Selasa, 05 Oktober 2010

PERBANDINGAN FILSAFAT INDIA, CINA DAN ISLAM

PERBANDINGAN FILSAFAT INDIA, CINA DAN ISLAM


Oleh
I Gusti Ngurah Jayanti

Perbandingan yang dimaksud dalam tugas ini bukan bertujuan untuk membandingkan dalam artian mencari pertentangan, menimbang bobot, kwalitas, kebenaran dan lainnya tentang filsafat India, Cina dan Islam. Melainkan bertujuan untuk dapat mengetahui keberadaan tentang isi dari masing-masing filsafat tadi, selanjutnya mengitegrasikan dan memanfaatkan saling melengkapi. Sebab dalam prediksi penulis, tentu terdapat kelebihan dan kekurangan,nilai positif dan negatif, antara pandangan filsafat India, filsafat Cina dan fisafat Islam. Atas dasar itu alangkah bijaksananya apabila ketiga pandangan filsafat itu dapat saling melengkapi, sehingga dapat mengantarkan pola pemikiran dan tindakan manusia pada hal-hal keberadaban.
Perbandingan Filsafat India, Cina dan Islam

Filsafat berasal dari kata Yunani Kuno yaitu: philos dan sophia. Philos artinya cinta dan sophia artinya kebijaksanaan. Sehingga filsafat memiliki arti: cinta akan kebijaksanaan. (Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, 1992, Hal 7) Selanjutnya Bagus Tkwin mengatakan, rasa cinta terhadap kebenaran dan kebijaksanaan masih sanagat kabur. Dikatakan demikian kerena dalam pengertian umum dari filsafat adalah untuk memahami sesuatu secara sistimatis, radikal dan kritis. Definisi ini menunjukan bahwa filsafat itu adalah suatu upaya. Upaya adalah suatu proses, bukan produk. Sebagai proses, filsafat adalah sesuatu yang terus-menerus berlangsung, tak ada kata putus dan tak ada ujung. Namun disatu sisi, fisafat itu merupakan suatu produk yang sudah siap dibaca, dipelajari, direnungkan dan seterusnya. (Bagus Takwin, Filsafat Timur, 2001, 6-7) Sekali lagi, penulis bukan bermaksud untuk mendebatkan dan mempertentangkan termasuk pengertian filsafat, tetapi menampilkan keberadaan filsafat itu sendiri.

Filsafat India, filsafat Cina dan filsafat Islam, termasuk kelompok filsafat Timur. Arah pemikiran filsafatnya lebih menekankan pada hal-hal yang bersifat teologis, spiritual dan rohaniah.Walaupun pandangan yang mengarah pada rasionalisme ada, terutama pandangan filosuf yang muncul pada abad modern, baik di India, Cina maupun Islam (Arab). Namun secara dominan masih menitik beratkan pada hal-hal teologis tadi.

Kepentingan keagamaan, kepentingan teologis, sepertinya sudah sangat melekat baik dalam hati dan kehidupan masyarakat, maupun para pemikir dan filosuf di dunia timur. Sehingga walaupun telah mengalami pergesekan pada era globalisasi ini yangserba terbuka, serba pluratitas, namun suatu pola yang sudah tertanam sekian lama, sepertinya masih tetap berdiri kokoh.

BEBERAPA PANDANGAN FILOSUF

I. Pandangan Filsafat India
Filsafat India adalah salah satu dari filsafat timur. Dalam filsafat India pembahasannya berdasarkan pada ajaran Weda dan Upanisad. Sejarah filsafat India banyak membicarakan tentang manusia dan alam, oleh Dr. S. Radhakrishnan dibagi menjadi empat bagian besar, yaitu: Zaman Weda, Zaman Wiracarita, Zaman Sutra-Sutra, dan Zaman Scholastik.(Dr. Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, 1985, Hal 9-10).

Filsafat Zaman Weda Samhita

Zaman Weda Samhita, zaman Brahmana, dan zaman Upanisad merupakan bagian dari zaman Weda. Zaman Weda Samhita mengungkapkan bahwa manusia memiliki jiwa yang kekal, abadi, tidak bisa mati. Mereka yang saleh dalam hidupnya, setelah mati akan masuk sorga, tempat mereka menikmati kehidupan penuh kebahagiaan bersama para dewa. Pada zaman ini manusia dikuasai oleh penyembahan pada dewa-dewa yang banyak sekali jumlahnya. Ada dewa langit, dewa bumi, dewa angkasa, dewa perang, dan lain-lain. Dewa berarti terang, yang kemudian ditujukan pada segala sesuatu yang terang seperti: matahari, bulan, bintang, fajar, api. Dalam perkembangan berikutnya manusia menyembah alam dalam personifikasi dewa, karena dikaitkan dengan kekuatan-kekuatan yang dimiliki alam.
Mengenai asalmula alam, ada mantera-mantera yang menyebutkan alam diciptakan oleh dewa-dewa. Tetapi ada yang menyebutkan alam berasal dari air, dimana dalam puji-pujian terhadap Wiswakarman disebutkan bahwa air samudra yang pertama mengandung telor dunia yang melahirkan Wiswakarman, anak sulung alam semesta, pencipta dunia ini. Dunia dipandang memiliki tiga tingkatan yaitu: sorga, langit, dan bumi, yang masing-masing dipimpin oleh dewa. Pada zaman ini dunia dipandang sebagai sesuatu yang nyata ada.

