Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

Minggu, 09 Mei 2010

KEPERCAYAAN MASYARAKAT BOTI

KEPERCAYAAN MASYARAKAT BOTI



ABSTRACT

Boti is a traditional village in the Island of Timor, it is exactly located in the sub-district of Kie, Middle South of Timor, East Nusa Tenggara Province. Most of Boti village societies still adhere to animism, who believes that all living things in the world have spirit. The form of animism is implied in the concept called “Uis Neno” and “Uis Pah”. Principally, it is hoping for peacefulness in line with the sense of offerings held, such as: traditional ceremony, birth celebration, farming ceremony (welcoming harvest time). “Uis Neno” and “Uis Pah” belief basically want to establish harmonious relation between men with nature. The testator of “Uis Neno” and “Uis Pah” is a spiritual figure named Nune Benu. Nune Benu died in the age of 110 years; later on the belief was passed down to his son, Nama Beno. This dogma is still kept alive and it develops until now. The followers of the “Uis Neno” and “Uis Pah” dogma are mostly from the society of native of inner Boti, which is now called small kingdom of Boti. On the other hand, outside inner Boti, they tend to follow Christian and Protestant dogma, except the population originally from Marga Benu keeps stay with their belief. The formulation of problem in this study is how the form of “Uis Neno” and “Uis Pah” develops and its existence. Apart from that, how is the implication with toward the society of Boti. The concepts applied were community concept and religious theory. The concept and theory were supported by interview and library methods.

Key words: the village of Boti (inner Boti) the follower of “Uis Neno” and “Uis Pah”
http://varianwisatabudayasundakecil.blogspot.com


A. PENDAHULUAN
Heterogenitas kepercayaan masyarakat di daratan Timor, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), bukanlah suatu halangan untuk membina kerukunan di antara kehidupan masing-masing suku bangsa. Kendatipun demikian adanya sudah tentu masing masing suku bangsa ini memiliki cara pengungkapannya atau pandangan tentang wujud tertingginya dan selalu disesuaikan dengan tata adat masing-masing suku dan kebudayaan mereka. Misalnya di Flores Timur ada disebut dengan kepercayaan ”Lero Wulan Tana Ekan“,, orang Ngada: “Nggae Ndewa“, Orang Lio “Dua Gheta Lulu Wula, ”Nggae Chale Wena tana“, Sumba Barat“: “ Ndapa Nuna Ngara, Ndapa Teki Tamo”, Sumba Timur, “Pandanyura Ngara, Panda Tiki Tamu”. Manggarai,: “Mori Kraeng”, masyarakat Sikka ada disebut:Ina Nian Tana wawa, Ama Lero Wulan Reta, dan wujud-wujud kepercayaan lainnya yang masih banyak tersebar di pelosok desa di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Sederetan jenis kepercayaan di atas, bagi masyarakat Boti mereka menyandarkan hidupnya dari Uis Pah dan Uis Neno. Uis Neno dan Uis Pah sebagai wujud tertinggi tentang sebutan Tuhannya. Kekuatan-kekuatan ini yang sering memberikan petunjuk komunitas Suku Boti sebagai sebuah suku yang mendiami pedalaman di Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS). Mereka berkeyakinan bahwa semua yang berada di alam mempunyai jiwa. Jiwa atau roh bebas yang tidak terikat kepada sesuatu, dan dapat menggerakkan semua benda di alam. Dari pemahaman ini terbentuklah kepercayaan bahwa segala sesuatu yang berasal dari alam, dengan bantuan suatu ilmu atau secara kebetulan saja karena pengaruh roh dapat mendatangkan kebahagiaan atau kecelakaan. Dengan bantuan mantra-mantra, benda hidup atau mati dapat diisi dengan roh yang baik atau jahat. Dengan cara ini, seorang animis tidak saja dapat mencapai kehendaknya, tetapi dapat juga mencelakakan musuh-musuhnya.
Pandangan suku Boti itu sejalan dengan pandangan C.W. Leadbeater dalam bukunya “ Daerah Astral yang Berkaitan dengan Alam“ dalam (Suyono, 2007 : 82) menyebutkan, bahwa makhluk-makhluk yang dihormati maupun ditakuti yang berasal dari dunia astral dan dunia nyata. Bila ingin mengetahui lebih jauh, harus juga mengetahui lebih jauh petangan-petangan yang berhubungan dengan makhluk-makhluk ini. Dalam kontkes roh alam mereka juga menyatakan, roh alam memiliki banyak sekali jenis, mereka mempunyai ciri khusus. Roh alam bukan merupakan bagian dari manusia, mereka tidak juga akan menjadi manusia karena manusia sangat berbeda dengan mereka. Untuk sementara manusia menjadi tetangga, seharusnya menjadi tetangga yang baik, tidak saling mengganggu bila secara kebetulan berjumpa. Akan tetapi perbedaan antara mereka dengan kita sebagai manusia memang sangat besar sehingga hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk saling tolong-menolong. Roh halus dapat dikelompokkan memiliki tingkatan yang lebih tinggi.
Persamaannya dengan manusia adalah mereka sama tinggal di bumi bersama manusia. Orang Parsia misalnya mereka percaya dengan Tuhan yang utama adalah Zarvana Akarana di Pulau Jawa dinamakan Puman atau Pauman atau Maha Kuasa atau Maha Tinggi, (Suyono: 2007 : 51). Sebagai bentuk pemahaman dan pelestarian terhadap wujud warisan kepercayaan masyarakat Boti ini sekiranya yang perlu diungkap, mengingat masyarakat Boti sebagai sebuah desa tradisional yang masih memiliki keaslian dan keunikan tersendiri tentang sistem pengelolaan spiritual ini. Sebagai pengemban Budi luhur dari Kepercayaan ini dialah Nune Benu (almarhum).

POTRET DESA BOTI
Desa Boti terletak di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur, merupakan Desa lembah yang berkapur, terletak pada ketinggian 1500 m2 di atas permukaan laut. Desa terletak di sebuah lembah di tengah hutan, diapit berbagai bukit berkapur. Desa terkesan terpencil namun, memiliki potensi budaya yang luar biasa. Jalan desa sepanjang 7 Km belum beraspal dan masih alami dengan badan jalan dari bebatuan sehingga dapat menyulitkan warga masyarakat atau wisatawan yang ingin berkunjung ke desa. Desa dengan luas 16,5 m2, memiliki jarak 12 Km dari kota kecamatan, 64 Km.
Masyarakat yang mendiami Desa Boti berjumlah 2135 jiwa dengan 519 KK, dengan perincian: Laki 1035 dan perempuan 1100. Masyarakat yang mendiami Boti baik Boti Dalam maupun Boti Luar mayoritas Protestan dengan dihuni oleh 3 Marga yaitu Beno, merupakan marga terbesar di desa tersebut, kemudian Neolaka dan Tepamnasi. Teridentifikasi bahwa yang menganut Katolik adalah 92 Jiwa dari jumlah keseluruhan 2135 jiwa. Sedangkan penduduk ”Boti Dalam” 293 jiwa memeluk kepercayaan yang sangat ketat. Bagi penduduk Boti dalam yang tinggal di luar Boti dalam (Boti Luar) mereka tetap dengan tradisi dan kepercayaan yang mereka anut, mereka sangat taat dengan raja sebagai tokoh supra natural yang sangat berpengaruh (Nune Benu) ketika masih hidup sampai sekarang.

SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT BOTI
a. Rumah Adat
Rumah adat suku Boti, merupakan salah satu ciri dari ketradisionalan masyarakatnya, keseharian mereka tinggal di dalam rumah adat yang kondisinya juga sangat sederhana. Orang Atoni Dawan menggunakan istilah “Ume Mnasi” (Ume = rumah, Mnasi = Tua, adat). Orang Timor Dawan selalu hidup dalam suku, yakni dalam suatu kekerabatan. Rumah-rumah adat Boti berbentuk seperti sarang lebah, dengan atapnya yang hampir mencapai tanah. Sebuah rumah terdiri atas dua bagian yaitu bagian luar yang disebut Sulak, dan bagian dalam yang disebut Nanan. Bagian luar adalah diperuntukkan bagi para tamu yang berkunjung, tempat tidur para tamu dan tempat bagi anak-anak laki-laki sipenghuni yang sudah dewasa. Bagian dalam adalah tempat bagi keluarga penghuni untuk tidur, makan, dan juga tempat menginap bagi anak-anak perempuan yang sudah kawin, kalau ia datang berkunjung. Keluarga yang tidur dibagian dalam dari rumah, tidur di atas beberapa badai yang tersedia di situ, menurut kedudukannya di dalam keluarga tersebut. Rumah adat suku Boti ternyata bukan hanya sekedar tempat untuk berteduh tetapi punya makna lain bagi yang tinggal. Karena itu rumah dianggap mempunyai roh atau jiwa yang membangun kehidupan mereka.

b. Pakaian Adat
Umumnya sebuah kehidupan suku-suku bangsa yang masih tradisional memilki pakaian adat khas tersendiri, termasuk bahan dan cara pengolahannya mereka upayakan sendiri pula. Satu di antaranya dialah suku bangsa (etnic) Boti yang mendiami Desa Boti, Kecamatan Kei, Kabupaten TTS. Pakaian tradisional tata cara pemakaiannya ada ketentuan-ketentuan adat yang berlaku. Pakaian adat Boti sebagai unsur kebudayaan tradisonal dalam kehidupan yang nyata mempunyai berbagai fungsi, sesuai dengan pesan-pesan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Secara umum pakaian adat Suku Bangsa Boti, terdiri dari dua macam yakni pakaian adat untuk kaum lelaki dan kaum perempuan. Pakaian adat kaum laki-laki terdiri dari selimut lilit, selimut sandang dan destar. Sebagai asesorisnya, kaum lelaki memakai ikat pinggang tenunan, ikat pinggang berhias perak (paus noni), pundi-pundi perak atau tenunan berhias muti dengan segala perlengkapannya berupa tabung sirih pinang (tiba), tabung kapur (kal-aob), on-tuke, dos tembakau. Di samping itu mereka mengenakan muti sasak asli (jun leko) yang berasal dari Gujarat-India. Pakaian adat untuk kaum wanita, terdiri dari sarung lilit, ikat pinggang tenunan, kebaya atau tanpa kebaya, muti sasak, sisir perak. Ada pula yang menggunakan pending perak, hasil buatan orang Ndao.

c. Bahasa
Kelompok Bahasa Dawan dan Tetun memiliki wilayah pemakaian yang paling besar. Bahasa Tetun meliputi wilayah Belu Selatan, Belu Utara, Tasifeto dan Timor Leste sedangkan Bahasa Dawan meliputi Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Kupang (Amfoang, Futuleu dan Amarasi). Bahasa Dawan diklasifikasikan sebagai bagian dari cabang Bahasa Maluku dari keluarga Melayu-Polinesia, sejalan dengan bahasa-bahasa Maluku, Flores dan Sumba. (Bellwood, 1985 : 110). Orang Atoni menyebut bahasa mereka dengan istilah Uab Meto, Molok Meto atau Laes Meto yang artinya ucapan, bahasa dari manusia yang berdiam di daerah/tanah kering, daerah pegunungan dan pedalaman Pulau Timor.
Sebagai sebuah bahasa (alat komunikasi yang paling efektif) antar manusia, Bahasa Dawan juga memenuhi kriteria sebagai sarana pemberian arti dan makna kepada realitaas dunia dan manusia. Hal ini terlihat pada sifatnya yang tidak haya kemunikasi tetapi juga representatifatau simbolis. Sebagai sarana atau alat komunikasi verbal, Bahasa Dawan memiliki fungsi dan pemanfaatan yang luas untuk sastra lisan seperti doa-doa (onen), sumpah asall (fanu), syair-syair (ne), pantun-pantun (makanuan), peribahasa (naijur), perumpamaan (kleat), sindiran (uab polin = buang bahasa). Cerita historis, mistis dan legendaris (nuan), narasi adat (takanab/natoni) dan nasihat/petuah (basan). Bila ditinjau dari sifatnya yang kamunikatif Bahasa Dawan juga sebagai alat komunikasi dalam setiap doa kepada arwah leluhur (Be’I-Na’i), roh-roh (nitu) dan wujud tertinggi (uis Neno). Bila ditinjau dari sifatnya yang simbolis, Bahasa Dawan dalam pemakaian kata-katanya menampilkan bentuk sinonim

B. RITUAL DAN KEPERCAYAAN

a. Ritual.
Hubungan ritual dengan kepercayaan sesungguhnya telah berjalan sejak berabad-abad sebelumnya. Misalnya dalam greja katolik telah berkembang beberapa upacara antara lain Liturgi Ekaristi (Hadi, 2006 : xiii) dengan menggunakan berbagai macam bahasa, dan tanda-tanda ritual dalam bentuk-bentuk simbol ekpresif atau seni lainnya. Ffenomena ini muncul adanya pembentukan simbol ekpresif yang berbeda atau bervariasi (difrensiasi). Transpormasi simbolis itu adanya pengalaman yang disesuaikan dengan sosio-kultural masyarakat pendukungnya (inkulturasi ).
Fenomena di atas sebagai sebuah acuan dalam rangka memahami simbol ekpresif dalam proses pelaksanaan ritual pada masyarakat Suku Boti yang bermukim di Desa Boti, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Apresiasi masyarakat Boti (Boti Dalam) sebagian besar mengacu kepada bentuk simbol-simbol yang dikaitkan dengan pengetahuan filosofi masyarakat Dawan. Artinya simbol sarat dengan pembentukan simbol yang bernuansa Dawan, bahasa, lagu, pakaian upacaranya, dan perlengkapan lainnya. Lambang atau simbol ritual itu adalah sebagai proses inkulturasi budaya, warisan sosial maupun kepercayaan budaya Dawan, yaitu mengharapkan sebuah keselamatan sesuai dengan makna sebuah liturgi itu sendiri yakni perayaan atau upacara misteri karya penyelamatan Allah.
Fungsi ritual pada kehidupan masyarakat Dawan umumnya sangat menonjol, demikian pula pada kehidupan masyarakat dengan pola yang sama yaitu masyarakat Boti. Pelaksanaan ini cukup mendorong kesadaran religiusitas masyarakatnya. Berikut ini berbagai jenis ritual yang sering dilaksanakan oleh masyarakat Boti, khususnya masyarakat Boti Dalam dimana sentra kepercayaan berkembang. Berikut ini jenis-jenis ritual adat yang sering berlangsung selama ini:

b. Syukuran Adat
Upacara syukuran adat oleh masyarakat Suku Boti dilakukan setelah pasangan pengantin hidup serumah selama tiga tahun lamanya, selama tiga tahun ini menurut adat Boti, pengantin sudah seperti biasa melakukan aktifitas kehidupan berumah tangga, berekonomi. Selama tiga tahun ini sudah tentu pasangan ini mengalami berbagai cobaan dalam membangun rumah tangganya. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, diadakanlah upacara syukuran tiga tahunan yang merupakan sebuah upacara yang harus dilakukan oleh kedua mempelai.
Upacara ini menurut adat Boti sesungguhnya telah dipersiapkan sejak mulai mengarungi kehidupan rumah tangga mereka. Termasuk di dalamnya mengumpulkan bahan dan perlengkapan upacara. Mulai dari beras, sirih pinang, kopi, gula, kain adat, ayam, babi, kambing, bahkan hewan besar seperti sapi dan kebutuhan lainnya. Seluruh bahan yang disebutkan ini adalah tanggung jawab keluarga batih tadi. Mulai sejak itulah pasangan suami istri dinyatakan sah menurut hukum adat suku Boti, ini berarti proses waktu yang dibutuhkan oleh warga suku Boti untuk dapat hidup secara sah sesuai adat istiadat yang diwariskan leluhurnya, membutuhkan waktu 3 tahun lamanya. Menurut hemat penulis, berarti kehadiran orang-orang dalam pesta tadi merupakan saksi hidup sebuah perkawinan suku Boti. Selama tiga tahun pula, pasangan ini harus mempu mengendalikan diri, karena jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ritual perkawinan ini akan menjadi batal. Ritual memang tampak sangat sederhana namun memerlukan biaya yang lumayan besar, inilah kemungkinan merupakan salah satu alasan prosesi ritual diperpanjang sampai 3 tahun. Dengan waktu 3 tahun pasangan pengantin diharapkan dapat mempersiapkan diri seperti memelihara kambing, sapi, babi, ayam dan binatang lainnya. Kalau demikian halnya berarti ketua adat Suku Boti dalam hal prosesi pengesahan pengantin sangat-sangat toleransi yang luar biasa. Mereka mempertimbangkan dari aspek ekonomi, sosial dan budaya.

c. Ritual Kelahiran
1. Ritual Menjelang Kelahiran
Setiap suku bangsa mempunyai cara berbeda untuk meritual sesuatu yang mereka inginkan. Begitu juga adat Boti memiliki upacara yang disebut dengan upacara menyambut kelahiran bayi. Kelahiran bayi bagi sebuah keluarga Suku Boti diterima sebagai berkat paling berharga dari Tuhan Maha Pencipta. Sebagai ungkapan syukur mereka menyambutnya dengan sebuah upacara adat yang dapat dijelaskan Sesuai dengan adat Boti, bahwa bagi kaum ibu yang akan melahirkan, sang ibu bersama bayinya, hanya tinggal dalam rumah selama 4 hari, bersama seorang pembantu wanita yang secara khusus ditugaskan untuk menjaga, melayani dan merawatnya. Ada sebuah syarat lain yang dijalankan selama itu, bahwa tempat pembaringan ibu dan bayi tadi ditempatkan di dekat tungku api yang baranya selalu menyala.
Tradisi ini dilakukan, karena ada suatu kepercayaam yang menyebutkan bahwa kehangatan api bagi si bayi dan ibunya adalah untuk mendapat kekuatan, memulihkan tenaga, memberikan semangat hidup. Pembagian empat hari beristirahat bagi sang ibu merupakan saat untuk mengembalikan kelelahan tubuh yang amat menegangkan dalam hidupnya. Sedangkan 4 hari bagi sang bayi merupakan kesempatan pertama menikmati dunia baru, di mana ia mendapat kekuatan dari kehangan pelukan dan air kehidupan dari tetek ibunya, saat itu ia dengan bebas menangis, meronta-ronta menurut maunya. Sesudah 4 hari berlalu, ibu bersama bayinya diperkenankan keluar rumah, setelah melaksanakan upacara adat selanjutnya (Rumung, 1998 : 19).

2. Ritual Hari Keempat
Pada hari keempat setelah kelahiran atau setelah 4 hari lamanya mengurung diri dalam rumah, sekarang ibu bersama bayinya dilanjutkan dengan prosesi secara adat yang telah dipersiapkan para tetua adat setempat. Upacara ini sesungguhnya merupakan upacara syukuran, dengan berbagai kelengkapan seperti sirih pinang, tembakau, kopi, gula, beras, kelapa, ayam, babi serta kebutuhan lainnya telah tersedia. Ketika berlangsungnya upacara ibu bersama bayinya, ditemani pembantu yang merawat mereka, telah siap berdiri depan pintu rumah bagian dalam, sementara diluarnya telah menanti para tetua adat yang siap menyambutnya. Maka berlangsunglah tegur sapa dalam bahasa daerah Timor yang terjemahannya sebagai berikut :
Tua Adat (TA) : ”Kamu berasal dari mana ?”
Ibu Bayi (IB) : ”Kami berasal dari Lunu.”
Tua Adat (TA) : ”Kamu hendak kemana ?”
Ibu Bayi (IB) : ”Kami ingin ke Seki.”
Tua Adat (TA) : ”Untuk apa kamu ke sana ?”
Ibu Bayi (IB) : ”Mau memetik sirih dan pinang.”
Tua Adat (TA) : ”Kamu datang membawa apa ?”
Ibu Bayi (IB) : (Kalau bayinya perempuan ibunya menjawab)
”Kami datang membawa Ike dan Suti.” (Alat untuk menenun kain dan sarung).
Tua Adat (TA) : ”Bekerjalah dengan sepenuh hati untuk
memperindah
hidupmu.”
Ibu bayi (IB) : (Kalau bayinya laki-laki, ibunya menjawab)
”Kami datang membawa parang dan kapak”
Tua Adat (TA) : ”Bekerjalah dengan sungguh-sungguh
agar hidupmu Berhasil.”
Setelah dialog singkat di atas usai, ibu bersama anaknya keluar dari dalam rumah, menyalami tetua adat yang telah menanti di luar bersama warga setempat, sambil menikmati sirih pinang yang disuguhkannya. Selanjutnya ia diantar menuju sungai (mata air). Sesampai di tempat ini sang ibu mancelupkan kedua kakinya dalam air, kuku bayinyapun turut dibasuh dengan air. Dan setelah semuanya selesai dijalani, kembalilah mereka ke rumah, disambut keloneng gong dan gedebam tambur menggentabertalu-talu, tanda warganya ikut bersukaria karena telah bertambah satu lagi jumlah penduduk Suku Boti. Pada kesempatan itu pula pergelangan tangan dan kaki sang bayi tadi, dilingkari seutas benang berbentuk gelang sebagai simbul bahwa bayinya belum mempunyai nama panggilan. Berarti, ia harus menanti usianya 4 bulan, baru berhak memperoleh nama panggilannya sendiri, ( ibid, 1998 ).

3. Ritual Pemberian Nama
Sebagaimana halnya tradisi pemeberian nama pada bayi yang baru lahir umumnya berlalku pada setiap suku bangsa. Termasuk pada suku bangsa Boti yang jauh-jauh hari (4 bulan) telah dipersiapkan. Artinya kapan bayi berusia 4 bulan, saat itulah mereka melangsungkan upacara pemberian nama, dipimpin oleh tetua adat setempat. Di rumah orang tua si bayi, setelah dibentangkan selembar tikar yang di atasnya tardiri 2 buah tempurung di dalamnya berisi air yang sudah didoakan secara adat. Dihadapan warga yang hadir, air yang berada di dalam tempurung dipercikkan kepada si bayi yang dilakukan sendiri oleh tua adat.
Ada sebuah keunikan bahwa, untuk memulai acara pemberian nama, syaratnya harus menunggu bayinya menangis, masing-masing warga yang hadir secara bergiliran mengucapkan nama-nama yang ada hubungannya dengan silsilah keturunan warga suku Boti seperti : Molo, Nune, heka, Tosi, Woi, Wota, Sau, Liu, Uma, Nama, Muke, Kolo, serta sejumlah nama lainnya.
Seamdainya salah satu nama yang diucapkan tiba-tiba bayinya berhenti menangis, maka nama yang disebutkan terakhir itulah yang akan ditetapkan sebagai nama dari bayi tadi. Nama inilah yang nantinya menjadi nama panggilan bagi si bayi sepanjang hidupnya.
Menurut kepercayaan warga Suku Boti, ada makna tersirat di balik sikap menangis dan berhenti menangis dari sang bayi yang masih suci jiwanya. Menangis berarti ia meminta diberi nama. Berhenti dari menangis pertanda ia senang dengan nama yang diucapkan terakhir.

4. Potong Rambut
Tradisi potong rambut juga berlangsung pada setiap suku bangsa, namun tradisi tradisinya berbeda di antara masing-masing suku bangsa. Ada yang potong rambut setelah bayi itu berumur enam bulan, tetapi ada juga setelah ibu sang bayi mengandung seperti yang terjadi pada adat Boti Dalam. Potong rambut seperti ini sudah dilakukan tehadap anak-anak Suku Boti telah berlangsung sejak turun temurun. Karena itu, apabila kita melihat seseorang anak dari Suku Boti rambutnya dicukur, itu pertanda bahwa ibunya sedang mengandung. Tradisi ini telah diwarisi dari generasi sebelumnya, masyarakat setempat masih sangat melestarikan hal-hal yang sifatnya warisan dan tidak satupun warga suku Boti Dalam ada yang berani mengabaikan tradisi ini.
Kewibawaan Almarhum Nune Benu (Raja Boti) masih terbayang di kelopak matanya, apa yang dipesan ketika masih hidup memang tidak ada yang berani mengingkari, dan harus dilaksanakan. Ingkar, dia percaya bahwa dia akan mendapat hukuman setimpal dari Hyang Maha Kuasa yang menghuni Bumi Boti.

5. Ritual Kematian
Mereka percaya bahwa, kematian merupakan bagian dari kehidupan dan atas kehendak dari Hyang Maha Kuasa. Hidup dan mati merupakan kehendak yang ssenantiasa diketahui oleh Uis Pah dan Uis Neno. Namun, sesuai kepercayaan yang dianutnya, kematian bukan akhir dari segalanya. Sebab, dibalik kematian, ada kehidupan baru.
Sesuai dengan konsepsi kehidupan mereka bahwa, apa yang diperbuat manusia selama hidup di dunia, akan menentukan jalan hidupnya sesudah mengalami kematian. Semua perbuatannya selama di dunia entah perbuatan baik maupun yang jahat, akan selalu di ketahui oleh Uis Pah dan Uis Neno. Dan hanya perbuatan yang baik yang diterima sang khalik. Sedangkan perbuatan-perbuatan jahat akan mendapat hukuman dan ganjaran setimpal.Karena itu, peristiwa kematian Suku Boti merupakan kenyataan yang harus diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia dan harus diupacarakan secara adat.

6. Pemberitahuan tentang adanya warga yang meninggal dunia
Secara Adat, bila ada warga yang meninggal dunia, maka keluarga duka akan segera menyampaikan peristiwa kematian tersebut kepada kepala Suku Boti dan meminta petunjuk lebih lanjut untuk pelaksanaan acara penguburannya. Sesuai adat yang berlaku, setiap warga Suku Boti yang meninggal dunia, tidak boleh lebih dari satu hari jenazahnya disimpan di dalam rumah. Paling lama 1 hari sudah harus dikebumikan.
Mereka juga berpikir tentang kesehatan, efisiensi, dan menghindari rasa duka keluarga yang ditinggalkan berkepanjangan. Dalam hal kesehatan, jika yang meninggal memiliki penyakit menular agar keluarga, kerabat yang ditinggalkan yang terhindar dari serangan tersebut. Menghindari rasa duka yang berkepanjangan, jika mayat itu disimpan di rumah cukup lama. Efisiensi, maksudnya: menghindari beban masyarakat yang berkepanjangan terutama dalam menjaga mayat ketika masih tinggal di rumah, masyarakat pasti akan berdatangan siang dan malam.



7. Prosesi Penguburan
Prosesi penguburan bagi masyarakat Boti (Boti Dalam) berlangsung sangat sederhana. Bagi anggota keluarga yang salah seorang anggota keluarganya ada yang meninggal dunia jenazahnya tidak bisa dimasukkan ke dalam peti. Mereka hanya menggunakan 2 batang kayu bulat yang digunakan untuk mengusungnya dengan perlengkapan kain penutup jenasah yang sangat sederhana pula.
Penguburan ini diawali mempersiapkan sarana (semacam sarana) yaitu mempersiapkan uang kertas pecahan Rp 100 (seratus rupiah). Sebelum jenazah dikuburkan, terlebih dahulu salah seorang saudara perempuan dari orang yang meninggal dunia membuang ke (tanah) selembar uang kertas Rp. 100 (seratus rupiah) tadi. Uang tersebut kemudian dipungut oleh Toinamaf (orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab sekaligus pemimpin upacara).
Selanjutnya Toinamaf tadi berjalan paling depan menuju ke tempat pelaksanaan pemakaman Suku Boti yang bernama Ayo Fanu, diikuti pengusung jenazah dan warga setempat. Setiba di lokasi Toinamaf membuat goresan di tanah dengan uang seratus perak tadi, sebagai isyarat bahwa disinilah tempat kuburnya. Maka serentak, warga yang sudah ditugaskan, langsung menggalinya. Setelah digali, Toinamaf membuang uang 100 perak tadi ke dalam makam, disusul jenazahnya. Setelah ditutup dengan tanah, di atas makam diletakkan 1 tandan pisang, 2 buah kelapa, 7 butir jagung dan satu ekor anak babi yang telah dibunuh. Tujuannya adalah agar bahan makanan tadi memjadi bekal bagi si mati menuju alam baka. Ketika acara penguburan selesai dilaksanakan, Toinamaf bersama warga sukunya kembali ke rumah duka, mengikuti acara lanjutan, antara lain menikmati makanan, minuman yang telah disiapkan. Pada kesempatan itu, dibicarakan pula hal-hal yang berhubungan dengan rencana mengadakan upacara adat berikutnya.

8. Upacara Hari Keempat
Pada hari keeempat keluarga duka kembali membuat upacara adat. Dua ekor babi disemblih, satu besar, satunya kecil. Babi besar untuk makan bersama, sedangkan babi kecil untuk disimpan dalam rumah duka. Bersamaan dengan itu disiapkan dua buah tempat sirih pinang (okomama). Alat sirih pinang yang satu milik kaum wanita, namanya dalam bahasa setempat: Okusloi. Sedangkan milik kaum lelaki disebut Alumama. Kedua tempat sirih pinang itu digantungkan pada sebatang tiang yang ada dalam rumah keluarga duka. Dan alat-alat yang digantung tadi baru dapat dibuka setelah 3 tahun peringatan meninggalnya anggota keluarga mereka.

9. Peringatan 3 Tahun Meninggal
Bagi keluarga yang memiliki keluarga meninggal dunia dan sudah tiga tahun lamanya meninggal, maka menurut adat setempat dibuatkan upacara adat menurut adat setempat sebagai sebuah peringatan dan penghornatan kepada yang meninggal. Pada pelaksanaan upacara ini sirih pinang yang digantung pada tiang rumahnya, diturunkan dan dibuka isinya kemudian dibagi-bagikan kepada anak-anak yang mempunyai hubungan darah dekat serta orang yang sudah meninggal itu.
Menurut keyakinan Suku Boti, orang yang sudah meninggal mempunyai tanggung jawab menjaga dan menyuburkan lingkungan hutan disekitarnya. Karena itu, dipekuburan Ayo Fanu, warga setempat selalu membersihkan dan menanamnya dengan berbagai jenis pepohonan.
Sedangkan yang akan memberikan kesuburan terhadap tanaman-tanaman tadi merupakan tanggung jawab warga yang sudah meninggal dunia. Lingkungan pekuburan masyarakat Boti, dinaungi hutan lebat berbagai jenis pohon. Dalan hutan kuburan ini, dihuni berbagai jenis hewan liar dan aneka jenis burung.

10. Ritual Perladangan
a) Upacara Adat Menyambut Musim Panen
Pada setiap musim panen yang berlangsung setahun sekali, segenap warga Suku Boti selalu menyambutnya dengan mengadakan upacara adat yang dipimpin langsung kepala sukunya. Sebelum upacara dimulai, segenap warga Boti dilarang menikmati hasil panen mereka yang ada dikebun masing-masing. Apabila ada warga yang melanggar aturan adat tersebut, maka yang bersangkutan akan mendapat ganjarannya, berupa sakit atau musibah lain dalam hidupnya.
Upacara di atas berlangsung di hutan Fain Maten, tempat khusus bagi warga Suku Boti untuk mengadakan doa dan persembahan kepada Uis Pah dan Uis Neno. Bahan-bahan yang disiapkan antara lain : sejumlah alat masak-memasak, alat-alat makan dan minum, beras, babi, kambing, dan juga hewan besar seperti sapi. Hewan-hewan tadi akan disembelih sebagai hewan korban, bagian dari syarat adat. Juga disiapkan pula batangan jagung berbulir, tepung jagung dan jagung titi dicampur beras yang disimpan dalam tempat khusus.Bagi warga Suku Boti, hutan Fain Maten dianggap sebagai hutan keramat yang tidak boleh dimasuki oleh kaum wanita yang diperkenankan hanya kaum laki-laki. Karena itu, yang memasak dan melayani segenap warga yang mengikuti upacara syukuran panen di hutan Fain Maten, semuanya laki-laki.

b) Doa-doa dalam sistem perladangan
Dalam sistem perladangan tradisional, upacara dalam hubungan dengan pertanian diladang sangatlah penting. Demikian pula halnya dengan masyarakat peladang di Dawan memulai upacaranya dengan mencari tanah untuk membuka kebun baru. Awalnya bertanya dahulu kepada Mnane (dukun) tentang tanah mana yang cocok untuk digarap. Mnane menentukan calon tanah kebun baru berdasarkan firasat mimpi. Diadakanlah persembahyangan kepada Uis Neno. Sepotong bambu diambil dan dibelah empat atau delapan yang di sebut pepe. Belahan bambu tersebut ditancapkan di tanah yang akan dibuka dan Mnane berdoa. Sambil berdoa yang ditujukan untuk Uis Neno, memohon kesuburan dan mengelakkan bencana, Mnane menaburkan beras. Selesai berdoa dukun menyuruh mengerjakan penggarapan dan untuk itu dikorbankan seekor kerbau sebelum tanah dibersihkan.
Apabila bermaksud akan menggarap tanah yang dikuasai tuan tanah (tobe) maka diperlukan ijin sebelumnya. Si pemohon harus membawa persyaratan berupa hadiah uang perak dan sapi. Selain itu perlu dikorbankan kerbau sebagai sajian sebelum tanah dibuka. Kalau persyaratan tersebut diterima maka permohonannya oleh Tobe maka tanah boleh digarap. Sebagai tanda terima kasih si pemohon memberi Naksufan (bunga tanah) berupa muti (manik-manik) atau sebatang perak. Upacara meminta ijin diperkuat dengan upacara pada arwah nenek moyang (nai monef) bertempat di Hau Monef (tiang pujaan) dalam upacara ini dipersembahkan sajian di Hau Monef yang ditujukan untuk nenek moyang dan Liurai Sonbai. Setelah itu dilakukan pemujaan di dalam rumah tiang pujaan mainef. Doa-doa ditujukan untuk arwah nenek moyang dan dipimpin oleh Kepala Ume.
Sebelum penebangan pohon diadakan upacara mengasah parang. Upacara pertama diadakan disebelah tiang wanita ataupun tiang laki-laki (nimonef dan haumonef). Upacara dipimpin oleh klen atau orang yang tertua dengan berdoa (onen) yang ditujukan untuk nenek moyang laki-laki dan wanita untuk melindungi tanaman. Upacara dilakukan ditiang ni amaf yang merupakan tiang wanita untuk memuja nenek moyang. Sebelum penebangan dilakukan diadakan upacara makan bersama dan seluruh anggota keluarga yang akan ikut menebang pohon. Biasanya seekor kerbau disembelih sebagai sajian. Upacara dimulai dengan peletakan parang pertama kali oleh pemimpin upacara kemudian diikuti yang lainnya. Penebangan dilakukan dalam satu hari. Pada sore harinya dilakukan upacara setelah selesai penebangan. Seluruh anggota ume berkumpul untuk makan bersama dan untuk itu dikorbankan seekor kerbau atau beberapa ekor babi yang banyaknya tergantung dari jumlah ume yang ikut menebang pohon. Apabila dalam penebangan ditemukan pohon bercabang dua yang dianggap mengandung kekuatan gaib perlu diupacarakan pula dengan membeli pohon tersebut dengan membayar dengan umalen. Hewan-hewan perlu dikorbankan beberapa ekor bagi upacara pembakaran dalam kebun. Setelah pembakaran maka kebun boleh digarap. Upacara yang dilaksanakan adalah upacara Sifo nofo yang ditujukan untuk menetralisir keseimbangan kosmos. Bumi perlu didinginkan untuk mengurangi panas dan api. Dewa Uis neno diseru untuk memberikan kesuburan dan dewa uis pah dibuatkan tempat pemujaan di ladang yang digarap. Upacara-upacara sajian daging kerbau dipimpin oleh Tobe yang sambil berdoa menaburkan beras. Disamping itu disiapkan juga sajian untuk arwah leluhur. Tiang pemujaan uis pah disajikan tongkol jagung, rahang bawah babi dan kepala serta kaki kerbau.
Pada musim tanam tiba diadakan upacara yang dipimpin oleh tobe atau amaf yang jiga berfungsi sebagai penanam pertama. Dalam upacara ini kerbau dijadikan binatang korban. Sebelum panen dan sesudah panen (seki penak) diadakan upacara kepada uis pah. Upacara pebagian hasil panen kepada tobe dilakukan oleh kepala adat yang menguasai dan mengurus tanah kepunyaan suku. Kepala adat merupakan perantara antara penggarap, dewa tanah, dewa langit dan para nitu. Upacara terima kasih kepada dewa ini disebut dengan nointobe. Apabila panen gagal maka diadakan upacara untuk mencari sebab kegagalan dan mengembalikan ketidakwajaran yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Untuk itu diadakan upacara kepada uis pah. Dengan mengorbankan hewan berwarna hitam untuk memudahkan uis pah menarik awan hitam ke kebun untuk menurunkan hujan agar tanaman bertumbuh subur.


C. KEPERCAYAAN
1. Kepercayaan orang-orang Timor
Sistem kepercayaan asli inilah mewarnai segala perilaku dan tindakan ritual sepanjang pase kehidupan (lahir, kawin, mati) dan aktivitas ekonominya (upacara-upacara ritual menurut kalender pertanian). Masyarakat dikepulauan Timor yang bermukim di pedalaman sudah dari zaman dahulu adalah inzan beragama. Percaya akan satu wujud tertinggi merupakan hal yang mendasar dalam kehidupan mereka. Mereka telah memiliki suatu kepercayaan asli, yaitu Uis Neno yang menjadi pusat penghormatan terhadap Wujud Tertinggi. Meskipun pada masa kini banyak orang dipedalaman Timor sudah menganut agama-agama modern seperti kristen Katolik, Protestan dan Islam, tetapi masih banyak pula yang menganut dan mempertahankan kepercayaan asli Uis Neno.
Kepercayaan pada wujud tertinggi atau Tuhan diekspresikan antara lain dalam doa-doa atau ritus seperti ritus pertanian, kelahiran, kematian dan lain sebagainya. Ini akan menjadi sarana untuk menjalin relasi dengan alam, sesama dan Tuhan sendiri. Ini semua sudah diwariskan turun temurun dan telah berurat akar pula serta meresap dalam seluruh sendi-sendi kehidupan mereka. Kepercayaan ini cukup sulit dipisahkan, apalagi untuk dihilangkan begitu saja dari kehidupan mereka. Dalam segala situasi kehidupan, suka maupun duka. Uis Neno menjadi bahasa dialog mereka dengan Tuhan entah untuk memuji, memuliakan, bersyukur maupun untuk memohon kepadaNya.
Masyarakat di pulau Timor (Timor Tengah Selatan) memandang yang ilahi sebagai satu-satunya pemilik dunia dan kehidupan, serta pemberi makna dalam berbagai situasi dan kondisi hidup manusia. Hal ini terserap dalam kepercayaan kepada Uis neno. Karena itu, kebanyakan ritus-ritus selalu berkaitan dengan hidup yang konkrit seperti upacara mulai panen, sakit, bersyukur karena berhasil dalam usaha dan rencana, pemanggilan kembali jiwa-jiwa orang mati tidak wajar, membuat rumah adat, tempat ibadat dan masih banyak lainnya yang melekat dalam kehidupan mereka.
Maka manusia sebagai makhluk religius dan makhluk budaya, tingkah laku yang dimunculkan oleh kedua dasar tersebut telah berjalan dan sulit untuk dipisahkan. Sebagai contoh dapat dikemukakan upacara tradisional yang masih menjadi dasar utama bagi suku bangsa yang ada di pedalaman Pulau Timor (Timor Tengah Selatan) dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Menurut pandangan masyarakat terhadap kepercayaan Uis Neno, bahwa alam semesta yang indah ini diciptakan oleh Tuhan Yang maha Esa. Sehingga keindahan alam yang tidak dibuat-buat, yang asli, seharusnya mendorong manusia agar bersikap ramah, sederhana dan harmonis dalam hatinya terhadap alam yang memberikan segala-galanya bagi kelangsungan hidupnya. Alam memang sangat dibutuhkan oleh manusia, karena tanpa alam manusia dan makhluk lainnya tentu akan mati. Penyesuaian kebutuhan manusia terhadap alam dilakukan melalui berbagai pekerjaan dan tindakan, karena alam dalam bentuk alamiahnya memang belum cocok dan tidak sesuai dengan kebutuhan hidup manusia.
Seperti yang telah diuraikan di depan bahwa masyarakat asli di Nusa Tenggara Timur umumnya berpendapat bahwa alam semesta ini mempunyai kekuatan gaib dan semua kekuatan itu diperlukan dalam kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena alam mempunyai kekuatan tertentu dan sifatnya sangat rahasia, maka hidup manusia harus disesuaikan dengan tertib alam raya keseluruhan dan mengusahakan supaya ketertiban hubungan antara manusia dan alam tidak berubah. Manusia harus mengusahakan keseimbangan dan hubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang tersembunyi di dalam tiap-tiap bagian alam raya. Hubungan dan kerjasama ini, terutama dengan kekuatan gaib yang berada di langit dan yang berada di bumi, dwi tunggal yang dapat mempertahankan keseimbangan dan menjaga ketertiban totalitas antara manusia dan alam semesta, khususnya dengan alam lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya manusia tak dapat sembarangan berbuat sesuatu tanpa upacara, dan oleh orang Timor, hubungan antara kekuatan gaib langit dan bumi ini sebagai maromak oan dan Liurai yang dianggap sebagai pemerintahan dipusat pulau Timor.
Telah dijelaskan bahwa alam diciptakan oleh Tuhan. Pada tiap-tiap bagian alam raya ini tersembunyi adanya kekuatan-kekuatan gaib yang menurut masyarakat yang berkepercayaan Uis Neno adalah suatu pertanda kemurkaan Tuhan atas perbuatan manusia terhadap alam sekitar, khususnya lingkungan dimana manusia bertempat tinggal. Apabila manusia tidak dapat menjaga keseimbangan dan ketertiban antara alam dalam hubungannya dengan kekuatan-kekuatan gaib itu, maka manusia akan mendapat siksa antara lain berupa: wabah penyakit, bencana alam, kelaparan, kemiskinan, kemelaratan dan lain-lain penderitaan. Oleh karena mereka juga selalu mengadakan upacara-upacara dengan merenungkan apa yang diinginkan dan ini selalu diarahkan kepada Tuhan dan nenek moyang untuk memohon perlindungan dan pertolongan.
Menurut masyarakat yang meyakini kepercayaan Uis Neno, alam mempunyai manfaat besar bagi kelangsungan hidup manusia. Manusia tidak dapat hidup bila sudah satu unsur dari alam rusak. Udara, tanah dan air, serta segala sesuatu yang hidup dialam adalah menciptakan dari alkhalik untuk keperluan kehidupan manusia dan hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Meskipun demikian manusia berkewajiban menjaga keseimbangan dn kelestarian sehingga kehidupan itu menjadi langgeng dan bermanfaat pula bagi kehidupan manusia baik secara fisik materiil maupun secara mental spiritual. Karena alam dan manusia, satu adanya maka ketergantungan itu tentu dapat diatur sesuai dengan norma-norma kehidupan yang baik.

2. Kepercayaan Boti Dalam.
Suku Boti yang mendiami Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah penganut aliran kepercayaan asli yang diturunkan leluhurnya dan kini masih tetap hidup dan berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Menurut Wens John Rumung, (1998:9), Mone Kaka, dkk. (2007:96-97), dalam penelitiannya menyebutkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang tertinggi derajatnya diantara mahkluk ciptaan lainnya. Menurut kepercayaan tersebut, di dalam hidup ini, manusia memiliki dua penguasa jagat yang harus ditaatinya yaitu: Penguasa alam di dunia yang disebut Uis Pah, sedangkan penguasa alam baka disebutnya Uis Neno.
Uis Pah dihormati dan disembah karena Dialah yang menjaga, mengawasi dan melindungi hidup manusia beserta seluruh isisnya yang ada di ala mini. Sedangkan Uis Neno disembah karena perananNya yang menentukan apakah manusia masuk surga atau neraka. Sesuai ajaran yang dianutnya, Suku Boti percaya bahwa apa yang diperbuat selama manusia hidup di dunia akan ikut menentukan jalan hidupnya diakhirat nanti. Sikap Hidup baik dan benar semasa di dunia akan menuntun manusia kepada kehidupan kekal abadi di surga. Suku Boti sangat patuh dengan dengan apa yang diamanatkan oleh ketua sukunya. Mereka sangat percaya dengan sang sesama dan lingkungannya yang dapat membahagiakan lingkungannya. Mereka bertindak semena-mena percaya dia akan mendapat hukuman dari Uis Pah dan Uis Neno. Demikian oula sebaliknya, bagi yang berbuat baik akan mendapat pahala dari sang khaliknya berupa berkat,perlindungan dan keselamatan. Kewajiban saling membantu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan antar sesama. Perilaku seperti inilah yang selalu muncul dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku itu di antaranya ialah seperti membersihkan ladang, berkebun, menjaga dan merawat lingkungan, menjaga tempat tinggal serta saling menjaga hubungan antar warga. Ketatnya adat yang mereka warisi mereka tetap pertahankan sampai kini, mereka hidup mempertahankan tradisi ini penuh dengan kesederhanaan dan keikhlasan.
Sebelumnya, keseharian komunitas Suku Boti dipimpin oleh seorang tokoh supranatural legendaris ” Nune Benu” (almarhum) yang meninggal di usia 110 tahun tepatnya tangal 20 Maret 2005. Merekalah pemegang tahta kerajaan Boti yang tetap mempertahankan kepercayaan yang mereka anut sepanjang hayat. Sekarang tahta kepemimpinannya diwariskan kepada putra mahkota (Nama Benu) termasuk melanjutkannya kepemimpinannya dalam bidang kepercayaan yang mereka anut bersama masyarakat pendukungnya.
Nama Benu lah yang selama ini yang paling diharapkan akan menentukan nasib komunitasnya, walaupun masih muda, namun di (Nama Benu) sudah mendapat tuntunan dan bimbingan dari orang tuanya. Mereka telah dibekali sejak kecil pengetahuan tentang kepemimpinan termasuk pengetahuan tentang ajaran kepercayaan yang mereka anut. Nune Benu ketika masih hidup berkeyakinan putranya akan mampu melanjutkan apa yang mereka warisi. Sepertinya putranya sudah dipersiapkan sedemikian rupa, dan sang putra mahkota memang sudah siap menerima tahta. Hal ini didasarkan atas fakta yang terjadi ketika penulis berhadapan langsung dengan masyarakat Boti, khususnya Boti Dalam.
Kesederhanaan mereka, mereka mampu hidup dengan damai dan sejahtera dalam menuntun kehidupan sehari harinya. Kehidupannya selalu dituntun oleh kepala suku agar komunitasnya selalu bertindak dan berbuat baik dengan sesama maupun terhadap lingkungan. Terhadap lingkungan alam yang dimaksud adalah memeberikan pelestarian, perawatan terhadap hutan, kegiatan ini oleh masyarakat Boti merupakan persembahan yang mulia kepada Uis Pah dan Uis Neno. Mereka sangat yakin bahwa dengan perbuatan seperti begitu akan memperoleh pahala dari sang Khaliknya berupa berkat, perlindungan dan keselamatan. Mereka juga berkeyakinan jika terjadi perusakan alam sang kaliknya akan murka luar biasa. Adat yang mereka anut sangat ketat serta dipatuhi oleh semua komunitasnya.
Nune Benu sebagai tokoh supranatural memiliki kemampuan yang luar biasa, Nune Benu mampu meneropong dan meramal segala persoalan dari kediamanya termasuk meneropong persoalan yang berkaitan dengan bangsa dan negara. Mereka yang datang ke Boti ingin berniat jahat jangan harap kembali dengan selamat. Niat jahat mereka sudah diketahui sebelumnya. Bagi yang pelaku memang harus meminta maaf dengan tulus ikhlas kepada sang tokoh ini.
Seperti penuturan Dominggus (Dinas Parsenibud TTS), mereka pernah dimintai untuk meramal siapa bakal calon pemimpin bangsa Indoensia di masa mendatang. Ketika itu terjadi hajatan besar bangsa yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden. Nune Benu dengan sejujurnya mengatakan bahwa yang akan memimpin bangsa ini ke depan adalah ditunjuk waktu itu adalah presiden sekarang yaitu Bapak Susilo Bambang Yudoyono.
Nune Benu selama hidupnya memang terkenal juga sebagai pengabdi budi luhur, artinya semua yang digerakkan berdasarkan tulus ikhlas, rasa cinta, dan hormat kepada masyarakat. Memiliki kepribadian suka menolong merupakan sikap yang dibawa ketika masih muda, inilah merupakan salah satu dasar kenapa komunitasnya sangat mencintainya. Mereka juga orang yang dermawanan, pemurah untuk mengatasi segala persoalan yang terjadi di masyarakatnya. Sistem gotong royong pada komunitasnya masih berlaku sampai sekarang, terutama dalam pembangunan ”infrastruktur” di desanya. Dalam konteks keselamatan desa yang mereka huni, masyarakat Boti (sebutan Boti Dalam) memiliki berbagai doa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang digambarkan sebagai berikut :

a) Doa Syukuran Kepada Uis Pah
Kewenangan memimpin Doa syukur ini adalah Kepala Suku Boti. Doa ini dilakukan di depan Tola semacam altar yang terbuat dari sebatang kayu yang berdiri tegak, kurang lebih 2,6 meter tingginya, dasar ditancapkan ke tanah sebagai penyangga. Altar yang disusun dengan batu ceder sebagai tempat untuk mengumpulkan persembahan oleh masyarakat Boti. Sebagai sebuah tanda kehadiran komunitas, tokoh adat meniupkan suling yang sedia kala ada di leher, segenap warga yang hadir pada upacara ini sudah tahu dari maksud dari bunyi suling tadi. Dengan sendirinya mereka akan datang ke altar. Sementara itu, warga yang ingin menyampaikan persembahan kepada sang dewa, akan membawa 4 batang jagung lengkap dengan bulirnya dan diletakkan di dekat altar persembahan. Selesai menghaturkan persembahan-persembahan tadi, pimpinan upacara (kepala Suku Boti) akam menutupnya dengan memanjatkan doa, memohon kepada Uis Pah agar meneruskan doa-doa persembahan mereka yang amat sederhana itu kepada Uis Neno

b) Doa Syukuran Kepada Uis Neno
Usai mengadakan doa syukuran kepada Uis Neno, kemudia dilanjutkan dengan doa syukuran kepada Uis Neno yang dipimpin langsung oleh Kepala Suku Boti. Tempat doanya terletak di puncak bukit Fain Maten. Untuk mencapai tempat doa tersebut kita harus menapaki 73 anak tangga, yang dibangun dari batu alam. Pertama-tama, kepala suku berjalan paling depan menuju ke tempat doa, menapaki 73 anak tangga. Setelah tiba, dari puncak bukit, Kepala suku tadi meniupkan suling, sebagai pertanda bagi warga yang ada di bawah bukit segera menuju ketempatnya berada dekat altar persembahan yang berada di bawah pohon beringin tua.
Setelah semua hadir, pimpinan upacaranya menyampaikan doa sebagai ungkapan syukur atas perlindungan dan keselamatan yang diberikan Uis Neno kepada warga Boti, melalui hasil panen. Selesai berdoa, dilanjutkan dengan menyembelih seekor babi berbulu hitam. Darah segar pertama diteteskan pada batu persembahan yang sudah disiapkan dekat altar. Kemudian dilanjutkan dengan meletakkan 3 kumpul tepung jagung , dan tiga kumpul jagung itu di campur beras (setiap kumpul satu genggam) di batu yang juga telah disediakan. Baru setelah itu, disimpan bulir-bulir jagung disekitar altar. Semua bahan persembahan ini disampaikan kepada Uis Neno. Sebagai penutup upacara, Kepala Suku Boti Nune Benu memanjatkan doa kepada Uis Neno bahwa apa yang mereka persembahkan itu jauh dari kesempurnaannya dan memohon dengan segala kerendahan hati, kiranya sang dewa sudi menyempurnakannya, seraya memohon berkat dan perlindungan bagi segenap warga Suku Boti agar jauh dari dosa, musibah dan aneka bencana.

c) Doa Syukuran Kepada Pah Tuaf
Setelah doa syukuran yang dipanjatkan kepada Uis Neno dan Uis Pah, masih dilanjutkan lagi dengan doa syukuran kepada Pah Tuaf (tuan tanah). Doa tersebut patut dipanjatkan karena telah menjaga dan mengawasi harta milik mereka, baik yang berada di dalam rumah maupun diluar rumah.Selain berdoa, diteruskan dengan menyembelih seekor kambing berbulu hitam, darahnya yang pertama ditadah pada sebuah wadah terbuat dari bahan lokal dan diteteskan ke atas batu yang sudah disiapkan. Lalu disusul dengan menyimpan 3 kumpul tepung jagung dan 3 kumpul jagung itu dicampur beras pada batu yang juga sudah disiapkan. Dan dipenghujung acara ini, Kepala Suku Boti tak lupa memohon, kiranya Pah Tuaf selalu menyertai mereka dalam hidup sehari-hari. Setelah seluruh rangkaian selesai, maka kembalilah segenap warga Suku Boti ke rumah mereka masing-masing untuk mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam memanen hasil bumi di ladang. Rangkaian acara adat Boti dilakukan secara rutin dan menjadi tontonan menarik bagi wisatawan manca negara.
Ajaran hubungannya manusia dengan alam, manusia dengan manusia , manusia dengan tuhan memang telah terkonsepsi dan telah teraplikasi dalam kehidupan masyarakatnya. Hubungannya manusia dengan alam, bahwa masyarakat Boti Dalam sebagai penganut Uis Neno dan Uis Pah memang sejak generasi sebelumnya telah mewarisi tradisi melestarikan lingkungan alam. Mereka percaya bahwa manusia selalu menyandarkan kehidupannya kepada alam semesta, manusia tanpa alam niscaya dia bisa hidup. Masyarakat Boti Dalam melalui tokoh Nune Benu melarang masyarakatnya melakukan penebangan secara liar karena dianggap dapat menyengsarakan kehidupannya. Bahkan jika ketahuan melakukan penebangan pohon akan diberikan sangsi.
Terhadap alam flora (binatang), mereka juga memperlakukan sama, mereka melarang melakukan perburuan terhadap satwa (burung-burung) baik yang dilindungi oleh pemerintah maupun binatang yang dipiara oleh penduduk. Bagi mereka yang melakukan pencurian terhadap binatang ternak, mereka diberikan hukuman bukan fisik, tetapi sebatas hukuman pembinaan yang memalukan. Misalnya ada salah seorang komunitas yang mencuri ayam dan terpergok, maka komunitas secara beramai-ramai memberikan mereka ayam kepada sang pencuri. Tujuannya tiada lain adalah agar sang pencuri menjadi malu. Bentuk hukuman yang sangat sederhana ini di samping sebagai model pembinaan, juga semacam pelajaran agar kelak dia tidak mengulangi perbuatannya. Sanksi ini diperlakukan sama terhadap pencuri yang mencuri barang-barang lainnya dengan membantu memberikan barang sejenis yang dicuri secara beramai-ramai.
Berangkat dari kesederhanaan mereka, bahwa bagi komunitas tertutup Boti Dalam sebagai penganut Uis Neno dan Uis Pah memiliki tata cara dan prasarana ritual sebagai pedoman bertingkah laku dalam melaksanakan ritual kepercayaannya. Demikian pula terhadap hari-hari besar dan hari-hari suci sangat mendominasi kehidupan mereka.

V. PENUTUP
Kepercayaan masyarakat Desa Boti, khususnya komunitas Boti Dalam kepercayaan masih tetap hidup dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakatnya. Kepercayaan ini berkembang tak terlepas dari peranan Nune Benu sebagai tokoh yang sangat dihormati sebagai penuntun dan pembina ketika dia masih hidup. Sepeninggal Nune Benu, kepercayaan yang mereka anut akhirnya dilanjutkan oleh putra mahkota Nama Benu yang juga merupakan orang kepercayaan komunitas Boti Dalam.
Kepercayaan ini dapat bertahan hidup, karena memang benar-benar sebagai penerang jalan hidup bagi komunitasnya sebagai pendukung yang setia. Sisi lain kebertahanan ini yaitu terletak pada ritual-ritual yang dilaksanakan oleh komunitas pendukung di setiap kesempatan dan dilakukan secara rutinitas. Implikasi terhadap masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan adalah terbinanya masyarakat yang patuh, jujur, hormat dan setia kepada pemimpin suku. Dengan menganut kepercayaan ini komunitas pendukung mampu hidup mandiri tanpa terkontaminasi oleh peradaban global. Semua kebutuhan sandang dan papan adalah hasil produksi ” negeri sendiri ”tanpa ”mengimport” sedikitpun. Jika hasil produksi berlimpah mereka jual ke pasar terdekat, dikhawatirkan akan terjadi penumpukkan hasil produksi dan tidak dapat dikonsumsi secara baik. Pelaksanaan ritual masih tetap berlangsung khusuk, salah satu bukti yaitu yang terjadi di Boti Dalam masih berlangsung berbagai ritual di antaranya: daur hidup, upacara kematian, dan ritual dalam hubungannya dengan pertanian. Upacara ini berlangsung sebagai sebuah tradisi yang tiada henti-hentinya atas binaan dari para pendahulunya yang sekarang dilanjutkan pula oleh penerusnya yaitu dari keluarga Nune Benu dan komunitasnya.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Monografi Desa Boti.Ttahun 2006.
Bell, Alexander dkk. 2006 Upacara Siklus Kehidupan Masyarakat Suku Boti Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kupang: UPTD Arkeologi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Hadi, Y. 2006. Seni Dalam Ritual Agama. Yogyakarta: Pustaka
Koentjaraningrat.1980. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta :Universitas Indonesia.
Mone Kaka.2007. TTS KU FIRDAUSKU. Timor Tengah Selatan: Dinas Parsenibud.
Nuryahman. 2002. Inventarisasi Organisasi Penghayat Kepercayaan di Propinsi Nusa tenggara Timur. Denpasar : Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya, Bagian Proyek PPST Bali.
Rasi, Pius.dkk. 2006. Nilai Ritus dan Upacara Adat Suku Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Jakarta: Direktorat Tradisi.
Rumung, Wens John.1998. Misteri Kehidupan Suku Boti. Kupang : Yayasan Boti Indonesia.
Suyono, R.P. 2007. Dunia Mistik Orang Jawa. Yogyakarta : LkiS.
Tim Peneliti. 2007. Sistem Pemerintahan Tradisional Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS). Kupang : UPTD Arekeologi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Tim Peneliti. 2007. Sejarah Raja-Raja Timor dan Pulau-Pulaunya. Kupang : UPTD Arekeologi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Tim Peneliti. 2007. Kajian dan Peranan Moko Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Alor Kupang : UPTD Arekeologi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Peta