Minggu, 09 Mei 2010

KEHIDUPAN MASYARAKAT KAMPUNG LOLOAN PADA MASA KERAJAAN JEMBRANA ABAD KE-19

PADA MASA KERAJAAN JEMBRANA ABAD KE-19

Cok Istri Suryawati

Abstrak

Kehidupan masyarakat Kampung Loloan pada dasarnya sangat fleksibel dan terbuka.Kerjasama antar suku bangsa (etnis) sudah terjalin dengan baik sejak jaman kerajaan-kerajaan abad ke 17-19. Raja sebagai penguasa wilayah pada waktu itu, memberikan kebebasan kepada orang asing, bahkan raja membantu pendirian tempat ibadah, menghadiahkan tanah untuk tempat pemukiman dan perlindungan-perlindungan lainnya. Orang-orang Bugis di samping dikenal sebagai orang sakti atau dukun juga sangat berperanan dalam dunia perniagaan yang telah berlangsung lama. Perahu dagang Bugis sering digunakan oleh kerajaan dalam melancarkan perekonomiannya. Dengan demikian Jembrana menjadi terbuka oleh isolasi dengan kerajaan-kerajaan tetangga. Akhirnya Loloan pada abad ke-19 muncul sebagai pusat perdagangan di Jembrana menggantikan Bandar Pancoran yang menjadi sepi. Pelabuhan Loloan bertambah ramai dan semakin sering mendapat kunjungan dari pedagang Islam yang berasal dari Bugis, Melayu, Arab selain itu ada juga pedagang-pedagang Cina. Loloan menjadi tempat berkumpul sekaligus pertemuan kebudayaan berbagai suku bangsa serta lebih terlihat sebagai pusat persebaran agama Islam di Jembrana.
Kata Kunci : Kehidupan Masyarakat, Akulturasi Budaya.
http://varianwisatabudayasundakecil.blogspot.com

A. PENDAHULUAN
Desa Loloan awalnya sebuah kampung yang didirikan oleh Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry bergelar Syarif Tua pada tahun 1800 (Damanhuri 1993). Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry adalah adik Syarif Abdul Rahman (Sultan Pontianak), keduanya putera seorang ulama Arab, Syarif Abdul Rahman menikah dengan puteri raja Mampawa sedangkan Syarif Abdullah menikah dengan puteri raja Banjarmasin (Polak, 1961; Mayun dkk, 1995). Kakak-beradik tersebut mendirikan kerajaan Pontianak tahun 1771 dan Syarif Abdul Rahman sebagai Sultan Pontianak. Pada tahun 1979 Belanda mengadakan perjanjian dengan Sultan Pontianak yang tidak disetujui oleh Syarif Abdullah Al Qadry dan sejak saat itu Kerajaan Pontianak mengalami perpecahan.
Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry bersama anak buahnya yang berasal dari suku Melayu (Pahang, Johor, Kedah, Trengganu). Bugis dan Arab meninggalkan negerinya berkelana ke daerah-daerah yang dianggap kurang adanya pengaruh Belanda. Pulau Bali dan Lombok pada abab ke-17 dan 18 termasuk salah satu daerah yang belum nampak terpengaruh kekuatan Eropa khususnya Belanda. Mereka menggunakan empat perahu perang dengan muatan senjata-senjata dan meriam mendarat di Bali khususnya Air Kuning. Pada saat itu mereka bertemu orang Bugis yang telah menetap di sana yang dipimpin Haji Shihabuddin, atas bantuan orang Bugis ini Syarif Abdullah beserta anak buahnya bermukim di sebelah kiri dan kanan Ijo Gading (sekarang adalah Loloan Barat dan Loloan Timur). Oleh Raja mereka ditugaskan sebagai laskar rakyat dari Jembrana.
Asal-usul kata Loloan bermula pada saat Syarif Abdullah Al Qadry menyusuri sungai Ijo Gading, beliau sangat terkesan dengan pemandangan di sekitar sungai yang berkelok-kelok dan mengingatkan pada kampung halamannya. Syarif Abdullah berteriak-teriak sambil memberikan komando kepada anak buahnya dalam bahasa Kalimantan liloan-liloan yang artinya berbelokan. Liloan-liloan yang artinya berbelokan itu dapat berarti juga sungai yang berputar-putar, istilah tersebut kemudian berubah menjadi Loloan yang artinya berbelok-belok.
Menurut Zaidah Mustapa, dari segi yang lain Loloan berasal dari kata loloh yang artinya obat-obatan atau jamu. Syarif Abdullah dan anak buahnya terkenal dengan obat-obatannya yang mujarab karena dapat menyembuhkan berbagai penyakit, banyak orang Bali yang meminta obat-obat Bali atau loloh kepadanya. Pada tahun 1800, Syarif Abdullah mulai membangun permukiman (rumah-rumah panggung), kemudian pada tahun 1804 membangun benteng pertahanan Laskar Muslim yang diberi nama Benteng Fatimah yang letaknya di Loloan Timur. Mereka merubah kapal-kapal perang menjadi kapal-kapal niaga yang melakukan perniagaan sampai ke Singapura dan Dataran Melayu. Pada tahun 1803, Raja Jembrana Anak Agung Putu Seloka beserta pembesar kerajaan dan Syarif Abdullah meresmikan kota atau desa Loloan Barat dan Loloan Timur sebagai desa administratif rakyat Muslim. Kota tersebut awalnya diberi nama Puri Agung Negari kemudian diganti menjadi Kota Negara sampai sekarang (Damanhuri dan Sumerta dkk , 2000).
Loloan pada abad ke-19 muncul sebagai pusat perdagangan di Jembrana menggantikan Bandar Pancoran yang semakin lama menjadi semakin sepi. Pelabuhan Loloan bertambah ramai dan semakin sering mendapat kunjungan dari pedagang Islam yang berasal dari Bugis, Melayu, dan Arab, selain itu ada juga pedagang-dagang Cina. Loloan menjadi tempat istirahat, berkumpul sekaligus pertemuan kebudayaan berbagai suku bangsa, serta berfungsi juga sebagai pusat persebaran Agama Islam di Jembrana. Menurut H.F. Van Lier, pelabuhan Loloan secara tetap berhubungan dengan pelabuhan Singapura. Para pedagang Singapura setiap setahun sekali membawa barang dagangan berupa pakaian, candu dan membeli hasil-hasil bumi berupa beras, tembakau, kelapa, dan kulit ternak.

B. LOLOAN, KAMPUNG BAGI UMAT MUSLIM DI JEMBRANA
a. Sejarah dan Komposisi Penduduk Loloan
Desa loloan awalnya sebuah kampung yang didirikan oleh Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry bergelar Syarif Tua pada tahun 1800 (Damanhuri,1993). Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry bersama anak buahnya yang berasal dari suku Melayu (Pahang, Johor, Kedah,Trengganu), Bugis dan Arab meninggalkan negerinya, berkelanan ke daerah-daerah yang dianggap kurang terpengaruh Belanda. Pulau Bali dan Lombok (Abad ke-17 dan ke-18), termasuk salah satu daerah yang belum nampak terpengaruh kekuatan Eropa (khususnya Belanda). Mereka menggunakan empat perahu perang berisi muatan senjata-senjata dan meriam mendarat di air kuning (Jembrana), mereka bertemu orang Bugis yang telah menetap, di sana dipimpin Haji Shihabuddin, atas bantuannya, pemuka orang Bugis Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry beserta anak buahnya diantar menghadap Raja Jembrana yaitu Anak Agung Putu Seloka (raja ketiga yang memerintah dari tahun 1795-1842). Raja Jembrana mengijinkan Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry dan anak buahnya bermukim di sebalah kiri dan kanan sungai Ijogading (sekarang Loloan Barat dan Loloan Timur) dengan luas kurang lebih 80 are di sebelah Utara Bandar Pancoran (kiri bekas pelabuhan lama di Loloan Barat). Oleh raja mereka ditugaskan sebagai laskar rakyat dari negeri Jembrana.
Asal usul kata Loloan bermula pada saat Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry menyusuri sungai Ijogading, beliau sangat terkesan dengan pemandangan di sekitar sungai yang berkelok-kelok. Hal ini mengingatkan Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadry pada kampung halamannya, lalu dia berteriak-teriak sambil menyerukan pada anak buahnya dalam bahasa Kalimantan, “Liloan-Liloan yang artinya berkelokan atau berputar-putar. Istilah tersebut keudian menjadi “Loloan” yang artinya berkelok-kelok.
Ada juga yang berpendapat bahwa perkataan “Loloan” erat hubungannya dengan kata “Loloh”, yang artinya jamu atau obat-obatan. Telah disebutkan di atas bahwa, orang-orang Islam terkenal dengan obat-obatanya, yang menyembuhkan tidak saja keluarga mereka, tetapi juga termasuk orang-orang Bali. Orang-orang Bali yang minta obat-obatan kepada dukun Islam selalu menyebut loloh, dan akhirnya timbullah panggilan Loloan untuk orang-orang pendatang yang menempati daerah tebing kiri-kanan sungai Ijogading (R.Van Eck “Schetsen Van Het Eiland Bali, 1878:293).
Pada awal abad ke-19 (1805-1808) Jembrana menjadi bawahan kerajaan Badung. Raja Badung menyerahkan pemerintahan sepenuhnya kepada Kapten Pattimi, seorang pedagang Bugis yang sukses (Remp,1899:324; Van Leur,1866:274). Pattimi di samping sebagai wakil Raja Badung, juga bertindak sebagai Syahbandar di Loloan. Peranan orang-orang Bugis ikut ambil bagian dalam proses perebutan kekuasaan, karena Raja I Gusti Ngurah Pasekan berlaku tidak adil terhadap golongan Islam di Jembrana. Sumber-sumber Belanda menyebutkan gerakan ini sebagai Islam Movement (Verslag,1865; Van Lier,1866:275).
Akhirnya Loloan (abad ke-19) muncul sebagai pusat perdagangan di Jembrana menggantikan Bandar Pancoran yang menjadi sepi. Pelabuhan Loloan bertambah ramai dan semakin sering mendapat kunjungan dari pedagang Islam yang berasal dari Bugis, Melayu, Arab selain itu ada juga pedagang-pedagang Cina. Loloan menjadi tempat istirahat, berkumpul sekaligus pertemuan kebudayaan berbagai suku bangsa serta lebih terlihat sebagai pusat persebaran agama Islam di Jembrana sehingga menimbulkan daya tarik pendatang muslim dari Jawa, Madura dan daerah lain. Menurut Van Lier pelabuhan Loloan secara tetap berhubungan dengan pelabuhan Singapura, para pedagang Singapura setiap tahun sekali membawa barang dagangan (pakaian, candu) dan membeli hasil-hasil bumi berupa beras, tembakau, kelapa, kulit ternak. Perahu-perahu orang Bugis di bawah pimpinan Daeng Nachoda sangat berperan dalam melancarkan perekonomian kerajaan Jembrana pada abad ke-17 (Suwitha, 2002:123).
Menurut perhitungan Bloemen Waanders, penduduk asing yang terdapat di Jembrana pada awal abad ke-19 terdiri dari orang-orang Bugis, Cina dan Arab, tidak diketemukan orang Jawa. Keseluruhan penduduk Jembrana pada awal abad ke-19 adalah sebagai berikut: 6261 Kepala Keluarga orang Bali, 40 KK orang Cina, 150 KK orang Bugis dan beberapa orang Arab (Blomen Waanders, 1859:139). Tidak disebutkan adanya orang-orang Melayu. Gambaran penduduk seperti itu diperoleh setelah dihancurkannya 1200 pasukan Bugis oleh kerajaan Buleleng pada tahun 1808 (Kerp,1899; Utrecht,1962:101).
Penduduk pendatang atau asing di Jembrana, berhubungan erat dengan sejarah masuknya agama Islam ke daerah itu. Penduduk pendatang ini dibagi dalam dua kelompok besar yaitu pertama; penduduk yang sekarang ini merupakan keturunan dari kelompok pendatang yang membawa agama Islam (kurang lebih abad ke-18), yang disebut orang-orang kampung. Kebanyakan dari mereka ini berasal dari Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat (khususnya Pontianak). Beberapa bukti-bukti yang menunjukkan kedatangan orang-orang asing dari tanah Melayu (Malaysia sekarang) seperti disebutkan di depan. Kelompok kedua; pendatang-pendatang baru yang didorong oleh sebab-sebab ekonomi, sosial, dan politik. Kebanyakan dari mereka terdiri dari orang-orang Jawa, Madura dan Sasak. Di desa Loloan Barat sekarang, pendatang-pendatang ini membentuk perkampung yang masing-masing dinamai sesuai dengan daerahnya seperti: kampung Jawa, kampung Madura atau kampung Sasak. Kampung tersebut tentunya mempunyai kepala-kepalanya sendiri (Lier,1866:283). Kelompok pertama kebanyakan tinggal di Loloan Timur.
Peranan orang-orang Bugis Di kerajaan Jembrana di samping dikenal sebagai orang sakti atau dukun juga sangat berperanan dalam dunia perniagaan yang telah berlangsung lama. Perahu dagang Bugis sering digunakan oleh kerajaan dalam melancarkan perekonomiannya. Dengan demikian, Jembrana menjadi terbuka oleh isolasi alam dengan kerajaan-kerajaan tetangga. Perahu-perahu Bugis yang berdomisili di Jembrana aktif dalam perdagangan dengan kota-kota di Jawa Timur dan mempunyai penyebrangan tetap dengan Banyuwangi (Lauts,1848:21).
Pelabuhan Loloan di Jembrana menjadi terkenal dan ramai dikunjungi oleh perahu-perahu dagang, karena aktivitas pedagang-pedagang Bugis ini. Bahkan, selama tiga tahun yaitu sejak tahun 1805-1808, Syah Bandar Loloan dijabat oleh Kapten Pattimi, seorang saudagar Bugis yang berhasil. Pattimi mengepalai orang-orang Bugis di Jembrana dan 1200 orang di antara mereka merupakan pasukan bersenjata (Kemp,1899:344-345).

b. Sistem Kekerabatan
Penduduk Loloan memiliki sistem kekerabatan bilateral yaitu garis keturunan menurut ayah dan ibu, anak adalah anak dari ayah dan ibunya dan mereka mempunyai hubungan kekerabatan dari pihak ibu maupun dari pihak ayah. Dalam hubungan keluarga terdapat istilah-istilah panggilan sebagai berikut: panggilan kepada ayah dipanggil wak, aji; ibu dipanggil mak, anak laki-laki: kacung; anak perempuan dipanggil abeng, kakak laki-laki: abang , kakak perempuan: akak; saudara ipar istri atau suami yang lebih tua: akang; saudara ayah: paman, Pak Ulog, Pak Ngah, Pak Tut; kakek dipanggil datuk , dan para orang tua yang sudah meninggal disebut moyang.
Pelapisan sosial pada masyarakat kelurahan Loloan pada saat ini didasarkan atas keturunan, kedudukan dan senioritas. Pelapisan soail berdasarkan keturunan adalah antara golongan penduduk keturunan asli Melayu Islam yang dianggap sebagai golongan yang lebih tinggi kedudukannya daripada golongan penduduk bukan keturunan Melayu Islam. Pelapisan sosial berdasarkan kedudukan adalah kaum ulama dan haji yang dianggap sebagai golongan yang lebih tinggi dan paling menonjol dalam kehidupan agama, adat, terutama dalam pelaksanaan upacara sedangkan pelapisan sosial berdasarkan senioritas umumnya didasarkan usia namun tidak terlepas pula dengan pelapisan sosial berdasarkan keturunan dan kedudukan (Sumerta dkk.,2000:23-26).

c. Struktur Masyarakat
Masyarakat Loloan Timur berstatus Kelurahan. Loloan Timur dipimpin oleh seorang Lurah. Kelurahan hampir sama dengan desa tetapi Lurah dan stafnya dipilih dan diangkat oleh Bupati sedangkan seorang Kepala Desa dipilih oleh penduduk dan diangkat oleh Bupati. Struktur organisasi pemerintahan Kelurahan Loloan Timur adalah Lurah sebagai pucuk pimpinan dibantu Sekretaris Lurah yang membawahi Kaur Pemerintahan, Kaur Pembangunan/Ekonomi, Kaur Kesra, Kaur Keuangan, Kaur Umum, selain itu dibantu juga tiga kepala Lingkungan, yaitu: Kepala Lingkungan Ketugtug, Kepala Lingkungan Mertasari, dan Kepala Lingkungan Loloan Timur.
Masing-masing Kepala Lingkungan tersebut bertanggungjawab kepada Lurah dan masing-masing Kaur bertangungjawab kepada Sekretaris Lurah. Organisasi-organisasi di luar pemerintah yang ada di Kelurahan Loloan Timur di antaranya: LKMD, LMK, PKK, Karang Teruna, Pokja DED Deman Berdarah. Kepemimpinan dalam masyarakat Loloan umumnya dibedakan menjadi pemimpin secara formal maupun pemimpin informal, keduanya dapat diperoleh berdasarkan keturunan atau pendidikan. Selain pemimpin desa (formal), elit-elit desa (informal) berpengaruh besar pada masyarakat dan ikut menentukan perkembangan Kelurahan Loloan Timur, misalnya ikut serta dalam pengambilan keputusan jalannya pembangunan. Kepemimpinan mereka didasarkan atas pengakuan dan kepercayaan masyarakat karena masyarakat masih mengacu kepada orang-orang (tokoh-tokohnya) yang lebih senior, terutama yang berasal dari golongan yang dianggap lebih tinggi, misalnya : golongan berpangkat, ulama, pemuka agama. Pemimpin dalam pemerintahan Kelurahan Loloan Timur dipilih dan diangkat oleh pemerintah sedangkan masing-masing kepala lingkungan dipilih berdasarkan pendidikan, kedudukan sosial serta kharismanya dalam masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat tanggungjawab sosial dan kewajiban-kewajiban bersama, misalnya persembahyangan bersama, melakukan upacara-upacara adat, saling tolong menolong atau gotong royong, baik tolong menolong dalam upacara daur hidup maupun gotong royong dalam pemeliharaan keberhasilan desa, membangun tempat ibadah, jalan dan lain-lain. Sistem gotong royong dalam masyarakat Loloan itu disebut pasuka duka (Sumerta, dkk, 2000:28).

d. Agama dan Kepercayaan
Penduduk Desa/Kelurahan Loloan Timur berjumlah 5.236 jiwa (1.067 KK) terdiri dari 2.534 jiwa atau 48,4 persen penduduk laki-laki dan 2.693 jiwa atau 51,6 persen penduduk perempuan, dengan demikian penduduk perempuan di desa tersebut relatif lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki (Monografi Desa Loloan Timur). Seluruh penduduk desa Loloan Timur tersebut mayoritas 3.222 orang atau 61,5 persen menganut agama Islam, bermukim di lingkungan Loloan Timur 1.758 orang atau 33,5 persen di lingkungan Ketugtug 1.451 orang atau 27,7 persen sedangkan di lingkungan Mertasari hanya 13 orang atau 0,2 persen.
Penduduk yang menganut agama Hindu jumlahnya 1.914 orang atau 36,5 persen yang bermukim di lingkungan Ketugtug 1.351 orang atau 25,8 persen di lingkungan Mertasari 514 orang atau 9,8 persen di lingkungan Loloan Timur hanya 48 orang atau 0,9 persen. Agama-agama lain yang dianut penduduk kelurahan adalah agama Budha 0,8 persen, Katolik 0,6 persen dan Kristen Protestan 0,5 persen.
Penduduk yang menganut agama Islam relatif lebih banyak yang bermukim di lingkungan Loloan Timur, sedangkan di lingkungan Mertasari relatif lebih banyak penduduk yang menganut agama Hindu. Hal ini berkaitan dengan latar belakang sejarahnya lingkungan Mertasari ditetapkan sebagai desa administratif rakyat Hindu sedangkan Loloan Timur sebagai desa administratif rakyat muslim yang berlangsung secara turun temurun hingga sekarang.
Setiap tahun sekali pada bulan Suro masyarakat melaksanakan upacara sedekah laut sebagai perwujudan syukuran atas karunia yang melimpah, selain itu juga sebagai tolak bala supaya terhindar dari mara bahaya. Rangkaian upacara ini dimulai sehari sebelum acara puncak (pada malam bulan purnama) di langsungkan acara hiburan rakyat seperti Zamroh, Burdah, hadrah. Keesokan harinya pada acara puncak dilakukan penyemblihan kambing atau sapi, kepala sapi atau kambing beserta sesajennya diceburkan ke tengah laut sebagai persembahan (Mayun,dkk,1995).
Upacara-upacara daur hidup (life cycle) yang ada dalam masyarakat meliputi : 1) upacara pada saat bayi masih dalam kandungan disebut ngelenggang; 2) setelah bayi lahir disebut upacara abda’u; 3) upacara pada saat bayi berumur 7 hari disebut kepus pungsed (putus tali pusar); 4) upacara pada saat bayi berumur 40 hari disebut lepas kambuhan; 5) upacara saat bayi berumur 50 hari disebut akekah; 6) upacara pada saat bayi berumur 180 hari disebut mauludan ; 7) upacara sunatan disebut khitan atau buang supit; 8) upacara pada saat meningkat dewasa atau akil baliq disebut menek teruna; 9) upacara pernikahan; dan 10) upacara kematian.

C. KEHIDUPAN MASYARAKAT KAMPUNG LOLOAN PADA MASA KERAJAAN JEMBRANA
a. Mata Pencaharian Penduduk
Orang-orang Bugis yang berprofesi sebagai pedagang, pengetahuan tentang perdagangan menjadi sangat penting. Pengetahuan dan pengalaman serta kemampuan untuk berhubungan dengan penguasa lokal akan menempatkan seseorang untuk menduduki jabatan syahbandar. Syahbandar inilah yang menentukan dalam aktivitas perdagangan di pelabuhan dan kelancaran perekonomian kerajaan. Orang-orang yang menjadi syahbandar ini sangat dihormati. Pattimi yang menjadi syahbandar tahun 1805 sampai tahun 1808 juga mengepalai orang-orang Bugis di Jembrana dan 1200 orang diantaranya adalah pasukan bersenjata. (Suwitha, 1988: 114) Seorang syahbandar disebut dengan Matowa.
Seiring dengan perkembangan yang terjadi mata pencaharian yang digeluti oleh orang-orang Bugis makin bervariasi pula. Jika menurut asumsi bahwa pendatang dahulu adalah pelaut, pedagang antar pulau atau nelayan biasa, maka selama ini telah terjadi pergeseran jenis lapangan kerja. Pergesaran ini tentu memunculkan interaksi sosial yang baru pula. Seperti petani misalnya, orang Loloan harus banyak berhubungan dengan orang Bali yang hidupnya memang akrab dengan pertanian, kenyataannya, para petani pemilik sawah yang orang Loloan banyak yang memakai tenaga penggarap orang Bali, dan para petani penggarap warga Loloan semua masuk menjadi anggota subak dan bekerja bersama dengan warga Bali di sawah ( Sumarsono, 1993: 56 - 57).
Kedatangan orang-orang non Loloan (orang Arab dan Cina), juga memberikan pilihan baru bagi masyarakat Loloan dalam hal menggeluti pekerjaan sebagai mata pencaharian yaitu sebagai pramuniaga. Orang-orang Arab dan Cina terkenal sebagai pemilik modal dan membuat usaha-usaha dagang dengan mempekerjakan orang-orang Loloan dan orang-orang Bali-Hindu di dalam menjalankan usahanya. Hal ini membuat masyarakat Loloan yang bekerja sebagai nelayan, untuk menghindari masa paceklik yang tidak tentu waktunya, mereka berhenti melaut dan membuat kerajinan seperti sarung tangan, menenun, membuat stagen, dan juga membuat kue-kue jajanan untuk dijual sehingga kebutuhan sehari-hari tercukupi.

b. Pola Pemukiman
Mengenai pemukiman masyarakat Bugis di Jembrana, sebagian besar tinggal di tepian sungai dekat dengan muara. Mata pencaharian sebagai nelayan, menuntut mereka untuk bermukim di daerah pinggiran sungai besar. Hal ini untuk mempermudah akses ke laut dan menambatkan perahu yang digunakan untuk melaut. Rumah yang dibangun adalah jenis rumah panggung seperti rumah suku Bugis dengan bagian-bagian rumahnya antara lain: berdasarkan ruangan yang ada; lego-lego (teras), lontang-risaliweng (ruang untuk menerima tamu), lontang ri-tenganga (ruang tengah/ruang keluarga), lontang ri-laleng (ruang dalam/kamar tidur), tamping (ruang samping), djongke (gang yang menghubungkan pintu depan dengan pintu belakang di dalamnya juga berfungsi sebagai dapur), dan rakkeang (loteng) (Punagi, 1960: 3).
Pola pemukiman yang ada di komunitas orang-orang Bugis di Jembrana pada awalnya sesuai dengan kebudayaan mereka, baik dari tata letak dan pembangunan rumah panggung sesuai dengan struktur kelas mereka. Namun, dengan berdampingannya kampung mereka dengan banjar masyarakat Bali-Hindu, maka terjadi pembauran dan pergeseran perilaku sosialnya. Banyak masyarakat Bali-Hindu menikah dengan masyarakat Bali-Islam, begitu pula sebaliknya terutama di Loloan Timur yang letaknya berdampingan dengan Desa Mertasari ( Sumarsono, 1993: 70).

c. Kehidupan Masyarakat Loloan Sebelum dan Sesudah Abad Ke-19
Pada awalnya, orang-orang Islam Bugis memasuki wilayah Jembrana pada tahun 1653, tepatnya di pantai selatan di desa Air Kuning dengan menggunakan perahu perang jenis pinisi dan lambo.( Tim Penulis, 2000, lamp. IV, lihat pula, Suwitha, 1983: 119) Di bawah pimpinan Daeng Nachoda sekitar tahun 1659, orang-orang Bugis kemudian hijrah ke Bali dan menetap di Air Kuning memasuki kuala (muara) Perancak. Mereka menetap sementara di sebuah tempat yang mereka namakan Kampung Bali. Sebuah sumur air tawar yang hingga kini masih ada (disebut dengan Sumur Bajo oleh warga sekitar) adalah bukti dari mendaratnya orang-orang Bugis di Air Kuning (Reken, 2002: 45).
Selain membantu penguasa Jembrana di bidang perniagaan, orang-orang Bugis ini juga membantu penguasa Jembrana dalam mempertahankan daerahnya. I Gusti Ngurah pancoran pada masa pemerintahannya menempatkan beberapa orang Bugis sebagai panglima dari pasukan kerajaannya. Pada masa pemerintahannya prajurit kerajaan yang bernama Pancoran Wisnu Murti dibantu oleh orang-orang Bugis yang memang bersahabat dengan keluarga Pancoran. (Arcana, 1987: 31) Ketangguhan dari para bekas eskuadron keturunan Sultan Wajo dan penguasaan ilmu beladiri yang sangat tangguh yang dikenal dengan sebutan silat Bugis membuat I Gusti Ngurah Pancoran mempercayakan kepemimpinan pasukannya kepada orang-orang Bugis.
Adat-istiadat baru mulai terbentuk akibat dari pembauran masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Segala aspek kehidupan terjalin dengan baik, di bidang perekonomian, masyarakat Bugis di Loloan diperkenalkan dengan budaya agraris oleh masyarakat Jembrana, sebaliknya masyarakat Jembrana diperkenalkan pula dengan budaya maritim dan perniagaan oleh masyarakat Bugis. Banyak dari orang-orang Bugis yang bermatapencaharian menjadi petani, dan tidak sedikit masyarakat Jembrana yang berprofesi sebagai nelayan dan pedagang. Di bidang kesenian juga terjadi akulturasi, seni rebana dan silat Bugis banyak berakulturasi dengan seni Jegog, bahkan kesenian Kendang Mebarung mengambil bentuk kendang yang mirip dengan bentuk Beduq. Salah satu perpaduan dari dua kesenian lokal yang ada sampai sekarang adalah Janturan. Seni Joged Janturan ini juga menggunakan dua buah rebana sebagai pengiringnya, ditambah dengan kecek, suling, rebab, kendang dan kempul, dengan media bahasa campuran antara bahasa Bali, bahasa Jawa, dan bahasa Melayu Loloan. (Reken, 2001: 2). Selain di bidang seni, terdapat juga di bidang bahasa, terdapat dua varian bahasa yang khas berkembang di Jembrana, yaitu; bahasa Melayu Loloan dan bahasa Bali variasi kasar. Bahasa Melayu Loloan biasanya digunakan sebagai bahasa komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, terutama penduduk yang tinggal di Loloan. Ciri menonjol dari bahasa ini terletak pada dialek akhiran (a) ditekankan kepada (e). Sementara pemakaian bahasa Bali variasi kasar dengan ciri-ciri campuran antara bahasa Bali dengan bermacam bahasa seperti bahasa Jawa, Madura, Kalimantan, dan Bugis. (Arsana, 1997; Sumarsono, 1991, 68 - 69).
Untuk dapat menjalankan roda perekonomian kerajaan Jembrana, raja Jembrana keempat (Anak Agung Gde Seloka) menempatkan seorang Syahbandar yaitu Pattimi. Pattimi bertugas sebagai pengatur lalulintas perdagangan di Loloan. Pesatnya perkembangan perekonomian Jembrana, terutama dalam perdagangan menempatkan kerajaan Jembrana mencapai puncak kejayaan dan Anak Agung Gde Seloka kemudian membangun pusat pemerintahan yang dekat dengan sungai Ijogading. Puri yang baru ini dikenal dengan sebutan Puri Negara, merupakan cikal bakal dari Kota Negara.
Pada tahun 1842 Anak Agung Putu Ngurah menggantikan ayahnya Anak Agung Gde Seloka. Pada masa pemerintahannya diangkat masing-masing seorang punggawa untuk mengayomi rakyat Hindu dan rakyat Muslim, mereka adalah; I Gusti Made Pasekan, yang berkedudukan di Jero Pasekan Jembrana, dan Pembekel Mustika yang berkedudukan di Loloan Timur (Damanhuri, 1993: 20)
Pada abad ke-19, masyarakat Loloan selain menikmati kehidupan yang makmur dan perkembangan perekonomian yang pesat, juga mengalami pergolakan-pergolakan yang disebabkan oleh adanya persaingan antar kerajaan untuk menguasai derah-daerah strategis di Bali. Loloan sendiri sebagai pusat perniagaan dari kerajaan Jembrana, dan juga menjadi sentral penyebaran agama Islam dipandang sebagai suatu daerah yang strategis.

D. LOLOAN SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN
a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Loloan terdiri atas dua desa dan mengapit sungai Ijogading, Loloan Timur dan Loloan Barat, berdampingan dengan desa dari kelompok masyarakat Bali-Hindu, desa Mertasari, adalah desa dengan komunitas masyarakatnya mayoritas beragama Islam. Keberadaan masyarakat Muslim ini tidak terlepas dari perjalanan sejarah kerajaan Jembrana. Kedatangan orang-orang Bugis disambut baik oleh penguasa Jembrana. Orang-orang Bugis memiliki kemampuan maritim dan perniagaan yang tangguh kemudian ditempatkan oleh penguasa Jembrana untuk mengawasi dan menjalankan roda perekonomian, terutama perdagangan. Hasil-hasil pertanian, peternakan dan kerajinan dari kerajaan Jembrana dipasarkan dengan bantuan perahu-perahu orang-orang Bugis yang berjenis pinisi/lambo. (Kowaas, 1995; Pelly; 1986).
Kemampuan mereka itu membuat penguasa kerajaan menaruh kepercayaan penting pada mereka untuk menjalankan kelangsungan perekonomian kerajaan Jembrana. Loloan menjadi pusat perekonomian dari kerajaan Jembrana dengan pengaturan perekonomian dari orang Bugis yang bermukim. Kemampuan ini juga diiringi dengan kemampuan untuk berdiplomasi, sehingga mampu melakukan perjalanan dan kontak dengan kerajaan-kerajaan lain, melakukan kerjasama perdagangan. (Arcana, 1987:28) Pengetahuan dalam hal navigasi dan pengetahuan mereka tentang undang-undang hukum laut juga menempatkan mereka pada posisi paling depan pada perniagaan di wilayah Nusantara pada saat itu. (Farid, 1980;Tobing, 1977: 22 – 23).
Kemampuan di bidang perniagaan juga dibarengi dengan ketangguhan orang-orang Bugis sebagai prajurit atau pasukan yang terkenal sangat kuat di laut. Kemampuan mereka tidak hanya dikenal sebagai pedagang dan saudagar, tetapi dalam mempertahankan diri di laut mereka juga tidak segan-segan melakukan perampasan terhadap kapal-kapal dari saudagar-saudagar lain. Orang-orang Bugis ini sering mendapat julukan pembajak ilanun, yang dalam bahasa Inggris berarti pirates atau perompak lautan. (Reken, 2002: 44; Lapian, 1987: 252 – 257)
Selain kedatangan para saudagar, Loloan juga mulai kedatangan para ulama-ulama besar antara lain; Shofi Sirojuddin, datang dari Betawi berkebangsaan Melayu asalnya dari Serawak Malaysia Timur, yang kemudian bermukim di Loloan sampai akhir hayatnya. Warga Bugis menyebut beliau Oding, sedang masyarakat menggelarinya Lebai dan dikenal dengan sebutan Buyut Lebai. Makam beliau terdapat di Loloan Timur; Syeh Ahmad Fausir, dari Jawa Timur, berkebangsaan Aden Yaman, berdakwah di Loloan, berputrakan Syeh Dato’ Ibrahim yang lahir di Loloan Timur dan menjadi ulama besar di Banyuwangi; Haji Syihabuddin, datang dari Buleleng, bersuku Bugis, beliau berdakwah di Air Kuning; Haji Yassin, datang dari Buleleng, bersuku Bugis, dan berdakwah di Loloan Barat (Damanhuri, 1993: 5-6).
Kampung Loloan terletak di sepanjang sungai Ijogading yang bermuara di Perancak, menjadi tempat strategis untuk mengadakan hubungan dagang, karena letaknya tersembunyi dinilai masih bersih dari campur tangan Belanda untuk urusan perniagaan. Kawasan Sunda Kecil pada umumnya masih sebagian kecil dipandang oleh Belanda sebagai tempat yang potensial. Bali bagian selatan masih belum terjamah oleh Belanda, pelaut Bugis Wajo di bawah pimpinan Daeng Nachoda berlabuh di pelabuhan Air Kuning dalam usaha menghindar dari kejaran Belanda. (Reken, 2002: 45) Pusat perhatian pemerintah Hindia Belanda masih tertuju pada bagian utara pulau Bali, yaitu di Kerajaan Buleleng. Belum tertujunya perhatian Belanda ini, disebabkan oleh anggapan bahwa bagian Bali selatan, khususnya Jembrana masih merupakan kawasan hutan dan liar serta hanya digunakan sebagai tempat pembuangan para pemberontak kerajaan-kerajaan yang ada di Bali (Reken, 2002: 46).
Kemampuan orang-orang Bugis dalam memanfaatkan kawasan pesisir dengan budaya maritim mereka yang sangat kental, mampu menjadikan kawasan ini menjadi kawasan yang justru ramai dan membantu melancarkan perekonomian masyarakat di kerajaan Jembrana. Kemampuan mereka inilah kemudian membuka akses perdagangan untuk kerajaan Jembrana, yang pada saat itu kondisi alamnya tertutup hutan belantara, belum ada jalur lalulintas darat sehingga satu-satunya jalur lalulintas adalah angkutan laut. Perahu-perahu Bugis menyalurkan hasil bumi berupa beras, kelapa, ternak, dan lain-lain, serta kadangkala perahu-perahu ini memasukkan kuda-kuda dari pulau Sumbawa (Reken, 2002: 50) Karena jasa mereka inilah penguasa lokal Jembrana kemudian memberikan tempat untuk bermukim di Jembrana. Tenaga mereka selain diperlukan untuk memegang kendali perdagangan kerajaan, juga diperlukan sebagai prajurit dan penasehat di bidang kemiliteran.
Kedatangan orang-orang Bugis di Jembrana, kemudian disusul oleh kedatangan rombongan sisa eskuadron Sultan Pontianak, Syarif Abdulrahman Al–Qadery. Rombongan pimpinan Syarif Abdullah Bin Yahya Al – Qadery atas izin Haji Syihabuddin seorang Mubaligh agama Islam asal suku Bugis di Buleleng, memasukkan perahu-perahunya di Kuala Perancak (Reken, 2002: 52) Setelah beberapa tahun kemudian berdatangan pula orang-orang Jawa, Madura, Sasak, Cina, dan lain-lain, membuat komunitas semakin bertambah luas. Tentang awal kedatangan orang-orang Jawa, Madura, Sasak dan Cina diperkirakan terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ditandai dengan kedatangan orang asing terutama orang-orang Jawa dan Madura karena sebab-sebab yang berhubungan dengan sosial ekonomi. Demikian juga orang-orang Sasak masuk ke Jembrana, setelah hubungan antara Jawa dan Lombok serta Bali menjadi lancar (Suwitha, 1983: 168)

b. Peranan Syahbandar Sebagai Perantara Dalam Perdagangan
Syahbandar adalah seseorang yang memegang jalannya perniagaan, seorang syahbandar dituntut mempunyai kemampuan di berbagai bidang antara lain; di bidang hukum, yaitu mempunyai kemampuan untuk menjalankan aturan-aturan yang berlaku di bidang perdagangan seperti cukai, pajak, bea masuk, dan aturan-aturan lainnya yang berlaku di bidang perdagangan; di bidang politik, seorang syahbandar mempunyai kemampuan kepemimpinan terutama dalam memimpin para anggotanya dalam menjalankan aktivitas perniagaan, seorang syahbandar juga harus mempunyai kemampuan dalam berdiplomasi sehingga mempunyai hubungan yang harmonis dengan penguasa lokal dan penguasa kerajaan lain sehingga aktivitas perniagaan dapat terus berjalan. Syahbandar inilah yang menentukan dalam aktivitas perdagangan di pelabuhan dan kelancaran perekonomian kerajaan. Orang-orang yang menjadi syahbandar sangat dihormati. Pattimi menjadi syahbandar tahun 1805 sampai tahun 1808 juga mengepalai orang-orang Bugis di Jembrana dan 1200 orang di antaranya adalah pasukan bersenjata (Suwitha, 1988: 114) Seorang syahbandar disebut dengan Matowa.
Syahbandar juga memegang peran penting dalam bidang penyebaran agama Islam di Jembrana, seiring dengan semakin ramainya bandar Loloan sebagai bandar transit dan pertukaran barang dagangan dalam lalu lintas perniagaan di selat Bali. Sakin ramainya para pedagang dari berbagai wilayah, maka unsur-unsur budaya seperti agama juga mulai dikenal oleh masyarakat atau saudagar yang beraktivitas di bandar Loloan. Berbagai macam etnik dengan kepercayaan masing-masing berbaur di bandar Loloan. Hal ini memicu terjadinya penyebaran agama Islam yang juga diterima dengan tangan terbuka di Jembrana. Pada tahun 1860 terdapat empat desa orang Islam di Jembrana yaitu: Air Kuning, Loloan, Pengambengan, dan Banyubiru dengan pemimpinnya adalah orang Bali yang telah memeluk agama Islam, yaitu Pan Ider, Pan Kamar, Pan Bun, dan Pan Mustika. (Suwitha, 1983: 124; 1984: 97) Pan Mustika kemudian diangkat menjadi punggawa yang mengepalai desa-desa Islam di Jembrana. Kepala orang-orang Bugis ini diberi gelar puaq, yang mewakili dalam urusan pemerintahan. Dalam bidang keagamaan, seseorang yang mempunyai keahlian di bidang agama baik itu khatib, imam, penghulu, maupun imam kampung adalah orang yang dihormati oleh anggota masyarakat pada umumnya. Para “pegawai syara” ini sangat penting kedudukannya karena menjadi medium ketika seseorang melakukan upacara-upacara keagamaan. (Thohir, 1985: 78)
Dalam kehidupan sosial di Jembrana, seorang syahbandar mempunyai posisi yang lebih tinggi di masyarakat. Kedudukan mereka dalam kehidupan bermasyarakat dipandang sebagai tokoh yang mempunyai kedudukan kelas lebih tinggi. Dalam menentukan struktur kelas, masyarakat Bugis berpola pada adat moyangnya, masyarakat perantau, seperti halnya kehidupan masyarakat perantau lainnya. Sistem pelapisan sosial pada masyarakat Bugis di Jembrana setelah berbaur dengan masyarakat lokal (Bali-Hindu) pada pertengahan abad-17 dan juga dalam perkembangannya berbaur dengan orang-orang Pontianak dengan kedatangan eskuadron dari Sultan Pontianak pada akhir abad-18, serta masuknya orang-orang Madura, Jawa, Sasak, Arab, dan Cina pada awal abad-19, tidaklah menerapkan bentuk pelapisan sosial dari daerahnya. Pandangan orang dalam melihat orang lain, dianggap mempunyai derajat lebih tinggi, adalah berangkat dari latar belakang masyarakat itu terbentuk. Syahbandar mengeluarkan segala kemampuan dan pengalaman baik itu di bidang ekonomi, politik, hankam, dan sosial untuk mengembangkan daerah yang mereka tempati. Kebanyakan para syahbandar ini bahkan merasa tanah tumpah darahnya.

E. PERANAN ORANG-ORANG BUGIS DALAM KEHIDUPAN DI KAMPUNG LOLOAN
a. Peranan Penting Orang-Orang Bugis Dalam Kehidupan di Loloan
Peran orang-orang Bugis di Jembrana pada masa kerajaan adalah sebagai Syahbandar dalam bidang perniagaan. Dengan perahu-perahunya melalui bandar Loloan dan penyeberangan Gilimanuk, menyeberangkan hasil bumi seperti beras, ayam, kuda dan kulit ternak. Perahu-perahu orang-orang Bugis di bawah pimpinan Daeng Nachoda sangat berperan dalam melancarkan perekonomian kerajaan Jembrana pada abad ke-17 (Suwitha, 1983: 123; Putra; 2002: 14 - 20)
Pada awal abad ke-19, tahun 1805 – 1808, seorang pedagang Bugis yaitu Kapten Pattimi, pernah memegang pemerintahan, sebelum kemudian ditaklukkan oleh kerajaan Buleleng. (Suwitha, 1985: 169) Selain berperan dalam bidang perniagaan, orang-orang Bugis juga berperan di kerajaan terutama si bidang militer. Hampir setiap terjadi kerusuhan atau usaha untuk mempertahankan kerajaan, orang-orang Bugis selalu terlibat. Orang-orang Bugis membantu Raja Jembrana dalam berperang melawan Raja Tabanan, Raja Badung, dan Raja Buleleng dalam usaha untuk mempertahankan kerajaan. (Reken, 2002: 50).
Perkembangan selanjutnya, orang-orang Bali-Islam diberikan hak untuk mengatur sebuah Kampung setingkat dengan Banjar (untuk komunitas Bali-Hindu). Komunitas ini sudah mempunyai pemimpin sendiri yang disebut perbekel, hulubalang, penghulu, dan khatib. Dengan didirikannya masjid, corak Islam semakin jelas. Masjid mempunyai fungsi ganda, yaitu fungsi agama dan fungsi sosial, selain sebagai tempat untuk sembahyang dan berjamaah, masjid juga menjadi tempat penyelenggaraan upacara-upacara keagamaan, pusat pertukaran informasi, dan tempat bermusyawarah tentang berbagai masalah sosial. Dalam perkembangannya, setelah adanya pembaharuan sistem pemerintahan desa, Kampung berubah menjadi Lingkungan atau Banjar (untuk komunitas Bali-Hindu) dan menjadi bagian dari sebuah kelurahan. Lingkungan ini tetap berwatak Islam dengan ciri pemimpin spiritualnya para Kyai dan Alim Ulama dan masjid sebagai pusat kegiatan sosialnya (Sumarsono, 1993: 69)
Orang-orang Bugis mampu beradaptasi dengan cepat dan mempunyai kemampuan perniagaan yang luas dan dapat memperlancar perekonomian dari wilayah yang ditempati dalam hal ini wilayah kerajaan Jembrana membuat Loloan menjadi tempat yang semakin ramai didatangi oleh para pedagang dari berbagai daerah lainnya di Nusantara. Berbagai aktivitas perekonomian seperti: perdagangan dilakukan di bandar Loloan, sehingga kerajaan Jembrana dalam usaha perekonomiannya menjadi lebih lancar, dan meluas jangkauannya.

b. Hubungan Orang-Orang Bugis dengan Masyarakat Sekitarnya
Hubungan orang-orang Bugis dengan masyarakat di sekitar desa Loloan sangat baik. Wujud hubungan yang harmonis dari masyarakat Bugis dengan masyarakat sekitarnya adalah saling berinteraksi satu sama lain dengan tidak memandang latar belakang agama, kebiasaan dan kemampuan. Dalam bidang pertanian orang-orang Islam yang menjadi anggota sekaa subak, juga terikat oleh aturan-aturan yang berlaku. Aturan-aturan juga berlaku untuk anggota masyarakat Bali-Hindu. Dalam memperbaiki Pura Subak, anggota subak Bali-Islam tidak ikut dalam pengerjaannya, namun mereka dikenakan urunan batu atau uang. Demikian pula bila diadakan upacara dalam Pura Subak, kelompok Bali-Islam terkena urunan berupa uang. Tetapi kalau mengerjakan bendungan atau dam, kelompok Bali-Islam tetap ikut seperti halnya Bali-Hindu (Suwitha, 1985: 172).
Terdapat urutan upacara yang dilalui seperti dalam agama Hindu. Masyarakat Loloan percaya bahwa perilaku ibu berpengaruh terhadap anak yang dikandungnya. Namun, bagi wanita yang baru pertama kali hamil, persiapan mental dan fisik yang baikpun masih belum cukup. Selain itu mereka belum dianggap melakukan perkawinan yang syah, maka diharuskan dilakukan upacara Melenggang/Ngelenggang (Sumarsono, 1993: 66), dilanjutkan dengan upacara Abda’u, yaitu upacara awal kehidupan si bayi. Tangis bayi ketika lahir dipercaya sebagai tusukan setan pada lambungnya, sehingga perlu diadakan “pembersihan”. Rangkaian upacara selanjutnya adalah upacara kepus (putus) puser (tali pusar). Pada upacara ini bayi diberi makan sedikit kurma atau makanan lunak yang manis lainnya, suatu lambang harapan agar perilaku bayi itu kelak “manis”. Upacara selanjutnya jatuh pada hari ke - 40 setelah lahir (Sumarsono, 1993: 68).
Kemudian masih ada tiga upacara lagi sebelum anak memasuki usia remaja, yaitu; akikah, mauludan, dan sunatan. Upacara akikah berkaitan dengan upacara memotong hewan besar, upacara mauludan ini adalah upacara memotong rambut bayi yang dibawa sejak lahir, dan dianggap akhir dari masa bayi. Dalam upacara yang besar ini (dilakukan secara massal/bukan upacara pribadi) terlihat pula ada sesaji dan kelengkapannya. Sesaji ini bernama “malai” (sejenis pajegan) yang terbuat dari untaian bunga-bungaan, buah, dan telur yang disusun menjulang, dengan tatanan buah di bawah dan telur di atas. Telur ini sendiri dihiasi dengan rumbai-rumbai kertas warna-warni. Sesaji ini dilengkapi dengan setumpuk barang di atas talam, yang berupa kain yang belum pernah dipakai (sukla), beras kuning, uang (kepeng), kelapa gading, keris (pusaka), dan barang-barang untuk merias diri (Ash’ari, 2004: 8).
Upacara sunatan, atau khitanan, dilakukan pada waktu anak laki-laki berumur antara 4 sampai 12 tahun, bergantung pada kesiapan orang tua dan kesehatan anak. Dalam upacara ini terdapat pula sesaji yang berupa beras putih dan kuning, uang (kepeng), kelapa yang sudah dikupas sabutnya, pisang yang masak betul, gula merah, tembakau. Kelengkapannya adalah kain putih (sukla), keris pusaka, tombak bandrangan/bantrangan/benerangan, dan payung ubur-ubur (Sumarsono, 1993: 69)
Rangkaian upacara sebagai siklus hidup dari masyarakat di Loloan hampir sama, bahkan ada yang sama seperti upacara dilakukan oleh masyarakat lokal. Contohnya: dalam upacara kepus puser, upacara menek teruna (dalam agama Hindu dikenal dengan upacara metugtug kelihan), dan dalam melaksanakan upacara banyak peralatan atau perangkat upacara yang sama digunakan dalam upacara agama Hindu, seperti payung ubur-ubur (dalam bahasa Bali disebut dengan Pajeng Agung), janur, beras putih kuning (untuk sesajinya), dan lain sebagainya.

c. Hubungan Orang-orang Bugis dengan Raja Jembrana
Hubungannya orang-orang Bugis dengan Raja Jembrana tidak dapat dilepaskan. Mereka berperan penting dalam kelangsungan kehidupan kerajaan Jembrana. Sebelum kedatangan orang-orang Bugis ke Jembrana, situasi kerajaan masih hutan. Akses keluar kerajaan sangat minim, dan pemerintahan pada saat itu masih berupa kerajaan-kerajaan daerah dengan anglurah masing-masing, walaupun daerah-daerah tersebut para anglurahnya masih berhubungan darah. Kedatangan orang-orang Bugis ke Jembrana, membuka akses Jembrana dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Bali. Perahu-perahu dagang dan militer yang kuat disertai dengan ketangguhan dari orang-orang Bugis dalam mengarungi lautan, membuat Jembrana mulai dikenal oleh kerajaan-kerajaan lainnya di Bali.
Hubungan orang-orang Bugis dengan raja Jembrana juga sangat erat. Mereka sangat berperan di bidang politik dan militer di Jembrana. Hal ini dapat dilihat dari diangkatan orang-orang Bugis sebagai panglima perang pasukan kerajaan. Pada masa pemerintahan I Gusti Ngurah Pancoran, prajurit kerajaan yang bernama Pancoran Wisnu Murti dibantu oleh orang-orang Bugis yang memang bersahabat dengan keluarga Pancoran (Arcana, 1987: 31) Keahlian dari orang-orang Bugis yang dikenal mempunyai keahlian silat, membantu kerajaan Jembrana dalam mempertahankan wilayahnya dari serangan kerajaan Tabanan, kerajaan Badung, dan kerajaan Buleleng.
Serangan kerajaan Tabanan dan Badung terjadi pada masa pemerintahan Anak Agung Putu Andul yang memerintah tahun 1767 – 1795. Serangan oleh kerajaan Buleleng terjadi dua kali yaitu pada saat Jembrana berada di bawah pemerintahan I Gusti Putu Tapa yang memegang kuasa di Jembrana bagian barat (Brambang), serta keluarga Arya Pancoran yang memegang kuasa atas Jembrana bagian timur. Antara Jembrana bagian barat dengan bagian timur dibatasi oleh sungai Ijogading (Arcana, 1987: 31) Peperangan ini terjadi sekitar tahun 1660. I Gusti Ngurah Pandji Sakti berusaha untuk menguasai daerah Jembrana.
Serangan kerajaan Buleleng yang kedua terjadi pada masa pemerintahan I Gusti Gede Seloka (Raja Jembrana ke IV) tahun 1828, di bawah pimpinan Anak Agung Gede Karang. I Gusti Gede Seloka kemudian melarikan diri ke Banyuwangi, diikuti oleh adiknya I Gusti Ngurah Made Bengkol. I Gusti Ngurah Made Bengkol dan I Gusti Ngurah Gede kemudian melakukan kerjasama dengan orang-orang Bugis dan berhasil membunuh Anak Agung Gede Karang di Pengambengan. Mendengar bahwa Anak Agung Gede Karang tewas di Jembrana, adiknya yang bernama Anak Agung Nyoman Karang mengadakan serangan balasan dan berhasil membunuh I Gusti Ngurah Made Bengkol dan I Gusti Ngurah Gede di desa Awen (Reken, 2002: 55 - 56) Buleleng kembali menguasai Jembrana dengan tewasnya I Gusti Ngurah Made Bengkol dan I Gusti Ngurah Gede, namun pemerintahan Buleleng atas Jembrana tidak mendapat dukungan dari rakyat, rakyat banyak yang memberontak dan berhasil membunuh salah satu punggawa dari dua orang punggawa yang ditempatkan kerajaan Buleleng di Jembrana. Akhirnya kekuasaan kembali diletakkan dan I Gusti Gede Seloka kembali dari pengungsiannya dari Banyuwangi, kemudian memerintah lagi di Jembrana (Arcana, 1987: 31 - 32).

F. PENUTUP
kehidupan masyarakat Loloan Jembrana pada abad ke-19 sudah dipengaruhi oleh adanya kontak orang-orang Bugis yang beragama Islam, bahkan jauh sebelum abad ke-19 yaitu pada abad ke-17 sudah terjadi kontak. Hal ini dapat dibuktikan pada tahun 1653-1669 sekelompok orang-orang suku Bugis beragama Islam yang berasal dari Sulawesi Selatan memasuki wilayah Jembrana. Orang-orang Bugis di Jembrana, telah memegang pranan yang menentukan sejak akhir abad ke-17. Salah seorang keluarga raja I Gusti Ngurah Pancoran telah memeluk agama Islam, karena pergaulan yang akrab dengan orang-orang Bugis. Perahu-perahu Bugis di bawah Daeng Nachoda sangat berjasa melancarkan perekonomian kerajaan Jembrana pada akhir abad ke-17.
Keberadan orang-orang Bugis di Jembrana pada abad ke-17 sampai akhir abad ke-19, boleh dikatakan sebagai kelompok minoritas dibandingkan orang Bali sendiri sebagai penduduk asli namun walupun begitu mereka memiliki peran yang sangat penting. Bukti lain mendukung keberadaan orang-orang Bugis di Loloan selain tersebut di atas, bahwa kedatangan mereka pada awalnya diterima dengan baik oleh penguasa Jembrana dan mendapat prioritas yang layak. Tempat bermukim tetap lokasi lokal yang disebut kampung Bali; Mereka diperlakukan selayaknya sebagai penduduk pribumi setempat, mereka persatukan bersama rakyat Hindu Jembrana dengan penuh damai untuk bersama-sama membangun kerajaan Jembrana; Mendapat kehormatan untuk memperkuat pertahanan kerajaan dengan memberikan segala persenjataan mereka menjadi milik kerajaan kepada penguasa Jembrana; Diangkatnya mereka sebagai prajurit yang berfungsi sebagai laskar keamanan rakyat dan kerajaan serta seluruh wilayah Jembrana; Perahu-perahu perang mereka diubah dan digunakan sebagai perahu dagang untuk sarana perniagaan yang mengangkut produksi Jembrana dan Brangbang hingga jauh ke luar Bali; Mereka bebas dan berhak menjalankan seluruh syariat agama dan ibadat dengan baik serta mengembangkan ajaran agama Islam.
Kerukunan beragama pada saat itu dalam suasana tentram dan damai, pada saat itu pula telah didirikan sebuah masjid pertama di Jembrana disebuah perkampungan penduduk Hindu Bali yaitu Air Kuning yang kini menjadi Banjar Anyar sebagai bukti akan outentitas kerukunan beragama saat itu yangselalu terpelihara. Orang-orang asing (khususnya orang-orang Bugis) di Loloan Jembrana merupakan pedagang yang ulet dan selalu berhasil. Tambahan pula mereka mempunyai perahu-perahu sendiri yang memudahkan meneruskan usaha dagangannya, dan saingan orang-orang Bali dalam bidang perdagangan hampir tidak ada. Seorang atau kelompok pedagang asing yang baru pertama kali berdagang selalu harus melalui para pejabat kerajaan, dalam hal ini Syahbandar, raja, para Gusti (bangsawan), Pembekel atau pejabat lainnya. Dengan menghubungi para pejabat tersebut, memudahkan mereka mengadakan hubungan dengan rakyat pedalaman sebagai lawan berdagang.


DAFTAR PUSTAKA

Arcana, Ida Bagus. 1987. “Jembrana Dibawah Kekuasaan Pemerintah Belanda” Skripsi S – 1. Denpasar: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Arsana, I. G. N. 1997. “Pola Hubungan Antar Suku Bangsa (Kasus Afinitas Kultural di Jembrana)”, Paper, Disampaikan dalam Seminar Widyakarya Nasional Antropologi dan Pembangunan, Hotel Indonesia 26 – 28 Agustus.
Ash’ari, R. 2004. “Malai, Produk Budaya Masyarakat Pesisir”, dalam Ge – M Independent, edisi 09, tahun III, 17 – 23 Mei.
Buda, I Made. 1990. “Hubungan Antar Etnik di Jembrana 1856 - 1942”, Skripsi S – 1. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Farid, Andi Zainal Abidin. 1980. “Penyebaran Orang-orang Bugis di Wilayah Pasifik”, dalam Lontara No. 7. Ujung Pandang: Universitas Hassanudin.
Damanhuri, Ahmad. 1993. Sejarah Kelahiran Kabupaten Daerah Tingkat II Jembrana. Diajukan untuk bahan Seminar Sejarah lahirnya Kabupaten Jembrana dan Kota Negara: Jembrana.
Kowaas, C. 1995. Pinisi Nusantara Pinisi Perkasa. Jakarta: PT Intermasa.
Lapian, Adrian Bernard. 1971. “Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Pada Abad XIX”, Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Mattulada. 1971. “Kebudayaan Bugis Makassar”, dalam Koentjaraningrat (ed.), Manusia Dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Panitia Pelaksana Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Jurusan Pendidikan Sejarah. 1996. Laporan Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan. Jembrana: IKIP Jakarta.
Pelly, Usman. 1986. “Pasang Surut Perahu Bugis Pinisi”, dalam, Mukhlis (ed.), Dinamika Bugis – Makassar. Makassar: PLPIIS.
Punagi, Andi Abu Bakar. 1960. “Rumah Orang Bugis”, dalam Adat Istiadat dan Cerita Rakyat. Jakarta: Departemen PP dan K.
Putra, Asmara. 2002. “Umat di Jembrana Rukun Berkat Konsep Nyama Braya”, dalam Feature Mozaik Jembrana. Jembrana: Seksi Humas Kantor Informasi dan Pelayanan Umum Kabupaten Jembrana.
Reken, I Wayan. 1980. “Dakwah Lewat Kesenian Abad XVI di Jembrana”, dalam Hijrah No. 13 Tahun I. Denpasar: MUI Bali.
, 2001. ”Janturan, Adaptasi Adrah Loloan Oleh Nyama Bali”,disunting oleh: Nanoq da Kansas, dalam Jembrana Post.
, 2002. “Umat Islam di Jembrana”, dalam Sejarah Keberadaan Ummat Islam di Bali, penyunting H Shaleh Saidi. Denpasar: MUI Bali.
Sugianto, Ida Bagus. 2005. “Masyarakat Dan Budaya Bugis di Jembrana Studi Kasus Seni Rebana dan Silat Bugis 1945 – 2000” Skripsi S – 1. Denpasar: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Sumarsono. 1991. “Bahasa Melayu Loloan di Bali: Struktur dan Unsur-unsur Bahasa Lain di Dalamnya”, Laporan Penelitian. Denpasar: Universitas Udayana.
. 1993. Pemertahanan Bahasa Melayu Loloan di Bali. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Suwitha, I Putu Gede. 1983. ”Islam dan Perahu Pinishi di Selat Bali”, dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: LIPI.
. 1984. “Peranan Orang-orang Bugis di Bali”, dalam Widya Pustaka. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.
. 1985. “Hubungan Antar Suku Bangsa Dalam Masyarakat Majemuk di Jembrana, Bali”, dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: LIPI.
. 1988. “Politik dan Perdagangan Pada Abad XVIII – XIX: Kasus Bali”, dalam Widya Pustaka Tahun Ke IV Edisi Khusus. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Thohir, Mudjahirin. 1985. “Kebudayaan Masyarakat Perantau”, dalam Mukhlis & Kathryn Robinson (ed.), Migrasi. Ujung Pandang: Lembaga Penerbitan Unhas.
Tim Penulis. 2000. Sejarah Jembrana dan Lahirnya Ibukota Negara. Jembrana: Pemda TK II Jembrana.
Tobing, Philip O. L. 1977. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan.
Wartama, I Ketut. 1972. “Sejarah Perkembangan Jembrana Sampai Timbulnya Daerah Kabupaten”, Skripsi Sarjana Muda. Denpasar: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana.

0 komentar:

Poskan Komentar

Situs-Situs Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites