Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

Rabu, 25 April 2012

MENGENAL PARIWISATA MANGGARAI



MENGENAL PARIWISATA MANGGARAI
Oleh: I Gusti Ngurah Jayanti

Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian sebagai sumber devisa Negara/ daerah dan masyarakat. Sektor pariwisata mencakup berbagai bidang usah seperti : Hotel, restouran, biro perjalanan wisata, kawasan wisata, dan lain-lain. Peran pariwisata dala pembangunan secara garis besar berintikan tiga segi, yakni: segi ekonomi (kesempatan berusaha, sumber pendapatan, pajak-pajak dan lain-lain). Segi social (penciptaan lapangan kerja). Dan segi kebudayaan (memperkenalkan kebudayaan membangun citra). Sebagaiman sektor ekonomi lainya seperti industry, perdagangan, transportasi, demikianpun pariwisata mempunyai pengaruh dalam bidang social dan budaya.

Selasa, 24 April 2012

Wisata Ngada Destinasi Masa Depan

Oleh:  I Gusti Ngurah Jayanti
Potensi wisata budaya yang terdapat di kabupaten Ngada.

Nama Desa dan Potensinya di Kecamatan Aimere
No
Nama Potensi/Kampung Tradisional
Desa
Jarak
Keterangan
1
Belaraghi
Keligejo
47 km
·      Rumah Adat Ngadha
· Ngadhu (symbol leluhur laki-laki).
·  Bhaga (symbol leluhur perempuan).
·         Komplek Megalith
· Upacara-upacara tradisional
·      Permainan rakyat
·      Tari-tarian tradisional
· Berbagai ceritera rakyat
· Makanan khas tradional setempat
·     Kerajinan tangan dan industry tradisional.
·         Bahasa dialek local
· Sistem pertanian tradisional.
2
Lopi Jo
Keligejo
50 km
Sama dengan kampung di atas.
3
Watu
Sebowuli
65 km
Sama dengan kampung di atas.
4
Maghilewa
Inerie
63 km
Sama dengan kampung di atas.
5
Jere
Inerie
61 km
Sama dengan kampung di atas.
6
Sewowoto
Waebela
70 km
Sama dengan kampung di atas.
7
Delawawi
Waebwla
73 km
Sama dengan kampung di atas.
8
Leke
Sebowuli
64 km
Sama dengan kampung di atas.

KAMPUNG TRADISIONAL BENA
A.    Kondisi Objek dan Geografinya
Bena adalah sebuah kampung tradisional lengkap dengan peninggalan kompleks megalithnya yang berada di desa Tiwotiwu kecamatan Aimere kabupaten Ngada. Kampung ini terletak di atas sebuah bukit kecil dikelilingi jurang-jurang yang terjal yang berdampingan dengan sebuah gunung yang cukup dikenal yaitu Inerie.

Penduduk kampung Bena terdiridari 9 sub klen yang dalam bahasa setempat disebut “Woe”. Masing-masing Woe (sub klan) memiliki rumah adat. 9 Woe Woe (sub klan) adalah: Bea, Deru Ka’e, Deru Azi, Wato, Dizi Ka’e, Ago, Ngadha, dan Kopa.
Kampung Bena Nampak bertingkat-tingkat/ berundak-undak yang disusun  dari Batu. Tiap tingkat memiliki pelataran yang disebut “loka”. Tiap loka dimiliki oleh sub klan tertentu yang mengakibatkan nama tertentu juga: Loka Dzi Ka’e (A), Loka Deru Ka’e (A) Loka Deru azi (B), Loka Dezi Azi (B), Kopa, Loka Bena, dan Loka yang paling tinggi adalah Loka Ago an Ngadha.

Sesuai dengan klan yang ada yakni Sembilan, begitu juga dalam tempat tinggalnya (rumah tradisional) terdapat Sembilan pasang. Sembilang dianggap angka yang sacral. Rumah dibagi ke dalam dua tipe yakni saka puu dan saka lobo dan keduanya berdampingan sebanyak Sembilan pasang.

Potensi dan Atraksi di kampung Bena
  1. Rumah Adat
Di dalam Woe dibagi dua kelompok yaitu Saka Pu’u dan Saka Lobo. Woe diibaratkan desagai pohon yang terdiri dari Pu’u (pangkal) dan Lobo (ujung). Masing-masing kelompok memiliki rumah adat yakni : Sao Saka Pu’u (leluhur perempuan) dan Sao Saka Lobo (leluhur Laki-laki).


  1. Ngadhu
Berupa satu tiang kayu bercabang dua paa ujungnya diberikan atap ijuk dan alang-alang berbentuk kerucut. Bangunan ini melambangkan leluhur laki-laki dan ditempatkan di tengah kampung.          
  1. Bhaga
Bentuknya menyerupai rumah adat tetapi berukuran kecil dengan satu ruang (1x2 meter). Bhagasebagai lambang leluhur perempuan, letaknya mengadap pintu masuk kampung. Ngadhu dan Bhaga letaknya berhadapan dan diberi nama pendiri Woe.


Peta