Jumat, 12 Desember 2014

PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK



PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK[1]
Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si[2].

Pendahuluan
Perkawinan merupakan sebuah fenomena budaya yang hampir terdapat di semua komunitas budaya, khususnya di Indonesia. Perkawinan dianggap sebagai suatu peristiwa yang penting, oleh sebagaian masyarakat. Suku Sasak menganggap perkawinan merupakan bagian dari pristiwa penting dalam proses perjalanan kehidupannya. Oleh karena itu upacara perkawinan selalu dirayakan dengan penuh suka cita, diiringi dengan prosesi adat dan kesenian. Dalam masyarakat Sasak, mengenal beberapa cara pelaksanaan perkawinan yaitu:
1.     Kawin Lari (marariq)
Proses kawin lari dimulai dengan persiapan dari pihak laki-laki mulai dari proses komunikasi terkait tempat bertemu sampai pada tempat melarikan diri. Si gadis dilarikan oleh seorang pemuda yang pada saat penjemputan tersebut, si pemuda juga telah mengajak beberapa keluarga dekat yang salah satunya adalah seorang wanita. Wanita ini nantinya mendampingi si gadis selama proses pelarian tersebut. Si gadis tidak langsung diajak pulang ke rumah laki-laki, namun si gadis disembunyikan di tempat kerabat wanita keluarga  si pemuda.

Kawin lari merupakan salah satu jenis perkawinan yang sering dilakukan oleh masyarakat Lombok, khususnya komunitas adat Sasak. Perkawinan ini dalam bahasa Sasak sering disebut Marariq. Namun dalam penerjemahan tentang kata marariq masih banyak terdapat interpretasi yang saling berbeda. Namun untuk sementara, konsep kawin lari (marariq)  dipergunakan untuk penyederhanaan bahasa semata. Marariq arti suatu proses di mana seseorang melakukan tindakan melarikan seseorang gadis untuk dijadikan calon istri. Bahwa dengan cara melarikan seorang wanita untuk dikawinkan dan dijadikan istri maka ini secara simbolis diartikan untuk melepaskan ikatan si gadis dengan orang tuanya yang selama ini menghidupinya. Pola seperti ini tampaknya membawa pengaruh terhadap kebiasaan masyarakat di mana ada proses peniuran yang dilakukan oleh generasi-generasi selanjutnya. Proses dalam pelaksanaan kawin lari ini pola yang sangat beragam sesuai dengan keadaan komunitas adat masyarakat Sasak di mana mereka tinggal. Oleh karenanya mereka menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Proses kawin lari atau marariq dimulai dengan membawa lari gadis yang akan dinikahi. Pelarian ini biasanya telah ada kesepakatan antara keduabelah pihak antara laki-laki dan perempuan. Mereka membangun kesepakatan atau rencana untuk melakukan suatu tindakan untuk mengambil jalan dengan cara marariq. Dalam proses melarikan gadis ini, biasanya dilakukan pada waktu sore hari. Gadis yang dilarikan oleh seorang pria bisanya langsung dibawa ke rumah kerabat laki-laki. Namun belakangan ini dalam perkembangannya si gadis dibawa ke kediaman rumah si laki-laki. Dalam proses selanjutnya mereka melakukan serangkaian pembicaraan terkait kegiatan marariq.
Selanjutnya pihak keluarga (kerabat laki-laki) melaporkan kegiatan marariq kepada kepala kampong diisaksikan oleh masyarakat setempat agar dipandang sah secara adat. Masyarakat atau komunitas adat Sasak selanjutnya melakukan penelusuran terhadap kegiatan ini. Baik perempuan maupun laki-laki yang melakukan marariq ditanyakan secara jelas apakah mereka lakukan kegiatan itu karena atas dasar suka sama suka atau saling mencintai, dan yang paling penting dalam proses ini adalah menanyakan apakah mereka setuju melakukan hubungan perkawinan atau tidak. Hal inilah yang menjadi penting dilakukan oleh masyarakat atau komunitas adat Sasak sebelum melakukan langkah selanjutnya yakni perkawinan itu sendiri. Keduabelah pihak pria dan wanita ini diminta jawabanya secara tegas dan kesiapannya yang selanjutnya persetujuannya itu sudah dinyatakan oleh kedua pihak. Dengan persetujuan itu maka pihak keluarga kerabat laki akan mempersiapkan berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk prosesi perkawinan secara adat. Marariq dalam bentuk yang lain perlu juga diungkapkan dalam tulisan ini. 
2.      Kawin dengan cara menculik       
Lawan dari marariq yang telah sama-sama di setujui oleh kedua belah pihak untuk melakukan perkawinan, namun dalam hal ini tidak ada proses saling mencintai sebelumnya. Laki-laki atau pemuda yang disukai melakukan suatu rencana yang tidak diketahui oleh pihak perempuan. Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis secara paksa melakukan tindakan dengan cara memaksa gadis itu yang selanjutnya mereka larikan kepihak keluarga laki-laki. Dalam proses ini, seorang laki-laki atau pemuda merancang strategi yang dibantu oleh beberapa kerabat, sebelumnya beberapa kerabat ini melakukan pengintaian atau semacan tindakan pengawasan terhadap si gadis. Dalam situasi yang sudah memungkinkan untuk melakukan penculikan maka baru lah si gadis tersebut akan dilarikan secara paksa. Perkawinan semacam ini membutuhkan waktu dan tenaga yang relatif banyak karena ada proses-proses lain secara teknis yang harus mereka jalankn agar rencana mereka dapat berjalan secara baik. Seperti misalnya dalam hal ini adalah mengetahui di mana kegiatan keseharian si gadis dan pada saat bagaiman si gadis ini tanpa pengawasan orang tua. Mempelajari situasi tersebut memerlukan waktu yang cukup. Dalam waktu yang dianggap tepat maka dengan bantuan dari pihak kerabat, gadis yang menjadi sasaran dan lepas dari pengawasan orang tua maka pada momentum itulah gadis ini disergap dan dilarikan ke rumah kerabat pemuda atau laki-laki yang akan mengawininya. Kawasan-kawasan yang sering menjadi objek sasaran dan lepas dalam kontrol orang tua si gadis seperti misalnya pada saat si gadis sedang bepergian ke pasar sendirian, atau ke sawah/ladang atau tempat lainnya, sering kali digunakan untuk melarikan anak gadis. Perkawinan dengan cara memaksa dan melarikan gadis untuk dinikahi populer disebut dengan istilah memagah. 
Pola perkawinan memagah merupakan salah satu alternatif perkawinan yang dilakukan dengan cara yang tidak lasim. Perbuatan dengan cara memaksa seorang gadis untuk dinikahi merupakan suatu penghinaan yang sangat berat bagi pihak kerabat atau keluarga si gadis yang dilarikan tersebut. Bagi komunitas masyarakat Sasak, pola seperti ini dianggap cara yang sangat potensial membangun kemelut maupun percekcokan (konflik) dikalangan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu pola semacam ini jarang diterapkan walaupun begitu masih tetap ada dalam masyarakat. Potensi konfliknya sangat tinggi bila si pihak kerabat perempuan mengetahui bila anak gadisnya dibawa lari oleh seseorang tanpa ijin dari orang tuannya untuk dikawinkan. Bila penculikan telah terjadi dan ada berita yang telah diketahui oleh orang tua si gadis selanjutnya pihak kerabat dari si gadis segera melakukan penelusuran ke tempat anak gadisnya di sembunyikan. Terkadang dalam situasi seperti ini tentu saja sangat tegang. Pihak kerabat atau ayah si gadis mencari tahu keberadaan anak gadisnya apakah dia dalam keadaan yang sehat atau tidak dan selanjutnya ayah si gadis akan menanyakan secara personal apakah si gadis ini menyukai si pemuda yang melarikan dirinya atau tidak. Inilah tujuan dari ayah si gadis dalam penelusurannya mencari keberadaan anak gadisnya yang disembunyikan tersebut. Di sini tentu saja ada proses dialogis antara si gadis dengan si ayah dalam kaitan mencari tahu bagaimana keinginan si gadis itu sendiri. Apabila si gadis menyatakan kesediaanya untuk menikah dengan pemuda yang melarikannya maka si ayah dan kerabat lainnya akan pulang dan ketegangan akan mulai reda. Pihak kerabat si gadis dapat pulang dengan damai. Namun bila sebaliknya, gadis yang dilarikan itu tidak setuju untuk di kawinkan maka pemuda tersebut harus rela mengembalikan si gadis kepihak kerabat perempuannya. Tidak itu saja, pemuda yang melarikan si gadis akan dikenai sanksi adat yang berupa denda adat. Denda ini sangat tergantung dari kesepakatan yang dinegosiasikan. Denda biasanya dalam wujud uang kepeng, dibayarkan dan nantinya diberikan kepada pihak keluarga si gadis yakni orang tuanya.

3.     Kawin meminang. (malakoq atau ngendeng).
Jenis perkawinan selanjutnya adalah menggunakan pola dengan tata cara meminang. Pola perkawinan ini biasanya dilakukan oleh masyarakat adat Sasak yang berada di daerah perkotaan. Hal ini disebabkan karena pengaruh pendidikan dan budaya yang saling mempengaruhi sehingga tampak ada pola cara yang lebih praktis dan lebih dipandang manusiawi. Sebelum proses peminangan berlangsung ada tahapan yang sifatnya lebih impersonal dalam arti si gadis dengan pemuda yang akan kawin telah ada kesepakatan-kesepakatan dalam semua proses perkawinan yang nantinya akan dijalankan. Dengan adanya komitmen tersebut lalu mereka memohon restu kepada orang tua si gadis. Tujuan dari permohonan restu ini adalah untuk memohon ijin agar sedianya orang tua si gadis memberikan mereka untuk kawin dan memohon doa agar niat mereka berdua medapatkan rahmad atas doa resetu orang tuanya.
Hingga saat ini dalam tahap proses malakoq orang tua si gadis biasanya telah rela dan iklas anaknya dikawinkan atau mereka diterima untuk dikawinkan dengan doa restu keduabelah pihak orang tua si gadis maupun orang tua si pemuda. Dalam prosesnya itu biasanya terdapat juga perminataan yang harus dibayarkan oleh si pemuda kepada orang tua si gadis. Pembayaran tersebut bentuknya sangat bervariasi sesuai dengan tingkat status social si gadis yang dikawinkan. Dengan berpandang pada status social si gadis maka pihak si pemuda akan berusaha untuk memenuhi pembayaran tersebut guna memperlancara jalannya proses perkawinan selanjutnya. Namun dalam proses pembayaran tersebut, sebenarnya jauh sebelum peminangan sudah dibicarakan secara lengkap dan final proses pembayaran tersebut.  Sehingga dengan adanya pembayaran itu pihak si pemuda sudah siap dalam melakukan kewajibannnya dalam pemenuhan apa yang dikehendaki dari pihak perempuan.
Namun secara hukum adat Sasak perkawinan semacam ini dianggap bertentangan dengan adat kebiasaan atau lasim dilakukan oleh masyarakat Sasak. Perkawinan semacam ini dianggap pola-pola modern walaupun hal ini telah terjadi dibanyak tempat namun ada hal-hal tertentu masih dipertahankan dan disesuaikan keadaan masyarakatnya. Seperti telah disebutkan, bahwa system pembayaran dianggap pengganti dari pelanggaran yang dibuat oleh mereka yang mejalani pola perkawinan meminang. Karena diketahui bahwa pada umumnya atau lasimnya di Lombok menggunakan system marariq. perkawinan marariq merupakan bentuk perkawinan yang dianggap ideal.

4.     Perkawinan Nyerah Hukum, yakni:
Perkawinan yang penyelenggaranya diserahkan kepada pihak keluarga si gadis yang kawin. Istilah perkawinan nyerah hukum merupakan istilah local yang lebih diartikan perkawinan diatur dengan cara-cara ditentkan oleh keluarga si gadis sasak dengan pemuda non sasak yang keluarga si pemuda itu jauh dari tanah sasak. Dalam hal ini ada kalanya sebagian atau sepenuhnya biaya perkawinan dibiayai oleh si pemuda. Dalam kasus tertentu ada juga masyarakat sasak yang kawin dengan cara ini bila keadaan keluarga kurang mampu.
5.      Kawin Tadong (kawin Gantung).
Perkawinan ini dilakukan pada masa si anak masih kecil. Mereka saling dijodohkan dan pada masanya nanti akan dikawinkan secara sah. Dalam proses kawin gantung si gadis dan si pemuda sebelum dewasa mereka masih dipisahkan dan menjalani kehidupan seperti biasa dengan keluarganya masing-masing. Kawin tadong diartikan sebagai penundaan perkawinan yang layak seperti perkawinan yang lain hingga salah satu atau kedua mempelai menginjak dewasa. Perkawinan ini di tandai dengan ciri khas yaitu bahwa kedua mempelai tidak diijinkan hidup bersama hingga dewasa. Sedangkan proses upacara, pemberian mas kawin dan lain-lain diselenggarakan sebagaimana ketentua adat Sasak pada umumnya. Pola perkawinan ini sudah semakin jarang terjadi pada masa sekarang.

PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK
    Sebagai suatu proses upacara perkawinan pada masyarakat sasak pada umumnya terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan menurut adat masin-masing sesuai dengan ketentuan mengenai waktu, tempat, pelaku, dan  perlengkapan upacara. Adapun rangkaian prosesi upacara perkawinan pada suku sasak mulai dari upacara yang disebut sejati, selebar, sorong serah dan nyongkolan. 1)    Sejati. Upacara ini dilaksanakan setelah si gadis di bawa ke rumah pemuda yang akan mengawininya, yakni selambat-lambatnya setelah tiga harinya. Dalam upacara ini pihak keluarga pemuda mengutus dua orang laki-laki yang berasal dari keluarganya  sendiri untuk menyampaikan berita kepada kepala kampong (kliang)  asal si gadis. Berita tersebut tidak lain ialah mengenai si gadis yang dibawa ke rumah pemuda itu bermaksud kawin dengan pemuda yang bersangkutan. Dua orang yang menjadi utusan disebut pemayun. Pemayun adalah orang yang mempunyak keahlian dalam proses berkomuniasi secara adat dan agama. Pemayun selalu menggunakan pakaian adat sasak sebagai ciri khasnya. Berita yang disampaikan pemayun kepada kepala kampong maka kepala kampong memberitaukan kembali berita ini kepada pihak keluarga si gadis. Tiga hari setelah  pemberitahuan itu pihak keluarga si pemuda akan datang kembali membicarakan mengenai upacara selebar.


 2)    Upacara Selebar. Upacara ini dilakukan tiga hari setelah sejati bertempat di rumah orang tua si gadis. Dalam acara ini dihadiri oleh orang tua dan kerabat si gadis, kepala kampong, kyai dan pihak keluarga si pemuda. Upacara ini dipimpin oleh seorang kepala kampong yang membuka sekaligus memberikan pengarahan maupun ketentuan-ketentuan apa yang mesti diikuti oleh pemuda. Pada dasarnya kewajiban itu merupakan ketentuan adat untuk membayar mas kawin yang terdiri atas beberapa jenis barang. Unsur-unsur mas kawin memiliki makna simbolik bagi orang Sasak, terutama pada uang kepeng, dan kain. Seribu uang kepeng sebagai bagian dari mas kawin  diartikan sebagai nilai wanita yang kawin. Sementara itu kain putih diartikan sebagai pengganti  kain yang dipakai menggendong si bayi yang kemudian menjadi gadis yang dikawini. Adapun unsure-unsur  lain dari mas kawin yg tersebut di atas tidak boleh kurang satu pun. Bila ternyata ada kekurangannya pikah pemuda akan didenda. 3)    Sorong serah dan nyongkolan. Upacara sorong serah dilaksanakan lima hari setelah selebar. Pada intinya upacara ini bertujuan menyerahkan barang-barang yang merupakan mas kawin yang telah disepakati dalam selebar. Dalam rangkaian upacara ini baik dirumah si pemuda maupun si gadis diadakan upacara yang disebut roah, yakni upacara selametan yang mengundang para kyai dan masyarakat sekitar untuk mendoakan pengantin. Dalam upacara roah mempergunakan sarana ayam dipersembahkan kepada para arwah dan nenek monyang keluarga tersebut. Kemudaian dilanjutkan dengan upacara potong gigi atau sering disebut dengan merosoh gigi kedua mempelai di rumah  keluarga si pemuda. Uparaca ini diartikan sebagai penanda bahwa mereka pengantin telah dewasa. Sebagai pemimpin upacara ini adalah kyai. Selanjutnya upacara dilanjutkan dengan keberangkatan rombongan pengantin menuju rumah si gadis dengan membawa barang yang merupakan mas kawin. Rombongan terdiri atas pemayun dan sanak keluarga si pemuda yang tidak kurang dari dua belas orang. Semua rombongan berpakaian adat sasak. Mereka berjalan diiringi oleh orkesra gendang belik ataupun kecimol.
Demikianlah rangkaian dari upacara perkawinan adat Sasak secara singkat. Sebagai informasi awal dapat dijadikan sebagai tindaklanjut untuk lebih memperdalam penelitian dimasa yang akan datang. 

TERIMA KASIH
OM SANTI SANTI SANTI OM


[1] Naskah ini dipergunakan untuk bahan siaran di Radio Republik Indonesia (RRI) pada Tanggal 1 November 2013.
[2] IGN. Jayanti merupakan tenaga Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, NTB, NTT.