Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

Jumat, 30 September 2011

Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Renaissance



I Gusti Ngurah Jayanti

Proses perkembangan kebudayaan manusia di dunia tidaklah selalu berjalan secara serentak atau dalam satu garis yang sama, tetapi kebudayaan tersebut akan berkembang sesuai dengan arah dan mentalitas pendukung kebudayaan tersebut menerima hal-hal baru, untuk kemajuannya. Kebudayaan berubah atau berkembang secara lambat dari tingkat yang sederhana menuju yang lebih tinggi dan komplek atau sering disebut berevolusi (A. F. Saifuddin, 2006 : 99). Begitu pula yang terjadi di dalam kebudayaan Eropa, di mana mengalami suatu proses perkembangan kebudayaan yang berjalan secara perlahan dan tentunya di setiap zamannya memiliki pola-pola tertentu yang digunakan lebih dominan sebagai ciri atau tanda pada setiap zaman, sebagai ciri kemajuannya. Para ahli biasanya untuk mempermudah mengklasifikasi atau mempelajari sejarah kebudayaan masa lampau senantiasa menggunakan patokan-patokan tahun, berdasarkan beberapa pertimbangan atau alasan-alasan tertentu. Zaman Klasik misalnya dipatok antara 400-500 dan selanjutnya 500-1500 disebut abad Pertengahan dan 1500-ke atas selanjutnya disebut Zaman baru.

SEKILAS FILSAFAT TAOISME: YANG CHU



I Gusti Ngurah Jayanti


-          Para Penganut Taoisme Dini dan Para Pertapa
            Para penganut Taoisme bermula pada manusia-manusia yang kebanyakan hidup di alam kodrat jauh terpisah dari manusia-manusia lain. Para penganut Taoisme bukan pertapa biasa yang melarikan diri dari dunia yang ingin mempertahankan kemurnian pribadi mereka, bahkan sebaliknya, mereka adalah orang-orang sesudah hidup secara mengasingkan diri, berusaha untuk menyusun suatu sistem pemikiran yang kiranya dapat memberi makna kepada tindakan mereka. Diantara mereka Yang Chu merupakan tokoh utama yang paling dini.

Rabu, 28 September 2011

INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT SAREN JAWA DENGAN KAUM BRAHMANA BUDHA DI DESA BUDAKELING KARANGASEM

INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT SAREN JAWA DENGAN KAUM BRAHMANA BUDHA DI DESABUDAKELING  KARANGASEM


I Made Suarsana

ABSTRAK
        Masyarakat Bali adalah masyarakat religius yang masih melestarikan warisan budaya leluhurnya yang adiluhung. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa selalu menjadi pegangan atau pedoman bagi masyarakat Bali dan sekaligus memberikan inspirasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Antar umat beragama terjadi interaksi sosial dan toleransi yang demikian tinggi, sehingga kehidupan masyarakat antar umat yang berbeda agama terjalin harmonis, saling harga menghargai dan hormat menghormati.  Demikian halnya interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat Saren Jawa dengan Kaum Brahmana Budha di Desa Budakeling Karangasem.
        Penelitian interaksi sosial masyarakat Saren Jawa dengan Kaum Brahmana Budha di Desa Budakeling Karangasem ini menghasilkan pokok simpulan bahwa interaksi sosial atau hubungan kemasyarakatan antara masyarakat Saren Jawa yang beragama Islam dengan kaum Brahmana Budha yang beragama Hindu terjalin dengan baik, penuh toleransi, saling harga menghargai, hormat menghormati, dan saling tolong menolong. Latar belakang historis dan politis tidak menjadi masalah bagi mereka dalam hidup bermasyarakat, justru latar belakang historis dan politis tersebut pada akhirnya menyatukan mereka dalam satu kesatuan hidup di Desa Budakeling Karangasem.

Kata Kunci :  Interaksi sosial, masyarakat Saren Jawa, kaum Brahmana Budha.

Sabtu, 10 September 2011

KEBUDAYAAN DAN LINGKUNAN DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI


RESUME BUKU
DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI
Penulis: Dr. Hari Poerwanto
Cetakan I, November 2000
Penerbit, Pustaka Pelajar 

Oleh:
I Gusti Ngurah Jayanti


BAB III PERSEBARAN DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN
3.1. Pewarisan dan Perkembangan Kebudayaan
           Dalam antropologi, sebagian besar ahli telah sepakat bahwa kebudayaanlah yang membentuk mahluk manusia, bukan alam sekitarnya. Itu ditandai akan keberhasilan mereka mengolah alam untuk mencapai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Mahluk manusia selalu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi disekitarnya sehingga melahirkan suatu pola-pola tingkah laku yang baru. Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan tidak terpisahkan, dan mahluk manusia adalah pendukung kebudayaan.
            C. Kluchohn, menekankan bahwa kebudayaan merupakan proses belajar dan bukan suatu yang diwariskan secara biologis. Ini berarti kebudayan merupakan pola tingkah laku yang dipelajari yang disampaikan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Ada tiga proses kebudayaan yang penting, yaitu dalam kaitannya dengan manusia sebagai mahluk hidup, dan sebagai bagian dalam suatu sistem sosial.
  1. Proses Internalisasi ialah proses belajar kebudayaan yang berlangsung sejak dilahirkan sampai mati, yaitu dalam kaitannya dengan perkembangan perasaan, hasrat, emosi dalam rangka pembentukan kepribadian.
  2. Proses Sosialisasi yaitu Mahluk manusia adalah bagian dari suatu sistem sosial, maka setiap individu harus selalu belajar mengenai pola-pola tindakan, agar ia dapat mengembangkan hubungan-hubungannya dengan individu-individu lain di sekitarnya.
  3. Proses enkulturasi yaitu seseorang harus mempelajari dan menyesuaikan sikap dan alam pikirannya dengan system norma yang hidup dalam kebudayaan.

Jumat, 09 September 2011

LOGIKA SELAYANG PANDANG


RESUME BUKUFilsafat Logika
Judul: Logika Selayang Pandang, Penerbit Kanisius,
Jl. P. Senopati 24 Yogyakarta,
Tahun 1983

 Oleh:
I Gusti Ngurah Jayanti

Logika ialah ilmu pengetahunan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Ilmu pengetahuan ialah kumpulan pengetahuan tentang pokok yang tertentu. Kumpulan tersebut, merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberi penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu logika juga merupakan suatu keterampilan untuk menerafkan hokum-hukumpemikiran dalam praktek. Inilah sebabnya logika disebut filsafat yang praktis. Berpikir adalah objek material logika. Berpikir di sini ialah kegiatan pikiran, akal budi manusia.

Peta