Filasafat Zaman Brahmana

Pada zaman ini korban/upacara menjadi perhatian utama. Dunia sebagai ciptaan merupakan hasil korban/upacara pertama yang diadakan oleh Zat Tertinggi, yaitu Brahma atau Prajapati. Prajapati berarti Tuhan yang menciptakan. Dunia dipahami lahir dari dalam diri Prajapati melalui pengosongan diri. Prajapati kemudian menciptakan makhluk-makhluk lainnya, serta memeliharanya.
Manusia sebagai hasil ciptaan Prajapati dapat dibedakan menjadi bagian yang kelihatan dan bagian yang tidak kelihatan. Yang kelihatan disebut rupa, yaitu tubuh yang terdiri dari: rambut, kulit, daging, tulang, dan sungsum. Kelima bagian tubuh yang kelihatan ini dapat mati. Sedang yang tidak kelihatan disebut nama, yang tidak bisa mati, yaitu unsur-unsur yang menentukan proses hidup, disebut juga pancaprana terdiri dari: manas(pemikiran), budhi(akal), prana atau atman(nafas), penglihatan, dan pendengaran. Di antara pancaprana tiu, atman atau nafas menjadi kekuatan hidup manusia. Jika manusia mati, pancaprana meninggalkan tubuh(rupa), kembali kepada asalnya yaitu: bulan, api, angin, matahari, dan penjuru langit, jika perlu ke alam sorga. Yang telah mati, baik jahat maupun baik akan dilahirkan kembali. Kelahiran sebagai suatu karunia Brahma.
Hubungan antara manusia dan alam semesta(mikrokosmos dan makrokosmos) juga sudah dikemukakan pada zaman ini, dan dinyatakan dalam bentuk paralelisme atau sebagai dua hal yang sejajar. Tiap bagian dibicarakan secara sendiri-sendiri, misalnya: rupa atau tubuh = bumi; bicara = api; mata = matahari; nafas = angin; telinga = penjuru alam; akal = bulan. Di satu pihak telah ditemukan asas pertama alam semesta ini adalah Brahman, dan dilain pihak ditemukan juga asas pertama pusat hidup manusia adalah atman. Ke dua asas ini dipandang masih berdiri sendiri-sendiri

Filsafat Zaman Upanisad
Manusia tidak lagi hanya menerima apa yang tersuguh, tetapi menganalisa dan menelaahnya lebih mendalam. Namun kaum imam atau kaum Brahmana awalnya tidak mau menerima ajaran Upanisad ini. (Hadiwijono, Hal 20) Hal ini menunjukan pula adanya ego pada diri manusia. Setelah ajaran Upanisad semakin meluas para imam akhirnya menerima, bahkan memonopolinya sebagai ajaran yang tinggi yang mereka hasilkan, padahal para ksatrya tersesat dalam urusan politiknya.
Manusia pada zaman Upanisad berpikiran monistis dan absolutis, artinya: ajaran yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bermacam-macam ini dilahirkan dari satu asas, satu realitas yang tertinggi. Realitas itu tidak kelihatan, bebas dari segala hubungan, tidak terbagi-bagi, tidak dapat ditembus oleh akal manusia, tetapi menyelami segala sesuatu. Realitas itu disebut Brahman. Paham monistis itu dapat dilihat dari mantram Taittiriya Upanisad yang menyebutkan bahwa Dewa Mitra, Waruna, Aryaman, Indra, Brhaspati, Wisnu adalah Brahman yang kelihatan. Jadi sebenarnya ada satu dewa, yaitu Brahman, yang lain-lain adalah penjelmaan Brahman itu sendiri.
Mengenai kelahiran alam semesta, Upanisad menyebutkan bahwa Brahman yang menciptakan. Proses penciptaan itu bukan melalui suatu proses pekerjaan, sebab segala sesuatu dipandang sebagai mengalir keluar dari Brahman. Seperti seekor laba-laba mengeluarkan dan menarik kembali sarangnya, sebagai rumput tumbuh di bumi, sebagai rambut tumbuh dikepala pada orang yang hidup, sebagai bayi yang tumbuh dikandungan ibunya, demikianlah alam semesta keluar dari Brahman.
Menurut Taittiriya Upanisad, pertama-tama lahir dari Brahman adalah: akasa (eter), dari akasa mengalir hawa, dari hawa mengalir api, dari api mengalir air, dari air mengakir bumi. Selanjutnya dari bumi keluarlah tumbuh-tumbuhan, dari tumbuh-tumbuhan keluar makanan, dan dari makanan keluar orang, yaitu kepalanya, tangannya kiri kanan, tubuhnya, diteruskan dengan yang bagian bawah. Demikianlah segala sesuatu mengalir dari Brahman, sehingga pada hakekatnya segala sesuatu adalah Brahman.(Hadiwijono, Hal 23)
Manusia dalam kaitannya dengan perbuatan yang mereka lakukan dikenal dengan istilah karma. Karma berarti perbuatan. Kemudian karma itu dipergunakan juga pada hasil atau akibat suatu perbuatan. Karma sebagai hasil dari perbuatan dapat dinikmati atau berdampak pada kehidupan sekarang, maupun kehidupan yang akan datang. Hal ini melahirkan ajaran tentang kelahiran kembali atau reinkarnasi.

Filsafat Zaman Buddha

Pada zaman ini pemahaman filsafat diajarkan melalui penyebaran cerita-cerita, baik cerita Ramayana, Mahabharata, maupun tentang Buddha. Pada zaman Wiracarita ini, India mengalami kisis politik yang mengakibatkan goyahnya pemikiran masyarakat terhadap paham yang telah ada. Hal ini disebabkan oleh banyaknya masuk kelompok manusia luar India, sehingga keamanan terganggu, yang mengakibatkan merosotnya moral. Dari hal ini, maka banyak orang mencari ketenangan dan perdamaian dalam batinnya sendiri.
Buddha berarti yang telah dicerahi. Buddha melihat tujuan hidup manusia bukan untuk kembali keasalnya(Tuhan), tetapi masuk kedalam Nirwana, pemadaman, suatu suasana yang tanpa kemauan, tanpa perasaan, tanpa keinginan, tanpa kesadaran, suatu keadaan dimana manusia tidak lagi terbakar oleh kemauannya atau nafsunya. Menurut Buddha, manusia terlahir kedunia ini merupakan penderitaan, umur tua adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, dipersatukan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan, dipisahkan dengan orang yang dikasihi adalah penderitaan, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan. Inilah lima hal pokok penderitaan yang membelenggu manusia dalam kehidupan. Sehingga menurut Buddah kehidupan manusia ini adalah penderitaan, dan yang menyebabkan manuia menderita dan terlahir kembali adalah keinginan untuk hidup dan nafsu. Nafsu disebabkan oleh ketidak tahuan atau awijja.
Buddha mengajarkan yang ada secara kekal adalah arus perubahan. Tidak ada sesuatu apapun yang tidak berubah, termasuk juga dalam diri manusia tidak ada sesuatu yang tetap tidak berubah, tidak ada jiwa yang kekal abadi. Buddha mengakui manusia adalah suatu kelompok unsur-unsur jasmani dan rohani, yang memiliki mental sebagai suatu gejala biasa tanpa pribadi atau ego, tetapi semua itu tidak ada yang kekal.
Oleh karena yang menyebabkan penderitaan ini adalah keinginan atau nafsu, maka pelepasan yang terdiri dari peniadaan akan keinginan itulah yang terpenting, yang disebut dengan menuju nibbana atau nirodha (Sansekerta:nirwana).

1.5. Filsafat Dalam Bhagawadgita

Dalam kitab ini diuraikan tentang ajaran Krsna kepada Arjuna tentang bhakti (penyerahan diri). Hal ini dimaksudkan sebagai suatu ajaran terhadap sikap dan tindakan manusia dalam kehidupan. Bhagawadgita mengajarkan pada manusia untuk berpegang pada tiga prinsip, yaitu Purusottama atau Purusa yang tertinggi, yang disebut juga dengan Paramatman atau Atman atau Iswara yaitu Tuhan yang kekal abadi dan tertinggi. Selanjutnya Purusa yang berupa jiwa atau inti pribadi perseorangan yang tidak berubah dan tidak aktip. Yang terakhir adalah Prakrti yaitu bukan jiwa, yang bendani atau asas segala yang bersifat kebendaan. Tetapi keadaannya semula mewujudkan suatu kesatuan yang tanpa perbedaan (di dalamnya belum terdapat hal-hal yang berbeda-beda). Prakrti mengandung tiga unsur yang disebut Tri Guna atau tiga tabiat yaitu : satwam tabiat terang, rajas tabiat penggerak, dan tamas tabiat gelap ( malas, bodoh).

1.6. Filsafat Dalam Nyaya

Nyaya artinya suatu penelitian yang dianalisis dan kritis. Sistem ini timbul karena adanya pembicaraan dan perdebatan para ahli pikir dalam berusaha mencari arti yang benar pada ayat-ayat weda.
Sumber pokok sistem Nyaya adalah Nyaya – sutra, yang ditulis oleh Gautama pada abad keempat sebelum Masehi, yang berikutnya diberi komentar oleh Watsyayana. Nyaya mengajarkan manusia bahwa dunia diluar kita itu berdiri sendiri, lepas dari pikiran kita. Kita mempunyai pengetahuan tentang dunia diluar kita, yaitu dengan perantaraan pikiran, dan pikiran dibantu oleh indra kita. Karena pendirian yang demikian ini maka sistem Nyaya disebut sistem realistis. Sedangkan alat yang dipakai untuk mengetahuinya disebut pramana.
Menurut sistem Nyaya ada empat alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar yaitu : pengamatan (pratyaksa), penyimpulan (anumana), pembandingan (upamana), dan kesaksian (sabda). Pengamatan (pratyaksa) memberikan pengetahuan pada kita tentang saran yang diamati. Dalam sistem Nyaya bahwa dunia ini terdiri dari lima unsur yaitu : akasa (eter), hawa, api, air, dan bumi. Sedangkan ajaran dalam sistem Nyaya adalah: ajaran tentang penyimpulan (anumana) dimana anumana berarti pengetahuan kemudian. Bukti-bukti untuk mengetahui adanya Tuhan disebut, bukti kosmologis dan teleologis.
Tuhan termasuk golongan jiwa. Perbedaanya ialah bahwa Tuhan adalah jiwa yang tertinggi, yang kekal, berada dimana-mana dan kesadaran yang agung.Tuhan disebut Paramatman yang menjadi sebab adanya dunia. Sedangkan jiwa perorangan, yang disebut jiwatman. Karena perbuatan atau karmanya jiwa (manusia) terikat pada kelahiran kembali.

1.7. Filsafat Dalam Waisesika

Menurut waisesika ada tujuh katagori (padharta) yaitu: substansi (drawya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samaya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (semaya), dan ketidakadaan (abhawa).
Yang disebut substansi adalah apa yang pada dirinya bebas, tidak bergantung pada katagori yang lainnya. Ada sembilan macam substansi yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa, waktu, ruang, pribadi (atman) dan akal ( manas). Dan substansi kesembilan ini bergabung menjadi satu membentuk alam semesta ini baik jasmani maupun rohani. Yang termasuk zat jasmani adalah bumi, air, api, hawa, dan waktu serta ruang. Sedangkan yang termasuk zat rohani adalah pribadi (atman) dan akal (manas).

1.8. Filsafat Dalam Sankhya

Ajaran pokok dari Sankhya adalah bahwa ada dua zat asasi yang bersama-sama membebntuk realitas dunia ini yaitu purusa dan prakrti, roh dan benda atau asas rohani dan asas bendani. Purusa adalah asas bendani yang kekal, berdiri sendiri, serta tidak berubah. Jumlahnya tidak terbatas, serta masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Dengan demikian manusia memiliki satu roh atau jiwa yang berbeda dari manusia lainnya. Pandangan ini berbeda dengan upanisad yang mengakui adanya roh atau jiwa hanya satu atau bersifat universal.

1.9. Filsafat Dalam Yoga.

Konsep paling penting dalam sistim yoga ialah citta, yang dipandang sebagai hasil pertama dari perkembangan prakrti, yang meliputi ahamkara dan manas. Melalui aktivitas citta inilah roh/purusa tampak bertindak, senang dan menderita pada diri manusia. Citta ini pula yang menaklukan manusia dalam lima klesa/godaan/siksaan yang asasi yaitu: ketidaktahuan (awidya), terikat pada nafsu (raga), keengganan untuk menderita (dwesa), keinginan untuk hidup (abhiniwesa), dan sangkara diri yaitu kesalahan yang menyamakan roh dengan tubuh. Untuk lepas dari keterbelengguan itu, yoga menyarankan manusia untuk mengekang diri, mewujudkan kesucian lahir batin, mempelajari ayat-ayat suci, dan menyembah Tuhan.

1.10. Filsafat Dalam Purwa-Mimamsa

Purwa-Mimamsa berarti penyelidikan sistimatis tentang Weda bagian pertama yaitu kitab Brahmana Mimamsa mengajarkan manusia untuk bersikap pluralitas dan realistis, artinya menerima adanya kejamakan jiwa dan pergandaan asas bendani yang menyelami alam semesta ini serta mengakui bahwa obyek-obyek pengamatan adalah nyata. Jiwa manusia dianggap sebagai suatu yang mandiri, tetapi keadaanya berbeda dengan tubuh, indra, dan budhi. Diyakini ada banyak jiwa yang mendiami setiap tubuh. Segala jiwa bertabiatkan kesadaran, bersifat kekal, berada dimana-mana dan meliputi segala sesuatu. Walaupun jiwa manusia tidak dapat diamati namun jiwa menjadi pelaksana segala pengetahuan. Jiwalah yang mengemudikan tubuh sehingga manusia mendapat kelepasan.

1.11. Filsafat Dalam Uttara -Mimamsa

Secara umum dapat dikatakan bahwa semua aliran Wedanta terdiri dari aliran-aliran yang absoluteis dan teistis. Aliran yang absoluteis mengajarkan bahwa Brahman adalah asas yang tidak berpribadi, sedangkan aliran yang teistis mengajarkan bahwa Brahman adalah Tuhan yang berpribadi. Masing-masing aliran di dalamnya mengandung bermacam-macam corak ajaran.

1.12. Filsafat Dada Zaman Skholastik

Pada zaman ini ajaran tentang manusia, alam, dan Tuhan, banyak mengacu pada ajaran yang disampaikan oleh pemimpin-pemimpin besar seperti Sankara dengan ajarannya dalam Adwaita, Ramanuja ajarannya dalam Wasistadwaita, dan Madhwa ajarannya dalam Dwaita.
Adwaita berarti tiada dualisme. Ajaran ini menyangkal adanya realitas atau kenyataan yang lebih dari satu. Jiwa atau roh berasal dari satu sumber yang sama yaitu Brahman. Brahman adalah satu-satunya yang nyata dan tiada duanya. Jiwa manusia adalah Brahman itu sendiri bukan yang alainnya.
Tidak dapat disangkal bahwa dalam Upanisad terdapat dua gagasan yang tampaknya saling bertentangan. Disatu pihak dikatakan bahwa Brahman adalah sama dengan jiwa perorangan manusia dan sama dengan alam semesta, karena keduanya mengalir keluar dari Brahman. Akan tetapi dilain pihak dikatakan bahwa Brahman tidak dapat disamakan baik dengan jiwa perorangan, maupun dengan alam semesta. Pernyataan-pernyataan yang demikian itu menimbulkan tapsiran yang bermacam-macam. Bagaimana dua macam pernyataan yang bertentangan dapat diselaraskan?
Upaya penyelarasan ini dapat dilihat dalam pokok pikiran Bhartrprapanca yang mengatakan bahwa Brahman memang satu, akan tetapi satu itu adalah suatu kesatuan, yang didalamnya terkandung keaneka ragaman. Hal ini disebabkan oleh kenyataan adanya bilangan/jumlah jiwa yang tidak terbatas dan adanya keaneka ragaman di dalam alam semesta ini. Padahal baik jiwa, yang banyak jumlahnya dan alam semesta yang beraneka ragam bentuknya mengalir keluar dari Brahman. Segala keaneka ragaman telah terpendam di dalam Brahman, yang kemudian dijadikan nyata, melalui proses pengaliran keluar (srsti).
Konsep pemikiran yang lain terdapat pada Sankara yang mengakui bahwa Upanisad yang memuat dua gagasan yang tampaknya saling bertentangan, yaitu: (1) bahwa Brahman adalah sama, baik dengan jiwa perorangan maupun dengan alam semesta, (2) bahwa Brahman berbeda dengan jiwa dan dengan alam semesta. Kedua pernyataan ini harus diakui sama benarnya, tetapi kebenarannya tidak sama, melainkan bersyarat. Sankara menerangkan bahwa yang benar-benar ada dan kekal adalah Brahman. Hanya Brahman disebut memiliki keberadaan, diluar itu keberadaanya tidak bersifat kekal. Seperti manusia, binatang, alam, dan yang lainnya dapat kita amati secara nyata namun penempatannya bersifat khayali. Hal ini dicontohkan dengan seutas tali yang dilihat oleh seseorang sebagai ular. Ular yang dilihat adalah suatu gejala fsikis atau kejiwaan, padahal yang sebenarnya adalah seutas tali.
Barang-barang duniawi sebenarnya adalah penampakannya tergantung pada adanya realitas yang lebih tinggi yaitu Brahman. Seandainya tidak ada Brahman, maka dunia dan yang ada diatasnya tidak akan ada juga.
Pemecahan masalah tentang dualisme Brahman juga di berikan oleh Ramanja dalam bukunya berjudul Sri Bhasya yang mengulas kitab Bhagawad Gita. Aliran ini disebut Wisistadwayta, Wissista berati yang diterangkan atau yang ditentukan, oleh sifat-sifatnya. Jadi Brahman yang satu itu diberikan keterangan oleh sifat-sifatnya. Cara penjelasannya mempergunakan bahasa, contohnya: mawar adalah merah.Mawar merupakan substansi, sedangkan merah adalah sifat yang menerangkan mawar sebagai substansinya.
Ajaran lain yang membicarakan tentang manusia dan alam semesta adalah Dwaita, didukung oleh Madhwa yang menawarkan tentang Dualisma. Menurut Madhwa pokok pilsafat dalam Upanisad adalah perbedaan. Sistim ini juga disebut realistis karena mengakui adanya obyek yang lepas dari pengetahuan, atau mengakui bahwa dunia adalah nyata. Sistim ini juga bersifat teistis, karena menerima adanya Tuhan yang berpribadi sebagai satu-satunya kenyataan yang berdiri sendiri. Yang lainnya bersifat nyata namun bergantung seluruhnya kepada Tuhan. Disini Tuhan disamakan dengan Wisnu.
Ajaran Dwaita yang mendasar mengakui adanya kenyataan yang jamak. Segala sesuatu yang ada di dunia ini beraneka ragam adanya, dan semuanya mempunyai sifat yang beraneka ragam juga. Perbedaan adalah akekat segala sesuatu. Ada lima macam perbedaan yaitu: (1) perbedaan antara Tuhan dan jiwa, (2) atara jiwa dan jiwa, (3) antara Tuhan dan benda, (4) antara jiwa dan benda, dan (5) antara benda yang satu dan benda yang lain. Tuhan, jiwa, dan benda, ketiganya sama-sama kekal. Tetapi hanya Tuhanlah yang merdeka dan bebas, yang tidak tergantung pada siapun dan apapaun. Tuhan adalah kenyataan yang tertinggi.

1.13.Filsafat Dalam Abad Modern
Kebangkitan Filsafat India memiliki pandangan baru setelah pertemuannya dengan kebudayaan Barat. Pembaharuan ini dilakukan diantaranya oleh: Ram Mohan Roy (1772-1833). Ia dalah seorang Hindu yang mendapat pendidikan barat, yang mempelajari agama Buddha dan Kristen. Ia mengadakan kebaktian-kebaktian Hindu yang disusun mempergunakan upacara Kristen. Ia memperhatikan masalah kemanusiaan dengan mengutamakan gerakan yang bersifat sosialis diantaranya adalah menentang poligami, menentang sati yaitu membakar diri bagi janda sebagai perwujudan bakti pada suami. Gerakannya disebut Brahma Samaj, yang artinya masyarakat Brahman. Gerakan ini diteruskan oleh Debendranath Tagore ayah dari Rabindranath Tagore. Menurutnya Weda merupakan satu-satunya asas imam. Tetapi yang dianggap benar adalah yang teisme. Tuhan dipandang sebagai zat berpribadi, memiliki sifat-sifat kesusilaan yang tinggi. Tuhan tidak pernah menjelma atau menitis. Siapa yang menyembah-Nya harus secara rohani. Manusia dalam memeperoleh keselamatan adalah dengan bertobat dan selalu berbuat baik. Sumber pengetahuan dapat diperoleh manusia di alam semesta dan intuisi.
Pemikir lain yang penting untuk dibicarakan dalam kaitannya dengan manusia adalah Mahatma Gandhi. Baginya roh itu hanya satu dan tidak terbagi-bagi, yang terletak di dalam dan di luar, di atas dan di bawah, tidak berawal dan berakhir. Bagi Gandhi Tuhan itu adalah Kebenaran, yang menjadi asas dasar dan tujuan hidup. Alam semesta merupakan pengungkap Kebenaran, sehingga segala yang ada adalah bagian dari padanya. Manusia adalah kebenaran itu sendiri, tetapi karena terbelenggu di dalam tubuh, maka kita tidak dapat merealisasikan kebenaran yang sesungguhnya. Di samping Kebenaran, ahimsa menjadi pola pemikiran penting bagi Gandhi. Ahimsa merupakan jalan untuk menuju kebenaran, yaitu dengan kasih, tidak membunuh, menjauhi yang jahat.
Pemikir yang lain adalah Sri Ramana Maharsi, yang mengungkapkan bahwa tujuan hidup adalah realisasi diri. Manusia memiliki dua aku, yaitu aku yang palsu sama dengan ego, dan aku yang benar yaitu kepribadian. Untuk mencapai yang sejati, maka yang palsu itu harus dikorbankan. Istilah palsu dapat dilihat pada saat manusia sedang tidur, dimana ego pada manusia keluar dan tidak berfungsi, sedangkan pribadi masih tetap. Sehingga setelah bangun kita dapat mengatakan: aku telah tidur nyenyak, aku tidak tahu apa-apa.

II. Pandangan Filsafat Cina
Secara umum filsafat Cina merupakan pemikiran refleksif dan sistematik mengenai kehidupan, dikatakan demikian karena kehidupan sebagai objeknya. Kemudian melahirkan teori mengenai kehidupan, teori mengenai alam semesta dan teori mengenai pengetahuan. Teori alam semesta timbul karena alam semesta merupakan latar belakang kehidupan atau suatu panggung terjadinya drama kehidupan. Teori mengenai pengetahuan muncul karena pemikiran itu sendiri merupakan pengetahuan.
Dalam perjalanan sejarah filsafat Cina memiliki tiga tema pokok yang harus dipahami yaitu:

1. Harmoni
Dalam pandangan filsafat Cina bahwa, manusia memiliki kecendrungan untuk mencari keseimbangan, harmonisasi, jalan tengah diantara hal-hal yang berbeda. Misalnya: perbedaan antara manusia dan manusia, antara manusia dan alam, dan antara manusia dengan surga.
2. Toleransi
Dalam pandangan ini filsafat Cina sangat menghargai keterbukaan dan perbedaan pendapat, sehingga merupakan suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas (jamak/multi).
3. Prikemanusiaan
Pemikiran filsafat Cina lebih antroposentris dari filsafat lainnya dengan penekanan/ pemusatan pada manusianya sendiri.
Filsafat di Cina mempunyai peran penting karena menurut tradisi Cina watak manusia bijaksana ialah bijaksana didalam dan meraja diluar, maka tugas filsafat adalah memungkinkan mempertumbuhkan/melahirkan manusia yang memiliki jenis watak yang bijaksana. Jadi yang dibicarakan oleh para filosuf Cina dilukiskan sebagai Tao (= jalan, atau prinsip-prinsip dasar) mengenai sikap bijaksana didalam dan meraja diluar.
Filsafat Cina dibagi menjadi empat periode besar yakni:
1. Zaman Klasik (600-200 SM)
Pada zaman ini terdapat begitu banyak mashab/aliran.terkenal dengan mashab seratus. Salah satu yang terkenal adalah Ssu-ma Tan dengan karya Shih Chi (Catatan Sejarah) yang membahas gagasan hakiki mashab Nan Enam, sehingga terdapat enam mashab pokok pada zaman itu, meliputi: a). Yin Yang Chia (mashab Yin Yang), b). Ju Chia (mashab Cendikiawan), c). Mo Chia (mashab Mo), d). Ming Chia (mashab Nama), e). Fa Chia (mashab Pendukung Hukum), f). Tao-Te Chia mashab Jalan serta dayanya).
Liu Hsin merupakan tokoh lain yang mengelompokkan mashab sertus kedalam 10 kelompok. Enam diantaranya serupa dangan Ssu-ma
Tan, empat yang lain adalah Tsung Heng Chia (mashab Peruding), Tsa Chia (mashab Pemadu Aliran), Nung Chia (mashab Petani), dan Hsiao Shuo Chia (mashab Pengisah Cerita). Ia menyusun buah pikirannya ke dalam kitab klasik Nan Enam, yang merupakan pedoman pendidikan bagi kaum ningrat/feodal.Keenam kitab tersebut yaitu: a). Yi (kitab Perubahan), b). Shih (kitab Syair Pujian atau Puisi), c). Shu (kitab Sejarah), d). Li (kitab Ketentuan Upacara), e). Yueh (kitab Musik), f). Ch’un Ch’iu ( kitab Tahunan Musim Semi dan Musim Gugur).
Confusius merupakan pendiri mashab Ju, yang di Barat dakenal dengan mashab Confusianisme. Ia lebih senang disebut penyiar ajaran, bukan pencipta ajaran. Ajaran yang disampaikan merupakan warisan kebudayaan yang bersumber dari kitab klasik-kitab klasik yang sudah ada.
Taoisme diajarkan oleh “Lao Tse” (guru tua) yang menyapaikan bahwa Tao adalah jalan alam, bukan jalan manusia, sehingga ajarannya berbeda dengan Confusianisme.

2. Zaman Neo Taoisme dan Buddhisme (200 SM- 1000 SM)
Bersamaan dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat arti baru. Tao dikenal dengan “ Nirwana”, atau transedensi diseberang segala nama konsep. Kebalikan dari duniawi.

3. Zaman Neo Konfusianisme (1000-1900 M)
Sejak tahun 1000 M, filsafat Cina kembali kepada ajaran Confusianisme klasik, sejak disadarinya bahwa ajaran Buddhisme memuat unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan duniawi (keluarga dan materi) yang merupakan nilai tradisional dilalaikan dan diabaikan dalam Buddhisme, sehingga perlahan mulai ditolak.


4. Zaman Modern (setelah 1900)
Perkembangan sejarah filsafat modern di Cina berawal sekitar tahun 1900 dengan pengaruh dari filsafat Barat. Banyak karya tulis pemikir Barat yang diterjemahkan dan masuk ke dalam filsafat Cina, misalnya dari filsafat Yunani, filsafat Zaman Renaissance, filsafat Kristiani, filsafat Islam.

III. Pandangan Filsafat Islam (Arab)
Berdasarkan perjalanan sejarah filsafat Islam, dapat diketahui bahwa ada dua bentuk dasar pemikiran terhadap agama yakni: 1).Pemikiran-pemikiran yang berdasarkan dogma atau ayat-ayat alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang disebut dengan pemikiran tradisional, 2). Pemikiran filsafat (berdasarkan akal/rasio ).
Kedua pemikiran ini dalam sejarahnya pernah mengalami konflik yang cukup keras, sehingga filsafat sempat dijauhi oleh penganut Islam. Filsafat muncul lagi pada abad ke-20, kembali mewarnai tradisi pemikiran Islam. Filsafat murni dikalangan Islam diketahui dari pemikiran Aristoteles, Plato dan tokoh-tokoh barat yang terkenal lainnya. Tradisi pemikiran filsafat dalam filsafat Islam pada dasarnya untuk mencari kebenaran yang akan memperkokoh kepercayaan dan keyakinan terhadap ajaran agama Islam.
3.1. Filsafat Islam dapat dibagi menjadi beberapa kelompok aliran yaitu:
a. Filsafat Murni
Hal-hal yang dibahas dalam filsafat murni adalah: 1). Hakikat kebenaran, ujud allah SWT, 2). Melakukan penyelidikan tentang tabiat alam, akhlak dan logika, 3). Membicarakan cabang ilmu dengan mengunakan kekuatan akal dan kadang-kadang menggunakan dalil-dalil Al-Quran, 4). Berpegang pada kebenaran ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Nabi, agama itu adalah akal, tidak sah orang beragama bagi yang tidak berakal.
b. Al-Kalam
Suatu aliran yang menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Nabi secara filsafat atau menurut akal. Periode ini disebut periode
Muttakalimun atau masa Kalam. Pada periode ini muncul masab-masab seperti berikut.

c. Khawarij
Aliran ini berpendapat bahwa, dosa besar tidak disertai dengan taubat mengkibatkan keluar dari Islam, dan mengakibatkan kekafiran. Imam diangkat berdasarkan pemilihan. Jumblah kelompok ini mencapai 20 golongan. Namun yang terkenal sebagai penganut aliran ini antara lain: El-Azariqah, El-Azfariah, El-Baihasiyah, Al-Najat, dan El-Ibadiah.

d. Murjiah
Aliran ini berpendapat bahwa dosa besar tidak mengakibatkan kekafiran. Juga mengenai imam yang diangkat secara sah sekalipun ia menyimpang dari ajaran agama, wajib ditaati oleh para penganutnya.

e. Mutazilah
Aliran ini lahir pada pemerintahan Bani Umaiah. Menurut aliran ini bahwa pengetahuan yang paling utama ialah akal, wahyu berfungsi mendukung kebenaran akal. Atas dasar ini lahirlah aliran yang rasionalisme didalam Islam. Dalam aliran ini ada pendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah fisiknya. Yang menjadi pokok pembahasan aliran ini adalah hal-hal sebagai berikut: 1). Tauhid (ke-Esaan Tuhan), 2). Al-‘Adl (keadilan Tuhan), 3). Al-wa’dul wal wa’id (janji dan ancaman); berbuat baik diberi pahala dan berbuat dosa akan mendapat siksaan, 4). Al-Mauzilatu Bainal Manjilatini (bukan kafir dan bukan mukmin/imam tidak sempurna), dan 5). Amar-Maruf Nahi Munkar (perintah mengajak untuk melakukan kebaikan dan mencegah kejahatan).

f. Ahlu Sunnah Waljama’ah atau Sunny
Dalam aliran ini berkembang pemikiran bahwa mencari hukum dan hukuman agama dilakukan dangan berpikir ilmiah Islam yaitu hukum sesuai fatwa-fatwa yang telah ada sejak Rasulullah. Tokoh-tokohnya antara lain: 1). Sheik Abu Hasan Ali al Asyari, 2). Abu Mansur Muhammad Ibnu Muhammad al Maturidi.

g. Aliran Syiah
Aliran ini lahir pada masa akhir Ali bin Thalib, sebagai akibat permusuhan antara golongan Amawiyin ( Bani Umyah) dan kaum Khawarij dengan Ali bin Abi Thalib. Bagi kaum syiah immanah merupakan bagian dari ajaran keimanan. Menurut kaum syiah, imam adalah terjaga dari kesalahan, yang berhak menduduki jabatan immanah sebagai pengganti nabi adalah Ali bin Abi Thalib dan keturunanya.

h. Tasawuf
Golongan ini menamakan dirinya “ shufi “, dan orang yang ahli tasawuf disebut “ shufisme “; pembersihan diri. Tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Khalik-Pencipta, untuk mencapai tujuan dengan jalan ;cinta,asyik,rindu dendam,mempelajari kelemahan sendiri dan mengagumi kebesaran Allah swt. Perbedaan shufisme dengan kaum filsuf terletak dalam cara memecahkan masalah. Kaum shufis didalam pembahasannya tidak menggunakan akal melainkan rasa. Golongan tasawuf ini dapat dibagi atas tiga bagian yaitu: 1). Golongan Wihdat el-wujud : Ibnu Arabi, 2). Golongan Al-Hulul: Al-Hallad, 3). Golongan Al-Ittihad (persatuan): Ibnu Al-Faridh.

i. Al-Fikih
Pelopornya adalah Prof. Mustafa Abdurrazak (Para filsuf Mesir abad ke-20). Ia memasukkan fikih kedalam jenis filsafat Islam, dimaksudkan sebagai filsafat Al-Fikih yang berkaitan dengan ibadat dan muamalat.

j. Ilmu Alam
Yang dimaksud dengan ilmu alam atau ilmu tabiat ialah ilmu yang berkaitan dengan penyelidikan tentang segala yang berwujud (keadaan benda yang tidak bernyawa seperti ilmu kimia dan ilmu alam. Jika objek yang diselidiki itu bernyawa, disebut ilmu hayat. Ilmu hayat yang khusus menyelidiki tentang penyakit-penyakit manusia, disebut ilmu tabib atau ilmu kedokteran.

k. Ilmu Ilahi
Pandangan umat Islam terhadap filsafat menurut Al-Kindi, ilmu filsafat terbagi atas tiga bagian, yaitu; 1). Ilmu Rukyat (eksprimen), 2). Ilmu Tabiat (Ilmu Alam), 3). Ilmu Rububiah (ke-Tuhan-an).
Kedudukan ilmu-ilmu menurut Al- Kindi sebagai berikut, Ilmu Rukyat adalah letaknya dipertengahan, Ilmu Tabiat paling bawah dan Ilmu Rububiah atau Ilmu ke-Tuhan-an paling bawah (Oemar Amin Hoesin, 1969:223). Golongan filsuf memandang sesuatu dengan akalnya dan golongan agama memandang sesuatu dengan syariat. Kedua-duanya berjalan menuju satu titik yang sama, yakni: kebenaran terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa.
3.2. Pelopor Filsafat Islam
a. Al-Kindi atau Al-Kindus (185 H/801 M – 260 H/873 M)
Menurut Ahmad Fuad Al Ikhwani dalam bukunya Islamic Philosophi, mengatakan bahwa keaslian filsafat Islam yang diajarkan Al-Kindi terdiri dari tiga dasar, yaitu: 1). Logika, 2). Metafhysika, 3). Psykologika atau Epistemologi (Filsaft Pengetahuan).
Kebenaran pertama menurut Al-Kindi dalam bahasa Latin disebut Verum (Tuhan). Pencipta semua yang ada dan penolong bagi segala yang diciptakan-Nya. Dunia mulanya tidak berwujud, karena itu dia membutuhkan satu pencipta yakni Allah.
b. Ar-Razi (251 H/865 M – 313 H/925 M)
Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria ibn Yahya al-Razi, lahir di Rayy, selain sebagai filosuf, juga ahli kedokteran, ahli kimia. Ia tidak memiliki sistem filsafat yang teratur, tetapi melihat masa hidupnya mesti ia dipandang sebagai pemikir yang kuat dan liberal didunia Islam. Ia adalah seorang rasionalis murni, sangat mempercayai kekuatan akal, bebas dari segala prasangka, sangat berani dalam mengemukakan gagasan-gagasannya secara terbuka terutama mengenai moral dan etika.
c. Al-Farabi (258 H/870 M – 339 H/950 M)
Abu Nasr Muhammad Al-Farabila lahir di Wasij,Transoxiana (Turki). Beberapa karya tulisnya telah diterjemahkan kedalam bahasa Yunani dan Latin, dan mempengaruhi sarjana Yahudi dan Kristen seperti yang diterbitkan pada sepuluh tahun terakhir abad ke-13 H/ke-19 M, beberapa diantaranya diterjemahkan kedalam berbagai bahasa Eropa Modern. Ia banyak membicarakan berbagai sistem logika dan menunjukan bagian yang penting untuk membetuk pikiran, baik secara deduktif maupun secara induktif. Logika diuraikannya secara populer sehingga mudah dipahami dikalangan bangsa Arab. Kemampuan Al-Farabi, memberikan tefsiran mengenai buku logika dan diklasifikasikannya menjadi enam bagian, yaitu: logika, percakapan, fisika, metafisika, politik,ilmu fikih. Klasifikasi tersebut sudah melingkupi seluruh kebudayaan Islam pada masa itu.
d. Ibnu Maskawaih (320 H/932 M - -421 H/1030 M)
Maskawaih dilahirkan di Taheran (Iran), ia selain sebagai filosuf, tabib, ilmuan, dan juga sebagai pujangga. Dalam bukunya yang berjudul Tahzib Al-Akhlaq wa That-hir Al-A’raq, ia menguraikan bahwa, manusia mempunyai tiga kekuatan yang bertingkat-tingkat, yaitu: nafsu kebinatangan (yang buruk), nafsu binatang buas (yang sedang), jiwa yang cerdas (yang baik). Diantara manusia ada yang baik dari asalnya sehingga golongan ini tidak akan cenderung berbuat kejahatan, namun golongan ini sangat minoritas, sedangkan golongan yang mayoritas adalah golongan yang dari sananya sudah cenderung kepada kejahatan sehingga sulit untuk diarahkan kepada kebaikan.
e. Ibnu Sina / Avicenna (370 H/980 M – 428 H/1037 M)
Dilahirkan dikota Kharmaitan (Afganistan), ia mempelajari bidang ilmu pengetahuan antara lain: ilmu agama, falsafah, politik, dan kedokteran. Adapun pendapat Ibnu Sina tentang jiwa menjadi dasar bagi alirannya dalam tasawuf adalah kebahagiaan terbesar hanya terlaksana bagi sekumpulan manusia yang telah mencapai derajat tasawuf paling tinggi (mysticisme) yaitu orang-orang yang arif (Hasan Langgulungm,1986:241). Yang dimaksud orang arif adalah orang-orang yang menyembah Allah bukan karena mengharapkan pahala atau siksaan-Nya, tetapi menyembah dan mencintainya karena dialah wujud sebenarnya.
f. Al-Ghazali (1058-505 H/1111 M)
Ia lahir 1058 M di Ghazaleh (Iran), termasuk tokoh terbesar dalam sejarah reaksi Islam Neo-Platonisme, ia juga ahli hukum, teolog, filosuf dan sufi. Dalam filsafat Islam ia dikenal sebagai orang yang pada mulanya ragu terhadap segala-galanya, terutama mengenai beberapa aliran dalam ilmu al-Kalam yang saling bertentangan. Pada zamannya ia berhasil membela kemurnian agama Islam dari dua karangannya yang maha hebat, yaitu: 1). Serangan dari dunia filsafat yang telah menjadikan ilmu tentang ke-Tuhan-an berupa pengetahuan semata-mata, sehingga memberikan gambaran tentang Tuhan yang membingungkan, 2). Serangan dari dunia Tasawuf (mistik) dan kebatinan yang keterlaluan dan membahayakan amal syariat Islam; ia memberikan tuntunan yang sesuai dengan syariat Islam. Didalam tasawuf Al-Ghazali tampak jelas faktor pemikirannya disamping faktor perasaannya; sesuai dengan tuntutan ayat-ayat Al-Quran pentingnya faktor akal.
g. Ibnu Bajjah atau Avempace (1138 M)
Ibnu Bajjah mengatakan bahwa, akal sebagai daya berpikir adalah semua sumber semua pekerjaan manusia. Ahli-ahli filsafat umumnya menganggap bahwa akal serupa dengan jiwa. Roh ada tiga macam , yaitu: 1). Roh sekali untuk berpikir, 2). Roh jiwa untuk menggerakkan, 3). Roh tabiat untuk merasakan dan mengindera. Dalam kitab Rasalatul-Wada, ia menjelaskan bahwa manusia dengan berpikir sendiri (berfilsafat) akan sanggup memahami dirinya sendiri dan dapat memahami (makrifat) akal yang tertinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.
h. Ibnu Thufail/Abubacer (505 H/1110 M – 581 H/1185 M)
Ibnu Thufail adalah seorang dokter, filosuf, ahli matematika, dan penyair yang sangat terkenal dari Muwahhid, Spanyol. Ia membagi perkembangan alam pikiran manusia menuju ahkehat kebenaran itu kedalam enam bagian, yaitu:
1) Dengan cara ilmu Hayy bin Yaqdhan, yaitu dengan kekuatan akalnya sendiri, memperhatikan perkembangan alam mahluk ini, bahwa tiap-tiap kejadian mesti ada penyebabnya.
2) Dengan cara pemikiran Haibin Yakdan terhadap teraturnya peredaran benda-benda besar dilangit seperti; matahari, bulan dan bintang-bintang.
3) Dengan memikirkan bahwa puncak kebahagiaan seseorang itu ialah mempersiapkan adanya Wajibal - wujud Yang Maha Esa.
4) Dengan memikirkan bahwa manusia ini merupakan sebagian saja dari mahluk hewani, tetapi dijadikan Tuhan untuk kepentingan-kepentingan yang lebih tinggi dan utama dari hewan.
5) Dengan memikirkan bahwa kebahagiaan manusia dan keselamatannya dari kebinasaan hanyalah terdapat pada pengekalan penyiksaannya terhadap Tuhan Wajibal-wujud.
6) Mengakui bahwa manusia dan alam mahluk ini fana dan semua kembali kepada Tuhan.
i. Mohammad Iqbal (1877 - …)
Iqbal lahir di Sialkot, Punyab (Pakistan), terkenal sebagai penyair Islam. Pandangan Iqbal tentang realitas adalah mencari suatu hakekat yang terdalam dari kenyataan-kenyataan sebagai suatu kesegalaan. Yang dimaksud dengan kenyataan ini adalah berupa “ pribadi dan zat “. Didalam pribadi Tuhan terdapat ego Tuhan, ego Tuhan adalah ego terakhir (ultimate ego) atau diri mutlak. Pendapatnya tentang ego terakhir mempunyai kesamaan dengan pendapatnya mengenai ego-ego yang lain yang terdapat pada dunia kebendaan (material) dan pula pada manusia.

Daftar Pustaka
1. Delfgaauw, Bernard, Filsafat Abad 20, Alih Bahasa Oleh Soejono Soemargono, Cetakan Kedua, Yogyakarta, 2001.
2. Fung Yu-Lan, Sejarah Ringkas Filsafat Cina (Sejak Confucius Sampai Han Fei Tzu) Alih Bahasa Oleh Soejono Soemargono, Cetakan Pertama, Liberty, Yogyakarta, 1990.
3. Isma’il, dkk.,Cepat Menguasai Ilmu Filsafat, IRCiSod, Yogyakarta,2005.
4. Pemda. TK I Bali, Catur Yadnya, Cetakan Ketiga, Denpasar, 1988.
5. Sudarsono, Filsafat Islam, Pt. Rineka Cipta, jakarta, 2004.
6. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Pt. Bumi Aksara, jakarta, 2005.
7. Takwin, Bagus, Filsafat Timur, Cetakan Pertama, Jalasutra Offset, Yogyakarta, 2001.
8. Tim Redaksi Driyarkara, Jelajah Hakekat Pemikiran Timur, Jakarta, 1993.

0 komentar:

Poskan Komentar

Situs-Situs Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites