Kamis, 03 November 2011

KEPERCAYAAN KOMUNITAS ADAT DESA SEMBALUN BUMBUNG DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

I Made Suarsana


ABSTRAK
Penelitian terhadap kepercayaan komunitas adat di Desa Sembalun Bumbung, Provinsi Nusa Tenggara Barat ini bersifat deskriftif kualitatif.  Penelitian ini mengungkapkan kepercayaan asli komunitas adat Sembalun Bumbung yang berbentuk animisme dan dinamisme dengan kearifan lokal yang terkandung didalamnya. Kepercayaan tersebut berfungsi menata kehidupan serta hubungan antara masyarakat Sembalun Bumbung dengan Tuhannya, dengan sesama manusia serta dengan lingkungan alamnya. Kepercayaan itu pula mengandung makna kehidupan yang sangat mendalam yakni dari mana manusia itu berasal dan akan kemana setelah manusia itu meninggalkan dunia fana ini. Kepercayaan asli tersebut sampai kini masih tetap eksis dalam komunitas adat Sembalun Bumbung yang  warganya menganut agama Islam.  
Kata Kunci :  Kepercayaan, Komunitas Adat, dan kearifan lokal.

ABSTRACT
The research to indigenous communities belief in Sembalun Bumbung village, West. Lesser Sundas Province is descriptive qualitative. This research reveals the original belief of Sembalun Bumbung indigenous communities, which are animism and dynamism with local wisdom therein. The belief has function to put in order the relationship between Sembalun Bumbung society with the God, with fellow human beings and the natural environment. The belief also contains a very deep meaning of life about where humans came from and where the humans after they leave the world. The original belief still exist up to now in Sembalun Bumbung indigenous communities whose profess Islam
Keywords: Belief, Indigenous Communities, and Local Wisdom.



A.    PENDAHULUAN
Kebudayaan nasional Indonesia penuh dengan keragaman dan merupakan kekayaan bangsa yang patut dibanggakan.  Kebudayaan nasional tersebut berasal dari puncak-puncak kebudayaan daerah yang bernilai unggul, luhur, serta adiluhung. Sebagai sebuah bangsa yang besar dengan ribuan pulaunya, maka bangsa Indonesia patut bersyukur hidup di bumi Indonesia yang subur serta penuh dengan keragaman etnik dan budayanya yang sudah terkenal sampai ke manca negara.
        Kebudayaan secara umum dapat dibedakan menjadi yang bersifat fisik (tangible) dan non fisik (intangible).  Kebudayaan bersifat fisik (tangible) mempunyai bentuk, wujud, dapat diraba, dapat dilihat, misalnya Candi Borobudur, Candi Prambanan,  Masjid, Gereja, Pura, Rumah Adat, sedangkan kebudayaan bersifat non fisik (intangible) tidak dapat diraba, hidup dalam alam pikiran manusia.  Tradisi, kepercayaan, kebiasaan-kebiasaan berperilaku dapat digolongkan sebagai bersifat non fisik.  Budaya non fisik membutuhkan waktu  untuk dapat dirasakan kehadirannya karena berhubungan dengan nilai-nilai dan konsep-konsep abstrak.  Sifatnya yang khas ini menyebabkan kebudayaan non fisik (intangible) sering terabaikan dalam perencanaan pembangunan bahkan dalam kehidupan sehari-hari.  Baik kebudayaan fisik maupun kebudayaan non fisik adalah warisan budaya luhur yang patut dijaga dan dilestarikan oleh anak-anak bangsa.
        Indonesia yang terdiri dari kurang lebih 17.000 pulau dan 570 suku bangsa, merupakan sebuah negara dengan heterogenitas tertinggi di muka bumi, memiliki keragaman budaya yang mencerminkan kekayaan bangsa yang luar biasa.  Salah satu warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang penuh dengan kandungan nilai-nilai luhur seperti telah disebutkan di atas ada pada sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya.  Kepercayaan tersebut dapat berupa kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kepercayaan kepada Dewa-dewa, roh-roh halus, roh leluhur, benda-benda gaib, kekuatan-kekuatan sakti, dan sebagainya.  Kepercayaan-kepercayaan masyarakat tersebut bukan saja merupakan salah satu akar bagi tumbuh kembangnya kebudayaan yang memberi warna serta ciri kebudayaan setempat, lebih dari itu kepercayaan-kepercayaan tersebut di dalamnya sarat dengan kearifan-kearifan lokal (local wisdom) yang sangat bermanfaat bagi upaya pembentukan karakter, pekerti, dan jati diri bangsa.  Kearifan lokal merupakan kekuatan yang mampu bertahan terhadap unsur-unsur yang datang dari luar, mampu berkembang untuk masa-masa yang akan datang.  Kepercayaan masyarakat serta kearifan lokal tersebut dapat tumbuh, hidup, dan berkembang dalam salah satu lembaga komunitas yang disebut dengan komunitas adat.
        Komunitas adat masyarakat desa Sembalun Bumbung sebagai satu komunitas di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat juga tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat serta kearifan-kearifan lokal yang ada.  Desa Sembalun dengan kampung tradisionalnya beserta masyarakat pendukungnya diyakini memiliki kepercayaan-kepercayaan asli yang bersifat unik dan menarik untuk diteliti lebih jauh dan mendalam.  Penelitian ini sangat perlu dan penting dilaksanakan karena khusus mengkaji mengenai kepercayaan komunitas adat masyarakat Desa Sembalun, yang selama ini belum pernah dilaksanakan.  Penelitian yang sudah pernah dilaksanakan di Sembalun antara lain tentang  Pola Pemukiman Masyarakat Sembalun, Kajian Cerita Rakyat di Sembalun, Sistem Pemerintahan Tradisional di Sembalun, Upacara Tradisional Ngayu-Ayu di Sembalun, dan Kesenian Tradisional di Sembalun.  Sedangkan khusus yang menyangkut kepercayaan komunitas adat di Sembalun Bumbung belum ada yang menulis.  
Karena itu penelitian tentang kepercayaan komunitas adat masyarakat Desa Sembalun Bumbung di Kabupaten Lombok Timur sangat perlu dilaksanakan untuk mengungkap bagaimana sebenarnya kepercayaan masyarakat setempat.

Permasalahan
        Terkait dengan rumusan masalah, G. Tan Mely (dalam Swarsi, 2010) mengatakan bahwa pemilihan persoalan atau rumusan masalah harus ada beberapa pertimbangan seperti : (1) Pemilihan persoalan itu dipilih untuk diteliti, apakah bermanfaat bagi masyarakat;  (2) Apakah bisa diteliti / researchable untuk diteliti, untuk pertimbangan di atas sangat penting agar hasil penelitian berguna serta berhasil bagi pencanangan pembangunan ke depan, terutama yang menyangkut kebijakan pembangunan kebudayaan. Bertitik tolak dari pemikiran di atas, dalam penelitian ini secara das sollen, diharapkan dapat menguatkan ketahanan budaya dan melestarikan kepercayaan komunitas adat masyarakat Sembalun Bumbung sebagai modal personal (SDM) atau sebagai modal budaya, sedangkan secara das sein, realitas kepercayaan komunitas adat mengalami tantangan yang begitu berat dengan adanya modernisasi dan globalisasi seperti sekarang ini.

Konsep
        Ada beberapa konsep yang perlu disampaikan dalam penelitian dan pengkajian ini, yaitu konsep kepercayaan, kepercayaan masyarakat, komunitas adat, dan konsep kepercayaan komunitas adat.
        Di Indonesia, yang dimaksud dengan kepercayaan adalah sebutan bagi sistem religi yang tidak termasuk salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha).
        Kepercayaan masyarakat adalah paham yang bersifat dogmatis, terjalin dalam adat istiadat hidup sehari-hari dari berbagai suku bangsa yang mempercayai apa saja yang dipercayai adat nenek moyang (Kementerian Budpar, 2004 : 8).   Kepercayaan adalah sistem tingkah laku manusia untuk mencapai suatu maksud tertentu dengan cara menyandarkan diri pada kemauan dan kekuasaan makhluk seperti ruh, dewa, dan sebagainya. (Suwandi, 1997 : 276 dalam Kementerian Budpar, 2004 : 8).  Semua sistem kepercayaan tersebut berpusat pada konsep tentang hal yang gaib (mysterium), yang dianggap maha dahsyat (tremendum), dan keramat (scare).
        Komunitas (community) dapat diterjemahkan sebagai “masyarakat setempat”, yakni merupakan kesatuan sosial yang lebih didasarkan oleh rasa kesadaran wilayah tertentu atau pada ikatan daerah tempat tinggal (Koentjaraningrat, 2002 : 6 -8).
Sebagai suatu kesatuan sosial, warga dalam komunitas mempunyai sifat adanya rasa kesamaan dan kebersamaan.  Perasaan kesamaan dan kebersamaan dalam komunitas biasanya sangat kuat, sehingga ada perasaan bahwa kelompoknya memiliki ciri-ciri atau cara hidup yang berbeda dari kelompok lainnya.
        Di Indonesia ada jenis komunitas tertentu yang merupakan salah satu satuan organisasi sosial yang keberadaannya sampai saat ini masih dapat kita temukan dalam masyarakat yakni yang disebut dengan “komunitas adat  yang memiliki adat istiadat lebih khusus dan menempati wilayah tertentu dalam lingkup wilayah suku bangsa.   Pada umumnya dalam komunitas adat tersebut, mempunyai sifat adanya rasa persatuan yang sangat tinggi, karena ada perasaan bahwa kelompoknya itu memiliki ciri-ciri kebudayaan atau cara hidup yang berbeda dari kelompok lainnya.
        Kepercayaan komunitas adat adalah paham yang bersifat dogmatis, terjalin dalam adat istiadat hidup dari berbagai suku bangsa yang dipercayai secara turun temurun berdasarkan norma-norma adat yang berlaku pada masing-masing suku bangsa.  Kepercayaan itu merupakan sistem tingkah laku manusia untuk mencapai suatu maksud tertentu dengan menyandarkan diri pada kemauan dan kekuasaan gaib seperti Tuhan, Dewa, Leluhur dan lain-lain. (Dit. Kepercayaan, 2007 : 3).
Konsep-konsep inilah yang akan dipakai dasar dan acuan dalam membahas permasalahan yang ada serta dalam mendeskripsikannya menjadi data tertulis.

Teori       
        Beberapa teori yang dipakai dalam usaha membahas permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1).  Teori Integrasi. Teori Integrasi merupakan sesuatu hal yang menurut masyarakat banyak terintegrasi atas dasar kesepakatan anggota.  Nasikum mengatakan dengan integration  approach dimaksudkan kesepakatan sebagai general agreement untuk mengatasi perbedaan pendapat dalam kepentingan anggota.   Oghum dan Mainloff yang menyatakan teori integrasi merupakan proses individu dari kelompok yang berbeda menjadi keadaan yang sama pada suatu saat (Geriya, 2001;  Swarsi, 2007). Teori ini relevan sebagai kerangka berpikir untuk menganalisis pada perbedaan-perbedaan pendapat, persepsi, pandangan maupun perbedaan keyakinan dalam masyarakat Sembalun Bumbung yang pada akhirnya bisa bersatu dalam satu komunitas adat; 2).  Teori Interaksi Simbolik. Teori simbolik Cooley dilanjutkan oleh George Herbert Mead.  Mereka merumuskan bahwa (1) manusia pada hakekatnya bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki oleh benda-benda tersebut;  (2) makna itu merupakan interaksi sosial dalam masyarakat;  (3) makna diproses melalui penafsiran.   Di sisi lain juga menekankan bahwa arti subyektivitas  melalui proses penafsiran dan berbagai nilai serta gagasan yang ada di balik benda atau pada tindakan sosial (Triguna, 2000 : 45).  Dalam bukunya Triguna juga mengatakan bahwa sebagai suatu yang berfungsi memberikan makna.  Teori interaksi simbolik di atas sebagai kerangka berpikir untuk membahas simbol-simbol yang ada dalam kepercayaan komunitas adat di Sembalun Bumbung. 3).  Teori Akulturasi. Akulturasi merupakan proses kebudayaan yang timbul, bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan yang berbeda, sehingga unsur-unsur budaya asing tersebut dapat diterima dan kemudian diolah kedalam kebudayaan penerima tanpa menghilangkan kepribadian unsur kebudayaan asli (Swarsi, 2007).
      Teori akulturasi diatas sebagai kerangka berpikir untuk membahas tentang unsur kearifan lokal yang bertemu dengan unsur Hindu dan unsur Islam dalam komunitas adat di Sembalun sehingga terjadi proses adaptasi tanpa menghilangkan kearifan lokal tersebut. 
      Teori-teori inilah yang akan dipakai sebagai dasar dan acuan dalam membahas kepercayaan masyarakat pada komunitas adat di Desa Sembalun Bumbung karena teori-teori tersebut sangat relevan dipakai dalam mengungkap permasalahan yang menyangkut kepercayaan masyarakat di sana.  
   
Profil Desa Sembalun Bumbung
               Desa Sembalun Bumbung adalah salah satu dari 4 (empat) Desa di Wilayah Kecamatan Sembalun yang letaknya di ujung Utara Wilayah  Kabupaten Lombok Timur, yang berbatasan dengan :  Sebelah Utara  :  Desa Sembalun Lawang;  Sebelah Selatan  :  Kecamatan Peringga Sela dan Kecamatan Swela;  Sebelah Timur  :  Kecamatan Pringgabaya;  dan Sebelah Barat  :  Desa Sembalun Lawang.
        Desa Sembalun Bumbung memiliki luas wilayah 55,17 km2, dihuni oleh 6.805 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3.311 jiwa dan perempuan 3.494 jiwa, dengan Kepala Keluarga (KK) berjumlah 2.074 KK.
        Dari luas wilayah dan penduduk tersebut di atas, dibagi menjadi 6 (enam) Dusun, yaitu :  1. Dusun Jorong;  2. Dusun Bebante;  3. Dusun Daya Rurung Baret;  4. Dusun Daya Rurung Timuk;  5. Lauk Rurung Baret; dan 6. Lauk Rurung Timuk.
       
Sejarah Berdirinya Desa Sembalun
        Sembahulun artinya orang yang pertama yang diajarkan bertauhid kepada penciptanya yaitu Allah Yang Maha Tinggi.  Hulun artinya tinggi, Sembah artinya ingat.  Sembahulun disingkat menjadi Sembalun.
   Sembalun terdiri dari dua desa, yaitu desa Sembalun Lawang dan desa Sembalun Bumbung.  Lawang artinya Pintu,  Bumbung artinya Tempat, istilah Sasaknya Tangkak.  Petung juga diartikan oleh ulama tasauf Petunjuk.
    Desa Sembalun Bumbung berasal dari desa asli Sembahulun atau desa Sembalun, berarti penduduk yang pertama mengenal dan mengakui bahwa dirinya ada yang menciptakannya dan sebagai konsekuensinya bahwa orang yang diciptakan harus menyembah kepada penciptanya yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Jadi kata Sembahulun berarti  menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
     Desa Sembahulun pada masa pradesa didiami oleh 7 (tujuh) pasangan suami istri yang tinggal dan hidup secara primitif atau hidup dalam kelompok suami istri tanpa mengenal peradaban dalam mengatur kehidupan dan penghidupan kelompoknya.
Keadaan alam desa Sembalun pada masa pradesa ini merupakan tanah rawa-rawa yang sulit digunakan untuk sumber penghidupan penduduknya, apalagi penduduknya masih dalam alam tanpa peradaban yaitu belum mengenal cara berpakaian, berusaha / bertani dan memasak makanan.
     Pada masa pradesa atau dalam alam primitif ini bahwa penduduk yang terdiri dari tujuh pasangan suami istri ini tidak pernah mengalami pertambahan jumlah penduduk atau tidak pernah terjadi regenerasi penduduk.  Keadaan kestatisan penduduk  ini berlangsung berpuluh puluh tahun tanpa ada perubahan baik dari jumlah penduduk maupun tingkat kehidupan dan penghidupan.  Dalam keadaan kestatisan ini datanglah dua orang pendatang yang membawa perubahan besar bagi tujuh pasangan suami istri, kedua pendatang ini bernama Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya.  Asal dari kedua pendatang dan tahun berapa kedatangan mereka belum ada catatan sejarah yang mengungkapkan, tetapi yang jelas bahwa kedua pendatang datang pertama kali di sekitar lokasi Lendang Luar, desa Sembalun Lawang sekarang ini.
        Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya mendatangi tujuh pasangan suami istri.  Ketika itu mereka sedang membuat gundukan tanah di atas tanah rawa-rawa dan pembuatan gundukan itu hanya dikerjakan dengan tangannya sendiri tanpa menggunakan peralatan pertanian sebagaimana biasanya.  Ketika Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya  melihat dari dekat apa yang dikerjakan oleh penduduk tersebut maka Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya memanggil mereka semua untuk berkumpul guna diberikan pelajaran sebagai bekal hidupnya di alam yang menguntungkan ini.
       Pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya diawali dengan pertanyaan sebagai berikut :  “Hai manusia, maukah kalian menjadi manusia yang beradab dengan menggunakan pakaian / busana selayaknya?, maukah kalian hidup di tanahmu ini sebagai manusia selayaknya?, dan maukah kalian menjadi manusia yang menyembah Allah sebagai Penciptamu?”.
Dengan serentak tujuh pasangan suami istri itu menjawab dengan tanda kesediaannya menerima pelajaran yang berguna bagi diri mereka, tetapi dibalik kesediaannya itu mereka masih menyangsikan kemampuan dirinya karena merasa dirinya belum pernah mengetahui peradaban manusia sebenarnya.  Kemudian Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya melanjutkan ajarannya dengan memberikan 4 (empat) macam pegangan hidup, dan Raden Haria Pati menyatakan : 
  1. Kuberikan kamu adat dan agama Islam sebagai pegangan hidupmu.
  2. Kuberikan kamu kitab Al-Qur’an sebagai pedoman adat agamamu.
  3. Kuberikan kamu padi (seikat padi merah) sebagai makananmu untuk beribadah.
  4. Kuberikan kamu senjata-senjata untuk bertani dan membela adat dan agamamu”.
Selain memberikan pelajaran tersebut di atas, selanjutnya Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya menyiapkan tanah persawahan sebagai tempat untuk menanam padi bagi tujuh pasangan suami istri itu.  Dikisahkan bahwa tanah tersebut dibuat oleh  Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya dengan mengucapkan Bismillah sambil memutar-mutar diangkatnya (jungkat) dengan ucapan “sawah enjang-enjang” (Hiyang-hiyang) yang artinya Hanya dengan Allah-lah sesuatu bisa hidup dan berkembang.
“Kunfayakun”,  Jadi maka jadilah.  Dengan isyarat doa dan tongkatnya diputar-putar ke tanah (di atas tanah), dengan ijin serta kekuasaan Allah Tuhan Yang Maha Esa maka tanah sawah itu terhampar dan membendung dari Sembalun Lawang sampai Sembalun Bumbung sekarang.  Pada kesempatan itu juga ketujuh pasangan suami istri diberikan nama panggilan masing-masing, antara lain yang dapat disebutkan adalah :  Nek Islamin,  Nek Kerta,  Nek Negara,  Nek Bagia,  Nek Rasani.
Dengan selesainya keempat pelajaran yang dilengkapi dengan tanah yang luas,  Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya memberikan wejangan dan peringatan yang disampaikan oleh Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya sebagai berikut :
“Mulai saat ini tanah bumi atau tanah tempat kalian hidup ini kuberi nama Sembahulun atau tanah Sembahulun.  Kalian ingat dan waspada bahwa untuk waktu-waktu yang akan datang kalian pasti menghadapi peperangan-peperangan, tetapi dalam menghadapi peperangan nanti kalian pasti mendapat pertolongan atau bantuan.”

Terbentuknya Pemerintah Desa Sembalun Bumbung
Dari sejarah desa Sembalun Bumbung dimulai dari desa Sembahulun sampai dengan berakhirnya suatu bentuk pemerintahan desa yang masih sederhana yaitu berupa prabekel, kiyai, pemangku, dan pande diperkirakan berdirinya pada tahun 1428, dengan susunan pemerintahan sebagai berikut :   Nek Kerta Negara menjabat sebagai Prabekel yaitu jabatan setingkat dengan ketua adat / pimpinan adat atau Kepala Desa.  Pada saat itu Prabekel dibantu oleh perangkat-perangkatnya yaitu Kiyai atau Penghulu, Pemangku dan Pande; Nek Islami menjabat sebagai Kiyai atau penghulu atau pemuka agama atau pimpinan bidang keagamaan; Nek Bagia menjabat sebagai Pemangku yaitu menjaga dan memelihara keamanan, ketentraman, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat desa.
Masa pemerintahan ini berlangsung ratusan tahun (dihitung sejak berdirinya dari tahun 1428) atau generasi dari bentuk pemerintahan ini berlangsung sampai dengan empat generasi atau generasi keempat.  Kehidupan masyarakat Sembalun dibidang agama cukup maju dengan syariat 5 (waktu lima) secara sempurna sesuai dengan hukum Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits terbukti dengan adanya peninggalan tempat-tempat peribadatan seperti langgar-langgar yang arsitekturnya masih sangat sederhana dengan beratapkan alang-alang.  Kemudian berupa kitab-kitab Al’Qur’an yang bertuliskan tangan, kitab-kitab Fiqih, Tauhid, Nahwa Syarat, Ilmu Bayan, Ilmu Manteq dan Balagoh.  Tetapi setelah generasi kelima bertepatan dengan takluknya kerajaan-kerajaan di pulau Lombok seperti Selaparang, Pejanggik, dan Bayan maka masuklah pengaruh kerajaan Karang Asem Bali sehingga banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya Hindu Bali, sedangkan kitab Al-Qur’an dan kitab-kitab peninggalan yang lain disimpan dan tidak dipelajari.  Ibadah shalat lima waktu yang sudah sempurna menjadi kabur, itu terbukti dengan cara peribadatan lima waktu dirubah menjadi tiga waktu sebagai berikut : 1. Shalat Dzuhur dan Ashar dikerjakan pada hari Jumat yang berarti shalat itu dikerjakan 1 (satu) kali dalam seminggu; 2. Shalat Maghrib dan Isya dikerjakan pada bulan Ramadhan berarti dikerjakannya 1 bulan dalam satu tahun; 3. Shalat Subuh dikerjakan pada pagi hari sebelum shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha dilaksanakan, artinya dua kali dalam setahun.
Keadaan seperti ini berlangsung cukup lama di Sembahulun sampai masuknya bangsa kolonial Belanda dan Jepang.  Kemudian setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, maka datanglah para ulama, seperti TGH. Lapan Praya,  TGH. Umar,  TGH. Mutawalli Jero Waru,  H Abas (Apitaik) sampai berdomisili dan wafat di Sembahulun.  Dari deretan kronologis ini, maka waktu lima sudah mulai dilaksanakan kembali.  Itu berarti waktu Telu (tiga) sudah berakhir.
       Pemerintahan desa Sembahulun yang lebih sempurna dari bentuk pemerintahan sebelumnya diperkirakan berdiri pada tahun 1855.  Sejak berdirinya pemerintah desa Sembahulun sampai sekarang sudah terjadi 13 kali pergantian Kepala Desa.
(Sumber :  Sembalun Kini dan Masa Lampau).

B. PEMBAHASAN
Bentuk, Fungsi dan Makna Kepercayaan Komunitas Adat Sembalun
              Kepercayaan komunitas adat pada masyarakat di Desa Sembalun umumnya dan Desa Sembalun Bumbung pada khususnya adalah satu topik yang sangat unik untuk dikaji dan diteliti.  Desa Sembalun Bumbung sebagai satu desa pegunungan yang bernuansa asli dan alami dengan udaranya yang sejuk segar memang menyimpan keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan desa-desa pegunungan lainnya.
        Sebagai komunitas adat, warga masyarakat adat di desa Sembalun Bumbung ini menyebut kesatuan masyarakat adatnya dengan istilah  Krama Adat.  Adapun warga masyarakat yang menjadi anggota masyarakat adat atau krama adat adalah penduduk asli Sembalun.  Kalau ada pendatang yang mau bermukim atau bertempat tinggal di Desa Sembalun Bumbung maka konsekuensinya adalah warga pendatang tersebut harus ikut adat istiadat atau aturan adat yang berlaku di desa ini.  Hal ini sesuai dengan pepatah lama “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”.  Karena itulah orang-orang pendatang di desa ini  taat dan patuh pada aturan-aturan adat yang telah dibuat dan disepakati bersama oleh krama adat di Sembalun Bumbung. 
        Komunitas adat atau krama adat  Sembalun Bumbung ini didukung oleh 4 (empat) Dusun, yaitu Dusun Daya Rurung Timuk, Daya Rurung Baret, Lauk Rurung Timuk dan Lauk Rurung Baret).

1.  Bentuk/Wujud Kepercayaan Masyarakat Dalam Komunitas Adat Sembalun
   Kepercayaan masyarakat, antara lain berwujud : 1).  Animisme, kepercayaan bahwa setiap benda yang ada mempunyai nyawa, anima atau prana yang berpribadi.  Dalam kepercayaan ini tercakup konsep :  Totem, kepercayaan kepada ruh pelindung yang berwujud binatang; Pemujaan kepada ruh nenek moyang / leluhur;  2).  Dinamisme,  kepercayaan kepada suatu daya kekuatan atau kekuasaan yang keramat dan tidak berpribadi, yang dianggap halus maupun berjasad, yang dapat dimiliki atau tidak dimiliki oleh benda, binatang dan manusia.  Dalam dinamisme tercakup konsep : Magi,  kepercayaan bahwa dunia ini penuh daya-daya gaib dan dapat dipergunakan untuk melawan kekuasaan yang dijumpai; Mana,  kepercayaan kepada sesuatu yang luar biasa, mengherankan, karena keistimewaannya, kekuatannya atau kesaktian; 3).  Pemujaan pada dewa tertinggi / leluhur. Pemujaan dewa tertinggi / leluhur adalah penyamaan leluhur, baik secara langsung ataupun tidak langsung, atau dari orang-orang yang menggantikan kedudukan leluhur atau kepala rumah tangga titular, dengan roh dan dewa, serta pemindahan kepada mereka – khususnya tindakan dan sikap religius yang biasanya diasosiasikan dengan pemujaan roh dan dewa. (Budpar, 2004 : 15).
        Bentuk kepercayaan masyarakat dalam komunitas adat atau krama adat  di Sembalun Bumbung pada awalnya / asalnya adalah animisme dan dinamisme.  Animisme adalah bentuk kepercayaan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai roh atau jiwa.  Manusia punya roh atau jiwa, demikian pula tumbuh-tumbuhan, hewan, pohon-pohon besar dan lain-lainnya dianggap punya roh atau jiwa yang harus diperhatikan dan dihormati.  Demikian halnya masyarakat dalam komunitas adat di Sembalun Bumbung.  Masyarakat di sini percaya bahwa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, pohon-pohon besar, gunung, sungai dan sebagainya ada roh-roh atau jiwa-jiwa yang menunggu atau menempatinya.  Karena itulah masyarakat Sembalun Bumbung tidak akan berani berbuat macam-macam terhadap roh-roh penunggu yang mesti diyakini, diperhatikan, serta patut dihormati.
Sedangkan dinamisme adalah satu bentuk kepercayaan masyarakat yang percaya dan menganggap benda-benda yang ada di dunia ini mempunyai kekuatan gaib atau kekuatan sakti.  Misalnya gunung, hutan, batu-batu besar, keris, permata, tombak, dan sebagainya dianggap mempunyai kekuatan gaib atau kekuatan sakti yang dapat membantu kehidupan manusia, bahkan dapat sebaliknya yaitu bisa membinasakan atau mencelakakan hidup manusia.  Demikian pula pada masyarakat di Desa Sembalun Bumbung ini yang sebagian besar masih percaya pada kepercayaan dinamisme ini, seperti kepercayaan bahwa batu-batu besar, keris, tombak pusaka, batu permata dianggap memiliki kekuatan gaib atau kekuatan sakti yang mesti diperhatikan, dihormati, dan dijaga eksistensinya. 
        Di samping kepercayaan animisme dan dinamisme tersebut, masyarakat Sembalun pada mulanya menganut kepercayaan Boda yaitu satu bentuk kepercayaan masyarakat pada masa lampau, yang selanjutnya datang kepercayaan atau agama Islam yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Sembalun Bumbung seperti sekarang ini. Meskipun sekarang ini masyarakatnya telah memeluk agama Islam, namun demikian kepercayaan aslinya yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme tidak hilang begitu saja, akan tetapi masih tetap dipertahankan, diyakini, dijaga dan dilestarikan karena mereka percaya bahwa kepercayaan asalnya tersebut adalah warisan leluhur yang mesti tetap dijaga, dilestarikan serta dihormati sampai kapan pun.  
        Hal ini sesuai dengan salah satu teori yang dipakai dalam pembahasan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu Teori Akulturasi.  Akulturasi merupakan proses kebudayaan yang timbul, bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan yang berbeda, sehingga unsur-unsur budaya asing tersebut dapat diterima dan kemudian diolah kedalam kebudayaan penerima tanpa menghilangkan kepribadian unsur kebudayaan asli (Swarsi, 2007).
        Demikian halnya adat-istiadat serta hukum-hukum adat dalam komunitas adat atau krama adat Sembalun Bumbung sampai kini masih tetap berlaku.  Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan masyarakat, seperti pelanggaran terhadap tata susila dikenai sanksi adat misalnya berzina atau berselingkuh.  Kaul juga termasuk kedalam adat, yang mesti diperhatikan dan tidak ditinggalkan apalagi sampai diremehkan, itu akan sangat berbahaya bagi orang yang berkaul.
        Kini masyarakat Sembalun Bumbung telah kembali menganut ajaran atau agama Islam yang utuh dengan sholat lima waktu, bukan lagi agama Islam Wetu Telu seperti dulu pernah dialami ketika masih kuatnya pengaruh kerajaan Karang Asem Bali.  Namun demikian keadaan masyarakat antara pulau Jawa, Bali, dan Lombok masih ada kemiripan-kemiripan karena memang nenek moyang mereka dulunya berasal dari satu tempat yang sama yang menganut kepercayaan/agama  Hindu – Budha.  Misalnya dalam bidang sosial ritual pengaruh budaya asli Hindu Budha sampai sekarang masih terasa dalam masyarakat adat atau krama adat di desa Sembalun Bumbung.  Masyarakat Sembalun Bumbung juga masih percaya dengan adanya roh, misalnya tanaman-tanaman atau tumbuh-tumbuhan dianggap punya roh.  Dalam kepercayaan masyarakat Sembalun, yang melindungi dan menaungi tanaman atau tumbuh-tumbuhan adalah Dewi Anjani.  Jadi kepercayaan animisme dan dinamisme dalam masyarakat Sembalun Bumbung masih melekat kuat sampai sekarang ini.

2.      Fungsi Kepercayaan Dalam Komunitas Adat Sembalun Bumbung
        Di Indonesia, yang dimaksud dengan kepercayaan adalah sebutan bagi sistem religi yang tidak termasuk salah satu dari agama-agama yang diakui pemerintah (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha).
        Kepercayaan masyarakat adalah paham yang bersifat dogmatis, terjalin dalam adat istiadat hidup sehari-hari dari berbagai suku bangsa yang mempercayai apa saja yang dipercayai adat nenek moyang (Budpar, 2004 : 8 ).  Kepercayaan adalah sistem tingkah laku manusia untuk mencapai suatu maksud  tertentu dengan cara menyandarkan diri pada kemauan dan kekuasaan makhluk seperti ruh, dewa, dan sebagainya. (Suwandi, 1997 : 276).  Semua sistem kepercayaan tersebut berpusat pada konsep tentang hal yang gaib (mysterium), yang dianggap maha dahsyat (tremendum), dan keramat (scare).    
        Menurut buku Pedoman Pelestarian Kepercayaan Masyarakat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,  kepercayaan masyarakat memiliki fungsi antara lain : 1). Produktif. Termasuk dalam kelompok ini adalah semua praktek ilmu gaib yang menyangkut kegiatan-kegiatan produksi bercocok tanam, praktek yang dilakukan berhubungan dengan pembuatan berbagai alat, kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar diperoleh yang besar dalam berdagang, seperti upacara labuh saji,  memulai panen,  syukuran setelah panen; 2).  Protektif / penolak. Termasuk dalam kelompok ini adalah segala praktek ilmu gaib untuk menghindari serta menolak bencana yang diakibatkan hama pada tumbuh-tumbuhan dan hewan, praktek ilmu gaib untuk menyembuhkan penyakit, seperti upacara tolak bala, tolak penyakit, dan sebagainya; 3).  Agresif. Termasuk dalam kelompok ini adalah mencakup semua perbuatan ilmu gaib dengan maksud untuk menyerang, merugikan, menyakiti, membunuh, dan lain-lain. 4).  Meramal. Termasuk dalam kelompok ini adalah dilakukannya praktek-praktek meramal berdasarkan perhitungan ilmu perbintangan dan sebagainya. (Budpar, 2004 : 13 – 14).
      Fungsi kepercayaan dalam komunitas adat Sembalun Bumbung pada hakekatnya memiliki fungsi sebagai berikut : 1. Menjaga hubungan yang harmonis antara masyarakat dalam komunitas adat Sembalun Bumbung dengan Tuhan Yang Maha Esa (Allah Swt.); 2. Menjaga hubungan yang harmonis antara masyarakat dengan lingkungan alam sekitarnya; 3. Menjaga hubungan yang harmonis antara masyarakat yang satu dengan masyarakat sekitarnya serta keharmonisan hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya dalam komunitas adat Sembalun Bumbung; 4. Menumbuhkembangkan rasa persatuan dan kesatuan dalam komunitas adat Sembalun Bumbung  serta dengan komunitas adat lainnya (Fungsi Integrasi). Hal ini sesuai dengan Teori Integrasi yang merupakan sesuatu hal yang menurut masyarakat banyak terintegrasi atas dasar kesepakatan anggota.  Nasikum mengatakan dengan integration  approach dimaksudkan kesepakatan sebagai general agreement untuk mengatasi perbedaan pendapat dalam kepentingan anggota.   Oghum dan Mainloff yang menyatakan teori integrasi merupakan proses individu dari kelompok yang berbeda menjadi keadaan yang sama pada suatu saat (Geriya, 2001;  Swarsi, 2007).  Jadi aplikasi teori ini terbukti bisa dipakai dalam mengkaji masyarakat atau komunitas adat Sembalun Bumbung yang berlatar belakang keyakinan yang berbeda seperti keyakinan Islam dan Hindu, namun mereka bisa hidup bersama dalam satu komunitas karena sudah adanya satu kesepakatan bersama dan sikap toleransi yang tinggi antara satu dengan lainnya; 5. Menciptakan toleransi antar umat beragama di wilayah kecamatan Sembalun dan sekitarnya yang sekaligus menciptakan keharmonisan hubungan antar masyarakat sekitarnya; 6. Memberikan keyakinan kepada masyarakat terhadap nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Sembalun Bumbung dan sekaligus memberikan keyakinan terhadap kearifan-kearifan lokal yang ada.

3.      Makna Kepercayaan Dalam Komunitas Adat Sembalun Bumbung
        Dalam kepercayaan masyarakat adat atau komunitas adat di Sembalun Bumbung diberikan makna bahwa kepercayaan tersebut mengandung makna untuk mencari jati diri yang sebenarnya, dari mana asal muasal kita hidup sebagai manusia, untuk apa kita sebagai manusia hidup di dunia yang fana ini, dan akan ke mana nanti kita setelah kehidupan di dunia ini.
        Menurut Haji Purnipa seorang tokoh agama Islam sekaligus tokoh masyarakat dan tokoh adat di desa Sembalun Bumbung, bahwa di dalam Islam  kita mencari sesuatu berdasarkan atas akhlak dan jati suara atau suara sejati / suara yang baik.  Sehingga dari dasar itulah tercipta suatu tembang atau suara kehalusan yang mengandung makna yang sangat dalam.  Bahwasannya kita manusia diturunkan ke dunia adalah untuk menjalani hukuman.  Selanjutnya manusia itu akan sadar atau insyaf yang pada akhirnya nanti akan kembali kepada Sang Maha Pencipta / Allah Swt. melalui jalan yang baik dan buruk (Sorga dan Neraka).  Oleh karena itulah semasih diberikan kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk hidup di dunia fana ini agar manusia selalu berbuat baik sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya dan menjauhi segala laranganNya.  (Hasil wawancara dengan Bapak Haji Purnipa di Sembalun Bumbung  tanggal 13 April 2010).

Upacara / Ritual dan Simbol-Simbol Kepercayaan
        Upacara atau ritual dalam komunitas adat Sembalun Bumbung merupakan satu momentum penting dalam usahanya untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia atau warga masyarakat dengan Tuhan Yang Maha Esa / Allah swt., antara masyarakat dengan masyarakat lainnya atau antara manusia dengan manusia lainnya, serta antara manusia denga lingkungan alamnya.
        Adapun upacara-upacara yang ada dalam komunitas adat Sembalun Bumbung adalah :
1.      Upacara Ngayu Ayu (upacara untuk air, hutan, tanah, dan tanaman.  Dilaksanakan tiga tahun sekali).
2.      Upacara Bija Tawar (upacara pengobatan padi secara alami / non kimia dengan sarana air suci dan doa-doa.  Dilaksanakan dua tahun sekali).
3.      Ngaji Makom (upacara napak tilas tiap bulan Nopember ke makam-makam leluhur.  Dilaksanakan sekali dalam setahun).
4.      Bubur Putih (tiap tanggal 10 Muharam).
5.      Bubur Abang (tiap tanggal 8 Safar).
6.      Upacara penurunan bibit.
7.      Upacara Selamet Tanem.
8.      Upacara saat padi menguning.
9.      Upacara Roah (tiap tanggal 15 Sahban).
10.  Upacara Mulud Adat.
Di samping upacara-upacara tersebut dalam kepercayaan masyarakat Sembalun Bumbung ada larangan-larangan  seperti larangan merariq / kawin di bulan Safar dan Muharam.  Demikian pula adanya larangan mengatapi rumah di kedua bulan ini (Safar dan Muharam).
        Inti atau makna  dari dilaksanakannya upacara adat atau ritual tersebut adalah untuk menyelaraskan alam skala niskala serta mahluk-mahluk halus agar tercipta suatu kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.  Karena itulah masyarakat desa Sembalun Bumbung selalu melaksanakan upacara tersebut bilamana waktunya telah tiba untuk pelaksanaan upacara dimaksud.   Sebagai pemimpin dalam upacara-upacara itu adalah  Ketua Krama Adat yang dimulai dengan gondem atau sangkep krama adat, yaitu suatu pertemuan yang dihadiri oleh warga masyarakat adat untuk membahas pelaksanaan upacara adat tersebut.   Pelaksanaan upacara-upacara di atas dibantu oleh Perbekel, Pemangku dan krama adat.  Dalam bidang adat, maka yang memimpin ritual / upacaranya adalah Pemangku, dan dalam bidang agama akan dipimpin oleh Kyai.        
        Adapun simbol-simbol yang dipakai dalam upacara / ritual atau dalam kepercayaan masyarakat Sembalun Bumbung antara lain :
1.        Sirih pinang, adalah sebagai simbol oleh-oleh yang dibawa oleh masyarakat Sembalun Bumbung ketika hendak masuk ke dalam hutan.  Hal ini mengandung makna bahwa orang yang bermaksud masuk hutan harus tahu diri dengan permisi kepada roh yang menunggu atau menjaga hutan tersebut dan membawa oleh-oleh (sirih pinang) sebagai tanda atau simbol perhatian dan penghormatan pada si penunggu hutan.
2.        Ketupat, adalah sebagai simbol senjata masyarakat Sembalun yang sangat ampuh dalam peperangan melawan iblis.
3.        Air, yang diambil setiap kali panen padi adalah sebagai simbol atau tanda kemenangan melawan iblis.
4.        Kerbau kurban yang dipotong setiap tiga tahun sekali, adalah sebagai simbol atau tanda kemenangan dalam peperangan melawan iblis dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Simbol-simbol tersebut pada kenyataannya sebenarnya dipakai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari maupun dalam upacara-upacara adat.
Di samping simbol-simbol kepercayaan tersebut, masyarakat Sembalun Bumbung juga percaya dengan adanya hari-hari baik dan hari-hari buruk (almanak), yang berdasarkan atas luangnya, larangannya serta hari naasnya.  Misalnya :  hari Senin dan Selasa dilarang mengatapi rumah.  
        Kalau dikaitkan dengan Teori Interaksi Simbolik, maka ternyata ada kecocokannya dengan simbol-simbol yang digunakan di Sembalun Bumbung, karena masyarakat di sana bertindak atau melaksanakan sesuatu atas makna yang ada pada simbol-simbol yang pernah terjadi dalam masa kehidupan leluhurnya terdahulu.
Teori simbolik Cooley  dilanjutkan oleh George Herbert Mead.  Mereka merumuskan bahwa (1) manusia pada hakekatnya bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki oleh benda-benda tersebut;  (2) makna itu merupakan interaksi sosial dalam masyarakat;  (3) makna diproses melalui penafsiran.   Di sisi lain juga menekankan bahwa arti subyektivitas  melalui proses penafsiran dan berbagai nilai serta gagasan yang ada di balik benda atau pada tindakan sosial (Triguna, 2000 : 45).  Dalam bukunya Triguna juga mengatakan bahwa sebagai suatu yang berfungsi memberikan makna.  Jadi teori ini bisa diaplikasikan dalam masyarakat di sana.

Perkembangan Kepercayaan Dalam Komunitas Adat di Sembalun Bumbung
       Berbicara mengenai perkembangan kepercayaan dalam komunitas adat di Sembalun Bumbung maka tidak akan dapat dipisahkan dari sejarah desa Sembalun itu sendiri.  Sembalun berasal dari kata Sembahulun.  Sembahulun artinya orang yang pertama yang diajarkan bertauhid kepada penciptanya yaitu Allah Yang Maha Tinggi.  Hulun artinya tinggi, Sembah artinya ingat.  Sembahulun disingkat Sembalun.
        Pada masa lalu penduduk desa Sembalun Bumbung yang sebelumnya menjadi satu dengan desa Sembalun Lawang dan bernama desa Sembalun percaya kepada faham animisme dan dinamisme.  Faham animisme mempercayai adanya roh-roh yang mendiami dunia ini.  Gunung, hutan, batu-batu besar, sungai, tumbuh-tumbuhan diyakini mempunyai roh-roh atau jiwa-jiwa yang menungguinya.  Sedangkan faham dinamisme meyakini bahwa benda-benda yang ada di sekitar manusia mempunyai kekuatan gaib atau kekuatan sakti.  Misalnya keris, tombak pusaka, batu-batu permata dianggap mempunyai kekuatan gaib atau kekuatan sakti.  Pada masa itu kehidupan manusia masih hidup primitif dan ilmu-ilmu gaib sudah mulai berkembang.
        Selanjutnya masuklah faham atau kepercayaan Boda ( Budha) dimana pada masa ini telah meyakini adanya Dewa-Dewi, dan Sang Budha.  Kehidupan kepercayaan berkembang dengan cukup baik dengan faham atau ajaran  Boda tersebut.
        Perkembangan berikutnya masuklah agama Islam ke bumi Sembahulun yang dibawa oleh Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya yang memberikan Al’Qur’an dan seperangkat alat pertanian kepada penduduk Sembalun yang masa itu hanya terdiri dari 7 (tujuh) pasang suami istri.  Kehidupan masyarakat pemula saat itu sudah mulai tertata dan beradab karena mereka sudah diajarkan peradaban oleh Raden Haria Pati dan Raden Haria Mangun Jaya.
        Pada masa kerajaan Karang Asem Bali berkuasa di Lombok maka tersebarlah faham atau ajaran Islam Wetu Telu yang pada akhirnya sekarang kembali kepada ajaran asalnya atau aslinya yaitu Islam dengan sholat lima waktu.
        Kepercayaan-kepercayaan tersebut di atas selanjutnya berakulturasi dengan tidak meninggalkan kepercayaan aslinya.  Hal ini terbukti dari kepercayaan masyarakat Sembalun Bumbung saat ini yang masih percaya kepada faham animisme dan dinamisme tersebut, walaupun mereka kini sudah beragama Islam dengan sholat lima waktunya.  Semuanya itu adalah warisan leluhur masyarakat Sembalun yang sampai saat ini masih lestari dan terpelihara dengan baik.
        Perubahan dalam kepercayaan komunitas adat di Sembalun Bumbung tentu saja sesuai dengan perkembangan jamannya.  Namun demikian sampai sekarang ini tidak ada perubahan yang signifikan dalam soal kepercayaan masyarakat adat atau kepercayaan komunitas adat di Sembalun Bumbung.  Boleh dikatakan bahwa kepercayaan komunitas adat di Sembalun Bumbung masih eksis atau masih kuat keberadaannya walaupun pengaruh modernisasi dan globalisasi mulai menerpa desa ini. 

Pengaruh Kebudayaan Terhadap Kepercayaan Komunitas Adat                 
        Budaya atau kebudayaan pada dasarnya merupakan suatu karya atau buah budi kelompok manusia.  Budaya atau kebudayaan sekaligus merupakan sistem nilai yang dihayati oleh sekelompok manusia.  Dengan demikian, kebudayaan nasional atau kebudayaan Indonesia pada dasarnya merupakan karya atau buah budi kelompok manusia Indonesia yang sekaligus merupakan sistem nilai yang dianut oleh manusia Indonesia.
        Secara umum kebudayaan dapat dibedakan menjadi yang bersifat fisik (tangible) dan non fisik (intangible).  Kebudayaan yang bersifat tangible  artinya berwujud benda konkrit yang dapat dipegang, misalnya : benteng, candi, masjid, gereja, pura, kelenteng, istana, rumah adat.  Sedangkan budaya yang bersifat tak benda (intangible), artinya yang tak dapat dipegang atau diraba, dapat pula digolongkan kedalam yang abstrak dan yang konkret.  Misalnya tradisi, kepercayaan, kebiasaan-kebiasaan berperilaku, atau pola pikir. (Budpar, 2004 : 7).
        Dalam hubungannya dengan kepercayaan pada komunitas adat di Sembalun Bumbung, pengaruh kebudayaan sebenarnya bersifat dinamis atau fleksibel.  Artinya kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem tingkah laku, sistem karya dan hasil karya atau buah budi masyarakatnya akan bersinergi, berkolaborasi dengan sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Sembalun Bumbung.  Karena itu sepanjang masyarakat masih memandang perlu, yakin, dan percaya akan kepercayaan, maka kepercayaan tersebut akan tetap diyakini dan dilaksanakan dalam kehidupan manusia.
Demikian pula di Sembalun Bumbung, kepercayaan masyarakat baik itu kepercayaan kepada Tuhan / Allah, Dewa-dewi, roh-roh halus, kekuatan-kekuatan gaib atau kekuatan-kekuatan sakti masih tetap diyakini dan dilaksanakan dalam bentuk upacara-upacara adat seperti upacara Ngayu-Ayu, upacara Mubur Putek, dan lain-lainnya yang membuktikan bahwa kebudayaan masih tetap eksis dan memberikan payung atau perlindungan kepada masyarakat di Sembalun Bumbung.
C.  P E N U T U P
Simpulan
              Dari uraian yang telah disampaikan sesuai dengan pokok permasalahan yang dibahas, maka dapat diambil beberapa pokok simpulan sebagai berikut : 1. Bentuk kepercayaan dalam komunitas adat di desa Sembalun Bumbung adalah berbentuk kepercayaan animisme dan dinamisme yang sudah berakulturasi dengan kepercayaan atau agama Islam sekarang ini.  Sedangkan fungsi kepercayaan dalam komunitas adat di Sembalun Bumbung adalah menata kehidupan krama adat, menjaga keharmonisan hubungan masyarakat adat dengan Tuhan / Allah Swt., menjaga keharmonisan hubungan antar sesama manusia, menjaga keharmonisan hubungan antara masyarakat dengan lingkungan alamnya, memberikan perlindungan, kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi masyarakat dalam komunitas adatnya.  Adapun makna yang terkandung dalam kepercayaan komunitas adat di desa Sembalun Bumbung adalah bahwa manusia itu mesti ingat atau eling kepada Tuhan Yang Maha Esa / Allah Swt, ingat dari mana berasal, untuk apa hidup di dunia ini, dan akan kemana nantinya setelah mengakhiri kehidupan di dunia. Jadi pada intinya manusia itu mesti sujud bhakti kepada Sang Maha Kuasa yang telah memberikan kehidupan, menghormati sesama manusia, melestarikan lingkunga alamnya serta memiliki cinta kasih untuk semua kehidupan;   2. Perkembangan kepercayaan komunitas adat di desa Sembalun Bumbung adalah berkembang sesuai dengan jamannya, dimana pada masa lampau hidup dan berkembang kepercayaan animisme dan dinamisme.  Kemudian masuk faham Bodha yang selanjutnya masuk kepercayaan atau agama Islam yang murni.  Pada masa kerajaan Karang Asem Bali berkuasa masuklah ajaran Islam Wetu Telu, yang kemudian setelah kerajaan Karang Asem Bali tidak lagi berkuasa, mereka lalu kembali menganut ajaran Islam murni yang sholat lima waktu sampai sekarang. Namun demikian kepercayaan asli yang bersifat animisme dan dinamisme hidup sampai sekarang yang berakulturasi dengan kepercayaan atau ajaran Islam. 

Saran - saran
        Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, maka beberapa saran kiranya perlu dan penting untuk disampaikan sebagai berikut : 1. Kepercayaan komunitas adat di Sembalun Bumbung adalah satu warisan luhur budaya bangsa yang mengandung kearifan-kearifan lokal.  Karena itu perlu perhatian semua pihak untuk melestarikannya, mulai dari generasi muda, generasi tua, tokoh-tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintah pusat serta daerah; 2.Penelitian dan penulisan tentang kepercayaan komunitas adat perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan dari tahun ke tahun, karena dalam kepercayaan komunitas adat tersebut banyak terkandung nilai-nilai luhur yang bisa dipakai sebagai pedoman hidup untuk generasi muda kita.
 
DAFTAR  PUSTAKA
Anonim, tanpa tahun,  Sembalun Kini dan Masa Lampau.
Geriya, I Wayan, 2001.  Transformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad XXI, Denpasar : Bali Ofset.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2004.  Pedoman Pelestarian Kepercayaan Masyarakat,  Jakarta :  Proyek Pelestarian dan Pengembangan Tradisi dan Kepercayaan.
Koentjaraningrat,  1968.  Metode-metode Penelitian Masyarakat,  Jakarta :  PT.Gramedia.        
Koentjaraningrat,  2000.  Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan,  Jakarta :  PT. Gramedia Pustaka Utama.
Suwandi Mangkudilogo, 1997.  Sumbangan Religi Sebagai Suatu Wujud Kebudayaan Bagi Perkembangan Pariwisata,  dalam E.K.M. Masinambow, Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia.  Jakarta : Yayasan OBN Indonesia.
Swarsi, S.,  1998.   Pokok-pokok Pedoman Perencanaan Penelitian dan Penulisan Laporan Penelitian,  Denpasar :  Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Swarsi, S.,  2007.   Purana Pura Puseh Batubulan (Studi Konvergensi Hindu Kearifan Lokal),  Thesis S2 Agama dan Kebudayaan Unhi.
Swarsi, S.,  2010.  Proposal Penelitian Jati Diri Masyarakat Bali, Denpasar :Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, NTT.
Triguna, Ida Bagus Gde Yudha, 2000.  Materi Pokok Sosiologi Hindu,  Jakarta : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Departemen Agama dan Universitas Terbuka.

Situs-Situs Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites