Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

Kamis, 03 November 2011

PERANAN SELAT BALI MASA REVOLUSI PISIK TAHUN 1945 – 1949


TAHUN 1945 – 1949


I Made Sumarja


ABSTRACT
Peranan Selat Bali pada  masa Revolusi Pisik sangat penting baik didalam pengiriman bantuan senjata, tentara dan sebagainya, sehingga diawasi sangat ketat oleh Belanda supaya hubungan pejuang Bali dengan pejuang yang ada di Jawa terbatas. Selat Bali sepanjang revolusi pisik menempati posisi sebagai garis hidup bagi perjuangan di Bali karena sebagai tempat lalulintas dan penghubung para pejuang di Bali dengan pejuang yang ada di Jawa. Perjuangan bersenjata di Bali ditentukan terutama karena berhasil tidaknya usaha untuk mempertahankan jalur hubungan Jawa – Bali melalui daerah Bali Barat yaitu Selat Bali. Perjuangan setelah kemerdekaan ini dikenal dengan Perjuangan Revolusi Pisik yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dengan taktik perjuangan gerilya.
Kata kunci: Selat Bali masa Revolusi Pisik 


ABSTRACT
The Role of Bali Strait in the time of Armed Revolution is very important both in shipments of additional weapons, soldiers, etc, so it is watched closely by the Dutch in order to limit the link between Balinesse and Javanesse patriotist. Bali Strait during armed revolution occupied as a struggle lifeline position in Bali as a place of traffic and connecting the patriotist in Bali with the patriotist in Java. Armed struggle in Bali is determined by the success of efforts to maintain the link lines of Java - Bali through Bali Strait in west part of Bali. Struggle after independence is known as the Struggle of Armed Revolution involving various levels of society with tactics of guerrilla struggle
Key words: Bali Strait during the Armed Revolution


A. PENDAHULUAN
Berita Proklamasi 17 Agustus  1945 di Bali secara resmi tersebar pada tanggal 23 Agustus 1945, setelah kedatangan Mr. I Gusti Ketut Pudja dari Jakarta untuk memangku jabatan sebagai Gubernur Sunda Kecil. Para pemuda menyambut dengan gembira dan kemudian membentuk organisasi pemuda yang bernama Angkatan Muda Indonesia (AMI) pada ahir bulan Agustus 1945 di Denpasar dan Singaraja. AMI ini menyebar luaskan berita Proklamasi ini, menempelkan selebaran kertas merah putih kecil-kecil di tembok-tembok dan mengibarkan Bendera Merah Putih. (Agung, dkk., 1986: 55-57., Wirawan, 2004: 2-3). Datangnya para pelajar-pelajar Bali yang belajar di Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta menambah semaraknya menyambut Proklamasi di Bali. Para pelajar ini diintruksikan oleh badan-badan perjuangan yang ada di Jawa supaya ikut serta mempertahankan kemerdekaan. Berkat usaha yang keras sehingga berita Proklamasi tersebar secara luas. (Hardjawiganda, 1982: 7-9).
            Walaupun Jepang sudah menyerah, namun sikap bala tentara Jepang lebih banyak menunggu perkembangan situasi. Mereka terikat pada tugas yang diberikan oleh Sekutu, yakni menjaga ketertiban dan keamanan menjelang tentara Sekutu datang. Jepang bersikap sedikit lunak, tetapi juga tida begitu saja bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada pejuang Bali. Didalam hal ini pejuang Bali menghadapi dua masalah pokok; pertama, bagaimana caranya menegakkan pemerintah Republik Indonesia yang telah di raih, dan yang kedua, bagai mana caranya untuk mendapatkan senjata dari tangan Jepang yang telah menyerah kepada Sekutu. Usaha-usaha yang telah dilakukan yaitu utusan Pemuda Republik Indonesia (PRI) dibawah Widjakusuma telah tiga kali menghubungi Komandan Kaigun Jepang yang berada di Denpasar, dengan tujuan agar Jepang bersedia menyerahkan senjatanya kepada para pemuda. Permintaan ini ditanggapi secara ragu-ragu oleh Jepang karena mereka takut setelah senjata dimiliki oleh para pejuang Bali, Jepang diserang balik oleh para pemuda pejuang. Karena usaha untuk mendekati Jepang tidak berhasil maka dilakukan penyelundupan senjata dari Jawa seperti yang dilakukan oleh I Nyoman Adi, Ida Bagus Suweta, Made Regog dan yang lainnya. Pada tanggal 8 Oktober 1945 di Singaraja Jepang secara resmi menyerahkan kekuasaannya kepada Gubernur Ketut Pudja. Penyerahan kekuasaan ini didahului dengan rapat umum di lapangan sepak bola (sekarang lapangan Letkol Wisnu) di kota Singaraja. Rapat di pimpin oleh I Nengah Metera. I Gusti Ketut Pudja menjelaskan latar belakang Proklamasi dan struktur pemerintahan Republik Indonesia dan menyampaikan bahwa beliau adalah selaku Gubernur Sunda Kecil hasil pemilihan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang disahkan oleh Presiden RI Ir. Sukarna. Setelah rapat ini semangat rakyat Bali meluap-luap dan dengan pekik merdeka serta dengan membawa Bendera Merah Putih menambah semangat perjuangan rakyat Bali (Hardjawiganda, 1982: 11-13).             
            Didalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan sangat dibutuhkan pasukan yang kuat dan persenjataan yang kuat pula. Oleh karena persenjataan yang sangat kurang, maka ketua PRI Denpasar menugaskan beberapa orang anggotanya yaitu Rama, Mega, Regig, Herman bergabung dengan rombongan Singaraja yang dipimpin oleh Gede Muka Pandan, untuk pergi ke Jawa meminta bantuan senjata dan bertemu dengan para pimpinan yang ada di Jawa. Untuk mengkoordinir segala bantuan dari Jawa, demikian pula untuk mengadakan hubungan ke Bali, maka di Banyuwangi dibentuk suatu badan yang bernama Badan Penghubung Jawa Bali dengan pengurusnya adalah Ida Bagus Mahadewa sebagai Pimpinan dan Subroto Aryo Mataram sebagai Perwira Penghubung dengan markasnya di rumah Ida Bagus Mahadewa (Rama, dalam A.A. Gde Putra Agung (ed.), 1989: 326-330).
Peranan Selat Bali pada  masa Revolusi Pisik sangat penting baik didalam pengiriman bantuan senjata, tentara dan sebagainya, sehingga diawasi sangat ketat oleh Belanda supaya hubungan pejuang Bali dengan pejuang yang ada di Jawa terbatas. Untuk menghindari bentrokan atau pengawasan oleh pihak Belanda maka para pejuang melakukan taktik atau strategi supaya Bali Barat tidak terlalu ketat dijaga. Para pejuang berusaha mengalihkan perhatian Belanda ke Bali Utara dan Bali Timur. Hal ini dilakukan para pejuang guna melancarkan bantuan yang datang dari Jawa melintasi Selat Bali. Perjuangan setelah kemerdekaan ini dikenal dengan Perjuangan Revolusi Pisik yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.           Studi tentang revolusi, termasuk revolusi pisik di Bali biasanya lebih difokuskan pada gambaran bentrokan pisik yang terjadi antara pihak kelompok revolusioner yang mau mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan dan pihak penjajah beserta pendukung-pendukungnya yang ingin mengembalikan kekuasaan koloneal. Hal ini dianggap wajar, karena pergulatan pisik memang sangat mendominasi fenomena revolusi. Namun demikian, perlu disadari bahwa studi revolusi mengandung banyak dimensi, baik yang bersifat sosio-politik maupun sosio-kultural. Malah dilihat dari berbagai segi, studi tentang beberapa dimensi non-fisik dari revolusi tersebut merupakan hal yang sangat penting diperhatikan dalam rangka pemahaman gejala-gejala sosial baru (pasca revolusi) yang sedikit banyak terkait dengan goncangan-goncangan sosial struktural selama revolusi (Widja, 1993: 1)                Walaupun Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya melalui Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, namun Belanda dibawah naungan tentara Sekutu masih tetap ingin berkuasa di Indonesia. Begitu juga halnya di Bali, Belanda kembali ingin berkuasa dan melakukan tindakan penangkapan dan penyiksaan terhadap penduduk dan para pemimpin. Untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan perjuangan panjang, maka para pemuda pejuang di Bali kembali berjuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan yang terkenal dengan Revolusi Fisik. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana peranan Selat Bali pada Masa Revolusi Pisik?
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengungkap peristiwa  dimasa lampau terutama di Selat Bali yakni pada Masa Revolusi Pisik, sehingga peristiwa ini tetap bisa dikenang oleh para generasi penerus, dan untuk mengetahui bagaimana peranan Selat Bali pada Masa Refolusi Pisik. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat, pemahaman serta makna lebih dalam terhadap nilai-nilai perjuangan sehingga para generasi muda sekarang akan tahu betapa susahnya para pejuang merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengorbankan jiwa mereka demi Indonesia Merdeka. Dengan demikian diharapkan tertanam dan tumbuh semangat nasionalisme dan rasa cinta terhadap tanah air di era otonomi dan global seperti sekarang ini yang tidak disadari ikut menipiskan rasa kebangsaan, rasa persatuan sehingga dapat tercegahnya disintegrasi bangsa yang sering muncul akhir-akhir ini. 
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode sejarah, untuk mencari sumber lisan maupun tertulis (Kuntowijoyo, 1995: 94-102., Gootschak, Louis, 1975: 8., Soeroto, Soeri, 1980: 12). Sumber tertulis diperoleh dari perpustakaan dan sumber yang disimpan oleh para tokoh atau pejuang sejaman. Sedangkan sumber lisan diperoleh dengan wawancara (Singarimbun, Sofyan Efendi, 1982: 145-150., Usman, 1983: 1) Data dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang dikumpulkan baik lisan maupun tulisan, lalu disusun fakta-fakta  dalam suatu sintese kisah yang bulat secara kronologis menjadi kisah sejarah.
            Untuk dapat menghasilkan studi sejarah yang menyatu dan utuh, tidak dapat hanya bertumpu pada teori dan metodologi sejarah saja. Harus disadari bahwa peristiwa sejarah bersifat kompleks atau berdimensi multi. Oleh karenanya untuk mendekati peristiwa sejarah harus dari berbagai segi, baik sosial budaya, sosial ekonomi, politik dan sebagainya. Pendekatan terhadap peristiwa sejarah dari berbagai dimensi menuntut sejarawan agar melengkapi diri dengan berbagai konsep dan kerangka referensi dari berbagai ilmu sosial.    Menurut Soerjono Soekanto, peranan lebih banyak menunjukkan pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. (Soekanto, 2001: 269). Revolusi Fisik di Bali merupakan bentuk perjuangan di tingkat lokal, yang bertujuan untuk mengubah struktur masyarakat, yaitu dari masyarakat terjajah menuju terciptanya masyarakat yang merdeka dengan menggunakan cara-cara kekerasan (revolusi). Menurut Anthony Reid, revolusi adalah restrukturasi fudamental dari suatu sistem politik dengan kekerasan dalam waktu yang relatif singkat. Dimulai dengan tindakan membangkang, menghancurkan rezim lama dan berakhir dengan memaksakan dengan suatu jenis rezim baru yang relatif stabil, biasanya sesuatu yang berbeda dari yang dilihat oleh para revolusioner pada tahap pertama (Reid, 1981: 33).
            Revolusi-revolusi politik menunjukkan perubahan-perubahan yang dahsyat dalam perimbangan-perimbangan kekuasaan. Biasanya revolusi-revolusi ini adalah akibat dari perobahan dalam tata susunan kelas-kelas dan tingkatan-tingkatan dalam masyarakat. Ini ditentang oleh kekuasaan yang telah tegak, sehingga terjadi ketegangan-ketegangan politik dan sosial (Bouman, 1984: 82-83). Revolusi itu haruslah mengandung perubahan-perubahan yang fudamental; disamping itu perubahan-perubahan tersebut haruslah terjadi dalam waktu yang relatif singkat (Dekker, 1989: 12).
            Lemahnya persenjataan yang dimiliki pasukan sehingga perlu dilakukan strategi dan taktik dalam peperangan yakni perang gerilya. Teori gerilya yang dikemukakan oleh Ernesto Cha Guevara menyebutkan bahwa perang gerilya adalah suatu peperangan dari banyak masa, suatu peperangan dari rakyat. Sumber kekuatan kesatuan adalah masa rakyat itu sendiri. Perang gerilya dilakukan karena didukung oleh mayoritas rakyat, meskipun memiliki jumlah senjata yang jauh lebih kecil untuk pertahanan ketimbang penindas. Keberhasilan gerilya walaupun kekuatannya lebih kecil, namun sangat ditentukan oleh keadaan geografis dan dukungan rakyat (Guovara, 2004: 4). Dengan menggunakan konsep dan teori tersebut diharapkan dapat diperoleh gambaran mengenai Peranan Selat Bali pada Masa Revolusi Pisik 1945 – 1949 secara menyatu dan utuh.
   
B. PERANAN SELAT BALI  DALAM REVOLUSI PISIK
a. Sebagai Tempat Lalulintas
Seperti yang dikemukakan di atas bahwa berita Proklamasi baru diketahui di Bali setelah Mr. I Ktut Puja, wakil Sunda Kecil dalam PPKI tiba pada tanggal 23 Agustus 1945. Pemerintah telah mengangkatnya sebagai gubernur Sunda Kecil dan Bagus Putu Manuaba sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) di Bali. Usaha Ktut Puja dan Manuaba untuk menyebarkan berita Proklamasi banyak menghadapi rintangan. Berita Proklamasi baru diterima secara agak luas setelah beberapa utusan para pelajar dikirim ke Bali seperti dari Banyuwangi, Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta. (Hardjawiganda, dkk, 1982: 7., Agung, dkk, 1986: 55-57., Wirawan, 2004: 2-3., Pageh, 2004: 7-8).
            Sedangkan untuk daerah Jembrana berita Proklamasi baru diketahui setelah datangnya dua orang pemuda dari Jawa yang bernama Sukardani dan Sumardi pada bulan September 1945. Beliau berdua menemui Anak Agung Gde Winaya dan Anak Agung Bagus Suteja. Anak Agung Bagus Suteja kemudian mengundang lima pemuda kota yaitu Ketut Punia, Nyoman Nirba, Nyoman Suka, Ngurah Teken Pinatih, dan Ketut Wedha, untuk hadir di rumah Anak Agung Gde Winaya. Didalam pertemuan ini disampaikan oleh Sukardani dan Sumardi bahwa kedatangannya untuk memberitahukan tentang kampaye yang dilancarkan oleh berbagai organisasi pemuda dari kota-kota besar di Jawa untuk menyebarluaskan perkembangan terakhir yakni menyerahnya Jepang kepada Sekutu dan telah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Sukarno dan Hatta. Kedua pemuda ini mengajak pemuda Jembrana dan pemuda Indonesia umumnya harus berdiri dibelakang Sukarno-Hatta untuk menyelamatkan kemerdekaan Indonesia yang baru diraih ini, bila perlu dengan tetesan darah. Sukardani dan Sumardi juga menyampaikan bahwa keesokan harinya mereka akan melanjutkan perjalanan ke Tabanan, Denpasar bila perlu keseluruh wilayah Sunda kecil untuk menyampaikan berita kemerdekaan ini (Wedha, 2006: 1-3).  
            Menindaklanjuti pertemuan yang diadakan di rumah Anak Agung Gde Winaya, maka dilakukan pertemuan khusus di suatu gedung (gedung Pengadilan Negeri Negara sekarang) yang dihadiri oleh hampir semua eksponen pemuda di daerah Jembrana seperti bekas PETA, KAIGUN HEIHO, JIBAKU TAI, SEINENDAN dan yang lainnya. Pertemuan pada bulan September 1945 ini melahirkan terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dipimpin oleh I Nyoman Nirba. Badan kelengkapan pemerintah yang lain juga dibentuk pada bulan September 1945 seperti Komite Nasional Indonesia (KNI) yang dipimpin oleh A.A. Putu Mahayun. BKR kemudian dilebur menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipinpin oleh I gusti Ngurah Rai sesuai dengan pertemuan di Denpasar. Satu kompi TKR dibentuk di Negara yang diresmikan oleh raja Jembrana A.A. Bagus Negara, dengan Komandan A.A. Bagus Kahayun dan I Dewa Nyoman Teges sebagaiWakil Komandan. Kelaskaran rakyat juga dibentuk yang bernama Pemuda Republik Indonesia (PRI) untuk berpartisipasi dalam gerakan revolusioner mempertahankan tanah air dari ancaman tentara koloneal (Pugeh, dkk, 1988: 44-46).  
            Lalulintas penyebrangan di Selat Bali semakin gencar dilakukan oleh para pemuda semenjak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia. Hal ini terlihat juga dengan disebrangkannya rombongan penerangan dibawah pimpinan Muryono (Ketua KNI Banyuwangi) dikirim dari Banyuwangi melalui Selat Bali menyebrang menuju Bali dibantu oleh Suparno dan Suwandi. Ikut pula dalam rombongan Ida Bagus Mahadewa dan sejumlah pemuda Bali lainnya. Mereka berangkat dari pelabuhan Gilimanuk langsung menuju Singaraja untuk mendesak Gubernur Puja agar segera membentuk pemerintahan dan aparat pertahanan. Dari Singaraja mereka berkunjung ke daerah lainnya seperti denpasar dan Karangasem. Setelah itu mereka kembali ke Banyuwangi lewat Jembrana menyebrangi Selat Bali.
Utusan lain dari Jawa yang juga melintasi Selat Bali untuk menyampaikan berita proklamasi dilakukan sekitar  bulan Oktober-November 1945 yakni rombongan mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku) Jakarta. Rombongan ini merupakan tim penerangan yang dibentuk oleh Menteri Penerangan Amir Syarifuddin pada awal Oktober 1945. Rombongan diberangkatkan ke Bali melalui Surabaya, Jember terus ke Banyuwangi.  Tim mahasiswa ini terdiri dari 26 orang yang dipimpin oleh Komang Makes, bertugas untuk memberikan penerangan tentang berita Proklamasi, naskah Proklamasi dan UUD 1945 ke Sunda Kecil sampai ke lapisan masyarakat terbawah. Rombongan di pecah menjadi tiga kelompok dengan tujuan apabila satu kelompok ditangkap oleh Jepang, maka kelompok lain bisa menyelamatkan diri. Kelompok pertama terdiri dari 8 orang dipimpin oleh Rustandi dengan beberapa anggota seperti Juana, Mahar, Mardjono, Seto, Setiono, Sofyan dan Amsyar. Mereka berangkat dari Banyuwangi dengan sebuah perahu sewaan pada malam hari melintasi Selat Bali dan mendarat di pantai Selatan Jembrana selanjutnya menuju kota Negara dengan bantuan salah seorang pemuda yang bernama Sutejo. Setelah sampai di Negara kelompok ini (kelompok pertama) dipecah lagi menjadi dua yakni empat orang menuju Denpsar, dan yang lainnya menuju Singaraja tempat kediaman gubernur Sunda Kecil. Dari rombongan mahasiswa ini hanya kelompok pertama saja yang berhasil mendarat dengan selamat di Bali. Kelompok kedua dan ketiga ditangkap oleh Jepang dan baru dikembalikan ke Banyuwangi setelah Letnan Waroka dari BKR Laut Banyuwangi menukar mereka dengan dua perwira Jepang    (Hardjawiganda, dkk, 1982: 8-10).           
b. Sebagai Tempat Penghubung
            Walaupun bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya dan Jepang telah menyerah kepada Sekutu, namun sikap balatentara Jepang lebih banyak menunggu perkembangan situasi. Usaha-usaha yang telah dilakukan yaitu utusan Pemuda Republik Indonesia (PRI) dibawah Widjakusuma telah tiga kali menghubungi Komandan Kaigun Jepang yang berada di Denpasar, dengan tujuan agar Jepang bersedia menyerahkan senjatanya kepada para pemuda. Permintaan ini ditanggapi secara ragu-ragu oleh Jepang karena mereka takut setelah senjata dimiliki oleh para pejuang Bali, Jepang diserang balik oleh para pemuda pejuang. Karena usaha untuk mendekati Jepang tidak berhasil maka dilakukan penyelundupan senjata dari Jawa seperti yang dilakukan oleh Nyoman Adi, Ida Bagus Suweta, Made Regog, dan yang lainnya. Pada tanggal 8 Oktober 1945 di Singaraja Jepang secara resmi menyerahkan kekuasaannya kepada Gubernur Ketut Pudja. Penyerahan kekuasaan itu didahului dengan rapat umum di lapangan sepak bola (sekarang lapangan Letkol Wisnu) di kota Singaraja dipimpin oleh I Nengah Metera (Rochmat Hardjawiganda, 1982: 11-13). 
            Pada tanggal 8 Desember 1945 di Singaraja antara pimpinan TKR, PRI, dan Pesindo dengan kesatuan-kesatuan pemuda lainnya diadakan pertemuan istimewa guna mempersatukan tekad dan sikap terakhir terhadap balatentara Jepang yang telah menyerah kalah kepada Sekutu. Didalam pertemuan ini diambil kebulatan tekad untuk melucuti senjata Jepang. Serangan secara serentak terhadap tangsi-tangsi Jepang di seluruh Bali dilakukan pada tanggal 13 Desember 1945. Tepat pada pukul 24.00 (tengah malam). Serangan ini ternyata telah diketahui oleh pihak Jepang. Tembakan yang gencar dari Jepang mengakibatkan gagalnya perebutan senjata (Nyoman S. Pendit, 1979: 104-107).
Akibat penyerbuan terhadap tangsi-tangsi Jepang ini, para pemimpin pemerintahan Sunda Kecil ditangkap oleh Jepang antara lain; Gubernur Mr. Pudja, Ketua KNI I. B. P. Manuaba, Komandan TKR Singaraja I Made Putu, Nyoman Kajeng, Ketut Sempidi, Gusti Nyoman Wirya, dan Sutomo. Pemimpin Pesindo Gede Puger beserta anggota stafnya Gusti Bagus Widjaka juga tertangkap dan digiring ke tangsi Jepang di Banyumala. Para pemuda juga banyak yang ditangkap seperti, Putu Merta, Putu Pasek, dan Bung Suwandhi dari pelajar. Dr. Subandi sebagai pemimpin Palang Merah Indonesia (PMI) juga dijebloskan ke penjara. Jepang terus menangkap orang-orang yang terlibat dalam penyerbuan terhadap tangsi-tangsi Jepang untuk merebut senjata. (Nyoman S. Pendit, 1979: 108-110).   
            Kegagalan gerakan 13 Desember 1945 semakin membuat ganasnya pasukan Jepang dan meningkatkan kewaspadaanya terhadap para pemuda pejuang. Jepang melumpuhkan jaringan kekuatan pejuang diseluruh Bali. Hubungan antara satu dengan yang lainnya sementara terputus. Masing-masing berusaha menyelamatkan diri. Jepang menebarkan dan memperkuat pos-pos penjagaan/pengamanan sepanjang pantai Barat dan Utara Bali. Tampaknya pos-pos ini dimaksudkan untuk mencegah bantuan atau melumpuhkan penghubung dari Jawa terhadap perjuangan di Bali. Secara geografis tempat-tempat ini sangat baik untuk jalur penyebrangan antara Jawa-Bali. Jepang juga banyak menyebarkan mata-matanya sepanjang pantai Utara dan Bali Barat.
            Setelah melakukan perundingan antara Widjakusuma, Cokorda Ngurah, I Gusti Putu Wisnu, Wayan Ledang, Wayan Debes, dan I Gusti Ngurah Rai maka diputuskan untuk memperoleh senjata tidak mungkin dilakukan di Bali. Maka diputuskan pasukan pergi ke Jawa yaitu minta bantuan kepada MB TKR di Yogya. Pembagian tugaspun dilakukan. Widjakusuma dan Wayan Debes akan tetap berada di Bali untuk mengorganisir gerakan-gerakan. I Gusti Ngurah Rai, Wayan Ledang, I Gusti Putu Wisnu, Cokorda Ngurah diputuskan untuk berangkat ke Jawa guna mencari bantuan (Nyoman S. Pendit, 1979: 113-115., Rochmat Hardjawiganda, 1982: 42-43).  
            Sebelum berangkat ke Jawa diadakan penyelidikan yang dilakukan oleh kurir sehingga jalan yang akan dilalui nanti dalam keadaan aman. Widjakusuma dengan beberapa orang lainnya mencari uang untuk biaya rombongan yang akan berangkat ke Jawa. Pada tanggal 19 Desember 1945 rombongan I Gusti Ngurah Rai berangkat ke Jawa melalui Munsiang menuju Munduk Malang, terus ke Singaraja, Desa Empedan, dan Gesing. Dari Gesing Ngurah Rai, Wayan Ledang, Putu Wisnu, dan Cokorda Ngurah berangkat menuju Banyuwangi dengan sebuah jukung pada malam hari. Rombongan Ngurah Rai baru mendarat pada tanggal 1 Januari 1946 di pantai Wongsorejo, kira-kira 20 km disebelah Utara Banyuwangi. Di tempat ini Ngurah Rai disambut oleh Inspektur Polisi Ida Bagus Mahadewa wakil kepolisian Banyuwangi, dan Kapten Infantri GID Wiyono (Nengah Dana) Komandan Militer Kota Banyuwangi. Rombongan selanjutnya diajak ke Jalan Mojoroto No. 13. Selama beberapa hari berada di Banyuwangi sudah ada orang yang datang menghadap kepada Ngurah Rai dan menyatakan secara sukarela menyumbangkan tenaga mereka untuk membantu perjuangan di Bali. Karena banyak yang mau ikut bergabung, maka tenaga-tenaga sukarela ini perlu diatur dengan baik sehingga dibentuk Badan Penghubung Jawa-Bali yang dipimpin oleh Mahadewa dan Subroto Aryo Mataram sebagai perwira penghubung. Markas ditetapkan di rumah Mahadewa di jalan Mojoroto No. 13 Banyuwangi.
            Pemuda-pemuda pejuang dari Bali banyak yang menyusul rombongan ekspedisi Ngurah Rai ke Banyuwangi antara lain, Cokorda Darma Putra, Cokorda Oka Sudarsana, Sutama, Made Pugeg, Ida bagus Anom Ngurah, Sueta, Nyoman Adi, K. Suwena, dan yang lainnya. Putra-putra asal Bali yang bersekolah atau berjuang di Jawa berdatangan ke Banyuwangi sehingga terkumpul kurang lebih satu unit pasukan dengan senjata yang lengkap. Sesuai dengan anjuran Sriaman dan Istiklah, rombongan TKR Sunda Kecil menuju Jember untuk menemui A. Chalik. Dari Jember Ngurah Rai menuju Malang menemui Komandan Divisi VIII Jenderal Mayor Imam Sudja’I, dan juga sempat bertemu dengan Bung Tomo. Misi Resimen TKR Sunda Kecil dibawah pimpinan  Ngurah Rai selama di Jawa dari tanggal 1 Januari 1946 sampai akhir Maret 1946 membawa hasil yang baik. Rombongan Ngurah Rai di Markas Besar Tertinggi (MBT) TRI diterima oleh Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Urip Sumoharjo. Didalam pertemuan ini disampaikan permohonan bantuan senjata dan personal oleh Ngurah Rai. Rombongan juga menghadap kepada Presiden RI Soekarno dan Mentri Pertahanan Mr. Amir Syarifudin. Semua laporan mendapat tanggapan yang baik dan disanggupi untuk memberikan bantuan senjata serta perlengkapan. Oleh Kepala Staf Umum rombongan kemudian dihadapkan kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dalam pertemuan singkat yang juga dihadiri oleh Mentri Luar Negeri A. H. Salim dan rombongan Resimen TRI Sunda Kecil dibahas dan dirumuskan situasi perjuangan Bali khususnya dan Sunda kecil umumnya. Langkah-langkah perjuangan lebih lanjut dan masalah bantuan bagi perjuangan Bali dan Sunda kecil  disepakati dalam pertemuan sebagai berikut; Oleh Pemerintah Pusat RI di Yogyakarta telah diberikan kepercayaan untuk mengatur perjuangan secara semesta. Dari Bandung (Jawa Barat), Salatiga, Semarang dan lain-lain (Jawa Tengah), juga dari Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin oleh Bung Tomo (Jawa Timur) telah diterima bantuan senjata berupa ranjau darat, granat dan karaben. Khusus Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Armada V membantu juga perjuangan dibawah pimpinan Markadi. Markas Besar Tentara Staf Umum I menyumbang tenaga pasukan Intelegent Service. Bantuan-bantuan lain yang dapat diterima mencakup: Korp Mahasiswa, Korp Polisi Jawa Timur terutama yang berasal dari Bali dan Lombok menyumbangkan tenaga pasukan dibawah pimpinan Inspektur Polisi kelas I Ida Bagus Mahadewa, Palang Merah Indonesia Pusat menyumbang tenaga sukarela dan obat-obatan.
Selain keputusan yang disampaikan oleh Kepala Staf Umum TRI tersebut, I Gusti Ngurah Rai diperintahkan segera mengadakan koordinasi dengan TRI Angkatan Laut. Selesai pertemuan singkat itu, rombongan yang terdiri atas I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Bagus Putu Wisnu, Subroto Aryo Mataram, Cokorda Ngurah dan Wayan Ledang dilantik secara resmi oleh Kepala Staf Umum TRI atas nama Panglima Besar Jenderal Sudirman dan menetapkan kepangkatan dan jabatan kepada Perwira Resimen Sunda Kecil I Gusti Ngurah Rai selaku Komandan Resimen Sunda Kecil dinaikkan pangkatnya dari Mayor menjadi Letnan Kolonel, sedangkan para perwira lainnya masih tetap dengan pangkat semula (Wayan Sudarta, 2001: 9-13., Gusti Bagus Meraku T., 2000: 45-47., Rochmat Hardjawiganda, 1982: 43-47).   
            Akhir Maret 1946 semua urusan sudah selesai, baik bantuan personal dari TRI Laut, persenjataan maupun perlengkapan lainnya. Untuk merencanakan operasi penyebrangan telah diadakan rapat di Markas Penghubung Jawa-Bali di Jalan Mojoroto yang dipimpin langsung oleh I Gusti Ngurah Rai. Sebelum operasi penyebrangan, terlebih dahulu dilakukan pengintaian keperairan sepanjang pantai Bali Utara, pantai Bali Barat untuk menyelidiki tempat-tempat yang akan dituju. Penyelidik yang diutus ke Bali adalah Said dan Ridwan. Setelah menemukan tempat yang aman untuk tempat pendaratan, para penyelidik kembali ke Banyuwangi dan melaporkan kepada I Gusti Ngurah Rai. Setelah rencana matang maka ekspedisi penyebrangan dibagi menjadi empat rombongan. Rombongan pertama berangkat pada tanggal 3 April 1946, dan selanjutnya disusul oleh rombongan yang lainnya (Wayan Sudarta, 2001: 16-17). 

c. Sebagai Tempat Strategi
            Penangkapan serta penyiksaan terhadap para pejuang kemerdekaan dilaksanakan secara intensif oleh NICA, termasuk anak-anak sekolah juga menjadi sasaran penangkapan bahkan sampai dipenjarakan. Untuk melemahkan semangat rakyat Belanda menyiarkan cacian kepada para pejuang melalui pidato-pidato, penerangan, brosur dan surat kabar. Setelah beberapa diantara para pemimpin perjuangan dilepas kembali mereka pun mulai menyusun strategi perjuangan yaitu melakukan perjuangan secara diam-diam yang terkenal dengan gerakan bawah tanah.
            Perkembangan pergerakan mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di Pulau Jawa juga memberikan semangat baru bagi perjuangan-perjuangan di daerah terutama bagi rakyat yang cinta kemerdekaan termasuk perjuangan yang terjadi di Bali. Di berbagai tempat terdapat pelakat-pelakat yang bertanda banteng hitam dari gerakan banteng hitam dan kucing hitam. Di samping itu ada juga gerakan bawah tanah BASMI. Semua gerakan bawah tanah ini memberikan dorongan dan kesadaran kepada rakyat yang semangat perjuangannya mulai luntur karena tekanan-tekanan oleh Belanda. Datangnya para pemuda dari Jawa sangat membantu gerakan bawah tanah melalui bimbingan-bimbingan secara intensif.
            Sistem pertahanan benteng stelsel NICA yang semakin kuat dan didukung oleh para antek-antenya atau mata-matanya, sehingga pasukan pejuang menerapan system pertahanan rakyat semesta (total peoples defence), dengan menitik beratkan perlawanan rakyat dan pasukan induk sebagai tulang punggung perlawanan. Langkah pertama yang ditempuh dalam penerapan system pertahanan ini yaitu mengaktifkan seluruh fron basis gerilya mulai dari desa-desa yang pernah menjadi basis perjuangan. Kebencian rakyat mulai membara kembali, apalagi rakyat sangat membutuhkan senjata, makanan dan pakaian. Dengan menggunakan taktik gerilya para pemuda pejuang bersama rakyat mulai mengganggu tempat-tempat kedudukan Jepang maupun Belanda.    
Aksi-aksi pasukan sedapat mungkin menghindari suatu bentuk pertempuran yang bersifat frontal. Setiap pengepungan atau kurungan dari NICA dihindari. Dalam keadaan terdesak dan dikurung oleh NICA harus bisa meloloskan diri, karena kehancuran pasukan dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi strategi dan takti perjuangan. Taktik serangan yang dilancarkan yaitu serang-lari (Hit and run). Gerakan pasukan pasukan bersifat mobilisasi ke seluruh wilayah atau fron basis gerilya. Setiap basis gerilya ditempati maksimal 2 – 3 hari untuk menghindari kurungan-kurungan NICA. Orientasi gerakan ditujukan ke dua fron, yaitu ke dalam dan keluar. Ke dalam, mengaktifkan seluruh fron basis gerilya. Daerah-daerah yang sudah dikuasai NICA dicoba mengadakan kontak dan memasuki daerah tersebut. Mata-mata NICA yang menyebabankan rakyat sulit bergerak dibersihkan. Daerah yang berhasil direbut kembali dibentuk staf-stafnya. Ditiap fron basis gerilya dibentuk pasukan territorial (laskar) yang bertugas mempertahankan teritorialnya masing-masing dan melancarkan gerakan bawah tanah. Dalam mengaktifkan basis gerilya ini pasukan mengadakan Show yaitu aksi memperlihatkan diri ke basis-basis gerilya, untuk memperlihatkan kepada rakyat , bahwa pasukan gerilya masih mempunyai kekuatan untuk menghadapi NICA dan sebagai counter terhadap propaganda NICA, yang mengatakan bahwa pemuda telah habis dan tidak mempunyai persenjataan (Arsadi, 1993: 82-83). 
            Gerakan ke luar ditujukan terhadap NICA dalam bentuk aksi-aksi pengacauan, penghadangan dan yang terpenting adalah membersihkan mata-mata dan kaki tangan NICA. Gerakan ini bertujuan untuk mengadaan terror mental terhadap NICA dan kaki tangannya, menguras tenaga tentara NICA, sehingga pada akhirnya kedudukan NICA tidak aman. Teror-teror tetap diintensifkan. Cara seperti ini membuat NICA kecut juga nyalinya.   Gerakan ke dua fron ini sasarannya yang ingin dicapai adalah dibidang politik untuk memperlihatkan kepada dunia Internasional bahwa gerakan Republik masih kuat dan secara tegas menentang kekuasaan Belanda. Di bidang militer bertujuan untuk mengacaukan kedudukan NICA, dengan maksud menghambat mobilisasi kekuatan dan untuk membendung agresi militer NICA (Arsadi, 1993: 84).
            Sedangkan dalam penggunaan senjata strategi yang harus ditempuh adalah penggunaan senjata secara cermat dan efisien. Pengawasan dan pemeliharaan senjata dilakukan secara teliti dan jangan sampai jatuh ke tangan musuh, karena senjata adalah nyawa bagi pasukan. Begitu juga penggunaan amunisi dilakukan seefisien mungkin agar bias melakukan aksi dalam kurun watu yang lebih panjang. Pasukan bersemboyan “satu peluru satu nyawa dan setiap peluru yang meletus didaerah pendudukan musuh merupakan kemenangan bagi Republik”. Untuk itu setiap dalam pertempuran jangan sampai ada tembakan yang meleset dari sasaran. Karena persenjataan yang dimiliki sangat sedikit maka satu-satunya jalan untuk memperoleh senjata adalah dari tangan musuh, melalui penghadangan-penghadangan dan pencegatan patroli NICA di tempat-tempat yang strategis (Nasution, 1980: 32-35).
            Strategi gerilya (Guevera, 2004: 4-20) sangat tepat diterapkan dalam menghadapi tentara NICA oleh pemuda pejuang  karena senjata dan personil pasukan pejuang jauh dibawah kekuatan musuh.. Untuk melakukan semua itu maka diperlukan kerjasama mutlak dengan rakyat dan pengetahuan yang sempurna tentang daerah tempat berjuang. Ciri poko daripada suatu kesatuan gerilya adalah kecekatan geraknya. Ini memungkinkannya untuk dalam beberapa menit saja bergerak jauh dari satu ruang operasi tertentu, sehingga bisa terhindar dari pengepungan macam apapun. Taktik gerilya dapat juga digunakan pada waktu malam hari, dengan lebih mendekati musuh dan memperlihatkan agresivitas yang lebih besar karena dalam keadaan malam itu pengepungan balasan oleh musuh adalah jauh lebih sulit dilaksanakan. Bergerak di waktu malam adalah ciri penting lain dari kesatuan gerilya. Dengan strategi dan taktik seperti diatas serta dukungan aktif dari rakyat maka pasukan pejuang posisinya akan tetap aman dan bisa bergerak tanpa di curigai olah NICA.        
Kejadian dan perkembangan situasi politik dan militer baik di Bali maupun di Jawa menyebabkan penyiapan pasukan tempur mengalami eskalasi. Frekwnsi hubungan antara Banyuwangi sebagai basis pasukan dengan Lawang dan Yogya sebagai kedudukan Markas-Markas Besar/tertinggi TKR-Laut, Darat, Menteri Pertahanan ditingkatkan. Di Banyuwangi berporos pada Munaji, Prabowo, Markadi, Afandi sebagai tokoh dari unsur Angkatan Laut, menjadi suatu Oprasi Gabungan terdiri dari unsur-unsur Pasukan “M” (Pasukan Markadi atau Pasukan Merdeka) sebagai induk pasukan, dengan tugas pokoknya adalah membantu Pasukan Resimen Sunda Kecil atau Pasukan Ngurah Rai. Disamping itu ada pasukan Waroka dari TRI-Laut Banyuwangi dengan tugas mengikat pasukan Belanda di Bali Utara, dan Pasukan Ngurah Rai yang akan menuju basis perjuangannya di Munduk Malang. Untuk mengangkut pasukan disiapkan pasukan Armada Semut terdiri dari perahu-perahu nelayan terutama dari Muncar. Sedangkan untuk persiapan pendaratan di Bali, telah dikirim anggota-anggota CIS sebagai pelopor untuk mencari dan mempersiapkan tempat-tempat pendaratan, menghubungi pemimpin-pemimpin pemuda dan rakyat Bali Barat, menyiapkan bahan makanan dan keperluan yang lainnya. Jaringan mata-mata Belanda yang dijalin amat rapat di Banyuwangi dapat digulung oleh seksi Combat Intelligent pasukan  “M” terutama disekitar basis oprasi (Afandi, (dkk), 1988: 2-4).
            Maka pada bulan April 1946 dimulailah babak baru dalam perang kemerdekaan RI dengan dilancarkannya untuk pertama kali oprasi lintas laut Banyuwangi – Bali. Kegelapan malam tidak menyurutkan semangat para pejuang untuk menyebrangi Selat Bali dengan memanfaatkan arus laut, gelombang demi gelombang pasukan diberangkatkan dengan sasaran pendaratan di Pulau Bali. Oprasi ini merupakan suatu strategi dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan.  Begitu besar arti atau peranan Selat Bali bagi perjuangan terutama dalam pengiriman senjata, bantuan pasukan dan yang lainnya.

1. Gelombang Pertama Misi Waroka   
            Gelombang Pertama Pasukan Waroka dari TRI Laut Banyuwangi dibawah pimpinan Kapten Laut A. Waroka. Diberangkatkan dari pelabuhan Banyuwangi menuju ke Bali pada tanggal 3 April 1946 malam dengan kekuatan 160 orang menumpang beberapa perahu dan diseret oleh 3 buah tongkang. Pasukan sudah direncanakan akan mendarat di sekitar pantai antara Gerogak – Celukan Bawang. Pendaratan tidak bisa di satu tempat karena menggunakan beberapa perahu disamping karena gelombang laut. Tempat konsolidasi pasukan sesudah mendarat ditentukan di Musi. Pendaratan berjalan mulus tanpa gangguan dari patroli Beland dan berkat bantuan dan dukungan penuh dari rakyat di sekitar tempat pendaratan. Keesokan harinya pasukan bergerak ke arah Timur menuju Seririt yang letaknya sangat strategis sehingga dijadikan sebagai tempat basis untuk melakukan serangan-serangan pencegatan terhadap patroli Belanda yang datang dari arah Gilimanuk, Antosari lewat Pupuan dan Singaraja (Pugeh, (dkk), 1988: 84., Afandi, (dkk), 1988: 4., Hardjawiganda, 1982: 60-67).
Setelah pasukan Waroka kembali lagi di Seririt mereka memutuskan untuk kembali ke Jawa  dengan beberapa pasukan mencari bantuan senjata dan segera kembali ke Bali melanjutkan misinya. Pada waktu kembali ke Jawa perahu Waroka terseret arus karena berusaha menghindari patroli Belanda. Karena pasukan ceraiberai dan hantaman ombak akhirnya pasukan Waroka tewas dan hanya satu orang yang selamat yaitu Hamdi sampai di Banyuwangi (Wedha, 2006: 34-35). Sedangkan sisa pasukan Waroka yang ditinggalkan di Seririt menjadi bulan-bulanan serangan Belanda baik dari darat maupun dari udara. Pasukan menyingkir ke Barat dan bertahan di daerah Gunung Patas selama 10 hari. Setelah pasukan tahu bahwa Letnan Waroka telah meninggal maka diputuskan untuk kembali ke Banyuwangi. Usaha pasukan yang berlangsung kurang lebih 20 hari itu ternyata tidak membawa hasil sesuai dengan rencana (Pugeh, (dkk), 1988: 84-86).

2. Gelombang Kedua Misi Ngurah Rai
            Rombongan Ngurah Rai juga berangkat tanggal 3 April 1946 pada malam hari. Mereka diberangkatkan dari pelabuhan Muncar, yang letaknya 24 km di Selatan Banyuwangi. Ngurah Rai bersama stafnya diperkuat oleh 15 orang Kepolisian Negara di bawah pimpinan Inspektur Polisi Mahadewa dengan tujuan pendaratan di Yeh Kuning untuk kemudian menerobos kembali basis perjuangannya di Munduk Malang. Di tengah laut dalam keadaan gelap gulita mereka dipergoki oleh patroli motorboat Belanda. Walaupun berusaha untuk mengelabui Belanda dan menyembunyikan identitas mereka, tetapi akhirnya Belanda tahu mereka tentara dan segera menuju ke arah perahu dan ditembaki hingga Cokorda Rai Gambir dan Cokorda Dharma Putra gugur. Sedangkan Cokorda Sudarsana bersama 2 orang tukang jukung selamat namun tertangkap Belanda kemudian di bawa ke Gilimanuk. Dibelakang jukung yang disergap ini ternyata ada rombongan 7 jukung di bawah Bayupathy, dalam keadaan selamat mendarat di Yeh Kuning. Mereka ini kebanyakan anggota kepolisian yang direkrut oleh Ida Bagus Mahadewa (Afandi, (dkk), 1988: 5).
 Pasukan cerai berai, sebagian berhasil mendarat di Yeh Kuning dan sebagian lagi di bawah pimpinan Letkol Ngurah Rai kembali balik ke Muncar. Baru keesokan harinya tanggal 4 April 1946 mereka kembali mencoba lagi dan berhasil mendarat di Pulukan dan selanjutnya menuju Munduk Malang. Rombongan bertambah satu orang yaitu Subroto Aryo Mataram yang baru datang dari Jogya. Setelah sampai di Munduk Malang segera dikirimkan kurir ke seluruh sektor perjuangan di Bali, mengharapkan kehadiran mereka di Munduk Malang. Tanggal 14 April 1946 mereka berkumpul semua di munduk Malang, dan sesudah menyampaikan informasi perkembangan perjuangan di daerah msing-masing baik Bali maupun Jawa, akhirnya tanggal 14 April itu disepakati pembentukan secara resmi Dewan Perjuangan Rakyat IndonesiaSunda Kecil (DPRISK) yang dipimpin oleh Let. Kol. I Gusti Ngurah Rai dan Wijakusuma ditunjuk sebagai Wakilnya dari unsur Badan perjuangan di Bali. Munduk Malang juga dijadikan Markas Besar Oemum (MBO) DPRISK. Terbentuknya badan perjuangan ini merupakan kekuatan baru bagi perjuangan bersenjata di Bali (Pugeh, (dkk), 1988: 88-89).

3. Gelombang Ketiga Misi Markadi
            Rombongan Markadi merupakan Misi Gelombang ke 3 bantuan pasukan dari Jawa yang berangkat tanggal 4 April 1946 dari pelabuhan Banyuwangi. Rombongan ini merupakan induk pasukan berkekuatan 4 peleton/seksi, dengan lebih kurang 138 orang yang diangkut dengan 13 jukung yang berlayar dengan kekuatan sendiri dan 3 perahu mayang yang besar ditarik ke tengah laut oleh motorboat TRI Laut Banyuwangi. Rombongan berangkat sekitar pukul 21.00 malam. Keadaan kurang menguntungkan karena hujan dan ada  dua motorboat Belanda jenis LCM datang mendekati. Segala identitas pasukan berusaha disembunyikan namun diketahui oleh Belanda bahwa diperahu terdapat senjata. Markadi dengan cepat memerintahkan pasukannya untuk menembak Belanda. Terjadilah pertempuran sengit yang berakhir dengan mundurnya LCM Belanda karena ada satu yang tenggelam dilempar dengan geranat oleh pasukan Markadi. Markadi memutuskan untuk kembali lagi ke Banyuwangi karena berada di arus laut yang kuat, tak ada angin bertiup, dan perahu banyak yang bocor. Dipihak pasukan Markadi telah gugur perwira penghubung Sumeh Darsono dari TRI Laut Resimen Jember, dan prajurit Sidik. Sedangkan yang luka-luka terkena tembakan pada bahunya adalah prajurit Tamali (Hardjawiganda, 1982: 115-121., Afandi, (dkk), 1988: 5-6).
            Setelah beristirahat sehari, Markadi memutuskan untuk kembali ke Bali pada tanggal 5 April malam dan sebelum fajar menyingsing pasukan sudah mendarat di beberapa tempat yaitu di Penginuman, Klatakan, Melaya, dan Candikusuma terus langsung menyebrangi jalan besar menuju Peh (Manistutu) sesuai dengan rencana untuk mengadakan konsolidasi mengatur penggabungan dengan pemuda dan rakyat Bali. Selanjutnya mereka mencari tempat yang lebih strategis di sebelah Utara kota Negara yaitu di Gelar. Oprasi-oprasi yang dilakikan oleh Markadi bersama dengan pejuang Jembrana mengundang kecurigaan Belanda terhadap peranan daerah Bali Barat sebagai daerah lintasan bantuan dari Jawa. Oleh karena itu  Belanda berusaha mengawasi daerah Bali Barat terutama Selat Bali dengan ketat supaya bantuan dari Jawa terhambat. Belanda juga berusaha menghancurrkan basis-basis perjuangan di Jembrana. Karena ketatnya pengawasan akhirnya pasukan Markadi bergabung dengan pasukan Ngurah Rai di Munduk Malang (Pugeh, (dkk), 1988: 91-92).

4. Misi MGGSK
            Misi yang telah dilakukan oleh rombongan Waroka, Ngurah Rai dan Markadi ternyata masih banyak mengalami hambatan. Tekanan-tekanan atau terror-teror ysng dilakukan oleh Belanda terhadap penduduk menyurutkan dukungan rakyat terhadap para pejuang. Semua permasalahan ini dilaporkan oleh Markadi melalui kurir-kurir khusus kepada atasannya di Markas TRI Laut di Lawang, dan segera mohon bantuan pasukan segera dikirim melalui jalur Bali Barat. Permintaan ini mendapat respon dari Afandi, Munaji, Sutopo dan Katamhadi yang berasal dari berbagai kesatuan di lingkungan TRI Laut.  Kemudian dilakukan kontak dengan organisasi-organisasi perjuangan di Jawa Timur, kemudian ke Jogya menghubungi Pimpinan-Pimpinan Militer Tertinggi seperti Panglima Besar Sudirman dan melaporkan keadaan perjuangan di Bali (Pugeh, (dkk), 1988: 92-94., Rama dalam Agung (Ed.), 1989: 336-337).
            Kontak-kontak ini akhirnya melahirkan suatu keputusan oleh Kementerian Pertahanan tentang pembentukan Markas Gabungan Gerakan Sunda Kecil (MGGSK) yaitu suatu wadah bagi pelaksanaan pemberian bantuan perjuangan di Bali dengan pimpinan Munaji dibantu oleh Sutopo dan Suyono. Sedangkan Prabowo dan Affandi bertanggungjawab untuk mengumpulkan personil, persenjataan serta amunisi. Persiapan oprasi dengan kekuatan pasukan sekitar 200 orang serta persenjataan yang lebih bagus dibandingkan dengan persenjataan Markadi, pasukan gabungan MGGSK  mulai berkumpul di Banyuwangi sekitar pertengahan bulan Mei 1946 untuk menyiapkan diri penyebrangan ke Bali. Sebagai pimpinan pendaratan ditunjuk perwira Angkatan Laut Suryadi, dan wakilnya Sugiarto dari Pesindo Malang. Pada tanggal 2 Juli 1946 malam pasukan diberangkatkan dari pelabuhan Banyuwangi dengan menumpang sejumlah perahu yang ditarik kapal tunda. Sebelum fajar pasukan mendarat ditiga tempat yaitu di Penginuman, Klatakan, dan Batu Karung yang semuanya menuju titik konsolidasi di melaya Tengah.
            Posisi pendaratan ini sudah diketahui oleh mata-mata Belanda dan segera disambut oleh 4 truk tentara Belanda. Pertempuran terjadi dimana posisi pasukan Suryadi sangat lemah  dan terdesak sehingga cerai berai menjadi dua kelompok. Sebagian pasukan bergerak ke Utara dengan membawa Suryadi yang sudah tidak berdaya dengan tujuan pantai Utara. Namun terus dikejar oleh Belanda dengan tembakansenjatanya sehingga Suryadi gugur dalam pertempuran, dan sisa pasukannya ditangkap oleh Belanda. Sebagian kelompok lagi bergerak ke Timur untuk bergabung dengan pasukan Markadi namun nasibnya juga naas ada yang gugur dan ada yang ditahan oleh belanda (Pugeh, (dkk), 1988: 94-97., Hardjawiganda, 1982: 132-147).  
5. Long March
            Ditinjau dari strategi perang gerilya, tinggal di satu tempat dalam lingkungan yang sama akan membawa akibat yang buruk baik bagi pasukan maupun bagi rakyat yang hidup di sekitar tempat itu. Apalagi menghadapi NICA yang garang dan setiap kena gempuran oleh pemuda gelilya mereka tidak segan-segan membakar desa tempat pertempuran dan menyiksa rakyat bersangkutan. Melihat situasi Bali yang semakin sulit dan pengawasan Belanda yang semakin ketat serta dukungan rakyat yang semakin lemah akibat kekejaman Belanda maka untuk menambah semangat rakyat diputuskan mengadakan perjalanan panjang dari Barat ke Timur. Perjalanan ini terkenal dengan nama Long March atau perjalanan Juni – Juli.
            Adapun tujuan dari long march tersebut adalah untuk menyadarkan dan membangkitkan kembali semangat juang rakyat di daerah-daerah yang masih nampak pasif yang relative telah dikuasai oleh Belanda. Tujuan kedua adalah untuk mengadakansho of force. Pamer kekuatan perlu digalakkan dengan maksud menunjukkan kemampuan kepada rakyat yang sudah menurun semangat juangnya, bahwa pemuda pejuang mampu melawan musuh dengan kekuatan senjata berimbang. Sehingga rakyat kembali sadar dan berpartisipasi dalam perjuangan. Tujuan long march yang terpenting didalam strategi gerilya adalah untuk mengalihkan perhatian musuh ke kawasan Timur agar pantai Bali bagian Barat (Selat Bali) menjadi kosong dari pengawasan NICA. Apabila pengawasan terhadap Selat Bali berkurang maka sesuai dengan rencana bantuan pasukan dari Jawa bisa mendarat dengan lancer dan aman di Bali Barat (pantai Jembrana). Mengurangi tekanan dari tentara NICA terhadap daerah Barat terutama daerah Jembrana, Tabanan semenjak Pasukan Induk MBU DPRI Sunda Kecil berkedudukan di Munduk Malang. Rakyat sering disiksa bila tidak mau mengatakan tempat para pemuda gelilya berada (Pidada, 1985: 50., Tirtayasa, 1994: 88-90., Widjana, 1988: 1).  
            Sesuai dengan keputusan pertemuan di Munduk Malang, maka tanggal 1 Juni 1946 Induk pasukan MBU DPRI di bawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai bergerak dari Bengkel Anyar menuju arah Timur dengan melintasi lereng Gunung Batukaru terus menuju ke arah Buleleng. Pasukan berjumlah tidak kurang dari 400 orang. Gerakan yang pertama dilakukan oleh pasukan induk dan pasukan territorial adalah membersihkan pos-pos NICA dan mata-matanya. Selanjutnya pada tanggal 29 Juni 1946 pasukan Ngurah Rai melanjutkan perjalanan menuju Tanah Aron di lereng Gunung Agung dan tiba disana pada tanggal 5 juli 1946. Karena keberadaan pasukan Ngurah Rai telah diketahui oleh Belanda di Tanah Aron maka dilakukan penyerangan pada tanggal 7 Juli pukul 09.00 dengan kekuatan 200 orang tentara NICA. Pertempuran bellangsung sampai pukul 15.00. Dalam pertempuran ini ternyata pemuda pejuang jauh lebih unggul dan diperkirakan 85 orang tentara NICA tewas. Namun dari pasukan gerilya ada satu orang meninggal yang bernama I Soplog dari Desa Duda, 2 orang luka-luka dan 5 orang ditangkap oleh musuh (Pendit, 1979: 183., Rai, 1995: 11).
            Pada tanggal 23 Juli 1946 pasukan induk telah sampai di Munduk Pengorengan. Di sini diadakan rapat oleh staf MBU dan diputuskan bahwa pasukan induk harus dipecah-pecah dan setiap pasukan diperintahkan untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Dengan adanya keputusan ini maka masing-masing pasukan seperti pasukan Tabanan kembali ke Tabanan, pasukan Badung ke daerah Badung sedang pasukan ALRI kembali ke Jawa (Agung, 1992: 71-72).  
            Setelah kembali dari perjalanan Juni – Juli (long march) ini, MBU merencanakan untuk melaporkan keadaan di Bali kepada pemerintah pusat di Jawa. Rencana ini gagal dilaksanakan karena penjagaan NICA di pantai Barat Bali sangat ketat. Akhirnya MBU kembali ke daerah Tabanan dan menggabungkan diri dengan staf II/M (Melati) di Desa Marga.
            Demikianlah akhir kisah suatu pasukan yang sebenarnya dipersiapkan serta dipersenjatai cukup baik, tetapi menjadi sangat rapuh terutama karena tidak mendapat dukungan dari rakyat secara menyeluruh.   

C. PENUTUP
Kesimpulan   
Politik intervensi pada masa Belanda maupun sistem kerja paksa pada jaman Jepang membuat rakyat Bali merasa tidak puas yang akhirnya melahirkan perjuangan-perjuangan di seluruh daerah di Bali. Perlawanan terhadap kolonealisme pada masa revolusi phisik sifat perjuangan sudah mengarah kepada tujuan kemerdekaan dan negara kesatuan (bersifat nasional). Hal ini tidak terlepas dari pengaruh pendidikan dan hubungan baik antara para pelajar Bali dan Jawa sehingga tumbuh rasa nasionalisme dan patriotisme dikalangan para pelajar dan para pemimpin di Bali.
Pada masa revolusi pisik, daerah Bali Barat terutama Selat Bali terlihat jelas betapa penting posisi daerah tersebut dalam rangka perjuangan bersenjata di Bali secara keseluruhan. Hal ini terbukti dari berbagai usaha untuk menunjang kelangsungan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan di Bali, yang mana dilaksanakan dengan memanfaatkan daerah Bali Barat terutama Selat Bali. Selat Bali sepanjang revolusi pisik menempati posisi sebagai garis hidup bagi perjuangan di Bali karena sebagai tempat lalulintas dan penghubung para pejuang di Bali dengan pejuang yang ada di Jawa. Selat Bali sangat penting karena bantuan senjata, amunisi dan personil militer selalu dilakukan melalui Selat Bali. 
Perjuangan bersenjata di Bali ditentukan terutama karena berhasil tidaknya usaha untuk mempertahankan jalur hubungan Jawa – Bali melalui daerah Bali Barat yaitu Selat Bali. Begitu pentingnya peranan Selat Bali baik oleh para pejuang revolusi maupun oleh Belanda sehingga pengawasan terhadap Selat Bali oleh Belanda sangat ketat sekali. Untuk mengalihkan perhatian terhadap Selat Bali maka dilakukan strategi oleh para pejuang sehingga perhatian Belanda beralih ke daerah Timur Bali. Strategi ini terkenal dengan nama long march  ke daerah Timur Bali dengan tujuan untuk menyadarkan dan membangkitkan kembali semangat juang rakyat di daerah-daerah yang masih nampak pasif.
Jadi Bali Barat (Selat Bali) yang menjadi jalur utama hubungan Jawa – Bali, sungguh-sungguh sangat potensial posisinya pada masa revolusi phisik. Ini dirasakan oleh para pemimpin Bali maupun Jawa sehingga dilakukan pembinaan territorial yang intensif, sehingga penduduk di wilayah Bali Barat terutama yang berada di daerah pesisir agar tetap bersedia mendukung perjuangan melawan NICA.

DAFTAR PUSTAKA
Afandi, (dkk). 1988. Monumen Oprasi Lintas Laut Banyuwangi – Bali, April – Juli 1946. Tanpa nama penerbit.                                                              
Agung, Anak Agung Gde Putra Agung, (dkk). 1986. Sejarah Kota Denpasar 1945 – 1979. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek IDSN.
Agung, Anak agung Gde Putra, (dkk). 1992/1993. Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Bali. Denpasar: Depdikbud, Ditjen Kebudayaan, Bagian Proyek P2NB. ,  
Arsadi, I Ketut Jhon. 1993. “Peranan Pasukan Kucing Hitam dalam Revolusi Fisik di Tabanan 1946 – 1948’. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Denpasar (skripsi).
Dekker, Nyoman. 1989. Sejarah Revolusi Nasional. Jakarta: Balai Pustaka.
Bouman, P. J. 1984.  Ilmu Masyarakat Umum, Pengantar Sosiologi. Terjemahan H.B. Jassin. Jakarta: P. T. Pembangunan.
Gootschak, Kouis. 1975.  Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah (terj.) Nugroho Notosusanto.  Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Guovara, Ernesto Che. 2004.  Perang Gerilya (terj.) Oei Hay Djoen.  Jakarta: Pustaka Utama Kayu.
Hardjawiganda, Rochmat, (dkk). 1982. Oprasi Lintas Laut Banyuwangi – Bali.  Jakarta: Departemen Pertahanan dan Keamanan Pusat Sejarah ABRI. 
Kuntowijoyo. 1995.  Pengantar Ilmu Sejarah.  Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya. 
Nasution, A. H. 1980. Pokok-Pokok Gerilya. Bandung: Angkasa.
Pageh, I Made. 2004. ”Mr. I Gusti Ketut Pudja: Jati Diri, Idiologi Kebangsaan, Kenegarawanan dan Kepahlawanannya”. Makalah Disampaikan dalam Dialog Ketokohan Mr. I Gusti Ketut Pudjadi Singaraja. Tanggal 9 Oktober.
Pendit, Nyoman S. 1979.  Bali Berjuang.  Jakarta: PT. Gunung Agung.
Pidada, Ida Bagus Astika. 1985. “Sistem Komunikasi dalam Refolusi Fisik di Bali 1945 – 1950”. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Denpasar (skripsi).
Pugeh, Ketut (dkk). 1988. “Revolusi Pisik Daerah Bali Barat (Ditinjau dari Taktik dan Strategi Perang Gerilya di Bali”. Singaraja: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Udayana.
Rai, I Gusti Lanang. 1995. “Sejarah Perjuangan Daerah Karangasem”. Naskah belum diterbitkan.
Rama, Ida Bagus. 1989.  “Makna Hubungan Bali dan Jawa dalam Revolusi Phisik”. Dalam Anak Agung Gede Putra agung, (ed.).  Renungan Masa Lampau. (hal. 322-343). Denpasar: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana. 
Reid, Anthony. 1981.  “Revolusi Sosial: Revolusi Nasional”, Dalam Prisma No. 8 Tahun ke X.  Jakarta: LP3ES.
Singarimbun, Masri, Sofyan Efendi. 1982. Metode Penelitian Survei.  Jakarta: LP3ES.
Soekanto, Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: P. T. Raja Grafindo Persada.   
Soeroto, Soeri. 1980.  “Sejarah Sebagai Aktualitas Kisah dan Ilmu”.  Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.
Sudarta, Wayan, (dkk.). 2001.  Puputan Margarana dan Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana.  Denpasar: Markas Daerah PPM Bali.

Tirtayasa, I Gusti Bagus Meraku. 1994.  Bergerelya Bersama Ngurah Rai.  Denpasar: PT BP.
Usman, Gazali. 1983.  “Wawancara Sebagai Suatu Metode Dalam Sejarah Lisan”,  Dalam Lembaran Sejarah No. 10.  Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia.
Wedha, I Ketut. 2006. Revolusi Fisik di Jembrana Sebuah Studi Sejarah. Jembrana: Pemerintah Kabupaten Jembrana Bali.
Widja, I Gde, dkk. 1983. ”Struktur Sosial dan Pola Kepemimpinan Lokal Jaman Revolusi Fisik di Kabupaten Tabanan-Bali, Suatu Kajian Sosio-Historis”. Singaraja: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Udayana.
Widjana, Ketut. 1988. ”Mengenangkan Kembali Sekelumit Perjuangan di Bali”. Makalah disampaikan dalam rangka  Sarasehan Tentang Perjuangan 45 di Bali, 18 Nopember 1988.
Wirawan, Anak Agung Bagus. 2004.  “Eksistensi Pemerintahan Sunda Kecil dalam Gema Revolusi Nasional 1945 – 1950”.  Makalah Disampaikan dalam Dialog Ketokohan Mr. I Gusti Ketut Pudja di Singaraja. Tanggal 9 Oktober.

Peta