Cari Blog Ini

Translate

Rabu, 10 Desember 2014

RITUAL DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA, PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT



RITUAL DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT
PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA,
PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT

I Gusti Ngurah Jayanti
I Made Sumertha
HP.081338399668


ABSTRAK

Pulau Bungin menyimpan pesona alam maupun budaya yang sangat unik. Penduduk pulau Bungin sebagian besar berasal dari suku Bajo. Mereka umumnya adalah para pelaut. Dalam kehidupannya masyarakat Bungin masih percaya terhadap hal-hal mistis. Hal ini dapat dilihat dari ritual-ritual keagamaan. Ritual-ritual yang menyangkut persembahan terhadap roh leluhur atau pun persembahan terhadap penguasa laut kerap dilaksanakan oleh masyarakat Bungin. ritual-ritual memiliki tujuan untuk menjaga keseimbangan alam sehingga mereka dapat menjalani kehidupan ini dengan aman dan tenteram.
Kata kunci: Pulau Bungin, Sistem Kepercayaan, suku Bajo.






A.  PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara bangsa yang penduduknya sangat majemuk. Hal ini dapat dilihat dari segi sosial-budayanya. Penduduk Indonesia dilihat dari segi sosial-budaya tampak terfragmentasi ke dalam berbagai pola sub kebudayaan. Banyak ahli telah sepakat bahwa kebudayaan yang dimiliki adalah aset dan kekayaan bangsa walaupun di dalamnya ada kenyataan bahwa kebudayaan tersebut memiliki khasan dan perbedaan antara sub kebudayaan yang satu dengan sub kebudayaan yang lain. Dalam hal ini ditekankan bahwa perbedaan juga membawa makna yang bersifat laten atau tersembunyi. Namun perbedaan itu tentulah telah disadari dan sebaiknya ada upaya untuk melakukan sosialisasi bahwa perbedaan yang ada dijadikan sebagai keunikan yang dapat dimengerti dan dipandang wajar secara “kodrati” agar siapapun itu dapat menyadarinya tanpa harus mempertentangkan kebudayaan yang difrensial tersebut.
Tokoh-tokoh bangsa pendiri Negara ini telah pula menyadari bahwa keadaaan bangsa amatlah majemuk dan pluralis. Oleh karenanya, berbagai kaedah dan aturan superstruktur telah dibuat dan dijadikan pola pegangan oleh warganya untuk mengemban ideologi tersebut. Konsep “Bhineka Tunggal Ika” merupakan suatu landasan yang digunakan untuk memayungi keanekaragaman kebudayaan seperti SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
Kebudayaan merupakan suatu yang unik dan fenomena, di mana setiap suku memiliki khasan cara tersendiri menginterpretasikan alam dan isinya, melalui pengalaman yang didapatkannya dan secara alami diwariskan kepada anak cucunya. Dengan adanya interpretasi terhadap alam ini, manusia memaknai setiap langkah kehidupan melalui pola prilakunya. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Blumer dalam Poloma (2007), menyebutkan bahwa “bagi seseorang, makna dari sesuatu berasal dari cara-cara orang lain bertindak terhadapnya dengan sesuatu itu. Tindakan-tindakan yang mereka lakukan akan melahirkan batasan sesuatu bagi orang lain” (Poloma, 2007:259). Hal ini melahirkan kebudayaan yang bersifat given atau pemberian. Kebudayan terbagi ke dalam tiga wujud yakni pertama adalah berwujud system gagasan, nilai dan norma. Sedangkan yang kedua  wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayan yang paling nyata adalah kebudayaan dipandang dari hasil karya manusia yang berupa artefak dan bendan-benda buatan manusia (Koentjaraningrat, 1981 : 186-187).
Sehubungan dengan itu wujud kebudayaan seperti yang disebutkan di atas, maka dapat diaktualisasikan lewat berbagai tradisi menjadi tercipta dan secara kontinyu dilaksanakan dan dipercaya oleh subkomunitas yang mendukungnya. Tradisi yang tercipta tentu terjadi karena berbagai motif dan pengetahuan masyarakat yang secara tradisional diteruskan oleh generasinya.
Salah satu unsur kebudayaan yang ada pada masyarakat adalah keyakinan atau religi. Setiap masyarakat memiliki cara tertentu dan berbeda satu sama lainnya dalam menghayati dan menjalankan keyakinannya. Begitu pula pada masyarakat pulau Bungin, memiliki system kepercayaan yang hingga masih eksis sebagai warisan dari nenek moyangnya. Kepercayaan itu dapat berupa ritual-ritual yang dijalankan pada hari-hari tertentu dan dapat pula kepercayaan itu terbalut dalam mitologi yang dikembangkan oleh masyarakatnya.
Masyarakat tradisional senantiasa bersahaja dan menggunakan pola tingkah laku yang senantiasa menghormati lingkungan alam. Artinya interaksi masyarakat tradisional dalam menjaga alam dan lingkungannya banyak mengunakan mitos-mitos ataupun larangan-larangan, apabila dilihat secara logis maka tidak akan mempunyai pengertian yang mendalam namun apa bila dikaji dan ditelaah secara khusus dan menggunakan pertimbangan makna dibalik mitos-mitos tersebut maka yang awalnya irasional menjadi rasional. Dalam masyarakat tradisional juga sangat memperhatikan hubungan-hubungan manusia roh leluhur. Untuk menjaga hubungan tersebut maka mereka wujudkan dalam berbagai bentuk ritual-ritual dalam kehidupan sehari-hari.
Pada masyarakat Bungin, kepercayaan terhadap yang gaib dan kepercayaan terhadap roh leluhur tetap berjalan dengan baik, walaupun saat ini telah masuk agama Islam sebagai agama yang dominan dipeluk oleh masyarakat di Pulau Bungin. Keyakinan-keyakinan yang dari nenek moyang mereka selalu ditanamkan kegenerasi-generasi berikutnya. Dengan melihat fenomena budaya dalam masyarakat pulau Bungin yang masih memegang nilai-nilai local atau kearifan local membawa daya tarik untuk diketahui secara mendalam. Fenomena budaya itulah yang menjadi motif dari penulisan penelitian ini. Masyarakat Pulau Bungin sebagian besar merupakan penduduk dari suku Bajo yang bermigrasi sedemikian rupa membentuk sebuah perkampungan yang berada di pinggir pantai. Namun dalam perkembangannya beberapa suku juga bermigrasi kepulau Bungin seperti: Suku Samawa, sasak, dan lainnya. Jumlah mereka relative sedikit dan  menjadi minoritas dalam suku Bajo di Pulau Bungin.
Kebudayaan suku Bajo menjadi sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan. Mereka memiliki ideology sendiri yang menjadi pola bagi kelakuan.  Segala aktifitas ritual yang dilakukan oleh masyarakat setempat tidak lepas dari kepercayaan-kepercayaan yang dianut oleh penduduk yang bersuku Bajo.  Pada masyarakat suku Bajo keyakinan terhadap kekuatan supranatural, magis, dan kekuatan-kekuatan alam masih sangat kental dan mereka mewujudkan dalam berbagai bentuk ritual-ritual keagamaan yang bersifat religious.
Dengan demikian, komunitas masyarakat Sumbawa di pulau Bungin dapat dilihat sebagai sebuah sistem yang terdiri atas ide-ide, gagasan, dan kelakuan sosial. Kenyataan ini pada komunitas adat setempat dapat menata semua kehidupan mereka.  Misalnya pelaksanaan ritus dan upacara yang sarat dengan nilai, norma dan ajaran yang dihayati sebagai suatu kebenaran. Dalam inti sentrum permasalahan ini ada  dua  hal yang akan ungkap, yakni : bagaimana bentuk ritual kepercayaan komunitas adat dan bagaimana prosesi  pelaksanaannya. Untuk mengungkap permasalahan tersebut perlu menggunakan teori untuk membedah permasalahan tersebut. Adapun teori yang dipergunakan adalah teori neofungsional dan teori semiotika. Kedua teori tersebut diharapkan dapat mengungkap fenomena budaya yang terjadi di pulau Bungin.
Sebagai sebuah gambaran umum dari penelitian ini, secara administrasi Desa Pulau Bungin merupakan salah satu desa di kecamatan Alas. Kecamatan Alas terbagi ke dalam enam belas desa yang di antarannya adalah desa Pulau Bungin. Dilihat dari ketinggian, wilayah pulau Bungin berada pada ketinggian 1.5 meter dari atas permukaan laut, ini berarti sangat tergantung dari pasang-surutnya air laut. Suhu rata-rata dipulau Bungin berkisar antara 37oC. Orbitasi jarak dari pusat pemerintahan tingkat kecamatan sekitar 3 Km, jarak dari Ibu Kota Kabupaten sekitar 70 Km. Desa pulau Bungin memiliki luas 150 Hektar berstatus sebagai sebuah desa yang masuk wilayah kecamatan alas, kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa Tenggara Barat. Aksesibilitas ke pulau Bungin masih berupa jalan berkapur. Jalan ini merupakan jalan utama dapat dilalui kendaraan bermotor roda dua maupun kendaraan bermotor roda empat.
Dilihat dari jumlah penduduknya, jumlah penduduk kelurahan/desa pulau Bungin sebesar  3.060 Jiwa. Sedangkan jumlah penduduk dewasa sebanyak  2.035 jiwa terdiri dari 1.501 jiwa pria dan 1.559 jiwa wanita, dengan kepala keluarga berjumlah: 847 kepala keluarga. Pekerjaan dan Mata pencaharian utama penduduk adalah Nelayan, bakulan,Ojek, tukang kayu, wiraswasta. Jumlah penduduk miskin di kelurahan/desa ini sebesar 450 KK (1,750 jiwa). (http://p2kpsbw.wordpress.com/profil-desabkm-2/kec-alas/423-2/diakses tgl. 3 Desember 2012).


B. PEMBAHASAN
a.  Kepercayaan dan Kosmologi Masyarakat Bungin terkait dengan pengetahuan laut
Dalam masyarakat manapun hampir semua memiliki system kepercayaan yang mereka yakini dan digunakan sebagai pedoman untuk berprilaku dalam kehidupan. Anthony FC. Wallace mendifinisikan agama (religi) sebagai “seperangkat upacara, yang diberi rasionalisasi mitos, dan yang mengerakkan kekuatan-kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai atau untuk menghindarkan sesuatu perubahan keadaan pada nausea atau alam (Wallace dalam Haviland, 1988:195). Ini berarti semua system kepercayaan mempengaruhi keseluruhan ideology masyarakat. Seperti halnya pada masyarakat Bungin juga memiliki system kepercayaan dan pengetahuan mengenai berbagai hal terutama yang berhubungan dengan pengetahuan terkait dengan penghidupan atau mata pencaharian.
Masyarakat Bungin hampir sebagain besar penduduknya adalah nelayan yang terus berhadapan dengan laut. Tentu saja pada setiap nelayan memiliki pengetahuan dan system keyakinannya terhadap yang gaib. Mayarakat Bungin sebagian adalah berasal dari suku Bajo yang terkenal dengan pelaut-pelautnya yang ulung dan rajin. System pengetahuan terkait pengetahuan kelautan masyarakat Bungin meliputi: pengetahuan tentang musim dan perbintangan (astronomi). Nelayan pada masyarakat Bajo di Pulau Bungin memiliki system pengetahuan terkait dengan musim, masyarakat Bajo  di pulau Bungin memiliki tiga musim, yaitu : musim angina Barat, musim angina timor dan musim peralihan atau simbar tangga. Musim angin timor berlangsung dari bulan Mei hingga September dengan ciri-ciri laut air laut dan ombak atau gelombang laut tidak begitu besar. 
            Berbeda dengan musim angin Barat merupakan kebalikan dari musim angin timur. Pada angin musim barat terjadi embusan angin yang cukup besar mengakibatkan gelombang laut menjadi kencang dan berarus deras. Ombak menjadi lebih besar daripada pada bulan September, para nelayang pada musim ini akan lebih banyak menyandarkan perahunya dan terkadang juga melaut atau menangkap ikan bila gelombang laut diperkirakan tidak membahayakan. Seperti apa yang diceritakan oleh pak Usen menyatakan bawa :
“…Pada bulan November sampai April saya jarang melaut. Angin sangat keras dan kencang. Para nelayan takut perahunya terhempas atau kebalik oleh gelombang pasang. Pada saat ini kami lebih memilih untuk tidak melaut sejenak melihat kondisi yang demikian. Para nelayan disini pada musim air pasang seperti ini lebih banyak melakukan aktivitas di darat dan tentu saja saatnya memperbaiki jala-jala yang rusak maupun perahu yang perlu di perbaiki bila terjadi kebocoran….” (Usen, Wawancara: Agustus 2012).

Dengan mendengar penuturan dari informan di atas, dapat diketahui bahwa pada bulan November sampai sampai April merupakan musim yang bagi nelayan untuk istirahat tidak melaut, karena kondisi arus air laut sangat membahayakan bila dipaksa untuk melaut. Bagi masyarakat Bungin, musim Barat merupakan musim yang mengkhawatirkan, banyak perahu nelayan harus mengalami musibah seperti terbaliknya perahu saat sedang melaut. Ini tentu sangat membahayakan nelayan itu sendri. Di tengah laut arus air laut semakin kuat dan deras. Empasan gelombang yang ganas menyebabkan pada nelayan tidak melakukan penangkapan dan mereka lebih banyak beraktivitas di daratan untuk melakukan pekerjaan yang lainnya. Pada bulan-bulan ini air laut mengalami pasang dan berarus kencang. Keadaan ini terus terjadi sepanjang hari. Air pasang dan arus kencang akan lebih besar lagi pada malam hari sekitar 12.00 sampai dengan 03.00. air padang dan angin bertiup lebih kencang dan mempegaruhi gelombang laut menjadi tinggi. Hempasan ombak akan terdengar lebih jelas dan hal ini paling terasa pada bagian Barat pulau Bungin. Mereka yang bermukim pada bagian ini tentu saja paling merasakan akan kondisi air laut tersebut.
            Setelah berakhirnya musim ini berlanjut kemusim antara, dimana lebih tepat pada bulan September. Masyarakat Pulau Bungin menyebut dengan istilah simbar tangga atau dalam bahasa yang lebih popular yaitu musim peralihan. Keadaan ini berlangsung selama hampir satu bulan. Hal ini merupakan peralihan dari akhir musim angin barat dengan awal musim angin Timur. Keadaan air laut pada musim perlaihan ini cuaca cukup baik dan kondisi arus relative tenang, gelombang pasang juga tidak begitu tinggi. Nelayan menggunakan bulan ini juga untuk mencari ikan baik secara sendiri maupun dengan berkelompok melakukan kegiatan menangkap ikan.
            Di samping menggunakan pengetahuan bulan dalam melihat tanda-tanda alam yang berpengaruh terhadap keadaan dilaut maka para nelayan di Pulau Bungin juga menggunakan kepercayaan tradisionalnya lewat tanda-tanda bintang yang ada dilangit. Local genius ini di menjadi penting karena sangat membantu mereka dalam menghadapi fenomena alam yang terjadi ketika mereka melakukan kegiatan melaut. Cara menggunakan bintang sebagai sebuah tanda dalam kajian umum sering disebut dengan ilmu perbintangan atau astronomi. Pada masyarakat suku Bajo yang ada di Pulau bungin mengenal ada empat tanda bintang sebagai petunjuk dalam melakukan langkah keputusan untuk melaut. Percaya akan pola perbintangan ini, dapat menolong mereka, maka menjadi penting dipelajari secara lisan oleh nelayan melalui mereka yang telah berpengalaman dalam mengarungi lautan. Bintang  pengalaman ini diturunkan secara terus-menerus kegenerasi-kegenerasi berikutnya.
            Adapun bintang-bintang yang menjadi tanda dalam pengetahuan para nelayan di pulau Bungin mengenal empat bintang utama yang menjadi patokan sebagai tanda untuk memberikan arah dan lainnya. Adapun bintang-bintang tersebut yaitu: 1) bintang tujuh pupuru; 2) bintang totolu; 3) bintang siang nyinyiur dan; 4) bintang popotean. Dalam empat bintang ini juga akan diklasifikasi lagi menjadi beberapa jenis bintang yang merupakan bagian dari pengkatagorian perbintangan tersebut. Mulai dari Bintang tujuh pupuru, bintang ini terdiri dari beberapa bintang yang terbit pada pertengahan bulan Agustus dan menempati wilayah atau arah terletak berada pada di laut Timur. Keberadaan bintang tujuh pupuru ini bagi nelayan sangat penting dan tentu saja dipakai pedoman dalam mengidentifikasi fenomena alam yang terjadi. Pada pertengahan bulan Agustus ini munculnya bintang pupuru menjadi tanda bahwa pada musim ini mulai bertelornya ikan tambang di sekitar pantai. Para nelayan di pulau Bungin mulai melakukan pencarian terhadap keberadaan tempat bertelurnya ikan tambang ini dan biasanya berada pada teluk-teluk dan tepian pantai. Ini juga merupakan pertanda bahwa mulainya perkembangbiakan ikan tongkol dan begitu sebaliknya bila bintang pupuru ini telah menghilang maka ikan tambang maupun tongkol kembali lagi ke dasar laut dan ini berarti bahwa nelayan tidak lagi mendapat rejeki dari alam. Keberadaan bintang pupuru ini juga dijadikan sebagai pedoman dalam melihat arah. Nelayan akan menggunakan patokan arah bintang tersebut sebagai tanda atau sebagai kompas. Dengan menggunakan pedoman tradisional ini maka para nelayan merasa terbantu. Keberadaan bintang pupuru bagi para nelayan dapat lebih mudah  mencapai tujuan atau tempat yang ingin dicapai. Dengan tanda bintang tersebut juga membantu para nelayan agar tidak tersesat di tengah lautan ketika sedang melakukan penangkapan ikan terutama pada malam hari.
Bintang totolu, merupakan rasi bintang yang keberadaanya juga sangat membantu nelayan dalam menentukan arah pada malam hari ketika para nelayan melakukan penangkapan ikan. Ini juga berarti bintang totolu menjadi pedoman yang secara tradisional dipelajari secara lisan dan turun temurun untuk melihat fenomena alam terutama dalam teknik menentukan arah. Bintang totolu biasanya terbit pada bulan Juli dan diperkirakan dan diperkirakan akan terbenam pada bulan Mei. Bila dilihat pada malam hari bintang ini berada pada arah  timur kemudian akan bergerak kesebelah barat sesuai perubahan waktu. Ciri dari bintang ini adalah semakin hari keberadaan bintang totolu mengalami pergeseran posisi yang terus-menerus keberadaannya bergeser dari arah timur kearah barat yang pada akhirnya tenggelam atau menghilang.
Bintang nyinyuir merupakan salah satu bintang dalam system tata surya, bintang ini terbit menjelang pagi sekitar jam empat. Bintang ini paling mudah dilihat dan memiliki ciri-ciri paling besar diantara bintang-bintang yang lainnya. Bintang ini dapat dilihat pada langit bagian Timur dan secara perlahan berotasi ke arah barat dan begitu berulang secara kontinyu. Bintang ini berfungsi sebagai tanda dalam menentukan timur dan barat. Bagi nelayan bintang ini menjadi penting karena dapat menjadikan mereka patokan atau pedoman ketika mereka berada di tengah lautan.
Selanjutnya bintang popotean, merupakan kelompok bintang yang terbit di arah tenggara dan kemudian terbenam di arah barat daya.  Kemunculan bintang ini sekitar bulan September. Rentang waktu yang dapat dilihat hanya satu bulan dan akan menghilang setelah tiga puluh hari. Jadi dengan kata lain bintang ini terus tampak akan kelihatan dilangit. Kemunculan bintang menjadi pertanda bahwa segala sesuatunya akan berjalan baik. Bintang, seperti tersebut di atas merupakan sebuah tanda yang sangat berharga terhadap kehidupan manusia, terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai nelayan. hal-hal yang lain dan tidak kalah pentingnya adalah benda-benda sekeliling yang dapat dijumpai seperti pepohonan,  bulan dan lain sebagainya dapat pula dijadikan sebagai petanda yang dapat membantu kehidupan para nelayan. 

b.  Ritual tiang guru dalam membuat rumah bagi masyarakat Pulau Bungin
Pada masyarakat Pulau Bungin khususnya pada suku Bajo mengenal beberapa ritual adat yang secara turun-temurun telah dilaksanakan sampai sekarang. Ini merupakan upacara yang bersifat magis religious. Untuk memperjelas pengertian tentang religi dapat didefinisikan dengan mengemukakan bahwa religi adalah segala system tingkah laku manuasia untuk mencapati sesuatu maksud denga cara menyandarkan diri kepada kemauan dan kekuasaan mahluk-mahluk halus seperti roh-roh, dewa-dewa dan sebagainya, yang menempati alam (Frazer dalam Koentjaraningrat, 1985: 28).
Seperti apa yang dikatakan Frazer di atas, maka dapat diamati dalam kehidupan masyarakat secara nyata khususnya di Pulau Bungin adalah salah satu dari sekian banyak ritual yang dilaksanakan adalah upacara Tiang Guru. Upacara ini dilakukan ketika akan membuat rumah bagi mereka yang telah berkeluarga. Dalam membuat rumah mereka melakukan dengan cara bergotong-royong dan bentuk rumah yang mereka buat tampak persegi empat dilihat dari depan sampai kebelakang. Rumah umumnya bertiang antara 16 sampai 20 buah ini tergantung dari besar tidaknya bangunan yang dibuat. Dari sekian banyaknya tiang yang ada di dalam kerangka rumah maka ada satu tiang yang dijadikan sebagai dasar atau tiang utama. Istilah local menyebut tiang guru. Tiang guru ini akan dapat diidentifikasi dengan melihat posisi kayu bakau dalam kerangka bangunan rumah tersebut. Tiang guru ini biasanya diletakan pada posisi nomer dua dilihat dari kiri pada jajaran tiang kedua dari depan. Dalam hal ini tiang guru merupakan kayu yang memiliki kualitas baik dan merupakan kayu pilihan sebagai penyangga utama dari bangunan rumah tersebut.
Dalam pemasangan tiang guru ini dilakukan oleh orang tertentu saja, yakni orang yang memiliki pendalaman spiritual dan juga mengetahui hal-hal gaib. Tentu saja orang yang memasang tiang guru senantiasa dipercaya untuk diminta bantuannya. Dalam peletakan tiang guru selalu diadakan suatu ritual adat yang khusus dan telah menjadi sebuah tradisi yang secara turun-temurun. Orang tertentu yang memasang tiang guru dalam kerangka rumah pada umumnya adalah para dukun atau sering pula disebut sandro. Para sandro memiliki peran-peran tersendiri dalam berbagai ritual-ritual adat yang terdapat di pulau Bungin. Pemasangan tiang guru merupakan salah satu dari peran sandro dalam kehidupan masyarakatnya. Fungsi tiang guru adalah sebagai penyangga rumah dan secara magis juga merupakan alat untuk menjaga rumah tersebut dari hal-hal negative. Masyarakat percaya dengan pemasangan tiang guru oleh sander dapat menentukan apakah umah tersebut memiliki keberuntungan atau malah kesialah, ini tergantung dari bahan baku tiang guru yang dipergunakan. Bila sembarangan mengunakan kayu bakau tanpa proses pilihan yang baik maka kayu tersebut mudah rapuh, maka masyarakat percaya bahwa membawa petaka terhadap penghuni rumah tersebut.  Disamping itu para penghuni rumah juga akan sangat menderita atas gangguan penyakit yang tanpa diketahui asalnya, dalam kaitan yang lainnya juga bisa terjadi kecelakaan yang beruntun.
Untuk menghindari keadaan yang tidak diinginkan seperti tersebut di atas maka pihak keluarga dan Sandro secara bersama-sama memilih dan menyeleksi bahan baku kayu bakau untuk dijadikan tiang guru. Keahlian para sandro diuji dalam hal ini yaitu diberi kepercayaan dalam memilih kayu mana yang akan digunakan sebagai tiang utama atau tiang guru. Kemampuan sandro dalam memilih kayu bakau yang berkualitas baik itu didasarkan pada kemampuan spiritualnya. Dukun atau sandro mengetahu bahwa bila kayu yang tampak baik dipermukaan belum tentu baik di dalamnya bisa saja rapuh karena ada rayap kayu yang terdapat didalamnya. Sandro dapat mengetahui itu tanpa perlu membelah kayu tersebut sudah mengetahui bahwa kayu tersebut tidak bagus digunakan.
Dengan begitu peran para sandro dibutuhkan oleh masyarakat dalam upacara adat maupun keagamaan. Tiang guru juga memiliki fungsi sentral dalam setiap upacara adat ataupun agama. Telah diketahui bahwa setiap upacara adat atau agama selalu dipusatkan di dalam rumah. fungsi rumah tidak hanya sebagai tempat istirahan atau ekonomi semata namun juga digunakan sebagai tempat untuk melangsungkan upacara adat atau agama. Seperti upacara atau ritual tiba pisah (buang pisang) dilaksanakan di dalam rumah. Seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah  mereka diupacarai dan beberapa ritual seperti saat mengenakan ingkak semangat/ tali semangat yang berupa tali putih yang diikatkan pada pegelangan tangan kanan pada seluruh anggota keluarga yang hadir di rumah tersebut. Begitu juga pada saat pemberian  dampi yang terbuat dari kapur dan sirih berwarna coklat dioleskan pada dahi, leher, pelipis kanan dan kiri. Selain itu upacara pemberian bantan bagi seluruh anggota keluarga. Keseluruhan prosesi ritual yang ada di rumah tersebut merupakan suatu symbol bahwa para leluhur orang Bajo telah turun dan hadir dalam upacara tersebut.
Dalam setiap upacara di sebuah rumah pada masyarakat Bajo tidak akan lepas dari ritual memohon iji kepada tiang guru. Tiang guru ini sebagai symbol perantara dari roh leluhur orang Bajo. Seperti dijelaskan di atas bahwa upacara seperti tiba pisah juga dalam ritualnya juga memohon ijin kepada tiang guru sebagai perantara roh nenek moyang atau leluhur. Hal ini dipimpin oleh dukun atau sandro dalam menyelesaikan upacara tersebut. Melalui perantara tiang guru ini, sandro atau pun dukun akan mengetahui apakah rumah tersebut aman dari rongrongan orang luar yang menginginkan rusaknya rumah tangga atau sandro juga dapat mengetahui orang-orang yang berbuat jahat dengan mengisi jampi-jampi atau hal magis di rumah tersebut, maka sandro dengan perantara tiang guru akan mengetahui hal hal tersebut.

c.  Upacara religi yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan masyarakat Bungin.
Adapun beberapa upacara yang masih eksis dalam kehidupan masyarakat Bungin terutama dalam kaitannya dengan hal yang magis seperti upacara : nampo tawar, tolak bala, syukuran, tiba pisah, ancak dan tiba rakit. Upacara upacara tersebut hingga kini masih lestari dan masyarakat Bungin percaya bahwa upacara tersebut dapat memberikan rasa keamanan dan kenyamanan secara batin bagi penganutnya. Seperti diketahui bahwa pada masyarakat bungin, hampir sebagaian masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. kehidupan mereka tidak jauh dari daerah pantai yang hidup dari menangkap ikan. Areal pantai menurut mereka adalah tempat sacral dan sebelum melakukan aktivitas kesehariannya mereka selalu mengadakan ritual untuk keselamatan mereka dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Masyarakat Bungin pada dasarnya masih sangat percaya terhadap hal-hal magis yang tentu saja sangat bertolak belakang dengan rasio nalar manusia modern. Terkait dengan pandangan mereka terhadap Tuhannya dan kepercayaannya maka hal itu ditunjukan dengan pelaksanaan ritual yang tentu menjadi perantara dalam menghubungkan manusia dengan alam sekitarnya. Sebagian dari ritual upacara yang berlangsung bertujuan agar apa yang dikerjakan dapat berjalan dengan baik tanpa ada halangan yang berarti. Di samping itu, penyelenggaraan ritual kepercayaan seperti tersebut di atas, dimaknai sebagai bentuk rasa terima kasih kepada yang Ilahi. Masyarakat Bungin dalam konteks system kepercayaannya dalam hal ini selalu menghubungkan dengan keberadaan Allah dan juga para Nabi sebagai penguasa sentral terhadap semua wilayah di dunia dan dalam konteks ini keberadaan beliau adalah pada penguasaan atau penjaga lautan dalam kehidupan masyarakat Bungin yang sebagian besar sebagai Nelayan.
Sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Tuhannya maka masyarakat Bungin selalu melakukan ritual-ritual upacara terutama bagi para nelayan di Pulau Bungin. Bentuk upacara ritual mulai dari ritus upacara daur hidup seperti ritual upacara kelahiran sampai dengan ritual kematian. Disamping itu juga dilakukan upacara yang terkait dengan keberadaan roh leluhur. Upacara untuk leluhur maupun upacara Allah dan para Nabi.  Upacara yang lain juga sering dilakukan adalah upacara yang dipersembahkan untuk para mahluk-mahluk halus yang dianggap baik maupun yang jahat.
Masyarakat percaya bahwa di dunia ini tidak hanya manusia yang menempati namun juga ada mahluk-mahluk lain yang juga menempati ruang walaupun tidak terlihat oleh kasat mata.  Dengan adanya kepercayaan itu maka setiap gerak dan pola dari prilaku masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh superstruktur atau ideology yang dianut terutama pada konsep-konsep pengetahuan local dalam menghadapi kondisi alamnya, seperti halnya pada lingkungan pulau Bungin. Setiap langkah dalam kehidupan ini cenderung dimaknai dan diaktualisasi lewat berbagai bentuk ritus-ritus ataupun upacara lainnya. Ini berarti bahwa setiap upacara yang dilakukan oleh masyarakat Bungin terutama pada suku Bajo, merupakan sangat memperhatikan sekali kegiatan-kegiatan yang terkait dengan tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun oleh para leluhurnya. Upacara yang dilakukan selalu bersifat suci dan sacral, ini menandakan bahwa ada keterkaitan antar unsur-unsur religi yang saling terpadu dalam suatu kesatuan yang integral sehingga tercipta adanya keharmonisan dalam masyarakatnya.
Dengan melihat realitas social di masyarakat maka, suatu system religi dapat berjalan seperti apa yang dimaksudkan oleh Koentjaraningrat sebagai keterkaitan komponen-komponen yakni sebagai berikut.
1.      Emosi Keagamaan.  Dalam komponen ini melihat bahwa terjadi ikatan kuat yang menyebabkan manusia menjadi religious; disini akan menyebabkan manusia memiliki getaran yang mengerakkan jiwanya. Jadi komponen emosi keagamaan merupakan komponen utama dari gejala religi, yang membedakan suatu system religi dari semua system social dan budaya yang lain dalam masyarakat manusia.
2.      System kepercayaan. Dalam system kepercayaan lebih menekankan bagaimana unsur-unsur Tuhan di hayati dan diyakini menjadi milik dirinya sehingga manusia memiliki bayangan terhadap sifat- sifat Tuhan serta membayangkan bagaimana wujud dari alam gaib dalam dirinya. System keyakinan dalam suatu religi berwujud pikiran dan gagasan manuasia, yang menyangkut keyakinan  dan konsepsi manusia  tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud dari alam gaib (kosmologi),  tentang terjadinya alam  dan dunia (kosmogoni), tentang jaman akhirat (esyatologi), tentang wujud dan ciri-ciri kekuatan sakti, roh nenek moyang, roh alam, dewa-dewa, roh jahat, hantu, dan mahluk halus lainnya. System kepercayaan juga sangat berkaitan dengan system nilaidan system norma keagamaan seperti menyangkut kesusilaan, etika, mupun dokrin-dokrin religi dan kesemuanya tersebut merupakan pengaturan terhadap prilaku atau tingkah laku manusia.
3.      Sistem Upacara. Setiap upacara religious memiliki pola dan tata cara tersendiri baik dalam pelaksanaannya maupun tentang ideology atau super struktur yang di yakininya. Dalam konteks ini manusia akan berusaha mencari hubungan-hubungan dengan alam gaib, dewa-dewa, atau mahluk halus yang mendiami alam semesta ini.
4.      Peralatan Ritus dan upacara. Dalam setiap pelaksanaan ritual tentu ada media-media yang dipergunakan untuk melakukan jalannya ritual tersebut. Setiap komunitas pendukung kebudayaan tersebut, memiliki varian tersendiri dalam mempergunakan alat-alat maupun tata cara melakukan upacara. Alat-alat yang dipergunakan mempunyai fungsi sesuai dengan kebutuhan dalam proses upacara tersebut. Dalam upacara hal yang penting juga sering dilakukan adalah bagaimana mereka menjalankan upacara itu dengan penuh rasa tanggung jawab dan pengorbanan mereka sehingga upacara yang terselenggara dapat menjadi sukses.
5.      Umat Beragama. Komponen yang juga paling dasar dalam keyakinan adalah ideology yang diusungnya oleh umat beragama. Disini tentu saja peranan umat amat dasar karena umat atau pendukung kebudayaan tersebut memiliki andil dalam menjalankan system keagamaan dan system kepercayaannya. Umat merupakan kesatuan social yang menganut system keyakinan dan yang melaksanakan system  ritus serta upacara itu. (Konentjaraningrat, 1980: 80-83).
Dengan konsep unsur-unsur religi yang telah dikemukakan di atas terkait dengan system upacara religious, terutama pada masyarakat Bajo yang beragama Islam hingga kini selalu melakukan suatu ritual yang sangat berkaitan pula dengan system mata pencahariannya. Mereka sebagai masyarakat pesisir memiliki budaya tersendiri yang dipadukan dengan keadaan alam sekitarnya. Terutama pada masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan memandang bahwa masih perlunya dilaksanakan ritual keselamatan laut sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan atau penguasa laut yang telah memberikan penghidupan bagi mereka. Bentuk upacara yang paling sederhana dan komplek juga sering dilakukan oleh masyarakat Bajo. Dalam bentuknya yang sederhana bentuk ritual yang rutin sering dilakukan oleh masyarakat Bungin adalah melakukan suatu prosesi pembakaran kemenyan di atas peti uang. Upacara ini dilakukan pada setiap malam jumat, ini dimaknai sebagai agar segala sesuatu yang ingin didapatkan dapat dipermudah dan rejekinya lebih banyak. Khususnya bagi masyarakat nelayan juga memakanai sebagai tanda agar rejeki dari laut mudah datang. Ada juga suatu pantangan dan sekaligus sebagai bentuk ritual yakni masyarakat pantang untuk menyisakan makanan dan membuang makanan kelaut karena itu akan mengakibatkan rejeki dari laut menjadi berkurang. Bentuk kearifan local yang terdapat pada masyarakat Bungin dapat dikatakan masih eksis dan hampir semua masyarakat bungin percaya akan mitologi tersebut. Dengan gambaran system kepercayaan pada masyarakat Bungin menandakan bahwa masyarakat percaya bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini ada yang menciptakan dan menjaganya. Seperti halnya laut bagi masyarakat Bungin sangat percaya bahwa penjaga laut atau penguasa laut itu ada. Jadi dengan melakukan berbagai ritual yang terkait dengan penguasa laut maka mereka percaya akan diberikan rejeki dan keselamatan di tengah lautan ketika mereka melakukan penangkapan ikan.
Kepercayaan dalam bentuk mitologi seperti tersebut di atas, sebenarnya telah ada sejak dahulu dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi-kegenerasi berikutnya. Lautan sebagai tempat mencari rejeki bagi para nelayan di pulau Bungin tentu memandang laut sebagai titik sentral dalam system religinya. Penguasa laut yang dipercaya oleh masyarakat dapat memberikan perlindungan dan keamanan terhadap penduduknya. Maka dari itu semua jenis upacaya di Pulau Bungin senantiasa selalu mengkaitkan prosesi upacara itu berhubungan dengan kekuatan laut atau penguasa lautan. Hampir semua jenis upacara baik itu upacara selamatan sampai ritual siklus hidup seperti perkawinan, kelahiran, khitanan, pengobatan, pergi berlayar, sampai pada upacara  kematian tetap berhubungan dengan penghormatan atau persembahan terhadap penguasa lautan.
Dalam setiap upacara ritual pada masyarakat Bungin selalu dipimpin oleh seorang yang secara sentral pula menjalankan fungsinya untuk mengantarkan sesajian yang dipersembahkan oleh masyarakatnya. Istilah local bagi pemimpin upacara ritual ini disebut dengan nama Sandro, yakni secara umun disebut dukun. Sandro inilah inilah yang akan menjalankan peranannya dalam memimpin persembahyangan yang berupa sesajian atau pun dalam bentuk lainnya.
Seperti misalnya seorang anggota keluarga dalam masyarakat Bungin akan melakukan perjalanan jauh atau melakukan pekerjaan yang memakan waktu lama di tengah lautan maka mereka akan melakukan semacam ritual keselamatan. Hal yang paling sederhana ialah melakukan doa bersama dengan tujuan orang yang bepergian tersebut mendapatkan perlindungan dan keselamatan dari penguasa laut atau Tuhan. Adapun beberapa upacara ritual yang terkait dengan seseorang yang akan melakukan perjalanan atau berlayar bagi masyarakat Bungin khususnya orang Bajo adalah sebagai berikut.
1.  Upacara Nampo Tawar.
Upacara Nampo Tawar merupakan suatu bentuk upacara yang sangat terkait dengan persembahan kepenguasa laut. Ini sering disebut upacara turun ke laut. Upacara ini juga sangat disakralkan. Sacral dalam arti ini mengandung makna suci (Agus, 2007: 80). Upacara Nampo Tawar dilakukan sebelum akan berangkat menangkap ikan atau bagi generasi mudannya yang akan berangkat merantau keluar pulau menyeberangi lautan, maka suatu upacara menurut kepercayaan masyarakat setempat mengadakan ritual yang disebut upacara turun laut. Khusus bagi nelayan yang akan berangkat menangkap ikan, maka pada malam sebelum berangkat, di rumah pada salah satu warga pemilik perahu (juragan) akan diadakan suatu upacara keagamaan yakni melakukan pembacaan doa bersama, pengajian, dan selain itu juga disertai dengan ritual persembahan berupa sesajian yang di dalamnya berisi bunga tiga macam dengan warna yang berbeda. Sesajian juga berisi bubur putih, tumpeng, ketan, tumpeng ketan warna kuning. Sesajian ini akan dipersembahkan disertakannya pula dengan melakukan pembakaran kemenyan.
Doa yang dibacakan tersebut, diikuti oleh para anggota keluarga yang akan bepergian. Dalam acara itu juga terkadang mengundang masyarakat sekitarnya untuk ikut mendoakan agar perjalanan melakukan pelayaran mendapatkan keselamatan dari Allah (Tuhan Yang Maha Esa).
Setelah pembacaan doa selesai, semua ritus upacara telah berjalan maka pada penghujung acara dilanjutkan dengan melakukan makan bersama yaitu berupa sesajian tumpeng kuning dan putih. Para warga yang tidak sempat memakan sesajian di tempat diperbolehkan membawa pulang ke rumah masing-masing. Pada inti dari upacara tersebut adalah sebagai cara memberikan persembahan kepada penguasa laut, para nelayan yang berlayar dan menangkap ikan mendapatkan keselamatan dan membawa hasil tangkapan yang melimpah.
Ritual lanjutan menjelang berangkat ada semacam ritual yang wajib dilakukan yaitu mengoleskan bubuk beras yang berwarna kuning dibagian-bagian perahu yang akan digunakan berlayar. Hal ini tujuannya untuk memberi perlindungan dan kekuatan magis terhadap perahu tersebut disamping juga awak perahu yang ada di dalamnya. Symbol dari beras kuning yang dioleskan tersebut dimaknai juga sebagai cara untuk mengusir kekuatan jahat dan menghilangkan berbagai dampak negative (menetralisir). Karena kepercayaan itulah maka para juragan perahu yang akan memberangkatkan anggotanya berlayar selalu mengitari perahu dan sampannya sebanyak tiga kali dan sekaligus mengoleskan beras kuning pada bagian perahu tersebut. Tradisi ritual semacam ini juga dilakukan ketika pembuatan perahu baru telah selesai dan akan dipergunakan untuk beraktivitas. Ritual bagi perahu baru hampir sama dengan ritual turun laut. Dimana juga diadakan semacam doa bersama bertempat dimasin-masing rumah yang memiliki perahu tersebut. Pembacaan doa selesai dilanjutkan dengan melakukan persembahan yaitu berupa tumpeng putih dan kuning selain itu ada juga alat-alat lain sebagai pelengkap dalam ritual tersebut.

 2.  Upacara Tolak Bala.
Upacara yang berkaitan dengan Tolak Bala, pada masyarakat umum adanya karena masih kuatnya system kepercayaan yang dianutnya pada masing-masing subbudaya. Begitu pula pada masyarakat Bungin dengan system kepercayaannya yang masih kuat juga memiliki tradisi ritual yang terkait dengan keselamatan masyarakat. Pada umumnya upacara ini dilakukan secara komunal dengan menggunakan tata cara setempat. Berbagai bentuk sesajian dalam upacara tolak bala juga dibuat. Upacara tolak bala yang paling sederhana dan sering dilakukan oleh masyarakat Bungin hingga sekarang adalah melakukan doa bersama setiap hari jumat, selesai jalannya doa biasanya tuan rumah menyajikan masakan berupa bubur beras. Sebelum anggota keluarga yang berlayar mencari ikan dilaut belum kembali maka anggota keluarga dirumah akan terus melakukan doa bersama dan memberikan sesajian berupa bubur beras kepada tetangga atau kerabatnya sebagai symbol agar tetangga juga mendoakan sehingga anggota keluarga yang berlayar tersebut dapat kembali selamat dengan membawa hasil dari tangkapannya.
Upacara akan dilanjutkan kembali setelah anggota keluarga dapat kembali dengan selamat dan upacara ini merupakan upacara syukuran atau selamatan. Berbagai peralatan dan perlengkapan dalam upacara selamatan setelah pulang dari melaut hampir sama dengan upacara nampo tawar. Tujuan dari upacara ini adalah sebagai bentuk rasa berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan keselamatan dan rahmadnya.


3.  Upacara Tiba Ancak.
            Upacara ancak merupakan salah satu ritual yang sifatnya komunal. Kegiatan ini dilakukan secara bersama dengan menggunakan berbagai peralatan dan perlengkapannya. Upacara ancak sering disebut “bebalian”, dalam bebalian tersebut berisi tentang sesajian dengan rangkaian yang sederhana. Dalam sesajian itu, terbuat dari rangkaian daun kelapa muda yang berisi serangkaian bunga atau kembang dan juga berisi berbagai perlengkapan pendukung seperti buah pisang, beras kuning, beras putih, kemenyan dan lainnya. Selain itu disertai juga dengan satu ekor  ayam yang masih hidup sebagai hewan kurban.  Kesemuanya itu merupakan peralatan dan perlengkapan pendukung dalam rangkaian sesajian upacara tiba ancak. 
Prosesi upacara dilakukan dengan diawali pembuatan tempat ancak.  Semua perlengkapan dan sesajian yang akan dipersembahkan di letakan di atas kayu dengan ketinggian tiga meter. Kayu tersebut diletakan diperbatasan desa atau digerbang masuk ke pulau Bungin. Upacara ritual ancak dilaksanakan disekitar letak sesajian. Masyarakat seperti telah menjadi tradisi melakukan doa bersama dan kemudian ritual ini dipimpin oleh seorang dukun atau sering disebut sandro. Di sinilah peran sandro dalam memberi pelayanan terhadap masyarakat terutama dalam ritual-ritual keselamatan. Tujuan dari upacara tiba ancak ini adalah untuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat khususnya masyarakat Bungin terhadap serangan wabah penyakit dan berbagai dampak negative yang disebabkan oleh alam atau pun manusia.

4.  Upacara Tiba Pisah
Upacara tiba pisah sesungguhnya juga merupakan suatu ritual yang menghendaki agar seseorang atau kelompok masyarakat dapat tenteram maupun selamat baik dalam pekerjaan maupun dalam bentuk aktivitas yang lainnya. Upacara ini juga sangat terkait dengan aktivitas masyarakat nelayan yang kental dengan upacara selamatan laut. Upacara tibah pisah mampir sama dengan upacaar ancak namun yang membedakan adalah prosesi maupun perlengkapannya lebih besar daripada upacara ancak. Upacara ini terlaksana bila anggota keluarga atau masyarakat nelayan akan melakukan aktivitas menangkap ikan kelaut yang tentunya sampai malam maka menurut kepercayaan masyarakat setempat perlu kiranya melakukan ritual keselamatan yang dalam bahasa local sering disebut upacara tiba pisah.
Perlengkapan-perlengkapan ritual yang digunakan dalam upacara tiba pisah seperti : menggunakan buah pisang, telor, beras yang berwarna, lilin, sirih, tebu, minyak bauq dan lain sebagainya. Semua bahan tersebut disatukan dalam sebuah piring putih, di mana dalam tata aturannya dimulai dengan piring dilapisi daun pisang kemudian semua bahwan yang ada dijadikan satu di atasnya. Dalam prosesi selanjutnya bila semua perlengkapan sudah lengkap makan media bahan-bahan tadi diasapi dengan menggunakan dupa disertai dengan taburan kemenyan. Sesajian ini nantinya akan digunakan sebagai media atau symbol-simbol dalam hubungannya dengan leluhur maupun memohon keselamatan terhadap penguasa alam tidak nyata. Prosesi upacara dimulai dengan persiapan dari bahan-bahan sesajian yang telah diasapi dengan dupa dan kemenyan. Selanjutnya bagi mereka yang akan bepergian kelaut maka dari bahan sesajian yang telah diasapi tersebut, bahan sesajian itu diletakan di atas perut orang yang diupacarai. Dalam prosesi ini dipimpin oleh seorang sandro dan dengan bantuan Sandro melalui media bahan tadi maka orang tersebut didoakan agar mendapatkan keselamatan dalam aktivitas menangkap ikan dilaut.
Setelah dalam upacara ritual selesai maka sesajian yang telah dipergunakan tadi selanjutnya dibuang kelaut. Upacara ini tidak hanya dilakukan pada saat orang akan berlayar saja namun upacara seperti ini juga dilakukan pada upacara perkawinan, khitanan dan pengobatan orang sakit. Semua upacara tersebut dipimpin oleh seorang Sandro atau dukun.

5.  Upacara Tiba Rakik
Upacara Tiba Raki, merupakan bentuk upacara komunal. Upacara ini bersifat magis karena menyertakan roh alam gaib atau roh leluhur. Upacara ini memiliki dua tingkatan yakni upacara dalam tingkatan yang lebih sederhana yakni sebatas pada tahapan-tahapan tertentu dan ini tergantung dari biaya maupun tingkat urgensinya. Tingkatan upacara bagi seseorang ditentukan oleh seorang sandro. Sandro sangat berperan dalam ritual ini, dan sekaligus berfungsi sebagai pemimpin yang akan menjalankan semua ritual tersebut, dan dibantu oleh masyarakat khususnya dalam lingkungan kekerabatan.  Sedangkan pada upacara tingkatan yang utama biasanya menggunakan tahapan-tahapan ritual yang lebih panjang dan kompleks. Upacara ini selalu dipimpin oleh seorang Sandro tiba raki. Sandro biasanya memberikan petunjuk kepada kelompok kekerabatan agar mereka tahu pada tahap upacara yang mana harus dilakukan.
Biasanya, bila terjadi sesuatu dalam keluarga besar maka sandro akan menyarankan melakukan upacara tiba raki yang lebih lengkap dan menjalankan semua tahapan-tahapan ritualnya. Upacara ini tergolong upacara yang cukup besar. Penyelenggara adalah para kerabat keluarga besar di bantu oleh masyarakat yang berada dalam lingkungan setempat. Upacara ini sangat kompleks karena menggunakan berbagai bahan atau perlengkapan yang cukup banyak. Semua bahan dan peralatan yang digunakan dalam upacara tiba raki, pada akhirnya dibuang ke laut. Sesajian ini merupakan sebuah persembahan yang dihaturkan kepenguasa laut.  Karena upacara ini tergolong besar maka memakan biaya yang cukup besar pula. Untuk itu dalam penyelenggaraan upacara seperti ini, biasanya para kerabat berhimpun dan saling memberi dukungan baik partisipasi dalam aktivitas penyelenggaraan maupun juga dukungan dalam kaitanya dengan pendanaan atau biaya.
Dalam pelaksanaan upacara tiba raki acap kali juga disertai dengan terjadinya kesurupan oleh roh leluhur. Bila hal ini terjadi maka seorang sandro yang memimpin upacara tersebut, melakukan dialog kepada roh leluhur yang merasuki tubuh salah satu kerabat tersebut. Dalam proses dialog tersebut, sandro akan mendengarkan dan bertanya apa sebenarnya terjadi dan apa yang harus dilakukan. Bila hal ini berkaitan dengan sakit seseorang maka akan dimintakan pengobatan dan apa yang mesti dilakukan setelah upacara tersebut.
Untuk lebih memberikan pengertian yang lebih nyata tentang konsep tiba raki maka secara etimologi tiba raki berasal dari kata tiba yang artinya dibuang dan raki adalah anyaman bamboo yang dibuat dalam bentuk persegi empat, sebagai tempat menghaturkan sesajian ke laut. Upacara tiba raki pada masyarakat Bungin, khususnya pada suku Bajo sangat percaya dengan hal hal magis yang mempengaruhi kehidupan manusia. Masyarakat percaya bahwa bila terjadi sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan dan sering terjadi musibah maka mereka akamn melaksanakan upacara tiba raki. Upacara tiba raki juga disertai dengan persembahan berupa beberapa ekor ayam dan juga beberapa ekor sapi sebagai korban dan perlengkapan untuk sesajian yang akan dibuang ke laut sebagai bentuk persembahan kehadapan penguasa laut. Upacara tiba raki juga akan dilakukan karena berbagai alasan yang dianggap penting untuk memenuhi janji yang pernah diucapkan.
Seperti misalnya upacara ini akan dilakukan bila ada salah satu anggota keluarga atau kerabat yang mempunyai janji dan janjinya tersebut telah terpenuhi maka janji yang mereka sebutkan wajib harus dibayarkan, janji tersebut seperti misalnya bertemu jodoh, mendapatkan kesuksesan dalam pekerjaan, dan lainya wajib syaratnya harus mengadakan upacara tiba raki. Dalam bahasa yang umun sering disebut membayar kaul terhadap Tuhan yang telah memberkati apa yang diinginkan oleh seseorang. Upacara ini juga sebagai bentuk penghormatan terhadap penguasa alam dan juga lebih khusus penguasa laut karena akhir dari ritual tersebut dilakukan dilaut dengan membuang sesajian dan perlengkapan yang dibuat dengan ancak.
Ritual tiba raki dianggap sebagai ritual yang bersifat magis religious karena dalam prosesi upacaranya sering menggunakan media roh nenek moyang sebagai penyampaian pesan-pesan yang dianggap perlu dan harus dilaksanakan oleh para kerabat dari keturunan roh nenek moyang tersebut. Seperti misalnya ritual tiba raki yang bertujuan melakukan pengobatan terhadap orang yang sedang sakit, para sandro melakukan pengobatan tersebut dengan suatu prosesi tiba raki yang menghubungkan roh leluhur kepada orang yang sakit tersebut. Tubuh orang yang sakit itu dimasuki roh leluhur dan pada saat itu pula tubuh orang yang sakit itu bergetar dan kesurupan dengan mengeluarkan kata-kata maupun teriakan yang biasanya memberitahu bahwa orang yang sakit tersebut disebabkan oleh sesuatu yang bisa diakibatkan oleh kesalahan dirinya sendiri atau pun karena tindakan-tindakan seseorang tidak senang pada dirinya. Dalam keadaan kesurupan terkadang pula roh leluhur yang merasuki tersebut memberitahukan agar melakukan upacara atau semacam tolak bala. Di samping itu  roh leluhur juga memberitahukan apa yang mesti digunakan dalam pengobatan orang yang sakit tersebut.  Pada akhir dari ritual tersebut maka sandro mengembalikan lagi keadaan di mana roh yang tadinya pada tubuh yang sakit kemudian dilepaskan. Terlepasnya roh leluhur itu kembali keasalnya, orang yang sakit kemudian secara perlahan mulai pulih dan sakit yang diderita selama ini dipercaya akan mengalami penyembuhan.

C. PENUTUP
Masyarakat Bungin masih kental terhadap system kepercayaan tradisionalnya. System kepercayaan tradisional ini hingga saat ini masih dipertahankan sebagai local wisdom masyarakat yang diturunkan dari satu generasi-kegenerasi selanjutnya. System kepercayaan seperti ritual-ritual : nampo tawar, tolak bala, syukuran, tiba pisah, ancak dan tiba rakit. Semua upacara ini berjalan secara harmonis dan masyarakat telah memberikan apresiasi yang cukup besar dengan tidak mempertentangkan dengan kaidah-kaidah atau norma-norma agama yang dianutnya sekarang. Walaupun agama Islam telah menjadi agama yang dominan dianut oleh masyarkat Bungin namun system kepercayaan yang telah ada secara turun temurun masih dipertahankan sebagai bentuk penghargaan terhadap religi asli mereka. Pelaksanaan ritual yang dilakukan oleh masyarakat merupakan lebih pada penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap lingkungan alam dan penghormatan terhadap Tuhan yang tertinggi dalam wujud dan manifestasinya yang beragam. Para nelayan dalam mengungkapkan rasa hormat terhadap alam menggunakan media ritual seperti upacara nampo tawar dan tolak bala.
Praktik-praktik upacara ritual tidak hanya berfungsi untuk keselamatan namun lebih dari itu semua upacara juga memiliki fungsi laten yang sifatnya sangat inplisit dalam membentuk penyatuan kekerabatan dan integrasi maupun di dalamnya juga membangun kerjasama dan rasa solidaritas yang tinggi terhadap penguatan kemasyarakatan. Hal ini dapat dilihat bahwa setiap upacara adat dan pelaksanaan ritual yang dilaksanakan selalu diselenggarakan dengan rasa saling bergotong-royong maupun saling menghargai sesamanya. Ini tentu saja memberikan rasa aman tidak hanya dalam diri individu juga terhadap lingkungan sekitarnya. Upacara religious yang bersumber dari pengetahuan masyarakat local juga memberi makna untuk mendapatkan ketenteraman disamping itu memberi penghormatan terhadap para leluhur nenek moyang mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Agger, Bin. 2006. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan, dan Implikasinya. Terjemahan.Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Agus, Bustanuddin. 2007. Agama Dalam Kehidupan Manusia. (Pengantar Antropologi Agama). Jakarta: PT Rajagrasindo Persada.
Geertz, Clifford.1992. Politik Kebudayaan. (Terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.
Hadi, Sutrisno. 1978. Metodelogi Research. Fakultas  Fsikologi UGM. Yogyakarta.
Haviland, William A. 1988. Antropologi Jilid. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Koentjaraningrat. 1980. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press).
Koentjaraningrat. 1981. Pengantar Ilmu Antropologi. Penerbit: Rineka Cipta. Jakarta.
Koentjaraningrat, 1985. Ritus peralihan di Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Poloma M. Margaret. 2007.  Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Press.
Suhartono, Eddy. 1998. “Mitologi Suku Bajo Dalam Pola Kehidupan Spiritual di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat”. Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar (Skripsi).
Mirta, I Wayan. 1988. “Pemanfaatan Pengetahuan Kelautan Dalam Sistem Penangkapan Ikan Bagi Masyarakat Nelayan Suku Bajo Bungin Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa Tenggara Barat”. Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar (Skripsi).
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2005. Teori Sosiologi Modern. Terjemahan. Jakarta: Prenada Media.
Piliang, Yasraf A. 2005. Transpolitika Dinamika Politik di dalam Era Virtualitas. Yogyakarta: Jalasutra.
Nawawi, H. Hadari. 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Vredenbregt, J. 1981. Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia.
Internet: