Minggu, 09 Mei 2010

Keunikan Budaya Sebagai Daya Tarik Pariwisata Di Desa Loloan, Kabupaten Jembrana

Di Desa Loloan, Kabupaten Jembrana

I Made Dharma Suteja

Abstract

There are four ethnic groups in Bali Island, which belong to the indigenous ethnic group or the newcomer ethnic group. Loloan people are classified as one of the Balinese ethnic groups because the Loloan community has large number of people in Bali, and they also have their unique social culture life. They have been in Bali since long time ago (since the time of the great empire ruled in Indonesia and particularly in Bali). There are some cultures uniqueness in Loloan tribe community, and some of them use (Bahasa Melayu Loloan) as communication language in their interaction daily life, dialect Loloan Melayu language (or it is usually called: kampong dialect) is similar with Melayu language dialect in Malaysia. These languages are usually used by speaker in the Islands of Riau Lingga, Johor (Malaysia), Singapura, Malaka, moreover in Loloan (Jembrana) and the most important in art field. The result of this research illustrates the distinctive culture of Loloan community as one of the ethnic group who still has their own characteristic, although there is more assimilation culture between the newcomer ethnic group and the indigenous ethnic group in this era. Some other cultures influence the exist of social culture in Bali, such as the modification of (panggung house) residence shape which its material is not made of wood anymore, there are also the Javanese part, there is relatives term or special name for kinship for example pak ngah, pak man, pak tut, there is influence in cycle of life such as elopement, there is Banyuwangi and Bali influence in sea thanksgiving (sedekah Laut). Although there is a lot of influences from other cultures, Loloan social culture is continue to exist from one generation to next generation.
Key Word: The Culture Uniqueness as Tourism Interest

A. PENDAHULUAN
Adat istiadat telah memberi peluang kepada setiap masyarakat untuk mengembangkan tradisinya tanpa meninggalkan nilai yang mendasari bentuk-bentuk kegiatan adat tersebut. Oleh karena itu perkembangan kebudayaan suatu masyarakat bagaimanapun bentuknya akan selalu mengingat pola yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka. Dengan kata lain, tradisi suatu masyarakat berkembang sesuai dengan tatanan nilai yang dijunjung oleh masyarakat pendukungnya.
Di Pulau Bali terdapat empat suku bangsa, baik suku bangsa asli maupun suku bangsa yang asalnya pendatang. Suku bangsa asli diantaranya adalah Suku Bali atau Bali Dataran dan Suku Bali Aga atau Bali Pegunungan, sedangkan suku bangsa pendatang yang telah diakui sebagai suku bangsa di Bali adalah Suku Loloan dan sebagian besar dari anggota Suku Nyama Selam. Suku Loloan dan Nyama Selam memiliki persamaan yaitu keduanya adalah penduduk pendatang di Pulau Bali yang mulai sejak jaman kerajaan-kerajaan besar, persamaan lain yang dimiliki kedua suku adalah mereka menganut agama Islam, meski ada persamaan terdapat pula perbedaan diantara keduanya sehingga dibedakan menjadi dua suku bangsa karena masing-masing memiliki adat yang merupakan ciri khasnya, dismping itu dalam Suku Nyama Selam sendiri ada anggotanya yang asli Bali tetapi beragama Islam. Masyarakat Loloan digolongkan sebagai salah satu suku bangsa yang ada di Bali disebabkan komunitas Loloan dengan jumlah relatif banyak, memiliki kehidupan sosial budaya yang khas dan sudah berada di Bali sejak jaman dahulu (masa pemerintahan kerajaan besar di Indonesia dan Bali khususnya).
Kekhasan budaya masyarakat Loloan diantaranya adalah pemakaian bahasa pergaulan sehari-hari Bahasa Melayu Loloan, dialek Bahasa Melayu Loloan (atau istilah setempat: dialek kampong) mirip dengan dialek bahasa Melayu di Malaysia dan banyak digunakan para penutur di Kepulauan Riau Lingga, Johor (Malaysia), Singapura, Malaka maupun Loloan (Jembrana).

B. PEMBAHASAN
Penduduk Loloan berasal dari suku Melayu, Bugis dan Arab yang selanjutnya diikuti pendatang muslim dari Jawa dan Madura. Pada saat ini penduduk desa yang merupakan keturunan pendiri Loloan dan para pendatang muslim dari bermacam-macam suku bangsa dalam kehidupan mereka juga sudah banyak mengalami pembauran melalui perkawinan. Bahasa yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari suku Loloan dikenal sebagai Bahasa Melayu Loloan, sekarang bahasa ini bahkan telah dipergunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari oleh penduduk pendatang yang bermukim di Loloan.
Dalam arti luas permukiman adalah perihal tempat tinggal atau segala sesuatu yang berkaitan dengan tempat tinggal sedangkan dalam arti sempit adalah bangunan tempat tinggal (Hadi Sabari Yunus, 1987:3). Kondisi permukiman penduduk umumnya relatif baik karena permukiman permanen (berdinding tembok atau semen, atap terbuat dari genteng atau seng, lantai terbuat dari tegel atau keramik) dan; permukiman semi permanen (berdinding sebagian tembok sebagian kayu, atap terbuat dari genteng atau seng, lantai terbuat dari ubin atau semen) relatif lebih banyak dibandingkan permukiman non permanen atau darurat (berdinding kayu atau bambu, atap terbuat dari bambu atau rumbia, lantai terbuat dari tanah). Pola permukiman penduduk adalah linier dan teratur, berderet di sepanjang jalan desa.
Tipe permukiman penduduk di wilayah ini ada dua bentuk yaitu rumah panggung dan rumah model Jawa. Rumah-rumah panggung umumnya non permanen atau terbuat dari kayu, namun sekarang relatif banyak dijumpai rumah-rumah panggung yang semi permanen yaitu dinding lantai bawahnya terbuat dari tembok sedangkan lantai atas masih terbuat dari kayu. Ruangan-ruangan rumah terdiri dari 3 (tiga bagian), yaitu bagian bawah rumah disebut bawa kolong tempat menyimpan barang-barang yang tidak terpakai lagi, sekarang banyak digunakan sebagai kamar-kamar; bagian tengah depan disebut amben adalah ruang keluarga dan tempat anak-anak belajar mengaji; bagian lantai atas disebut di atas pare tempat menyimpan pusaka (tombak, keramik, alat-alat rumah tangga). Pintu rumah umumnya menghadap ke timur ditujukan supaya orang tidak berlalu-lalang di sebelah barat (kiblat) dan tidak mengganggu orang yang sembahyang (sholat). Rumah panggung ini menunjukkan permukiman dipengaruhi budaya Melayu dan Bugis.
Rumah model Jawa terdiri dari ruang depan, ruang tengah dan ruang belakang. Ruang depan berfungsi sebagai tempat menerima tamu sedangkan ruang belakang sebagai tempat tidur anak-anak yang masih bujangan, kedua ruangan tersebut tidak dibagi menjadi kamar-kamar melainkan terbuka. Ruang tengah sebagai inti rumah adalah tempat tidur ayah, ibu dan anak yang masih menyusu, ruangan ini terdiri dari satu kamar atau lebih. Apabila memungkinkan di sudut ruangan dipakai sebagai dapur dan ruang makan tetapi bila pekarangan memungkinkan dibuat dapur yang terpisah, namun pada umumnya rata-rata luas pekarangan rumah di desa ini relatif sempit dan tidak dapat ditanami. Antara satu rumah dengan rumah lainnya tidak dibatasi tembok (penyengker), berbeda dengan permu-kiman penduduk Bali yang umumnya tertutup. Permukiman yang terbuka (tanpa penyengker) ini menyebabkan pergaulan antar anggota masyarakat menjadi relatif lebih baik. Adanya permukiman model Jawa menunjukkan budaya di Loloan juga sudah dipengaruhi oleh Suku Jawa dengan adanya Suku Jawa yang tinggal diantara mereka maupun pembauran kedua suku melalui perkawinan.
Masyarakat Loloan memiliki sistem kekerabatan bilateral yaitu garis keurunan menurut ayah dan ibu, dengan demikian seorang anak adalah anak dari ayah dan ibunya dan mereka mempunyai hubungan kekerabatan dari pihak ibu maupun dari pihak ayah. Adat menetap setelah mereka menikah adalah uxorilokal, yaitu boleh memilih menetap di lingkungan kerabat suami atau isteri, tetapi umumnya setelah menikah mereka pada awalnya untuk sementara tinggal di lingkungan kerabat isteri, selain itu ada pula adat menetap neolokal yaitu mendirikan rumah di tempat yang baru, terpisah dari orang tuanya. Pernikahan yang diharapkan diantara mereka adalah pernikahan diantara saudara sepupu.
Dalam hubungan keluarga terdapat istilah-istilah panggilan sebagai berikut: kepada ayah dipanggil wak, aji, ibu dipanggil mak, anak laki-laki = kacung, anak perempuan dipanggil abeng, kakak laki-laki = abang, kakak perempuan = akak, saudara ipar istri atau suami yang lebih tua = akang, saudara ayah = pak ulong, sedangkan yang dipengaruhi budaya Bali panggilan kepada saudara ayah= pak man, pak ngah, pak tut, kakek dipanggil datuk dan para orang tua yang sudah meninggal disebut moyang.
Pergaulan anak gadis (anak dare) berbusana muslim yaitu berkebaya dan berkerudung. Mereka hanya boleh bergaul di luar rumah sebelum usia akqil baliq (haid pertama), setelah akqil baliq anak gadis lebih banyak tinggal di rumah untuk dipersiapkan menjadi seorang ibu rumah tangga dan apabila mempunyai keperluan di luar rumah akan ada anggota keluarga yang menemani. Dengan demikian tidak ada pergaulan antara anak gadis dan pemuda sebelum menikah (istilah berpacaran). Pernikahan diatur melalui perjodohan oleh orang tua mereka.
Orang tua yang menjumpai seorang gadis yang dianggap cocok menjadi menantu akan melakukan permintaan kepada orang tua si gadis (ngangini). Setelah disepakati kemudian dilakukan pelamaran, selanjutnya dilakukan tukar-menukar cincin (menunduk tunangan), pihak laki-laki memberikan mahar sebagai pengikat. Tahap berikutnya merupakan upacara akad nikah (manten brine), dalam upacara ini terdapat acara pertemuan pertama (mategoran) antara kedua mempelai. Setelah akad nikah diadakan jamuan untuk para undangan. Beberapa hari kemudian kedua mempelai mengunjungi keluarga terdekat, sebelum berkunjung mereka diharuskan melakukan permohonan (masejati) untuk diijinkan berkunjung. Masejati ditolak apabila dalam keluarga yang dituju ada yang sakit. Bagi yang terkena penyakit dilarang memakan makanan dari pengantin selama 40 hari sedangkan bagi kedua mempelai 40 hari sejak pernikahan merupakan masa berjaga-jaga terhadap serangan ilmu hitam (magic). Untuk mencegah terkena ilmu hitam mempelai diberi penangkal yang disebut bekal. Di samping adat pernikahan yang telah diuraikan tersebut masyarakat Loloan juga mengenal adanya kawin lari. Kawin lari terjadi apabila seorang gadis yang sudah dilamar orang tetapi gadis tersebut tidak menyukai calon suaminya dan memiliki kekasih lain. Si gadis kemudian dilarikan pihak laki-laki (kekasihnya) diajak menghadap penghulu. Pihak laki-laki selanjut-nya menyuruh kerabat dekat untuk ngeluku (memberi tahu) keluarga si gadis bahwa anak gadisnya diambil olehnya. Pihak laki-laki yang melarikan si gadis juga bertanggung jawab mengembalikan semua barang yang telah diberikan pihak calon suami yang telah melamar. Adanya kawin lari dan masejati ini juga menunjukan adanya pengaruh budaya Bali.
Pelapisan sosial dalam masyarakat Loloan pada saat ini didasarkan atas keturunan, kedudukan dan senioritas. Pelapisan sosial berdasarkan keturunan adalah antara golongan penduduk keturunan asli Melayu Islam yang dianggap sebagai golongan yang lebih tinggi kedudukannya daripada golongan penduduk bukan keturunan Melayu Islam. Pelapisan sosial berdasarkan kedudukan adalah kaum ulama dan haji yang dianggap sebagai go-longan yang lebih tinggi dan paling menonjol dalam kehidupan agama, adat, terutama dalam pelaksanaan upacara sedangkan pelapisan sosial berdasarkan senioritas umumnya didasarkan usia namun tidak terlepas pula dengan pelapisan sosial berdasarkan keturunan dan kedudukan. Adanya pelapisan sosial tersebut tercermin dalam penggunaan tingkatan bahasa dan sopan santun pergaulan.
Masyarakat Loloan disamping sebagai muslim yang taat beribadah masih memiliki kepercayaan adanya kekuatan-kekuatan gaib yang mempengaruhi kehidupan mereka, misalnya dalam aktivitas atau mata penca-harian maupun dalam upacara-upacara daur hidup. Kepercayaan penduduk yang dianut secara turun-temurun tersebut ada yang dipengaruhi budaya Jawa dan Bali. Berkaitan dengan mata pencaharian mereka sebagai nelayan, penduduk mempunyai kepercayaan serta upacara yang erat hubungannya dengan persepsi mereka mengenai laut dan pekerjaan mereka di laut. Upacara dimulai sejak meluncurkan perahu sampai kebiasaan mereka terjun ke laut. Sebelum perahu diluncurkan dilakukan upacara selamatan, ditujukan supaya para nelayan mendapat rejeki dan dilindungi penguasa lautan. Upacara ini diberkati seorang ulama dan disaksikan semua anak buah perahu dan anak-anak kecil.
Dalam mengarungi lautan para nelayan mempunyai pantangan yaitu tidak boleh membuat ayam panggang, berpakaian kuning, jukung/perahu tidak boleh berwarna abu-abu. Ayam panggang, warna kuning dan abu-abu dianggap bertentangan dengan kehendak Nyai Roro Kidul (penguasa pantai selatan). Kepercayaan ini berkembang karena pengaruh hubungan mereka dengan nelayan-nelayan dari Jawa (Banyuwangi). Setiap tahun sekali pada bulan suro masyarakat melaksanakan upacara sedekah laut sebagai perwujudan syukur atas karunia yang melimpah, selain itu juga sebagai tolak bala supaya terhindar dari mara bahaya. Rangkaian upacara ini dimulai sehari sebelum acara puncak (pada malam bulan purnama) dilangsungkan acara hiburan rakyat (zamroh, burdah, hadrah), keesokan harinya acara puncak dilakukan penyembelihan kambing atau sapi, kepala sapi atau kambing beserta sesajennya diceburkan ke tengah laut sebagai persembahan (Ida Bagus Mayun dkk, 1995).
Upacara-upacara daur hidup (life cycle) yang ada dalam masyarakat meliputi: 1) upacara pada saat bayi masih dalam kandungan disebut ngelenggang, 2) setelah bayi lahir disebut upacara abda’u, 3) upacara pada saat bayi berumur 7 (tujuh) hari disebut kepus pengused, 4) upacara pada saat bayi berumur 40 (empat puluh) hari disebut tepas kambuhan, 5) upacara pada saat bayi berumur 50 (lima puluh) hari disebut akekah, 6) upacara pada saat bayi berumur 180 (seratus delapan puluh) hari disebut mauludan, 7) upacara sunatan disebut khitan atau buang supit, 8) upacara pada saat meningkat dewasa atau akhil balig disebut menek terune, 9) upacara pernikahan dan 10) upacara kematian.
Dalam salah satu rangkaian upacara daur hidup (life cycle) pernikahan dalam acara kunjungan mempelai kepada keluarga terdekat (setelah beberapa hari menikah), sebelumnya dilakukan permohonan ijin berkunjung (masejati) yang ditolak apabila dalam keluarga yang dituju ada yang sakit. Ada kepercayaan bahwa bagi yang terkena penyakit dilarang memakan makanan dari pengantin selama 40 hari sedangkan bagi kedua mempelai 40 hari sejak pernikahan merupakan masa berjaga-jaga terhadap serangan ilmu hitam (magic). Kedua mempelai diberi penangkal yang disebut bekal untuk mencegah supaya tidak terkena ilmu hitam.
Daerah Jembrana selain memiliki obyek keindahan seperti keindahan alam Sungai Perancak, Air Terjun Yeh Mesehe, Teluk Gilimanuk, Pura Rambutsiwi, disamping itu memiliki juga bentuk-bentuk kesenian hiburan rakyat yang khas di Jembrana adalah Mekepung, Jegog, Hadrah, Burdah, dan Rudat. Keseniannya itu adalah mengandung nilai-nilai estetis yang merupakan modal kekayaan Jembrana dalam industri Pariwisata

MEKEPUNG
a. Sejarah
Salah satu kesenian rakyat yang Khas di Jembrana adalah Mekepung yakni Pacuan Kerbau dengan menarik gilinding atau sejenis alat pengangkut yang ditarik oleh sepasang kerbau atau sapi. Mekepung dengan cikar kecil (gedebeg) ini lahir dan berkembang di-tengah-tengah masyarakat di Pedesaan ± th. 1929 sampai sekarang.
Kalau di Singaraja ditarik oleh hanya seekor kerbau, sedangkan di Jawa alat pengangkut ini kami lihat ditarik oleh sepasang sapi. Kesenian Mekepung ini sering kita dapat saksikan sampai sekarang di Jembrana. Lomba Kerbau disawah atau didarat disebut Mekepung. Hal ini terjadi setelah Desa-desa di Jembrana berkembang yang hidupnya semua dari bertani.
Bali pada umumnya mempunyai jiwa gotong-royong (peselisian). Mereka mengolah tanah secara gotong-royong misalnya ngelampit dalam pengolahan tanah sawah. Mereka beramai-ramai bukan hanya lima atau sepuluh orang, melainkan lebih dari itu. Akibat beramai-ramai itulah timbul kegembiraan. Mereka saling pacu-memacu (berlomba) kerbau, untuk masing-masing menunjukkan ketangkasan.
Lama-lama makin disempurnakan akhirnya lahirlah pekepungan disawah. Sifat tradisionil sebagaimana aslinya yaitu me-opin-opinan (meselisi) atau gotong-royong. Hal ini terjadi antara satu desa malah lebih. Mereka yang mengadu kerbau itu menyebut dirinya ngopin.
Kenyataannya kalau diperhatikan memanglah demikian adanya, kerena mereka pagi-pagi benar pergi kesawah membawa alat-alat pertanian beserta sepasang kerbau dan mereka bekerja ngelampit dengan penuh kesibukan gotong-royong kemudian setelah kira-kira lebih kurang jam 09.00 pagi dimana tanah sawah yang diolah itu sudah keadaannya bersih (nyarang) barulah timbul niat untuk lomba (mekepung).
Terdorong oleh keinginan besar untuk berlomba mengadu ketangkasan kerbau, maka makin memuncaklah pacuan kerbau itu sampai berakhir. Alat lampit yang dipergunakan dibuat khusus yaitu lebih ramping, kayunya sangat pendek dan tidak menggarut tanah. Ada pula dibuat berukir kebanyakan memakai motif naga, sedangkan tanduk kerbau dibungkus dari kain, bahkan ada yang bersumpe perak.
Adapula yang sejenis ini tetapi dengan sapi disebut megembeng, karena dileher sapi itu digantungkan gembeng yang kalau sapi itu bergerak menimbulkan suara yang mirip suara kulkul ngoncang atau mecandetan
Umumnya petani menggarap sawah tidak kurang dari satu Ha, bahkan banyak yang lebih. Tiap satu Ha. menghasilkan 200 ikat. Sudah barang tentu sangat berat kalau dipikul sendiri-sendiri, maka digunakanlah alat yang disebut cikar (gedebeg). Mula-mula rodanya dibuat akar kayu besar yang pipih (tabih kayu). Kemudian masuklah jenis cikar dari Banyuwangi.
Dengan rasa gembira petani beramai-ramai dari sepuluh sampai dua puluh cikar saling menunjukan ketangkasan. Lama-lama terjadilah diluar gotong-royong atau dibuat waktu khusus untuk mengadu ketangkasan petani mengendalikan sapi dengan gedebegnya.
b. Tempat
Arena pacuan ini yang lazim dipilih jalan dipesawahan yang tidak berbatu-batu, jalan agak rata tidak terlalu banyak belokan (pengkolan), dengan ukuran panjang ± 2 Km. dan tempat pacuan kerbau ini paling disenangi dan menarik adalah tempat yang terbuka, dengan maksud agar supaya lebih mudah masyarakat penggemar pacuan kerbau dapat menyaksikannya.
c. Sarana
1. Sepasang kerbau jantan pilihan yang disebut kerbau pepaduan.
2. Gelinding yang lazim disebut gedebeg di Jembrana yang Khusus dibuat untuk pacuan kerbau itu, kendatipun prinsipnya tidak berbeda dari gedebeg angkutan biasa, hanya saja gedebeg pekepungan itu dibuatnya begitu ramping, agar supaya lebih mudah dan ringan dilarikan oleh kerbau.
3. Uga yaitu sepotong kayu tempat sarad gedebeg bergantungan pada tempat leher kerbau menyangga, dibuatnya demikian rupa dan seindah mungkin, biasanya kebanyakan berbentuk ukiran naga.
4. Gagak yang terletak ditengah-tengah uga tersebut berpungsi untuk pemegang sarad, demikian juga sebagai tiang umbul-umbul atau panji-panjinya.
Dekat ujung naga-nagaan sekitar leher kerbau dari bentuk naga yang sedikit mendangak terdapat dua pasang kayu berukuran tiap-tiap pasang ± dua jengkal berfungsi untuk memegang leher kerbau yang disebut sambilan.
5. Busana Kerbau.
1. Hiasan kepala kerbau disebut rumbing bentuknya adalah serupa rumbing tari Barong. Bahan-bahan rumbing yang dipergunakan adalah dan kulit yang diukir, dan ada pula yang memakai pelat tipis dari aluminium.
2. Hiasan leher kerbau disebut geronongan, mirip genta bentuknya bulat seperti gongseng, akan tetapi bentuknya jauh lebih besar dari gongseng.
3. Hiasan tanduk kerbau dibungkus dengan kantong kain merah
4. Hiasan pengendali dari pacuan kerbau Mekepung itu pakaiannya disesuaikan dengan khas pakaian Jembrana, namun sebagai tanda pengenal masing-masing sektor dipergunakan kober (umbul-umbul) dipacungkan pada cagak uga gedebeg tersebut dengan warna tertentu yaitu daerah sektor bagian timur dengan warna merah-merahan dan sektor barat dengan warna kehijau-hijauan. Demikian pula kostum pengendali (Jokinya) dibuat agak seragam untuk masing-masing daerah sektor. Pengedali dari Pacuan kerbau (Mekepung) ini adalah ibarat seorang Joki.
d. Cara Pertandingan
Oleh karena besarnya peminat dan penggemar pekepungan tersebut maka untuk memudahkan cara penilaian pacuan kerbau itu, dibuatkan grup (Sektor) yang tetap digunakan sampai sekarang. Atas dasar musyawarah dan mufakat para penggemar dijadikanlah kemudian 2 Sektor yaitu dengan batas-batas daerah yakni : Sungai Ijo-gading yang membelah ibu kota Negara dijadikan batas tengah antara 2 sektor. Dibagian sebelah barat batas Sungai Ijogading dijadikan daerah Sektor Barat, sedangkan dibagian sebelah timur batas Sungai Ijogading disebut daerah Sektor Timur.
Untuk tanda pengenal masing-masing sektor dipergunakan kober pada masing-masing gedebeg dengan warna tertentu yaitu daerah sektor barat dengan warna kehijau-hijauan dan daerah sektor timur dengan warna kemerah-merahan, dan kostuin pengendali (Joki) dibuat pula agak seragam masing-masing daerah sektor (grup).
Kemudian masing-masing daerah sektor diwajibkan membuat penggolongan - penggolongan masing-masing pasangan kerbau, mulai No. 1, 2, 3 dan seterusnya sampai kadang-kadang 50 lebih pada satu grup yang berarti bahwa pasangan kerbau yang No. 1 tersebut adalah termasuk kelas berat dengan kecepatan larinya luar biasa tidak akan terkejar oleh pasangan kerbau No. : 2, 3 dan seterusnya.
Dari masing-masing nomer golongan tersebut diadu dalam pertandingan antar ke-1 sektor timur melawan ke-1 sektor barat dan seterusnya sampai nomor - nomor golongan itu habis.
Kemudian hasil dari pertandingan pacuan kerbau itu, terkumpullah biji kekalahan maupun dari kemenangan dari masing-masing sektor. Kalau salah satu sektor mengumpulkan biji terbanyak itulah yang dianggap menang. Akan tetapi yang tetap seolah-olah Top kemenangan adalah pemenang ke-I nya. Golongan pasangan kerbau tidaklah tetap (mutlak) sewaktu-waktu oleh daerah sektor bisa dirobah atas dasar musyawarah dan mufakat menurut prestasi pasangan kerbau itu.
Misalnya kalau kerbau golongan pasangan No. sepuluh dalam pertandingan selalu mengalami kemenangan tiap-tiap pertandingan, maka kerbau pasangan nomer sepuluh itu bisa segera meningkat ke golongan pasangan lebih tinggi, dan seterusnya bisa mencapai golongan pasangan Ke-I. Sebaliknya apabila prestasinya mundur, kemudian golongan pasangan nomer sepuluh itu diturunkan.
Cara dan sistim penilaian untuk mengetahui kalah menang pacuan kerbau itu, terlebih dahulu saya jelaskan arena pekepungan itu, bahwa arena yang digunakan adalah jalan disawah atau jalan pedesaan yang telah ada, yang berarti tidak membuat medan khusus untuk itu, sudah barang tentu dalam peraturan tidak mungkin untuk saling mendahului (salip-salipan). Untuk mengatasi itu, maka garis finis dibuat berjejer, memotong (melintang) jalan dengan jarak satu gedebeg atau lebih (jarak dari muka kerbau sampai akhir gedebeg).
Start dari finis ke ujung jalan yang telah ditentukan ± 2 Km. Tidak diadakan penilaian. Hal itu kalau boleh saya mengira-ngira adalah sebagai pemanasan. Penilaian yang sangat teliti yang menentukan kalah menang pacuan kerbau itu adalah pada waktu pacuan kerbau kembali dari ujung finis sampai tiba di start Juri.
Pada saat pacuan kerbau itu kembali dari ujung finis itulah, seorang Joki menunjukkan kelihaiannya, mengatur keseimbangan kecepatan larinya pasangan kerbau itu, maupun aksinya memegang kendali, juga ketabahan serta keberanian berdiri tegak diatas gedebeg yang dilarikan amat kencang, dengan kadang-kadang banyak belokan disamping kanan kiri jalan terdapat selokan persawahan.
Kalau seorang Joki kurang paten dan sedikit salah cara dalam mengemudikan pacuan kerbau itu, bisa mengakibatkan jatuh di got berantakan kadang kala seorang Joki sekali dengan kerbau serta gedebeg jatuh diselokan yang agak curam.
Mencari finis inipun diatur sedemikian rupa dengan syarat bahwa bagi pacuan kerbau yang berangkat keujung finis dimuka, maka pada waktu kembali ke start finis juga dimuka dengan pasangan kawannya seperti semula.
Dalam menentukan kalah menang pacuan kerbau itu adalah merebut cepatnya menginjak garis finis yang ditetapkan oleh para juri, karena letak garis finis yang harus dicapai mesti sesuai dengan letak gedebeg tersebut karena masing-masing sudah ditentukan finis yang mana harus dicapai.
Sesudah salah satu mencapai finis, tabih gedebeg (roda cikar menginjak acal-acal) maka oleh dewan juri yang menang telah ditentukan dengan mengangkat bendera yang disesuaikan pula dengan warna daerah sektor. Kalau bendera yang berwarna merah terangkat penonton akan cepat tahu bagian sektor timurlah yang menang.
Begitu pula sebaliknya apabila bendera yang berwarna hijau terangkat berarti bagian sektor baratlah yang menang, dan apabila kedua-duanya bendera itu diangkat berarti tidak ada kalah menang (sapih).
Perlu juga diketahui bahwa tempat arenanya juga tidak tetap letaknya berpindah-pindah atas dasar permintaan dan musyawarah antara sektor timur dan barat. Kadang-kadang letaknya dibagian sektor barat, demikian juga kadang-kadang didaerah sektor timur. Selain maksudnya untuk bergilir saling mendatangi (ngendon), juga faktor musim disawah yang menentukan.
Karena jalan-jalan disawah baru bisa digunakan sebagai arena adalah setelah musim panen, dimana jalan-jalan disawah dalam keadaan kering dan tidak merusak tanaman pala wija disawah.

JEGOG
a. Sejarah
Menurut orang-orang tua, yang kami sempat hubungi menuturkan bahwa Jegog dikenal mulai sekitar th. 1928. Mula-mula Jegog sebagai instrumen yang berfungsi sebagai hiburan, dikala salah seorang kampung ngajakan (kerja gotong royong), membuat atap dari daun buyuk yang disebut nyucuk, baik untuk keperluan mengganti atap rumah sendiri, maupun untuk persiapan membuat bangsal-bangsal dalam persiapan nanggap upacara adat.
Sebelum orang-orang kompak datang, Jegoglah sebagai colling dengan tabuhnya yang lincah mengalun meresap keseluruh kampung, sehingga yang ketiduran menjadi bangun.
Waktu untuk ini, biasanya dimulai sekitar jam 13.00 siang. Setelah yang akan gotong-royong kompak datang, penabuh Jegogpun berhenti nabuh dan turut pula ambil bagian bekerja sebagai yang lainnya. Kadang-kadang bisa juga tabuh Jegog dilanjutkan dengan penabuhnya secara bergiliran, sampai kemudian kerja gotong-royong itu berhenti.
Makin lama Jegog ini makin berkembang karena berfungsi sebagai colling / pengundang datang beramai-ramai untuk gotong-royong nyucuk yang kami sebutkan diatas, juga berpungsi sebagai hiburan dalam bekerja tersebut, hingga tidak terasa beberapa berkas daun buyuk habis digarap. Kemudian dirasakan sukar untuk membawa gamelan model bilah-bilah ini karena tempatnya dan bentuk peti-peti yang besar dan berat, maka dicarilah model yang praktis dan mudah dibawa kemana-mana. Untuk perobahan ini mungkin diihlami oleh gerantang pada Anglung, karena segala wujudnya persis seperti gerantang Angklung, baik hiasannya dengan diapit oleh 2 ekor naga-nagaan dan kaki depan dapat dilipat.
Karena model gerantang ini lebih ringan dan praktis mudah membawa ketempat keperluan, maka bilah-bilah gamelan dengan peti-petinya yang besar dibuang, diganti dengan yang model gerantang. Susunan instrumennya tidak berubah, begitu pula tehnik memukulnya juga gending-gendingnya, terutama pengungkab sabdanya, (pembukaan). Setelah didapatnya model yang baru ini perkembangannya semakn pesat. Jegog bukan menjadi milik seniman penabuh saja, malahan milik rakyat dimana jegog tersebut berdiri. Fungsinya sebagai pengundang dan hiburan, pada waktu kerja gotong royong nyucuk di masyarakat malahan fungsinya ditingkatkan menjadi hiburan dalam pesta-pesta adat. Masa perkembangan ini kurang lebih sekitar th. 1930. Hiasan gamelan pun cukup mendapat perhatian, dimana para undagi pun turut ambil bagian mencurahkan seninya.
Jegog adalah kesenian rakyat yang kita dapat jumpai hanya di daerah Jembrana. Dahulu daun Gamelan Jegog, dibuat dari bilah kayu bayur, dengan ukuran panjangnya : 4 x lebar, seperempat dari panjang pada kedua ujung bilah, diberi lubang. Pada lubang mana kemudian dipakukan pada tempat gamelan, yang berbentuk kotak besar dari papan. umlah daun gamelan 8 buah, nadanya sama dengan nada Jegog sekarang yaitu 4 nada, mungkin diambil dari nada Angklung. Untuk satu tungguh berdaun 8 bilah dengan 2 rangkap sasunan nada. Membunyikannya harus menggunakan 2 buah pemukul. Kotak besar ini disamping tempat daun gamelan, berpungsi juga sebagai pelawah.
Lebar, panjang maupun tingginya disesuaikan dengan ukuran daun, yaitu lebarnya setengahnya panjang daun, panjangnya 9 x lebar daun, tingginya ± 1½ x panjang daun. Mula-mula gamelan jenis ini dibuat hanya 3 tungguh. Makin lama semakin berkembang, sampai mencapai 9 atau 10 tungguh.
Susunan instrumentnya adalah sebagai berikut :
a. Barangan 3 tungguh (sedang).
b. Kancilan 3 tungguh (kecil).
c. Undir 2 tungguh (diatas sedang).
d. Jegog 1 - 2 tungguh (besar - rendah).
Setelah instrumennya lengkap dengan jegognya, baru gamelan ini lazim disebut Jegog, yaitu diambil nama instrumen yang terbesar (rendah), mungkin meniru GONG dimana kumpulan dari instrumen yang lainnya Gong nyalah terbesar.
Demikian pula prosesnya pada Jegog. Dalam tangga-tangga nada pada gambelan jegog, pada undir dan jegog lain dengan kancil dan barangan, yaitu 8 daunnya, membawa 4 tangga nada rangkap.Jelasnya sebelah kanan dengan nada ndong sebelah kiri sama. Hanya tungguh pasangannya yang lain ngumbang. Nada-nada pada barangan dan kancil ndong kanan tinggi, ndong kiri rendah.
b. Cara memainkan
Tiap tungguh instrumen digunakan 2 buah panggul (pemukul) untuk barangan tengah, pukulan tangan kiri membawa bantang gending, sedangkan yang kanan nyandet, untuk barangan pengapit. Kancil, pukulan kiri kanan sama pada umumnya, hanya pada tabuh-tabuh tertentu berbeda misalnya : pukulan nyelingkat, kancil tengah sama dengan pukulan tangan kanan barangan tengah. Sedangkan pengapitnya maket (nyandet) pukulan yang ditengah. Undir, pukulan kiri kanan bergantian untuk tiap nada dalam gending menuruti lika-likunya bantangan gending, berpungsi melembutkan nada-nada pada nada-nada gending. Jegog, pukulannya mirip dengan pukulan nada yang lainnya, tetapi lebih lambat dari undir, dan mengikuti pokok-pokoknya saja dari irama gending, tak ubahnya sebagai bas dalam musik. Gending pengungkab sabda sama dengan pengungkab sabda dalam angklung gerantang Khas Jembrana.
Seni pertunjukan baik tradisional, seperti jegog dan mekepung merupakan salah satu bentuk dari atraksi wisata, dan dapat berupa special event yang menjadi andalan atau daya tarik wisata. Berpijak pada prinsip-prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan, maka seni pertunjukan dalam konteks pariwisata idealnya didasarkan pada penggalian warisan budaya masyarakat setempat agar dapat menggambarkan karakteristik daerah bersangkutan.


HADRAH
Hadrah adalah semacam Baleganjur (untuk pawai). Sebagai media pengembangan agama Islam maka Hadrah dapat dimainkan oleh orang dewasa maupun anak-anak. Lagu pengiringnya adalah sair-syair hadrah, dengan alat pengiringnya beberapa buah Arubana (rebana). Hadrah dapat dimainkan di arena terbuka atau tertutup, baik dipangung atau lapangan dengan ukuran yang agak luas karena tarian ini memerlukan gerakan yang menuntut tempat yang luas. Tari ini berfungsi sebagai tari hiburan, yang dipertunjukkan pada hari-hari besar nasional, atau acara-acara tertentu yang bertujuan untuk memeriahkan. Lama pertunjukan kurang lebih 15 menit atau bisa lebih tergantung keperluan.

BURDAH
Burdah adalah nyanyian vokal yang dibawakan sambil menari dengan gerakan pencak silat tetapi dengan posisi duduk.

RUDAT
Satu jenis kesenian yang sampai sekarang masih terdapat di Loloan. Ditarikan sambil menyanyi. Tariannya adalah seperti pencak silat. Sedangkan nyanyiannya berirama Timur Tengah. Lagu-lagunya dalam bahasa Arab. Ada juga syair lagu berbahasa Indonesia tetapi iramanya tetap irama padang pasir. Tarian Rudat merupakan tarian perang yang fungsinya untuk acara selamatan. Ini terlihat dari gerak tari, formasi, pakaian dan juga perkembangannya.
Selain kelompok pemain, ada juga kelompok pembawa instrument pengiring dengan membawa alat yang disebut Rebana. Kelompok instrument ini merangkap sebagai penyanyi. Pada waktu permainan akan dimulai instrumen dibunyikan sambil menyanyi. Lagunya sama dengan lagu yang akan dinyanyikan oleh pemain rudat. Rudat dapat dimainkan siang maupun malam. Biasanya dipertunjukkan pada waktu ada acara selamatan, khitanan, mauludan, atau pada hari-hari besar.
Zeppel dan Hall (1992) mengkategorikan seni pertunjukan sebagai heritage tourism, yaitu bagian dari pariwisata budaya yang menceritakan secara ringkas kepada pengunjung tentang pentingnya motivasi budaya, semacam karya wisata (study tours), seni pertunjukan, perjalanan budaya, festival, cerita rakyat, dan peristiwa budaya lainnya. Sejak sekitar tahun 1980-an heritage tourism semakin mendapat perhatian, dan trend wisatawan heritage menunjukkan peningkatan dan menjadi segmen sendiri.
Krippendorf (1987) mendefinisikan kelompok wisatawan heritage khususnya bagi wisatawan barat sebagai “new unity of everyday life”. Motivasi kelompok tersebut adalah:
 melakukan perjalanan untuk menikmati dan atau mempelajari warisan budaya di berbagai tempat yang bukan kehidupan sehari-hari mereka, seperti introspeksi dan berkomunikasi dengan masyarakat lain
 kembali pada kehidupan yang sederhana dan alami,
 memperluas wawasan dan kreativitas, serta memperoleh pengalaman baru.
Di banyak tempat di dunia, seni pertunjukan telah menjadi salah satu bentuk atraksi wisata yang menjanjikan, di samping memiliki keunikan, juga mempunyai dampak ikutan yang dapat menggerakkan perekonomian rakyat setempat baik melalui kesenian, produk-produk lokal dan ide-ide. Fletcher (1996) mengemukakan bahwa heritage tourism cenderung menjadi produksi dan konsumsi favorit untuk artefak lokal, yang bertolak belakang dengan wisatawan masal yang selalu berbelanja produk impor. Lebih lanjut Fletcher menambahkan bahwa heritage tourism cenderung lebih menyukai untuk berbelanja produk-produk lokal yang mempunyai nilai lain dari asal wisatawan heritage.
Atraksi wisata khususnya seni pertunjukan yang berbasiskan pada karya masyarakat setempat mempunyai dampak ikutan yang mampu memperluas kesempatan kerja khususnya bagi penduduk setempat. Festival seni misalnya, mempunyai hubungan langsung dengan pengusaha tata rias, penginapan, dan rumah makan. Rumah makan dan atau restoran menciptakan dampak ikutan pada pedagang daging, telur, sayuran, buah-buahan, dan mempunyai hubungan dengan peternak atau petani. Peternak dan atau petani memerlukan pengusaha pendukung produksi (pupuk; transformasi; jasa informasi), demikian pula pengusaha tata rias dan seterusnya. Dampak ikutan yang diciptakan clari seni pertunjukan memberi kontribusi berarti dalam meningkatkan perluasan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat luas.
Pariwisata kini telah menjadi komoditi yang mampu menggerakkan perekonomian dunia. Permasalahan selanjutnya adalah bagaimana menyelaraskan kepentingan keberlangsungan kehidupan industri pariwisata yang berbasiskan nilai-nilai masyarakat lokal dengan kepentingan ekonomi yang harus mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan. Robbinson (1995); Fletcher (1996); Picard (1996) menggambarkan bahwa dalam industri pariwisata terdapat pemaksaan dan bahkan kerusakan nilai-nilai masyarakat setempat hanya untuk kepentingan ekonomi. Dalam studinya, baik Robbinson, Fletcher maupun Picard memberi contoh kasus pemaksaan nilai-nilai sakral masyarakat Bali dan Tana Toraja hanya untuk kepentingan ekonomi. Fletcher menambahkan, bagaimanapun, heritage toitrism dianjurkan untuk menjadi “small volume tourism”, jika tidak dalam volume yang kecil, maka pariwisata akan menjadi penekan bagi “the heritage artefacts and social fabric”.
Pada dasarnya pembangunan di suatu negara mempunyai 3 (tiga) tujuan pokok yaitu: Pertumbuhan ekonomi; neraca perdagangan dan penciptaan lapangan kerja produktif. Pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang dapat mendukung tercapainya tujuan pembangunan nasional. Seni pertunjukan yang berbasiskan masyarakat merupakan salah satu atraksi wisata yang mampu menciptakan lapangan kerja produktif, dan pertumbuhan ekonomi baik lokal maupun nasional dengan keragaman dan dampak ikutan yang luas, serta kemandirian masyarakat setempat. Luasnya dampak ikutan dari seni pertunjukan berbasiskan masyarakat membuat masing-masing kelompok masyarakat di berbagai daerah memaksa untuk berbuat serupa, dengan sasaran peningkatan penghasilan dan peluang kerja. Sadar atau tidak kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung ikut menjadi faktor penekan baru terhadap berbagai sumber-sumber yang dimiliki.
Berpijak pada pemikiran Fletcher bahwa heritage tourism menjadi “small volume tourism” demi menjaga keseimbangan kepentingan masa depan, maka seni pertunjukan sebagai special event bentuk wisatanya adalah special interest (wisata minat khusus). Read (1980); Anon (1991) dan Weiler (1992), memiliki pandangan yang sama tentang pengertian wisata minat khusus.
Mereka mengartikan wisata minat khusus sebagai suatu bentuk perjalanan dimana wisatawan mengunjungi suatu destinasi karena memiliki kekhususan yang sesuai dengan minatnya. Ditinjau dari kekhususan tersebut maka dapat diasumsikan bentuk dari wisata minat khusus menekankan pada:
 Novelty seeking, yaitu motivasi pencarian pada sesuatu yang unik dan baru
 Qnality seeking, yaitu motivasi pencarian pada pengalaman wisata berkualitas.
Konsekuensinya, penyelenggara wisata minat khusus harus dapat menyajikan sebuah atraksi yang unik dan berkualitas. Kualitas tersebut dapat mencakup baik atraksi itu sendiri maupun sarana pendukung pariwisata lain.
Berkaitan dengan prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan dan kepentingan wisata minat khusus, Brennan (1995) menyatakan bahwa beberapa pengukuran dalam industri pariwisata selayaknya harus memfokuskan pada dampak yang luas dari kegiatan pemasaran pariwisata, untuk membatasi penurunan kondisi lingkungan. Lebih lanjut, Brennan mengatakan bahwa wisata minat khusus dapat menjadi kontribusi kunci dalam mengatasi wisatawan masal yang datang secara berbondong-bondong dan yang akan membelanjakan uangnya secara luas yang berdampak pada penurunan kondisi lingkungan fisik dan sosial-budaya. Di banyak kasus para pengunjung tidak hanya berbelanja produk-produk internasional tetapi juga secara berlebihan membeli barang-barang antik kuno atau barang peninggalan bersejarah sebagai cendera mata yang memiliki kekhasan suatu daerah. Sehubungan dengan pemikiran Brennan, Borley (1995) menambahkan bahwa dengan makin berkembangnya wisata alam, budaya dan peninggalan, penyelenggara kegiatan pariwisata harus semakin cermat terhadap permintaan wisatawan yang seringkali berlebihan. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa penyelenggara pariwisata harus proaktif dalam menghadapi perkembangan pariwisata internasional yang lebih kompleks. Penyelenggara pariwisata selayaknya membuat paket-paket perjalanan yang lebih menekankan pada perjalanan kelompok kecil dan atau bahkan individu untuk mengurangi beban tekanan terhadap penyediaan fasilitas pendukung pariwisata.
Mengingat seni tari dan vokal seperti Jegog, Burdah, Rudat, Hadrah adalah salah satu produk kesenian sebagai unsur budaya yang memiliki fungsi atau kegunaan memuaskan naluri keindahan, dengan gambar sebagai bahasa bentuk simbol komunikasi yang mampu menterjemahkan antara tujuan pemakai dengan orang lain sebagai penikmat.
Fungsi kesenian disini sangat erat sekali dengan kepercayaan atau fanatisme terhadap sesuatu yang mereka yakini memberi kekuatan atau kepuasan tersendiri terhadap batin. Pembuatan produk kesenian (seperti Jegog, Burdah, Rudat, Hadrah) mempunyai tujuan tertentu yang terkait dengan kehidupan pemakai, mengingat bentuk tato yang dipergunakan sebagai simbol yang sadah menjadi kesepakatan bersama sehingga sangat disakralkan. Simbol dalam pandangan Imanuel Kant ( 1724-1804 ) menyebutkan simbol adalah hasil operasi daya penilaian yang terjadi dalam pengamatan pengertian - pengertian akal murni. Semua peagamatan, adalah tempat semua orang merekakan pengertian, atau skemata, atau simbol-simbol. Pertama mengandung penggambaran pengertian secara langsung, sedangkan yang kedua menggambarkan pengertian secara tidak langsung. Masyarakat ada yang mensakralkan sekali kesenian tradisional seperti Burdah, Rudat, Hadrah, karena atas dasar penilaian simbol tertentu mereka meyakini dapat memberi kekuatan dalam kehidupan mereka.
Fungsi Burdah, Rudat, Hadrah disini sangat erat sekali dengan kepercayaan atau fanatisme terhadap sesuatu yang mereka yakini memberi kekuatan atau kepuasan tersendiri terhadap batin, bahkan ada yang mensakralkan karena mereka yakini memberikan kekuatan dalam kehidupan mereka.
Jegog, Burdah, Rudat, Hadrah, dan Makepung merupakan salah satu cara manusia mengekspresikan diri. Tindakan ini berhubungan langsung dengan seni vokal dan tari dan ada unsur olahraganya.. Ungkapan kreativitas tersebut juga berfungsi sebagai mediasi dalam memenuhi kebutuhan estetik dan fungsional dalam kehidupan manusia, baik sebagai sarana berekspresi maupun hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan, agama (ritual), pendidikan, politik, dan ekonomi.
Cara ekspresi sebenarnya bertalian dengan gerakan seni rupa modern itu sendiri (Robert Atkins, 1990 . 71 .72). Cara ekspresi (mengambil kesan kedalam diri) adalah lawan dan impresionisme (mengambil kesan keluar). Yang hanya berusaha melukiskan kesan optis aari sesuatu dan melihat dunia sebagi sebuah tempat yang indah dan penuh warna. Sedangkan cara ekspresi menjelajahi jiwa manusia dan mengungkapkannya keatas bidang kanvas atau karya seni rupa. Cara ekspresi berpangkal dari seni rupa untuk mengungkapkan perasaan.
Pembahasan mengenai peranan kesenian dari berbagai belahan dunia pernah dilakukan oleh para ahli di bidang antropologi, sosiologi, etnomusikologi, dan ahli-ahli ilmu sosial lainnya. Dari pendapat-pendapat itu dapat kita simpulkan bahwa kesenian setidaknya memiliki fungsi: (1) Sebagai pemberi keindahan dan kesenangan, (2) Sebagai pemberi hiburan, (3) Sebagai persembahan simbolis, (4) Sebagai pemberi respon fisik, (5) Sebagai penyerasi norma-norma kehidupan masyarakat, (6) Sebagai pengukuhan institusi sosial dan upacara keagamaan, (7) Sebagai kontribusi terhadap kelangsungan dan stabilitas kebudayaan, (8) Sebagai kontribusi dari integrasi kemasyarakatan, (9) Sebagai alat komunikasi (Marriam, 1964 233-237; Soedarsono, 172:23; Sedyawati and Djoko Damono, passim).
Berkaitan dengan diskusi kita mengenai peran seni dan budaya dalam pengembangan pariwisata, Lowrence Alloway memiliki pandangan yang sama dengan para ahli ilmu sosial di atas, dimana ia mengatakan bahwa salah satu peranan dari kesenian dalam masyarakat modern adalah seni sebagai alat komunikasi. Dalam artikel yang berjudul “Flas Art International” Nomor 194, May-June 1997, Franklin Sirmans mengutip pendapat Lawrence Alloway tentang pentingnya kesenian itu dapat berkomunikasi dengan masyarakat secara luas sebagai berikut: “ The new role for the academic is keeper of the flame; the role of the fine arts is to be one possible forms of communication in expending framework that also included the mass arts” (Peranan baru dari para akademisi adalah penyelamat dari ketenarannya; peranan baru dari seni rupa (seni lukis) adalah menjadi salah satu kemungkinan bentuk komunikasi dalam sebuah rangkaian yang juga memasukkan seni masal ke dalamnya).
Pendapat senada diungkapkan pula oleh Brian Wallis pada tahun 1992, yang mengatakan bahwa “The fundamental issue for artist in the post war year has been how to foster critical dialogue while operating in a system that everyone acknowledges as fully commodified” (Isu fundamentalisme para seniman pasca perang adalah bagaimana mengembangkan suatu dialog yang kritis sementara beroperasi di dalam sebuah sistem dimana setiap orang mengakui dunia ini penuh dengan barang (seni) dagang.
Terlepas adanya pendapat pro dan kontra dalam masyarakat Indonesia mengenai peranan seni dan budaya dikaitkan dengan pengembangan pariwisata, kesenian disamping memiliki unsur-unsur estetika lokal, memiliki pula unsur-unsur estetika universal, berupa suatu nilai-nilai yang bisa dipahami oleh semua kelompok manusia di dunia. Hal ini memungkinkan kesenian itu dijadikan alat komunikasi yang andal antarmasyarakat, antarbangsa dan negara.
Telah diuji keandalannya, betapa unsur universal seni itu, terlepas dari lingkungan kelahirannya, mampu berbicara lintas budaya, dalam arti tidak terlepas dari geografis; bahkan bermakna secara lintas zaman. Seni unggul kita ketahui dapat menarik perhatian dan dinikmati oleh semua bangsa sepanjang zaman.
Beranjak dari kenyataan seperti tersebut di atas, tepatlah jika pada awal masa kemerdekaan Indonesia dan dipertegas lagi pada tahun 1980-an bangsa Indonesia telah mengembangkan strategi komunikasi antarbangsa yang dinamakan “Diplomasi Kebudayaan” Melaksanakan Diplomasi Kebudayaan berarti berusaha dan secara terarah menanamkan, mengembangkan dan memelihara citra bangsa Indonesia di luar negeri sebagai bangsa yang berkebudayaan tinggi: (1) menanamkan, bila citra yang baik belum ada, (2) mengembangkan, bila telah ada usaha untuk menumbuhkan citra tersebut, (3) memelihara, apabila di suatu tempat telah lahir suatu citra yang baik menyertai kebudayaan Indonesia (Geria, 1996: 101).
Pengembangan pariwisata yang juga menggunakan konsepsi pariwisata budaya dirumuskan dalam Undang-undang Pariwisata Nomor 09 Tahun 1994. Pariwisata Budaya merupakan salah satu jenis Kepariwisataan yang dikembangkan bertumpu pada kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
Setiap langkah dan gerak dalam kerangka pengembangan pariwisata secara normatif diharapkan tetap bertumpu pada kebudayaan bangsa. Dengan demikian, segala aspek yang terkait dengan pariwisata seperti promosi, atraksi, arsitektur, etika, organisasi, pola manajemen, makanan, souvenir, diharapkan sedapat mungkin menggunakan potensi kebudayaan. Kedudukan seni dan kebudayaan dalam pengembangan pariwisata Indonesia, tidak saja sebagai media pendukung, tetapi juga sebagai pemberi “identitas” kepada masyarakat itu sendiri.
Pariwisata budaya sebagai suatu kebijaksanaan pengembangan kepariwisataan menekankan pada penampilan unsur-unsur budaya seperti aset utama untuk menarik para wisatawan. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek lainnya akan ditinggalkan seperti keindahan alam, pantai dan pemandangan, flora dan fauna termasuk kehidupan bawah laut, olah raga danjenis-jenis hiburan lainnya. Unsur-unsur budaya memiliki manfaat yang amat penting antara lain:
1. Untuk mempromosikan kepariwisataan secara umum baik dalam maupun luar negeri.
2. Produk seni budaya akan menyiapkan lapangan kerja dan peningkatan
penghasilan masyarakat.
3. Penampilan seni dan budaya disamping menarik perhatian wisatawan juga meningkatkan pemberdayaan seni dan budaya.
4. Penampilan seni budaya dapat meningkatkan pemeliharaan dan manajamen museum, galeri dan monumen-monumen seni budaya lainnya.
5. Dana yang dihasilkan dengan penjualan produk seni dan budaya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat.
6. Sentuhan dengan seni budaya lain meningkatkan harkat, kehormatan dan pemahaman tentang arti kemumusiaan.

C. PENUTUP
Menurut Dr. James J. Spillane, S.J. tentang lima bidang industri pariwisata yang dimaksud adalah 1) Tour dan Travel ; 2) Hotel dan Restoran ; 3) Transportasi ; 4) Pusat Wisata dan Sovenir, dan ; 5) Bidang Kependidikan Kepariwisataan. Apabila orang menghendaki adanya pariwisata di suatu daerah, maka daerah yang bersangkutan harus menciptakan sarana yang memberi kemudahan kepada wisatawan untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga wisatawan dengan pasti tahu apa yang harus dikerjakannya untuk memenuhi kebutuhannya. Wisatawan harus tahu apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan makanan yang dikehendakinya dan sebagainya. Jadi, semua kebutuhan wisatawan itu harus ditampung atau diakomodasikan dengan bermacam-macam sarana dan kemudahan, yang semuanya disebut jasa kepariwisataan. Jasa kepariwisataan itu antara lain dapat berupa hotel dan restoran, tour dan travel, transportasi, pusat wisata dan souvenir serta sumber daya manusia yang memadai.
Di antara kebutuhan wisatawan dan jasa kepariwisataan itu dengan sendirinya harus ada kesesuaian. Jasa kepariwisataan harus komplementer dengan kebutuhan wisatawan. Inilah komplementaritas antara kebutuhan wisatawan dan jasa kepariwisataan. Kebutuhan wisatawan yang harus diakomodasikan atau ditampung dengan jasa kepariwisataan itu bukan sekadar kebutuhan hidup seperti terbentuk dalam masyarakat dari mana wisatawan itu berasal. Kebutuhan hidup wisatawan Amerika, Jepang, Australia atau Indonesia itu bukan sekadar kebutuhan hidup menurut kebudayaan Amerika, Jepang, Australia atau Indonesia. Wisatawan adalah orang yang dalam perjalanan, berpindah-pindah tempat. Ini mewarnai kebutuhan hidup mereka, yang dalam kebudayaan mereka pun tidak ada jasa pelayanan untuk menampungnya. Sebaliknya, karena situasi perjalanan itu sama untuk semua wisatawan, entah ia orang Jepang, Australia, atau Indonesia, persamaan situasi ini akan menimbulkan persamaan kebutuhan pula, meskipun wisatawan-wisatawan itu sendiri bermacam-macam kebudayaannya. Perilaku wisatawan itu dapat disebut budaya wisata (tourist culture). Tanpa perbedaan kebangsaan orang dapat melihat wisatawan bercelana pendek, mencangklong alat pemotret, mereka berjemur di pantai, dan sebagainya.
Ukuran perbandingan yang tepat antara unsur instrumen dan aktor dalam jasa itu mengikuti kebiasaan dalam budaya wisata (tourist culture). Norma-norma budaya wisatawanlah yang menentukan instrumen apa dan yang bagaimana yang boleh digunakan dalam pemberian jasa tertentu dan aktivitas yang bagaimanakah yang diperbolehkan dan yang bagaimana yang tidak diperbolehkan. Jadi jelaslah dalam pemberian jasa kepariwisataan itu baik komplementaritas antara kebutuhan wisatawan dan jasa kepariwisataan, maupun perbandingan antara aktivitas dari yang diberi serta yang menerima jasa, dan antara instrumen dan aktornya tergantung kepada kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam budaya pariwisata.
Pada umumnya orang berpendapat bahwa kesenian yang mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat itu merupakan daya tarik pariwisata yang dapat diperdagangkan dengan mudah. Pendapat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya industri yang sangat menghargai keuntungan materi itu memang tidak salah. Akan tetapi dengan membuat kesenian sebagai barang dagangan itu dapat mengancam pelestariannya secara positif. Belum lagi penyempitan makna kebudayaan yang selama ini dipergunakan untuk membenarkan komersialisasi seni demi kepentingan materi semata. Walaupun kesenian merupakan salah satu daya tarik utama dan paling mudah disajikan untuk pengembangan industri pariwisata di berbagai negara yang sedang berkembang, namun hendaknya ia diperlakukan secara proporsional agar tidak mengalami kemerosotan nilai. Kesenian, yang mencerminkan kebudayaan secara indah itu tidak hanya laku “dijual”, melainkan mempunyai banyak fungsi sosial yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup masyarakat pendukungnya. Sebagaimana pemah ditemukenali, kesenian itu mempunyai 8 (delapan) fungsi sosial, yaitu sebagai media kesenangan (leisure); sarana relaksasi ataupun rekreasi; ekspresi diri; tolok ukur moralitas bagi individu ataupun kolektifa; terapi kejiwaan; media pendidikan dalam arti luas; sarana integrasi dalam kekacauan sosial; dan lambang yang penuh makna.
Jelaslah bahwa fungsi hiburan atau recreational yang dapat digunakan untuk mematahkan kejenuhan hidup sehari-hari itu hanyalah salah satu dari banyak fungsi sosial kesenian dalam kehidupan masyarakat.
Masyarakat Loloan dengan kekhasan budaya yang menunjukkan sebagai salah satu suku bangsa tersendiri, meskipun pada masa sekarang ini dengan semakin banyaknya pembauran diantara suku-suku baik pendatang maupun suku Bali yang tinggal di wilayah ini mempengaruhi pula sebagian kehidupan sosial budaya yang ada misalnya dengan modifikasi bentuk permukiman panggung yang bahannya tidak lagi terbuat dari kayu dan terdapatnya permukiman Jawa, adanya istilah kekerabatan atau pemanggilan seperti pak ngah, pak man, pak tut, terdapat pengaruh dalam upacara daur hidup seperti misalnya dalam perkawinan mengenal adanya kawin lari dan adanya pengaruh dari Banyuwangi dan Bali dalam upacara sedekah laut, meskipun dengan adanya pengaruh tersebut ciri-ciri khas sosial budaya Loloan masih terlihat dan dipertahankan hingga turun-temurun.
Budaya khas yang tercermin dalam suatu kehidupan masyarakat adalah suatu ciri yang menjadi kekayaan sebuah bangsa. Sebagai kekayaan, pengetahuan tentang ciri khas budaya dalam kehidupan masyarakat perlu disebar-luaskan khususnya bagi generasi penerus yang akan mewarisi seluruh kekayaan bangsa tersebut. Dengan demikian tidak akan ada generasi muda yang buta terhadap budaya masyarakat di suatu daerah.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Cholid Sodrie. 1985. Prasasti Loloan Barat Sebuah Studi Pendahuluan. Depdikbud: Proyek Penelitian Purbakala.
Bagus, I Gusti Ngurah. 1983. "Kebudayaan Bali" dalam Manusia dan Kebudayaan. Koentjaraningrat. Jakarta: Djambatan.
Budianta, Eka. 1993. ”Moral Wisata dalam Kebudayaan”. Basis. Yogyakarta.
Daeng hans J, 2000. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologi (Pengantar Irwan Abdullah). Pustaka Pelajar.
Geertz Clifford, 1992. Tafsir Kebudayaan. (Budi Hardiman Penerjemah), Yogyakarta. Kanisius.
Gelebet, I Nyoman, Meganada Wayan, Yasa Negara I Made, Suwirya I Made, Surata I Nyoman. 1981-1982. Arsitektur Tradisional Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Gie, the Liang, 1983. Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan). Super Sukses Yogyakarta.
Hildred Geertz. 1969. Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia. Jakarta.
Kaplan David, Albert A Manners, 1999. Teori Budaya. Pustaka Pelajar.
Koentjaraningrat, 1972. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Penerbit: PT. Dian Rakyat. Jakarta.
Koentjaraningrat, 1979. Pengantar Ilmu Antropologi. Penerbit: Aksara Baru. Jakarta.
Koentjaraningrat, 1980. Sejarah Teori Antropologi I. Penerbit: Universitas Indonesia.
Koentjaraningrat, 1982. Masyarakat Desa di Indonesia. Penerbit: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Koentjaraningrat,1983. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Penerbit: PT. Garmedia. Jakarta.
Koentjaraningrat ,1997. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta. Djambatan.
Moleong, Lexy J., 1991. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rodakarya.
Poerwanto. 1998. Perencanaan Stratejik Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan. Aspirasi. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Jember. Jember.
Sujarwa, 1999. Manusia dan Fenomena Budaya. Menuju Perspektif Moralitas Agama. Pustaka Pelajar.
Yudha Triguna, Ida Bagus Gde, 2000. ”Teori Tentang Simbol“. Widya Dharma
Yudha Triguna, Ida Bagus Gde, 2007. Daftar Isian Potensi Desa Loloan

0 komentar:

Poskan Komentar

Situs-Situs Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites