Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

Kamis, 03 November 2011

KEGIATAN PERKUMPULAN BALI DARMA LAKSANA PADA MASA KOLONIAL


PADA MASA KOLONIAL


I Gusti Ngurah Jayanti

ABSTRAK
Perkembangan pendidikan masa kolonial di Bali sangat di pengaruhi oleh  perkembangan pendidikan di Pulau Jawa. Pemuda-pemuda Bali yang memiliki semangat untuk mengenyam ilmu pengetahuan banyak yang bersekolah di Jawa.Pemuda-pemuda Bali yang telah menempuh pendidikan inilah mulai mengembangkan pendidikan modern di Bali. Para pemuda banyak mewadahi dirinya dengan mendirikan perkumpulan yang salah satunya terbentuk adalah perkumpulan Bali Darma Laksana (BDL). BDL memfokuskan arah perjuangannnya dengan melakukan pencerdasan terhadap masyarakat untuk setidaknya mulai menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Disinilah BDL dalam aktifitasnya melakukan gerakan kemasyarakat Bali mengajak agar orang tua mau menyekolahkan anak-anaknya. BDL juga membuka kursus-kursus gratis kepada masyarakat. Selain itu menerbitkan sebuah majalah Djatajoe untuk memberikan penerangan dan pemikiran terhadap masyarakat khusunya di Bali.
Kata Kunci: Perkembangan Pendidikan, Bali Darma Laksana, dan kolonial.

ABSTRACT
Education development in colonial era in Bali is very influenced by the education development in Java. A lot of Balinese young men who have passion to received knowledge got his school in Java. Those Balinese youths who had education began to develop modern education in Bali. The young men accommodate themselves by founding a lot of associations and one of those associations is Bali Darma Laksana (BDL). The struggle of BDL focused to educate the society at least begins to raise awareness in the importance of education. BDL did Balinese social movement to invite Balinese parents should send their children for school. BDL also opened free courses to the public. Moreover it also published Djatajoe magazine to provide information and consideration to the society especially in Bali
Keywords: Education Development, Bali Darma Laksana, and colonial.


A.    PENDAHULUAN
Pendidikan mulai dikembangkan oleh pemerintah colonial Belanda. Pengembangan ini diupayakan untuk dapat mengisi bagian-bagian administrasi pemerintahan. Untuk kepentingan tenaga administrasi itulah pememerintah colonial Belanda mulai memikirkan untuk mendirikan sekolah-sekolah dasar di tanah jajahannya. Pada awal pembentukannya diupayakan sekolah-sekolah yang dapat mendidik pada warga bumiputra untuk dapat dijadikan pegawai Pemerintahan Belanda. Politik kolonial Belanda pada prinsipnya ingin menanamkan pengaruhnya lewat berbagai cara antara lain melalui bidang pendidikan. Kemajuan pendidikan di Bali dengan Jawa jauh ketinggalan. Hampir selama peperangan berlangsung di Bali dari tahun 1846 sampai 1908 hanya terdapat sebuah sekolah di Bali yaitu sekolah pertama yang bernama Tweede Klasses School yang didirikan pada tahun 1875 di Singaraja.[1]
            Perkembangan pendidikan di Singaraja pada awalnya membawa dampak pada golongan jaba, di mana golongan jaba lebih maju dibandingkan dengan golongan tri wangsa. Perkembangan selanjutnya, sejalan dengan politik kolonial, Belanda berusaha memisahkan hak-hak golongan triwangsa dengan golongan jaba sehingga memperlebar jurang pemisah antara status kedua golongan tersebut. Dalam bidang pemerintahan akhirnya golongan jaba mendapat hambatan-hambatan karena berbagai persyaratan. Rupanya sistem pendidikan kolonial memberikan warna tersendiri dalam masyarakat di beberapa daerah di Indonesia seperti halnya yang dialami oleh masyarakat di Bali.[2]  
Pada tahun 1907 pemerintah berhasil membuka tiga tempat di Bali yaitu di Bubuan (Buleleng), Gianyar dan di Denpasar. Pada tahun itu juga di Pabean Singaraja dibuka sebuah sekolah Tionghoa bernama Tionghoa Hwee Kwan, seperti halnya sekolah-sekolah Tionghoa lainnya yang ada di Hindia Belanda (Putra Agung, 1984: 24).
Kota Singaraja sebagai ibu kota Keresidenan Bali dan Lombok, dilihat dari segi pendidikan masih sangat mundur dibandingkan dengan wilayah Jawa pada kala itu. Sekolah-sekolah masih sangat terbatas didirikan. Hal inilah yang menyebabkan juga sebagai kendala bagi pemerintah Belanda kesulitan mendapatkan tenaga administrasi dalam bidang urusan kepemerintahan. Dalam usaha mendapatkan tenaga administrasi yang dirasakan sangat mendesak maka mulailah dibukanya Nomaal-cursus di Kota Singaraja yang khusus mendidik calon-calon guru dari kalangan orang Bali sehingga tidak lagi mendatangkan guru-guru dari Jawa. Untuk selanjutnya pada bulan November 1914 Pemerintah Hindia Belanda secara intensip membuka sekolah-sekolah tingkat dasar di beberapa desa untuk kalangan kaum bumiputra. Sedangkan sekolah yang ada di daerah Bali Utara adalah Sukasada dan Kubutambahan. Pada perkembangan selanjutnya tahun 1920 bertempat di desa Sudari dibuka sebuah Tweede Klasse Indandsche School.
Pemerintah Hindia Belanda masih menemukan berbagai kendala terutama dalam berinteraksi dengan penduduk pribumi. Terutama penduduk pribumi dengan orang-orang Belanda yang mengurus tentang administrasi pemerintahan. Mereka kesulitan dalam berkomunikasi, baik juga bagi para pegawai pribumi dalam membaca dan menulis dirasakan masih kurang. Melihat keadaan tersebut maka Pemerintah Hindia Belanda mengupayakan bagi para pegawai pemerintahan untuk bisa bahasa Belanda. Pemerintah Hindia Belanda dalam menjambatani kendala tersebut maka pada tahun 1914 di kota Singaraja dibuka sebuah Hillandsch inlandshe School (HIS), dan menurut laporan L.U. van Stenis yang menjabat Resident Bali dan Lombok pada saat itu mengatakan bahwa pembukaan sekolah-sekolah mendapat sambutan yang baik dari orang-orang Bali. Pada tahun yang bersamaan juga dapat dibangun sekolah-sekolah di beberapa desa yang dikenal dengan Sekolah Desa. Sekolah desa ini tersebar di beberapa wilayah, di antaranya sebanyak 15 sekolah di bangun di Bali Utara. Di daerah Buleleng ada tercatat 10 buah Tweede Klasse School, yaitu dua buah ada di Kota Singaraja dan yang lainnya ada di Sukasada, Jineng dalem, Banjar, Bubuan, Kubutambahan, Bon dalem. Hollandsch Indlandsche School ada sebuah yaitu di Singaraja, Sekolah Desa (Volkschool) ada 14 buah (Putra Agung, 1984: 25).
            Tahun 1918 di kota Denpasar berhasil juga dibuka sekolah HIS. Karena murid-murid yang diterima kebanyakan dari golongan keluarga raja, punggawa, dan kaum bangsawan, sehingga banyak anak Bali dari golongan jaba yang ekonominya kuat melanjutkan pendidikan di Jawa seperti ke Probolinggo, Surabaya, Malang, Yogyakarta, bahkan sampai ke Jakarta (Batavia).[3]
            Pertumbuhan sekolah-sekolah di Bali dan Singaraja khususnya sangat lambat. Sampai tahun 1926 jumlah sekolah tidak banyak mengalami perubahan. Di Singaraja tercatat ada 10 buah Tweede Klasses School, yaitu 2 buah ada di kota Singaraja, dan yang lainnya ada di Sukasada, Jinengdalem, Banjar, Bubunan, Kubutambahan, dan Bondalem. Sedangkan Hollandsch Inlandsche School ada satu buah di Singaraja, sekolah Desa (Volkschool) ada 14 buah.[4]
            Perkembangan selanjutnya yaitu pada tahun 1928 di buka sekolah Neutrale Holands Inlandse School Siladarma. Berhasilnya didirikan sekolah HIS Siladarma tersebut maka gagallah usaha Utrechtse Zending Genootschap untuk mendirikan sekolah Kristen di Bali.[5] Sekolah HIS di Klungkung yang terkenal dengan nama HIS Siladarma diprakarsai oleh raja-raja di Bali dan para pemuda pelajar di Bali seperti Bapak Mudalara, dan I Gusti Ananda Kusuma.[6]
            Perhatian pemerintah kolonial makin meningkat, sebagaimana yang dilaporkan oleh Residen Bali dan Lombok L. J. J. Caron sampai bulan Agustus 1929 tedapat 1 buah Europeesche Lagere School di Singaraja, HIS ada 3 buah di Denpasar, Singaraja, dan Klungkung. Tweede Klasse School ada 30 buah di seluruh Bali, dan Volkschoolen ada 119 buah di Bali. Ketika Brouwker memangku jabatan Residen Bali dan Lombok, pendidikan tetap diperhatikan sampai akhir masa jabatannya bulan Oktober 1932 jumlah sekolah semakin bertambah. Europeesche Lagere School bertambah menjadi 2 buah, HIS bertambah satu buah di Denpasar menjadi 4 buah, Tweede Klasses School tetap 30 buah, sedangkan Vlkschool bertambah menjadi 149 masing-masing di Buleleng 33 buah dan 4 di antaranya untuk sekolah perempuan, di Denpasar ada 23 buah dan 2 buah di antaranya untuk sekolah perempuan, di Jembrana ada 4 buah, Tabanan ada 23 buah dan 1 untuk sekolah perempuan, Gianyar 20 buah, Karangasem ada 15 buah, dan di Klungkung ada 26 buah dan 1 buah diantaranya untuk sekolah perempuan.[7]
            Walau tekanan-tekanan dari pemerintah koloneal sangat terasa terhadap organisasi-organisasi yang mengarah kepada pergerakan nasional, namun pada bulan september 1933 atas inisiatif dari Nyoman Pegeg di Denpasar didirikan sekolah Taman Siswa sebagai cabang dari Majelis Luhur Taman Siswa Yogyakarta. Pengurus perguruan ini pada mulanya adalah, Ketua I: Ketut Cetog, Sekretaris: Ngatman, Bendahara: Nyoman Pegeg, Pembantu: Anak Agung Ngurah Pemecutan, Sudiman, dan Popila.[8]
            Taman Siswa mulai mendapat tempat di hati rakyat, terbukti pada bulan oktober 1936 di Jembrana di buka sebuah cabang yang diprakarsai oleh Dr. Murjani, Gusti Ngurah Sindhu, dan Gusti Ngurah Putu Mataram. Guru-gurunya didatangkan dari Jawa seperti, Kotot Sukardi, Dardiri, dan Pramono. Pada tanggal 28 Agustus 1939 di Karangasem juga dibuka cabang Taman Siswa dengan pengurusnya, I Ketut Gebun, Persuleessi J, I Made Sangging, dan Moechasim. Tahun 1940 juga dibuka cabang di Tejakula (Singaraja).[9]    
            Menjelang berakhirnya kekuasaan Belanda di Bali tahun 1941, telah ada sekolah-sekolah seperti, HIS, Europeesche Lagare School, dan Hollandsche Chines School. Sedangkan Volkschoolen bertambah menjadi 195 buah, Vervolg School ada 27 buah, Vakonderwisjs ada 53 buah, dan sekolah-sekolah swasta termasuk Balische Holand School sebanyak 15 buah.[10]
            Sedangkan siswa-siswa yang melanjutkan sekolahnya ke luar Bali sampai bulan April 1927 di kota Probolinggo; Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) ada sebanyak 35 orang, Algemene Middle School (AMS) sebanyak 1 orang, Kweek School 9 orang, Ambachtschool sebanyak 8 orang, Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS) hanya 1 orang, Opleiding School Voor Indische Ambtenaren (OSVIA) sebanyak 4 orang, Hoogere Kweek School (HKS) hanya 1 orang. Di Makasar pada OSVIA ada sebanyak 10 orang. Sedangkan dalam tahun 1937/1938 orang Bali yang bersekolah di Jawa ada sebagai berikut; di Yogyakarta yang terdaftar di MULO sebanyak 25 orang, di Surabaya yang terdaftar di NIAS sebanyak 2 orang, MHS 1 orang, GHS 2 orang, KES 1 orang, MULO sebanyak 5 orang, Ambacht School 2 orang, Crisis MULO 1 orang, dan di Inladsche Ambacht School 2 orang. Di Yogyakarta di Ambachtschool 1 orang, Huisschool 3 orang, AMS 1 orang, Handel School 1 orang. Di kota Malang yang terdaftar di HBS sebanyak 2 orang, HIS 2 orang, dan di MULO 1 orang.[11]  
Pada tahun 1936 telah banyak pemuda-pemuda Bali yang dapat menamatkan pendidikannya di Jawa. Kemudian pulang membawa ide-ide baru serta pengalaman yang didapat dari Jawa (Niel, 1984: 70-88).
SEKILAS MENGENAI ORGANISASI BALI DARMA LAKSANA
Bali Darma Laksana merupakan salah satu organisasi yang relative konsisten dalam pejuangannya lewat pendidikan. BDL muncul pada abad ke-20 dengan pola dan system keorganisasian yang bersifat modern. Munculnya organisasi ini tidak lepas dari kondisi Bali yang masih sangat tertinggal dalam bidang pendidikannya. Pemuda-pemuda Bali yang telah menamatkan pendidikan di Jawa mulai pulang ke Bali membawa misi untuk memerbaiki dan mengembangkan pendidikan di Bali. Sikap kritis itulah timbul pemikiran untuk memberikan wadah terhadap perjuangan mereka lewat pendidikan. 14 Juni 1935 mulai muncul perkumpulan yang diberi nama Eka Laksana yang diketuai oleh  I Ketut Subrata (Depdikbud, 1977/1978: 50).
Selanjutnya dalam perkembangannya muncul pula perkumulan yang bernama Balisch Studiefonds pada tanggal 22 Maret 1935. Organisasi ini di I Goesti Gde Rake[12]. Organisasi Eka Laksana maupun Balisch Studiefonds memiliki tujuan yang sama yakni berkeinginan untuk memajukan pendidikan. Adanya persamaan dalam memajukan pedidikan dan perjuangan kedepan, maka kedua organisasi Eka Laksana dan Balisch Studiefonds menggabungkan diri menjadi satu wadah yakni Bali Darma Laksana. Perkumpulan Bali Darma Laksana terbentuk dari dua organisasi, yaitu Perkumpulan Eka Laksana yang didirikan pada tanggal 14 Juli 1935 di Denpasar dan Perkumpulan Balisch Studiefonds yang didirikan di Singaraja pada tanggal 22 Maret 1935. BDL yang pertama kalinya diketuai oleh Goesti Gde Raka. Keberadaan organisasi BDL membawa dampak terhadap pengembangan pendidikan di Bali. Hingga bulan April 1937, Eksistensi BDL dapat dilihat dari pembukaan cabang-cabang seperti di Gianyar, Negara, Tabanan, Denpasar, Klungkung, Karangasem, Bubuan, dan Sukawati.

B.     PEMBAHASAN
Kegiatan-kegiatan Bali Dharma Laksana
Ada beberapa hal yang secara mendasar atau prinsip dilakukan oleh Organisasi Bali Dharma Laksana yaitu kegiatan di bidang sosial-budaya, politik maupun pendidikan.

1.      Dalam bidang sosial dan budaya
Dalam bidang sosial lebih pada memelihara hubungan yang harmonis di internal organisasi hal itu dilakukan dengan cara saling memberikan bantuan bila salah satu anggotannya sedang sedang mengalami musibah atau di antara anggotanya menyelenggarakan upacara adat seperti perkawinan, ngaben, potong gigi, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Di samping itu juga memberikan bantuan terhadap mereka yang ekonominya pada saat itu sangat lemah. Bantuan yang diberikan pada umumnya adalah berupa barang atau hasil-hasil pertanian namun sering juga memberikan bantuan berupa uang namun relatif terbatas
Paling menonjol kegiatan Bali Dharma Laksana adalah mengadakan pemeliharaan studiefonds yaitu serangkaian kegiatan menghimpun dana baik dari para anggota Bali Dharma Laksana maupun dari masyarakat umum bersedia secara suka rela  mendermakan uangnya. Pengumpulan dana tersebut bertujuan untuk memberikan beasiwa kepada anak-anak anggota organisasi dan tidak menutup kemungkinan juga untuk mereka para pemuda yang cakap dan terampil memiliki semangat dalam meningkatkan pendidikannya. Mereka yang diberikan biaya atau tunjangan nantinya diharapkan dapat meningkatkan atau memperjuangkan pendidikan yang lebih baik di wilayah Bali.
Iuran anggota dipungut oleh pengurus cabang, kemudian diserahkan kepada pengurus besar setelah dipotong beberapa persen untuk biaya administrasi. Tiap-tiap anggota dikenakan iuran sebesar f.0,10 sebulan, kemudian ditambah dengan uang derma dari para anggota penderm atau hadiah dari para pelindung yaitu raja-raja sekurang-kurangnya f. 25 setahun atau f. 2, 50 setiap bulan. Dalam jangka waktu satu tahun  perkumpulan Bali Dharma Laksana mempunyai saldo kas studiefonds sebesar f. 789, 89.[13] Setelah dipotong untuk keperluan organisasi. Pada perkembangannya maka Organisasi Bali Dharma Laksana dapat menghimpun dana untuk studiefonds sebesar f.1847,77 dalam waktu dua tahun.[14]
Mereka yang ingin mendapatkan tunjangan harus memenuhi prsyaratan tertentu ang ditentukan oleh perkumpulan Bali Dharma Laksana. Persyaratan-persyaratan itu adalah (1) tunjangan diberikan kepada putra-putri anggota apabila sudah menjadi anggota selama tiga tahun sejak terdaftar sebagai anggota; (2) tunjangan ini juga diberikan kepada pemuda Bali yang memiliki kemampuan cukup dan mendapatkan berguna bagi masyarakat Bali setelah menyelesaikan studi. Sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati maka tunjangan belajar ini akan diberikan kepada mereka para putra-putri Bali yang berkeinginan melanjutkan studinya ke sekolah yang setingkat lebih tinggi, baik di dalam maupun di luar Bali. Adapun alasannya tunjangan pembiayaan sekolah pada level yang lebih tinggi disebabkan karena sekolah menengah dan sekolah tinggi lebih banyak mengeluarkan biaya dibandingkan dengan sekolah dasar yang pada umumnya masih terjangkau atau mampu dibiayai oleh masyarakat kebanyakan. Bagi para calon penerima tunjangan ini terlebih dahulu akan diseleksi oleh team dari Bali Dharma Laksana. Mereka yang menerima adalah orang yang dianggap memang sepantasnya dipandang memerlukan biaya karena kemapunan ekonomi keluarga dalam membiayai pendidikan orang tersebut masih sangat kurang dan perlu bantuan untuk penyelesaian sekolahnya. Di samping lemahnya ekonomi pada pemohon juga yang harus diperhatikan adalah nilai-nilai akademik apakah orang tersebut memiliki kemampuan atau prestasi yang bisa ditunjukan sehingga nantinya diharapkan dapat berguna untuk kemajuan pendidikan dan berguna pula bagi masyarakat.
Pada dasarnya tunjangan atau bantuan beasiswa tersebut bagi para penerima merupakan suatu bantuan yang dimanfaatkan secara dinamis dalam arti tunjangan tersebut tidaklah diberikan secara begitu saja dan dibebaskan secara bersyarat namun mereka yang menerima tunjangan tersebut setelah menyelesaikan studinya harus segera mengembalikan secara bertahap kepada organisasi Bali Dharma Laksana. Pengembalian tersebut bertujuan untuk memerikan kesempatan bagi yang lain dapat menerima tunjangan secara bergilir guna meringankan anak-anak para anggota dan para pemuda Bali dalam menempuh pendidikan.
Melihat adanya kewajiban pengembalian biaya tunjangan untuk studi bagi para penerima setalah selesai studi berarti bahwa tunjangan tersebut merupakan bantuan berupa pinjaman tanpa bunga namun diharapkan nanti memberikan sebaliknya diharapkan sumbangsihnya untuk kemajuan Organisasi terutama dibidang pendidikan. Sejalan dengan perkembangan Bali Dharma Laksana pada periode tahun 1938-1939 kas studiefonds bertambah menjadi f. 3252,35.[15]
Di dalam persyaratan telah dicantumkan berbagai kewajiban yang harus dijalankan bagi mereka yang menerima tunjangan tersebut. Di samping itu ada juga hal hal lain yang perlu diketahui bahwa bagi mereka yang menerima tunjangan tidak diperkenakkan untuk menyalahgunakan tunjangan tersebut untuk kegiatan lain diluar dari pembiayaan pendidikan. Bagi mereka yang menyalahgunakan tunjangan tersebut tentu saja akan dikenakan sanksi-sanksi terhadap para penggunanya. Organisasi Bali Dharma Laksana sebelum menyerahkan dana beasiswa atau tunjangan keringanan biaya pendidikan bagi para calon penerima maka akan dibuatkan berupa surat perjanjian antara pihak pertama dan pihak kedua. Perjanjian tersebut pada intinya berisi tentang kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan oleh pihak kedua. Di samping itu terdapat sanksi bila tidak menjalankan kewajibannya dengan benar.  Seperti surat perjanjian I Ketoet Noeridja sebagai (pihak kedua) bila tidak sungguh-sungguh menyelesaikan studi dan pada akhirnya hasil belajarnya tidak memuaskan I Ketoet Noeridja sebagai (pihak kedua) harus mengembalikan uang pinjaman itu setelah waktunya, apa bila pada waktu yang tidak ditentukan tidak juga mengembalikan utangnya, maka organisasi (pihak pertama) mengenakan bunga sebesar lima persen setahun.[16]
Pada perkembangannya, respon masyarakat terhadap bantuan keringanan sekolah dari Organisasi Bali Dharma Laksana semakin tinggi hal itu dapat diketahui dari tingginya permintaan dari anggota organisasi maupun dari masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan dana ringan tersebut. Menyadari akan situasi tersebut, bahwa kas dari studiefons yang hanya berjumlah f. 4040,26 pada periode tahun 1939-1940 maka organisasi Bali Dharma Laksana sedapatmungkin mencari format baru guna dapat menyelesaikan permasalah itu. Dalam usaha yang dilakukan Bali Dharma Laksana membentuk sebuah badan tabungan yang diharapkan antinya dapat digunakan untuk membiayaai sekolah anak-anaknya kelak. Pada konggres Bali Dharma Laksana yang ketiga dibentuk sebuah badan bernama Oderlinge Spaarkas Bali Dharma Laksana. Badan ini bertujuan untuk menghimpun modal, setelah modal terkumpul baru dikemudian hari akan mengarahkan pada pendirian Levensverzekering Maatschappij. Badan tabungan ini adalah Levensverzekering Maatschappij (Badan usaha Pertanggungan jiwa).
Dalam bidang budaya, Bali Darma Laksana memfokuskan perhatiannya pada agama dan adat istiadat masyarakat Bali. Penerangan-penerangan tentang agama sangat penting dilakukan hingga membuat masyarakat akan semakin tinggi keyakinannya terhadap agama yang dianutnya. Tulisan-tulisan tentang penerangan agama biasanya diterbitkan dalam majalah Djatajoe, dan melalui kongres-kongres yang dilaksanakan oleh perkumpulan Bali Darma Laksana. (ibid: 112).
Upaya untuk memperbaharui adat istiadat yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman juga dilakukan perkumpulan Bali Darma Laksan. Salah satu adalah dengan mengubah pandangan tentang manak salah di Bali. Menurut kebiasaan adat di Bali, orang yang manak salah harus diasingkan selama 42 hari. Hal ini akan mempengaruhi keadaan keluarga yang mengalaminya baik si anak maupun kedua orang tuanya. Pengasingan akan membuat mereka menderita, di samping akan muncul intrik-intrik yang mengarah pada munculnya perpecahan dan pertikaian adat. Hal ini dipandang tidak relevan dengan keadaan zaman yang menuntut agar terpeliharanya persatuan dan kesatuan untuk menghadapi tekanan pemerintah kolonial. Oleh karena itu Bali Darma Laksana mengupayakan agar adat ini dihapus, dan hasil kesepakatan untuk menghapus adat ini dicapai pada kongres ketiga, kemudian diajukan permohonan pada paruman agung agar hal ini diperhatikan dan dilaksanakan secepatnya (ibid: 113).
1.                  Dalam bidang Politik
Tentang peran Bali Darma Laksana dalam bidang politik sebenarnya terlaksana dengan terselubung mengingat keadaan yang terjadi pada saat itu (media awal abad 20) segala bentuk atensi dan partisipasi politik sangat dibatasi bahkan ditekan oleh pemerintah kolonial Belanda. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya pemerintah kolonial hanya memberikan pendidikan kepada golongan tertentu untuk ditempatkan pada administrasi pemerintahan kolonialnya. Jadi sentuhan langsung dengan pemerintahan melalui partisipasi politik sangat jarang bahkan hampir tidak ada sama sekali. Sementara di lain pihak para penguasa lokal (Raja) satu persatu mulai dapat ditaklukkan oleh Belanda.
Dengan memfokuskan pada pendidikan dan sosial budaya, Bali Darma Laksana berusaha mengalihkan perhatian dari bidang politik karena kondisi sosial politik pada saat itu tidak mengijinkan untuk terjun langsung. Namun para anggota Bali Darma Laksana sangat menyadari walaupun tidak dapat melakukan pembaharuan langsung di bidang poltik, mereka dapat melakukan pembaharuan melaui bidang pendidikan yang merupakan salah satu media yang dapat mempercepat tumbuhnya kesadaran masyarakat baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap keadaan lingkungannya. Penguatan terhadap terpeliharanya sosial budaya juga dapat mempertebal keyakinan bahwa masyarakat Bali mempunyai kebudayaan tersendiri yang posisinya sederajat dengan bangsa-bangsa lain. Hal-hal inilah yang dikatakan sebagai gerakan politik yang terselubung sehingga gerakan atau peran organisasi Bali Darma Laksana dalam upaya untuk mencapai kemajuan tidak dicurigai oleh pemerintah kolonial Belanda.
      2. Dalam bidang ekonomi
Usaha-usaha Bali Darma Laksana dalam bidang ekonomi lebih terfokus pada bantuan pendidikan. Mengingat Bali Darma Laksana salah satu tujuannya adalah untuk memajukan pendidikan maka mereka lebih fokus pada pemberian bantuan tunjangan pendidikan pada masyarakat yang tidak mampu melanjutkan pendidikan karena pertimbangan ekonomi.
Bali Darma Laksana mengadakan pemeliharaan studiefonds dengan jalan menghimpun dana yang diperoleh dari iurang anggota-anggotanya dan sumbangan sukarela dari masyarakat Bali. Dana yang telah terkumpul kemudian digunakan untuk memberi bantuan berupa tunjangan kepada putra-putri anggota dan kepada pemuda Bali yang dianggap mempunyai kemampuan yang cukup dan akhirnya tenaga mereka dapat dipakai untuk kepentingan masyarakat (Putra, 1989: 83).
Selain hal tersebut di atas Bali Darma Laksana juga menerapkan sistem penyimpanan (seperti koperasi sekarang) kepada anggotanya. Hal ini dimaksudkan untuk melatih serta membiasakan para anggotanya menyisihkan sebagian uangnya untuk disimpan hingga dapat digunakan sewaktu-waktu bila ada keperluan biaya sekolah dan biaya lainnya. Sisa hasil usaha digunakan untuk menambah kas Bali Darma Laksana, sehingga dapat memberikan tunjangan anggota lebih banyak lagi. Dalam hal ini secara tidak langsung Bali Darma Laksana telah membantu para anggota khususnya, dan masyarakat Bali umumnya agar dapt menghindarkan diri dari kemelaratan (ibid: 90-91).

  1. Bidang Pendidikan
Semangat yang menyulut dari anggota Bali Dharma Laksana ini terus bergelora untuk dapat mencapai perubahan yang lebih baik di masa yang akan dating. Hal ini dengan melakukan perbaikan di bidang pendidikan. Bali Darma Laksana melakukan usaha dengan membuka kursus-kursus abc. Gerakan ini dikenal dengan gerakan abc, yaitu pemberantasan buta huruf bagi masyarakat yang tidak mampu untuk menempuh pendidikan karena terbentur oleh permasalahan ekonomi. Kursus-kursus ini bukan saja diberikan pada laki-laki melainkan juga kepada kaum perempuan mengingat kaum wanita dapat menentukan kemajuan anak di masa yang akan datang (Putra, 1989: 96).
Kursus-kursus abc dilaksanakan dan diusahakan oleh pengurus besar cabang Singaraja dan tiap-tiap cabang yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Artinya seluruh komponen yang ada di pengurus besar maupun cabang-cabang yang lain turun langsung dalam usaha Bali Darma Laksana untuk dapat mewujudkan apa yang menjadi tujuan utamanya. Sementara hal yang menjadi prioritas utama yaitu memajukan pendidikan di Bali tetap dilaksanakan dengan memberi bantuan-bantuan kepada para pemuda pelajar Bali yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Bali Darma Lakana, organisasi ini juga bekerja sama dengan beberapa organisasi lainnya untuk melakukan pemberantasan buta huruf. Sehubungan dengan ini, pada tahun 1937 Bali Darma Laksana cabang Denpasar telah membentuk suatu badan yang diberi nama Federatie Commissie ABC atau Federatie Commissie Pemberantasan Boeta Hoeroef. (F.C.P.B.H.) yang berpusat di Denpasar. Badan ini bergerak dalam bidang pendidikan yang bertujuan untuk memberantas buta huruf dikalangan masyarakat Bali. Federasi ini terdiri dari organisasi Bali Darma Laksana, Organisasi Guru-guru dan organisasi Putri Bali Sadar. Tiap-tiap perkumpulan terdiri dari tiga orang wakil untuk duduk dalam badan ini sehingga, jumlahnya sembilan orang. Sebagai ketua waktu itu adalah Tjokorde Ngoerah Panajoen dari PGGD: Sekeretaris: P. Wirja (BDL); dan Penningmeester (bendahara): I Goesti Ajoe Rapeg (PBS). Kursus-kursus ini dilaksanakan pada setiap onderafdeeling sampai ke desa-desa di Bali yang biasanya menggunakan sekolah-sekolah desa dan sekolah pemerintah.[17]
Sejalan dengan pentingnya pendidikan terhadap masyarakat, maka Bali Darma Laksana telah berusaha pula mendirikan sekolah yang lebih tinggi tingkatannya dari HIS. Hal ini berkaitan dengan kemauan pemuda-pemuda Bali yang telah berhasil menamatkan pelajarannya di HIS, ingin melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi mereka harus ke Jawa. Keadaan ini tidak memungkinkan karena biaya pendidikan cukup mahal. Berdasarkan alasan ini, Bali Darma Laksana berusaha menyediakan sekolah lanjutan Bali.Namun biaya untuk itu belum mencukupi maka satu-satunya jalan adalah memohon pada Paruman Agung agar di Bali diusahakan sekolah lanjutan, baik sekolah lanjutan umum maupun vak. Pada tahun 1940 berhasil dibuka sekolah vak abachtacursus (kursus pertukangan  di Denpasar. [18] Sekolah ini diusahakan oleh landscahap Badung, dan Bali Darma Laksana agar dapat membangun lebih banyak lagi oleh landschap-landschap lainnya.

  1. Penerbitan Majalah Djatajoe
Usaha-usaha lain dilakukan Bali Darma Laksana dalam hubungannya dengan pendidikan adalah menerbitkan majalah yang diberi nama Djatajoe. Majalah ini diterbitkan sebulan sekali, setiap –setiap  tanggal 25 bulan bersangkutan, yang mulai terbit tanggal 25 Agustus1936. Djatajoe memuat berbagai tulisan tentang agama, adat, dan kebudayaan yang berkaitan dengan tatanan kehidupan masyarakat Bali khususnya.
Majalah Djatajoe merupakan salah satu media massa yang cukup memegang peranan penting bagi perkembangan pola pemikiran masyarakat. Melalui majalah itu masyarakat dapat membaca dan menetahui serta memahami segala aspek terutama aspek sosial budaya dari kehidupan masyarakat. Sehingga akhirnya mampu memberikan tanggapan, saran serta rumusan arah keadaan yang harus ditempuh oleh masyarakat secara menyeluruh.[19] Dengan demikian, selain sebagai penerangan kepada masyarakat, majalah Djatajoe juga merupakan sumber dana yang dapat menambah kas organisasi.
Majalah Djatajoe merupakan satu-satunya majalah sebagai identitas perkumpulan Bali Darma Laksana yang dapat mempersatukan antar anggota dengan perkumpulan.[20] Adanya identitas ini akan dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan serta persaudaraan para anggota khususnya, dan masyarakat Bali pada umumnya. Bagi para anggota di luar Bali dapat saling mengenal dan memahami satu dengan yang lainnya, sekaligus dapat menumbuhkan kesadaran terhadap aspek social budaya yang dimiliki masyarakat Bali.[21]
            Pada awal berdirinya Bali Darma Laksana dapat dikatakan dalam keadaan yang sedang mengalami banyak kendala. Namun berkat kerja keras dari seluruh anggota perkumpulan (organisasi) lambat laun dapat mengembangkan sayap dan mulai menjalankan kegiatan secara kontinyu. Hal ini dapat dilihat dari keberhasilan Bali Darma Laksana mengadakan konggres yang pertama pada tanggal 25 Juli 1937 bertempat di Clubhuis Pabean, Singaraja. Beberapa alasan yang menjadi dasar diselenggarakannya Konggres Bali Dharma Laksana di Singaraja di antaranya adalah karena Singaraja adalah tempat awal berdirinya ide dari perkumpulan Bali Darma Laksana, di samping itu Singaraja merupaka ibu kota keresidenan Wilayah Bali dan Lombok. Sebagai Kota keresidenan maka dianggap tepat untuk mengawali konggres Bali Darma Laksana yang selanjutnya dapat diprakarsai pada wilayah-wilayah yang lain di mana terdapat cabang dari organisasi Bali Dharma Laksana dikemudian hari. Sebagai alasan yang lain mengenai konggres tersebut adalah karena kebanyakan anggota Bali Darma Laksana pada awal berdirinya adalah berdomisili di Singaraja yang kebanyakan adalah para pagawai dan guru.
            Hal ini sesuai dengan apa yang nyatakan oleh Penulis I Pengurus besar B.D.L. Ida B.K Roeroes.
“…Pengoeroes Besar menetapkan, bahwa Rapat (Algemeene Verganering) “B.D.L.” jang pertama akan diadakan di Singaraja. Jang mendjadi alasan ialah lantaran sebahagian besar dari djoemlah anggauta-anggauta “B.D.L” berada di Negara Boeleleng…”[22]

            Di samping itu adapun susunan acara konggres B.D.L yang pertama adalah sebagai berikut.
“…Voorloopig program diatoer sebagai berikoet. I. Hari saptoe tanggal 24 Juli 1937 djam 4.30 siang: Huishoudelijke vergadering: a. Welkomstwoord (pengoetjap salam dan bahagia kepada jang berhadlir) oleh Ketoea Tjabang Singaradja; b. Pemboekaan Rapat Besar oleh Ketoea Pengurus Besar; c. Jaarverslag Pengoeroes Besar dan voorlezing notulen Rapat Pergaboengan 1936; Jaarverslag Bendahari Pengoeroes Besar; d. Mengangkat verificatie Commissie oentoek meriksa oeroesan keoeangan (Financieel onderzoek); f. Memperbintjangkan oesoel-oesoel (voorstellen); g. Ronvraag; II. Hari Minggoe tg 25 Juli 1937: a. Pagi-pagi excursie; Stang: voetbal (sepak raga); Malam poekoel 8:lazing; III. Hari senin tanggal 26 Juli 1937 : a. Siang poekoel 4 Topeng atau baris; b. malam djam 8 pesta dengan Muziek atau Gamelan; IV. Selama Congres diadakan pertoendjoekan (tentoonstelling) barang-barang hasil keradjinan atau pertoekangan, sebagai barang-barang oekiran, tenoenan, soelaman, barang-barang perak dll…”[23]

Hoofdbestuur yang hadir yaitu: 1) I.G.G Raka sebagai Voorzitter; 2) Ida Bagoes K. Roeroes sebagai Secretaris I; 3) I.M. Mendra sebagai Secretaris II; 4 I. G.K Sidikaria sebagai Penn.meestr; 5) I.Nj. Kadjen sebagai Commissaris dan; 6) I. Nj. Kaler sebagai Commissaris. Konggres dihadir oleh 150 orang anggota yang berasal dari berbagai cabang. 
Sedangkan wakil-wakil yang menghadiri konggres pertama dari perwakilan sembilan cabang Bali Darma Laksana adalah yaitu: I K. Jingga dari cabang Singaraja; I K. Noeridja dari cabang Surabaya; I G. P Wenten dari cabang Yogyakarta; I K. DJeloen dari cabang Negara; I K. Kandia dari cabang Bangli; I Nj. P. Moedalara dari cabang Klungkung; Ida Bagus Manoeaba dari cabang Depasar; I K. Gelgel dari cabang Karangasem; dan I Made Mantradari cabang Kubutambahan.  
Selain Sembilan cabang tersebut di atas, juga dihadiri oleh perwakilan dari koreponden Buitenzorg yaitu I M.Rai. Dalam persidangan yang dilakukan pada konggres yang pertama ini lebih banyak membicarakan berbagai prinsip dan hakikat dan juga arah maupun tujuan daripada dibentuknya perkumpulan tersebut. Konggres yang pertama yang membahas tentang perbaikan dan mengenai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/RT) organisasi terutama mengenai biaya atau tunjangan belajar di samping itu untuk pengadaan kursus-kursus yang diselenggarakan bagi masyarakat Bali.
            Hal yang paling penting selama sidang pada konggres pertama itu adalah dapat disepakati adanya badan pengawas keuangan dan pembentukan sebuah dewan yang akan mengisi struktur kepengurusan dari majalah Djatajoe. Sebagai badan pengawas keuangan waktu itu dipilih tiga orang, yaitu I G. P. Kaler, Ida Bagus Indra dan I Ketut Mayun, sedangkan untuk majalah Djatajoe dipilih Mr. Panetja dan I Wayan Badhra.[24]
Mengenai lama kepengurusan setiap periode disepakati setiap satu tahun, hal ini dipertimbangkan karena kebanyakan adalah pengawai yang cenderung mengalami mutasi atau perpindahan tempat tugas. Oleh karena itu maka disepakati periode setiap kepengurusan adalah satu tahun sekali dan pengurus periode sebelumnya dapat dipilih kembali bila disepakati oleh para anggota.
Selanjutnya untuk konggres Bali Darma Laksana yang ke-2 diselenggarakan di Denpasar pada tanggal 23-26 Juli 1938. Sebagai Hoofdbestuur dalam kepenguruasan periode ini yaitu : 1) I.G.G. Rake sebagai ketoea; 2) I.Nj. Kadjen sebagai Wakil Ketoea; 3) I.M. Kodhana sebagai Penoelis I; 4) I.M. Mandra sebagai penulis II; 5) I.G.K. Sidikara sebagai Bendahari; 6) I.Nj. Kaler sebagai Pembantoe; dan 7) I.G.P. Arka sebagai Pembantoe. Susunan H.B yang tersebut dapat dikatakan tetap selama setahun. Namun terdapat perubahan kepengurusan beberapa bulan karena ada pengurus yang mendapat mutasi ke makasar yakni I. Nj. Kaler yang dari Singaraja pindah ke Makasar.[25]
            Konggres yang kedua juga telah memufakati terbentuknya badan pengawas. Badan pengawas keuangan diangkat oleh konggres dan terdiri dari : I. G.P. Kaler; Ida Bagoes Indra; dan I K Kajoen. Team yang dibentuk tersebut telah menyelesaikan tugasnya di mana telah mengadakan pemeriksaan kas pada tanggal 22 Oktober 1937. Proses – verbal tentang pemerikasaan tersebut telah diumumkan dalam Djatajoe No.5 tahun II. Hal penting juga pada konggres ini dapat diketahui adalah Hoofbestuur mengangkat kembali Mr. Gde Pantja dan I.W. Bhadra sebagai Redacteuren dalam majalah Djatajoe.
            Di samping itu ada beberapa hal yang penting telah disepakati dalam konggres B.D.L yang ke-2, yatitu: 1) mengusahakan cabang kesehatan di Bali; 2) Pelarangan penjualan perempuan atau pengentengan pembelian perempuan di dalam perkawinan.
            Konggres tersebut telah menghasilkan beberapa keputusan yang sangat penting dan sangat berdampak terhadap perkembangan pola piker dikemudian hari. Dalam organisasi Bali Darma Laksana, telah memberikan kesempatan yang terhadap para anggotanya terutama kaum perempuan dalam berkiprah dan berorganisasi. Wadah yang ada ini tentu merupakan suatu kesempatan bagi kaum perempuan untuk mengemukakan pendapatnya. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Nona Anak Agoeng Bai pada konggres ke-2 Bali Darma Laksana di Denpasar.
“…Berhoeboeng dengan dedoedoekan kaoem iboe jang maha penting itoe, maka wadjib dan barhaklah kaoem perempoean didalam hidoep oemoem itoe dapat bagian pekerdjaan jang sesoeai dengan kedoedoekannja itoe, jaitoe: melakoekan segala pekerdjaan kemasjarakatan dalam oemoemnja, dan dalam choesoesnja segala pekerdjaan jang dapat menjelamatkan dan memadjoekan hidoepnja anak-anak (toeroenan). Didalam melakoekan segala pekerdjaan didalam masjarakat, haroeslah kaoem perempoean insjaf, bahwa mereka itoe samalah harganja dengan kaoem laki-laki dalam deradjatnya kemanoesiaan, hanja sadja mereka itoe mempoenjai kodrat dan iradat lain, sehingga haroeslah mereka itoe selaloe mementingkan pembagian keidjiban jang pantas. Oentoek dapat meoentoet bagian pekerdjaan didalam masjarakat seperti jang dimaksoedkan itoe, maka wadjiblah kaoem permpoean menoentoet, tentoe sadja dengan pertolonganja kaoem kali djoega, soepaja mereka dapat bagian djoega atau doedoek di dalam bestuur  seoeatoe perkoempoelan kebangsaan jang menoedjoe kearah kemoeliaan. Dengan demikian dapatlah mereka member advies atau pertimbangan tentang segala perkara jang berhoeboengan dengansoeboernja atau kekalnja toeroenan. (misalnja : Atoeran pendidikan anak-anak, perlindoengan orang perempoean, perlawanan atau pemberantasan kelakoean jang ta’ patoet dari kaoem laki-laki terhadap kaom perempoean)...”[26]

Seperti apa yang diungkapkan oleh Nona A.A Rai dalam konggres II di Denpasar merupakan suatu fakta bahwa wacana tentang emansipasi perempuan telah mulai bangkit dan kesadaran kaum perempuan Bali telah mulai tumbuh untuk dapat mensejajarkan diri dengan kaum laki-laki. Tulisan lain yang dapat disimak dalam membuka kesadaran gender adalah tulisan dari Nji Soerjokoesoemo yang berjudul mempertinggi dradjat perempoean. Tulisan tersebut merupakan tanggapan dari “Djatajoe” No.11, 25 Juli 1938 tahun ke II berupa karangan hal keperempuanan. Menurut Soerjokoesoemo ada beberapa hal yang menjadi factor dari rendahnya derajat perempuan, yakni: 1) masih terjadi tanggapan di mana derajat perempuan masih diangap rendah, hal keadaan tersebut amant berhubungan dengan kedudukan pendirian perempuan yang kurang dipahami; 2) pandanan laki-laki sering kali masih berpendapat bahwa perempuan hanyalah barang mainan yang bisa diapakan saja menurut kemauannya. Maka dengan pemahaman yang sempit dalam berpikir tersebut perlu dijernihkan dan terus diwacanakan untuk menyadarkan diri perempuan dan masyarakat mengerti bahwa peranan perempuan sungguh penting dan sama derajatnya dengan kaum laki-laki.[27]
Hal yang juga dibicarakan dalam konggres ke-2 juga menyangkut maksud dari diterbitkannya majalah djatajoe. Adapun maksud dari terbitnya majalah Djatajoe yakni: mempertalikan anggota satu dengan yang lain dan sebagai tali pengikat di antara anggota masing-masing. Selain itu majalah sebagai ikatan anggota dengan Bali Darma Laksana, mengokohkan hubungan anggota-anggota dan memperteguh perasaan persatuan anggotanya masing-masing. Di samping itu membahas tentang pelindung-pelindung (Beschermheren). Pada tahun kedua berjalannya Bali Dharma Laksana telah dilindungi oleh beberapa tokoh yang berpengaruh di Bali. Adapun pelindung-pelindung tersebut yakni: 1) Anak Agoeng Poetoe Djlantik bertempat di A.A. Nagara Boeleleng; 2) Anak Agoeng Bagoes Djlantik bertempat di A.A.A. Nagara Karangasem; 3) Anak Agoeng Ktoet Ngoerah bertempat di A.A. Nagara Bangli; 4) Anak Agoeng Bagus Negara bertempat di A.A Negara Djembrana; 5) Tjokorda Ngoerah Ktoet bertempat di Tjokorda Nagara Tabanan; 6) Dewa Agoeng Oka Geg bertempat di Dewa Agoeng Nagara Kloengkoeng; 7) Tjokorda Alit Ngoerah, bertempat tinggaldi Tjokorda Nagara Badoeng. Pada tanggal 1 Juli 1938 Pelindung majalah Djatajoe bertambah dengan dimasukkannya nama A.A. Ngoerah Agoeng bertempat di Anak Agoeng Nagara Gianyar.[28]
            Mengenai keanggotaan pada tahun ke-2 Bali Darma Laksana adalah berjumlah 551 orang sebagai anggota biasa dan luar biasa. Pada penutupan tahun kedua bertambah menjadi 562 orang ini berarti ada penambahan keangotanan sebanyak 11 orang. Pada tahun kedua juga dicatat bahwa sebanyak 143 orang masuk menjadi anggota namun ada sekitar 132 orang yang berhenti sebagai anggota. Sedangkan jumlah pelanggan (bukan anggota) pada permulaan tahun ke-2 sebanyak 75 orang dan pada penutupnan tahun yang ke-2 adalah 83 dan bertambah menjadi 8 orang. Beberapa bekas pelanggan masuk menjadi anggota.
            Untuk melihat perkembangan Organisasi Bali Dharma Laksan dapat dilihat dari perkembangann keanggotaan pada setiap cabang yang ada dimasing-masing wilayah di Bali. Pada tahun ke-2 Bali Dharma Laksana telah memiliki 15 cabang yakni: Cabang Singaraja telah beranggotakan sebanyak 96 anggota, Soerabaia berjumlah 26 anggota, Bangli berjumlah 38, Djogja berjumlah 24 anggota, Malang berjumlah 6 anggota, Kloengkoeng berjumlah 47, Makasar berjumlah anggota 14, Koeboetambahan Sawan berjumlah 27 anggota, Gianyar berjumlah 15 anggota, Negara berjumlah 37 anggota, Tabanan berjumlah 51 anggota, Denpasar berjumah 60 anggota, Karangasem berjumlah 28 anggota, Boeboenan berjumlah 16 anggota dan Soekawati berjumalah 20 anggota.
            Konggres Bali Darma Laksan yang ke tiga di sepakati diselenggarakan di Klungkung pada tanggal 22 – 24 Juli 1939. Kota Klungkung dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan karena dianggap tepat sebagai kota perjuangan. Di samping itu kota Klungkung dilihat dari letaknya dan keadaan alamnya sangat representative semua kalangan yang memiliki jarak tempat tinggal. Kota Klungkung berada pada posisi yang relative di tengah-tengah. Tempat pelaksanaan konggres B.D.L disebuah gedung bernama Gedung Susila Klungkung. Konggres ini dihadiri oleh segenap fungsionaris anggota-anggota B.D.L pusat maupun cabang dan tentunya merupakan perwakilan-perwakilannya. Cabang yang telah terbentuk dari keseluruhan  yang ada adalah dua belas cabang namun dalam konggres kali ini ada dua cabang yang absen karena sesuatu alasan tertentu tidak dapat mewakilkan anggotanya kekonggres. Cabang tersebut adalah cabang dari Gianyar dan Surabaya. Sedangkan cabang-cabang yang telah hadir dan mengirimkan wakilnya yakni: cabang Bangli diwakili oleh I K. Kandia; dari Yogyakarta oleh I Nj. Merati; dari Klungkung oleh I W. Kamiana; Kubutambahan oleh I.G.B. Sugriwa; Singaraja oleh I.N. Meder; Negara I.N. Kerti; Denpasar oleh I G.G. Raka; Tabangan oleh I.N. Kerti; Karangasem oleh I K. Gelgel; Sukawati oleh I. K. Tangkeban; dan Mataram oleh I G. K. Wj. Gde.[29]
            Pada saat konggres dapat dicatat ada beberapa usulan-usulan penting yang dapat diterima atau disepakati. Adapun kesepakatan itu yaitu sebagai berikut. Konggres memutuskan untuk membentuk suatu badan yang bergerak dalam bidang ekonomi dengan nama Onderlinge Spaarkas Bali Darma Laksana yaitu semacam tabungan yang akhirnya akan mengarah pada pendirinan asuransi. Di samping itu anggota konggres sepakat untuk membuat bendera perkumpulan dengan warna putih, merah dan hitam, kemudian di tengah-tengahnya ada gambar burung Djatajoe. Dipilihnya ketiga warna itu tidak dapat dilepaskan dengan kepercayaan masyarakat Bali. Warna putih melambangkan ketulusan keadaan yang sebenarnya; Warna merah mengandung arti pergerakan atau aksi; dan warna hitam bermakna kegelapan, penolakan (reaksi). Selain membuat bendera, para anggota konggres sepakat pula untuk membuat vanbel, yang semuanya dipergunakan sebagai identitas  perkumpulan Bali Darma Laksana. Konggres memutuskan untuk menempatkan seorang wakil di dalam Peparuman Agung guna aspirasi serta keputusan-keputusan dari perkumpulan Bali Darma Laksana.[30]
            Sebelum terjadinya perubahan kekuasaan di Indonesia dan Bali pada khususnya, yang mana Pemerintahan Hindia Belanda mengakhiri kekuasaanya karena kekalahan perang melawan pasukan Jepang. Namun sebelum terjadinya itu organisasi Bali Darma Laksana dapat mengadakan konggres yang ke-4 dari tanggal 26 sampai 27 Juli 1941 bertempat di Gedung Bioskoop-Wisnu, Tabanan. Konggres yang ke-5 sedianya diadakan pada bulan Juli 1940, namun hal itu diurungkan karena terjadi keadaan yang tidak menentu dalam pemerintahan Hindia Belanda, mempengaruhi kondisi-kondisi Negara jajahannya seperti Indonesia dan Bali pada khususnya. Di samping itu konggres komite (panitia konggres) cabang Tabanan kebanyakan dari pegawai pemerintah yang harus menyelesaikan tugas dan kewajibannya sehubungan dengan keadaan pemerintah Belanda yang sedang mengalami kesulitan.[31]
            Konggres yang ke-4 pada dasarnya lebih banyak membicarakan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan perubahan-perubahan seperti halnya pergolakan politik dan perubahan dalam melihat keadaan di mana kondisi pemerintahan Belanda sedang mengalami kesulitan. Hal-hal seperti ini sangat mempengaruhi keadaan karena sebagian dari anggota Bali Darma Laksana merupakan pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Arah dari isu yang hangat dibicarakan adalah menyangkut juga eksistensi dari organisasi atau perkumpulan itu sendiri. Walaupun keadaan yang sudah mulai tidak menentu namun kesadaran anggota sudah mulai terinternalisasi kesetiap anggotannya. Mereka sudah mulai mengerti akan makna dari persatuan. Hal yang paling penting dapat dilihat dari semangat anggota Bali Darma Laksana adalah mengupayakan untuk mengadakan konggres yang ke-V pada Juni 1942 di Mataram (Lombok Barat). Pada dasarnya keputusan-keputusan yang akan dilakukan adalah keinginan untuk melakukan pembaharuan dalam masyarakat melalui pendidikan, seperti terlihat bahwa telah disepakatinya dalam konggres untuk membuat atau mendirikan sekolah vak maupun sekolah umum setingkat dengan HIS. Konggres yang akan diadakan di Mataram urung dilaksanakan karena gejolak politik di mana pasukan Jepang mendarat di Bali dan melarang adanya perkumpulan-perkumpulan atau organisasi yang berdiri di masa pemerintahan Jepang.
            Konggres yang ke-5 hanyalah rencana belaka karena tidak memungkinkan lagi untuk melakukan kegiatan. Semua tokoh-tokoh pergerakan dan tokoh perkumpulan di awasi dan ditaham oleh pasukan pemerintah Jepang sehingga hampir semua organisasi yang ada di Bali pada Masa kekuasaan Jepang mengalami kevakuman dan sebagian mengadakan pergerakan bawah tanah. Namun konsekuensinya pergerakan pada zaman Jepang amat sangat parah di mana pasukan Jepang tidak segan-segan melakukan suifing dan menyiksa para tokoh-tokoh dan ketua organisasi yang melanggara aturan dari pemerintahan Jepang kala itu. Dengan demikian Bali Darma Laksana juga tidak luput dari pengawasan dan organisasi inipun vakum yang selanjutnya mengalami degradasi atau bubar sebelum dapat melaksanakan konggresnya yang kelima di Mataram.

C.    KESIMPULAN
Kegiatan-kegiatan Bali Darama Laksana dalam bidang sosial lebih pada memelihara hubungan harmonis di internal organisasi hal itu dilakukan dengan cara saling memberikan bantuan bila salah satu anggotannya sedang mengalami musibah atau di antara anggotanya menyelenggarakan upacara adat seperti perkawinan, ngaben, potong gigi, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dalam bidang Politik: memfokuskan pada pendidikan dan sosial budaya, Bali Darma Laksana berusaha mengalihkan perhatian dari bidang politik karena kondisi sosial politik pada saat itu tidak mengijinkan untuk terjun langsung. Namun para anggota Bali Darma Laksana sangat menyadari walaupun tidak dapat melakukan pembaharuan langsung di bidang poltik, mereka dapat melakukan pembaharuan melaui bidang pendidikan yang merupakan salah satu media yang dapat mempercepat tumbuhnya kesadaran masyarakat baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap keadaan lingkungannya. Dalam bidang ekonomi: Bali Darma Laksana mengadakan pemeliharaan studiefonds dengan jalan menghimpun dana yang diperoleh dari iuran anggota-anggotanya dan sumbangan sukarela dari masyarakat Bali. Bidang Pendidikan: Bali Darma Laksana melakukan usaha dengan membuka kursus-kursus abc.
Kegiatan yang kontinyu adalah penerbitan majalah Djatajoe: Majalah ini diterbitkan sebulan sekali, setiap-setiap  tanggal 25 bulan bersangkutan, yang mulai terbit tanggal 25 Agustus1936. Djatajoe memuat berbagai tulisan tentang agama, adapt, dan kebudayaan yang berkaitan dengan tatanan kehidupan masyarakat Bali khususnya. Majalah Djatajoe merupakan salah satu media massa yang cukup memegang peranan penting bagi perkembangan pola pemikiran masyarakat. Melalui majalah itu masyarakat dapat membaca dan menetahui serta memahami segala aspek terutama aspek social budaya dari kehidupan masyarakat. Sehingga akhirnya mampu memberikan tanggapan, saran serta rumusan arah keadaan yang harus ditempuh oleh masyarakat secara menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA
Agung, A. A. Gde Putra dan I Nengah Musta. 1991/1992. “Sejarah Pendidikan Daerah Bali”.  Denpasar: Depdikbud.
Agung, Mr. Ida Anak Agung Gde. 1993. “Kenangan Masa Lampau: Zaman Koloneal Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali”. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Budharta, I.B. Gde. 1986. (dkk), “Pertumbuhan Ide Nasionalisme dalam Masyarakat Bali”. Denpasar: Laporan Penelitian F. S. Unud.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1977/1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Bali. Denpasar: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
Djuana, I Nyoman. 1987. “Peranan Organisasi Taman Siswa dalam Pergerakan Nasional di Bali 1933-1943”. Skripsi S-1 belum diterbitkan. Denpasar: F. S. Unud.
Indra, Ida Bagoes. 1938. “Onderwijs”. Djatajoe, No. 8,25 Maart, Thn. II. Soerabaia: Modern Cannalaan.
Kodhana, I Made. 1938. “Notulen dari Cabang B.D.L. jang pertama. Vergadering tanggal 25 1937, di Clubhuis Pabean SINGARAJA” Djatajoe, No. 2. 25 September, Thn. 3. Soerabaya: Modern Cannalaan.
Kodhana, I Made. 1938. “Noltulen congres Bali Darma Laksana jang ke-3 pada 22 Juli 1939 di Gedoeng Soesila” Klungkung”, Djatajoe, No. 12. 25 Juli, Thn. 4. Soerabaya: Modern Cannalaan.
Mirsha, I Gusti Ngurah Rai.  1986. “Sejarah Bali”. Denpasar: Proyek Penyusunan Sejarah Bali, Pemda Dati I Bali.
Merta, I Goesti Poetoe. 1937. “Soeka Maharoe”, Djatajoe,  no.11 25 Juni, Thn, 1. Soerabaia: Modern Cannalaan.
Niel, Robert Van. 1984. Munculnya Elite Modern Indonesia. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Oka Putra, Anak Agung Putu. 1989. “Perkumpulan Bali Darma Laksana: Sebuah Organisasi Sosial di Bali 1936 - 1942”, Skripsi S-1, Denpasar: Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.
Putra Agung, Anak Agung Gde, Dkk. 1984. Sejarah Sosial Bali Kota Singaraja. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Roeroes, Ida B.K. 1936. “Congres” B.D.L” Jang pertama pada boelan Juli 1937 di Singaraja. Djatajoe, No. 5, 25 December, Thn. 1. Soerabaia: Moern Cannalaan.
Soerjokoesoemo, Nji. 1938. “Mempertinggi dradjat perempoean”. Soerabaya: Modern Cannalaan. Djatajoe, No. 3-4. 25 November, Thn. 3.
Sidikaria, I G. K. 1937. “Balans Kas Studiefonds B.D.L. Tahoen 1936-1937”, Djatajoe, No. 1, 25 Augustus, Thn. 2. Soerabaia: Modern Cannalan.
Sidikaria, I G. K. 1938. “Balans Kas Studiefonds B.D.L. Tahoen 1937-1938”, Djatajoe, No. 2, 25 September, Thn. 2. Soerabaia: Modern Cannalan.
Sidikaria, I Gusti K. 1940. “Balans Kas Studiefonds B.D.L 1939/1940”, Djatajoe, No. 1, 25 Augustus, Thn. 5. Soerabaia: Modern Cannlaan.
Tangkeban, K. 1937. “Hendak Madjoe Kemana”, Djatajoe,No. 4, 25 September, Thn. 3. Soerabaia: Modern Cannalaan.

[1] A. A. Gde Putra Agung dan I Nengah Musta, Sejarah Pendidikan Daerah Bali (Denpasar: Depdikbud, 1991/1992), p. 48. Baca juga, Rika Umar, op. cit., p. 8. Lihat, I Gusti Ngurah Rai Mirsha, (et. al.,), Sejarah Bali (Denpasar: Proyek penyusunan Sejarah Bali, Pemda Dati I Bali, 1986), p. 205.
[2] Sutrisno Kutoyo, (et. al.,), Sejarah Kebangkitan….., op. cit., p. 25.
[3] I Gusti Ngurah Rai Mirsha, (et. al.,), Sejarah Bali, op. cit., pp. 206-207. A. A. Gde Putra Agung, Sejarah Pendidikan……., op. cit., p. 50.
[4] A. A. Gde Putra Agung (dkk), Sejarah Sosial……., op. cit., p. 25.
[5] Mr. Ida Anak Agung Gde Agung, Kenangan Masa Lampau: Zaman Koloneal Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993), p. 22.
[6] Ida Bagus Gde Budharta (dkk), “Pertumbuhan Ide Nasionalisme dalam Masyarakat Bali”, Laporan Penelitian (Denpasar: F. S. Unud, 1986), pp. 43-44.
[7] ibid., pp. 44-45. Lihat pula, Ni Luh Ketut Sukarniti, op. cit., pp. 33-34.
[8] I Nyoman Djuana, “Peranan Organisasi Taman Siswa dalam Pergerakan Nasional di Bali 1933-1943”, Skripsi S-1 belum diterbitkan (Denpasar: F. S. Unud, 1987), p. 53. Baca juga, A. A. Gde Putra Agung dan I Nengah Musta, op. cit., p. 56.
[9] Ibid., p. 56. A. A. Gde Putra Agung, I Nengah Musta, ibid., p. 57.
[10] Ni Luh Ketut Sukarniti, op. cit., p. 34.
[11] Ibid., pp. 34-35.
[12] Ida Bagoes Ketoet Roereos, “Notulen dari Rapat Pergaboengan EKA LAKSANA dan BALISCH STUDIEFONDS pada hari Minggoe tanggal 26 Juli 1936 di Clubhuis Pabean SINGARAJA”, Djatajoe, No. 1, 25 Agustus, Thn 2, (Soerabaia: Modern Cannalaan, 1937) pp. 1-4.
[13] I G. K. Sidikaria, “Balans Kas Studiefonds B.D.L. Tahoen 1936-1937”, Djatajoe, No. 1, 25 Augustus, Thn. 2, (Soerabaia: Modern Cannalan, 1937), p. 7.
[14] I G. K. Sidikaria, “Balans Kas Studiefonds B.D.L. Tahoen 1937-1938”, Djatajoe, No. 2, 25 September, Thn. 2, (Soerabaia: Modern Cannalan, 1938), pp. 52-53.
[15] I Gusti K. Sidikaria, “Balans Kas Studiefonds B.D.L 1939/1940”, Djatajoe, No. 1, 25 Augustus, Thn. 5,(Soerabaia: Modern Cannlaan, 1940), pp. 12-13.
[16] “Soerat Perdjandjian Memindjam Oeang”, Djatajoe, No. 8, 25 Maart, Thn. 4, (Soerabaia: Modern, 1940), pp. 230-233.
[17] Ida Bagoes Indra, “Onderwijs”, Djatajoe, No. 8,25 Maart, Thn. II, (Soerabaia: Modern Cannalaan, 1938), pp. 240-241.
[18] “ Kehadapan Majelis Paroeman Agoeng di Denpasar” Djatajoe, No. 25 Pabruari, Thn. 4 (Soerabaia: Modern Cannalaan, 1940),, p. 221.
[19] I Goesti Poetoe Merta, “Soeka Maharoe”, Djatajoe,  no.11 25 Juni, Thn, 1, (Soerabaia: Modern Cannalaan, 1937), pp. 317-318.
[20] “Verslag dari Secretaris Hoofdbestuur pada Congres kedoe dari Bali Darma Laksana di Denpasar”,  Djatajoe, No.2, 25 September, Thn. 3, (Soerabaia: Modern Cannalaan, 1937), p. 46.
[21] K. Tangkeban, “Hendak Madjoe Kemana”, Djatajoe,No. 4, 25 September, Thn. 3, (Soerabaia: Modern Cannalaan, 1937), p.101.
[22] Lihat Ida B.K Roeroes, “Congres” B.D.L” Jang pertama pada boelan Juli 1937 di Singaraja. Djatajoe, No. 5, 25 December, Thn. 1, (Soerabaia: Moern Cannalaan, 1936), p. 192.
[23] Lihat Ida B.K Roeroes, “Congres” B.D.L” Jang pertama pada boelan Juli 1937 di Singaraja. Djatajoe, No. 5, 25 December, Thn. 1, (Soerabaia: Moern Cannalaan, 1936), p. 192.
[24] Lihat I Made Kodhana, “Notulen dari Cabang B.D.L. jang pertama. Vergadering tanggal 25 1937, di Clubhuis Pabean SINGARAJA” Djatajoe, No. 2. 25 September, Thn. 3, (Soerabaya: Modern Cannalaan, 1938), pp.35-45.
[25] Lihat Notulen dari Congres B.D.L. jang pertama. Vergadering tanggal 25 Juli 1937, di Clubhuis Pabean” SINGARAJA. Djatajoe, No. 2. 25 September, Thn. 3, (Soerabaya: Modern Cannalaan, 1938), pp.35-47.

[26] Lihat Lezing oleh nona Anak Agoeng Rai pada Congres II. Djatajoe, No. 2. 25 September, Thn. 3, (Soerabaya: Modern Cannalaan, 1938), pp.63-64.
[27] Lihat Nji Soerjokoesoemo dalam tulisan berjudul “Mempertinggi dradjat perempoean” Djatajoe, No. 3-4. 25 November, Thn. 3, (Soerabaya: Modern Cannalaan, 1938), pp.107-109.
[28] Lihat Notulen dari Congres B.D.L. jang pertama. Vergadering tanggal 25 Juli 1937, di Clubhuis Pabean” SINGARAJA. Djatajoe, No. 2. 25 September, Thn. 3, (Soerabaya: Modern Cannalaan, 1938), pp.36-47.
[29] Lihat I Made Kodhana, “Noltulen congres Bali Darma Laksana jang ke-3 pada 22 Juli 1939 di Gedoeng Soesila” Klungkung”, Djatajoe, No. 12. 25 Juli, Thn. 4, (Soerabaya: Modern Cannalaan, 1938), pp. .357-367.
[30] Lihat I Made Kodhana, “Noltulen congres Bali Darma Laksana jang ke-3 pada 22 Juli 1939 di Gedoeng Soesila” Klungkung”, Djatajoe, No. 12. 25 Juli, Thn. 4, (Soerabaya: Modern Cannalaan, 1938), pp. 357-367.
[31] “ Berita Hoofdbestuur”, Djatajoe, No. 9-10, 25 April-Mei, Thn4 (Soerabaia: Modern Cannalaan, 1940), P. 302.

Peta