkembang juga sistem perdagangan yaitu dengan pemasaran lewat internet.
Kerajinan gerabah yang digeluti oleh masyarakat di Desa Banyumulek memberikan dampak bagi masyrakat terutama setelah diperkenalkannya sektor pariwisata. Kerajinan gerabah banyak menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran di Desa banyumulek.


DAFTAR PUSTAKA
Antara, Komang Pasek. 1994. “Sejarah dan Fungsi Gerabah”. Buletin Museum No. 3. Mataram: Museum Negeri Propinsi NTB.
Bennett, J.W. 1976. The Cological Transition: Cultural Anthropology and Human Adaptation, New York: Pergamon Press, INC.NY.
Biro Pusat Statistik Propinsi NTB. 2003. Nusa Tenggara Barat dalam Angka tahun 2003. Mataram : Biro Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Departemen Perindustrian. 1994/1995. Seputar Komoditi Andalan Industri Kecil dan Kerajinan, Lombok: Kanwil Departemen Perindustrian Propinsi NTB,.
Depnaker RI. 1992. Modul Kewirausahaan (Pemasaran Usaha). Jakarta: Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia.
Dove, M. R. 1994. “Kata Pengantar Ketahanan Kebudayaan dan Kebudayaan Ketahanan”. Dalam Paulus Florus, [et. al. Ed]. Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Ember, C. R. dan M. Ember. 1980. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Geriya, I Wayan. 1980. Beberapa Segi Tentang Masyrakat dan Sitem sosial. Denpasar: Jurusan Antropologi UNUD.
_______,. 1980. Beberapa Aspek Study Pedesaan dari Perspektif Antropologi. Denpasar: Fak. Sas. UNUD.
Kartodirdjo, Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Koentjaraningrat. 1974 . Pokok-Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
______,. 1980. Sejarah Teori antropologi I. Jakarta: UI Press.
Kroeber, A. L. 1948. Anthropology. Harcourt Bracl & Coy New York.
Lombard, D. 1994. Nusa Jawa Silang Budaya Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Jakatra: PT. Gramedia Pustaka Utama.
M. Keesing, R. 1989. Antropologi Budaya Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Erlangga.
Mari'i dan Sapiin. 2003. ”Pola Mobilitas Kerja Masyarakat Pengrajin Gerabah di Lombok Barat dan Dampaknya Terhadap Peningkatan Kesejahteraan”. Laporan Hasil Penelitian FKIP, Universitas Mataram.
Meggers, B.J. 1971. Amazonia Man And Culture in Counterfeit Paradise. Chicago: Aldine-anterton, Inc.
Mubyarto. 1981. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.
Mulder, N. 1983. Jawa-Thailand Beberapa Perbandingan Sosial Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nasroen, M. 1967. Falsafah Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang.
Nurhayati, Siti. 1997. Pariwisata di Lombok tahun 1979-1997. Denpasar: Fakulstas Sastra Universitas Udayana (skripsi).
Pemkab Lombok Barat. 2007. Daftar Isian Potensi Desa. Pemkab Lombok Barat: Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa.
Pikkers, J.J.J. 1994. “Penalaran dan Masalah-masalah Kebudayaan: Sebuah Studi Kasus di Indonesia”. Kritis Jurnal Majalah Ilmiah Universitas Satya Wacana. Salatiga: Universitas Satya Wacana. Hlm 8-24.
Rappaport, R. 1986.” Ritual, Sanctity and Cybernaties”. American Antropologist.
Sajogyo. 1994. Ekologi Pedesaan Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Rajawali Press.
Sammeng, Andi Mappi. 2001. Cakrawala Pariwisata. Jakarta: Balai Pustaka.
Sanderson, S. K. 1993. Sosiologi Makro Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas. (Penerjemah). Jakarta: Rajawali Press.
Soekamto, Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Soekomono. 1973.Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Sriasih, Ni Ketut Ayu. 1997. ”Pariwisata dan Dampaknya terhadap Kehidupan Masyarakat Nusa Tenggara Barat tahun 1969-1991”. Fakultas Sastra Universitas Udayana (skripsi).
Sugianto. 1985. Manusia dan Alamnya. Jakarta: PT. Rosda Jayapura.
Suparlan, Parsudi. 1981. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan Perspektif Antropologi Budaya. Fak. Sas. UNUD.
Vredenbergt, J. 1978. Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia.
Widiastuti, Alit, Joko Prayitno. 1983/1984. Gerabah Banyumulek Koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Mataram: Depdikbud Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.
Windiyarti, Dara dkk. 1993/1994. Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Kehidupan Sosial di Daerah Timor-Timur. Jakarta: Depdikbud.
Yoeti, Oka A. 1983. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Penerbit Angkasa.

Majalah:

Religi. 2007, Edisi 04/16-3/April-Mei,. ”Gerabah Banyumulek di Tangan Para Ibu” .
Swara Bumi Gora. 2006, Edisi Januari. ”Hidup Bersama Tradisi Gerabah”.

0 komentar:

Poskan Komentar

Situs-Situs Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites