Jumat, 30 Desember 2016

NILAI NILAI MULTIKULTUR DALAM BUDAYA ETNIK

NILAI NILAI MULTIKULTUR DALAM BUDAYA ETNIK

Oleh
I Gusti Ngurah Jayanti
I Made Purna
I Wayan Rupa


I. PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara Bangsa, yang sangat kaya akan sumber daya budaya. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan budaya bangsa memberikan keunikan tersendiri dan juga menjadikan bangsa ini sebagai Negara yang sangat multikultur. Hampir setiap suku yang ada, memiliki sub kultur sebagai identitas yang menjiwai etnik tersebut. Dalam inventarisasi data hampir terdapat 604 suku bangsa dan itu pun belum semuanya dapat terinventarisasi secara baik. Melihat fakta tersebut membuktikan bahwa bangsa Indonesia sangat kaya akan potensi kultural dan nilai-nilai yang  dapat digunakan sebagai simbol untuk mempersatukan bangsa.


Keanekaragaman kebudayaan Indonesia dapat pula dilihat dari berbagai ragam adat-istiadat maupun bahasa, yang tentunya memiliki kehasan karakter pada setiap komunitas budaya itu. Berbahasa lebih dari 300 dialek. Walaupun ada keanekaragaman bahasa dan budaya pada masing-masing daerah ternyata memiliki dasar yang sama, maksudnya berasal dari rumpun bahasa dan jenis budaya yang sama yaitu Astronesia (Weda Kusuma, 2005:59). Dengan melihat fakta bahwa begitu besar potensi budaya di Indonesia maka perlu mendapatkan sekala prioritas dalam berbagai kajian. Menurut Koentjaranigrat (1993: 3), Kajian tentang kesukubangsaan lebih penting, karena sebagian besar Negara-negara di dunia bersifat multi etnik, dan di antara 175 negara anggota Perseritkatan Bangsa-bangsa, hanya 12 negara yang berpenduduk kurang lebih homogen, dan arena itu masalah kesukubangsaan merupakan masalah global. 

Kemajemukan masyarakat Indonesia itu tidak  hanya terwujud dalam berbagai struktur sosial yang dikembangkan sebagai perwujudan adaptasi aktif mereka terhadap lingkungan, melainkan juga dalam keanekaragaman kebudayaan Indonesia itu tidak hanya bersifat mendasar dan mencerminkan pola-pola adaptasi setempat yang berbeda, melinkan juga bersifat tegak lurus, kerena perbedaan pengalaman sejarah yang berlainan. Kenyataan sosial dan kebudayaan tersebut sangat besar pengaruhnya dalam pembangunan bangsa yang dirintais sejak awal kebangkitan bangsa, ( Budhisantosa, 2001 : 1 ). 
Masyarakat multikultur Indonesia diharapkan jadi masyarakat Baru Indonesia sesuai cita-cita proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu suatu masyarakat multicultural, yang memberi penekanan secara seimbang antara kebhinekaan dan keikaan, menghargai perbedaan (different) dalam kesatuan (unity) (Goring, 2002). Itulah sebabnya slogan atau sembonyan dari  Bhineka Tunggal Ika menjadi sangat penting dapat digunakan untuk menjambatani perbedaan dalam membentuk rasa (emosi) menjadi Indonesia yang bersatu.
Seiring dengan adanya sistem multikultulisme di Indonesia, pemerintah Indonesia telah merumuskan tujuan utama seperti yang telah dituangkan dalam UUD 45 pada alenia ke-4 yang bunyinya :
……..” untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan segenap tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial “,…….dst. 
Dalam konteks multikulturalisme Indonesia, sesungguhnya amanat tersebut terwujud bahwa bangsa Indonesia sebagai hasil  perwujudan tekad bersama segenap penduduk di kepulauan nusantara dengan kelompok nasional yang mandiri dengan keanekaragaman kebudayaan Indonesia. Atau dengan semboyan masyarakat “ Bhineka Tunggal Ika “
Dalam konteks multikulturalisme, pemerintah juga telah mengamanatkan dalam UUD, 45 pasal 32 yang bunyinya sebagai berikut :  pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Artinya pemerintah mengharapkan supaya terjadi kesetaraan sosial, politik dan kebudayaan dalam masyarakat yang majemuk dengan kebudayaannya yang beraneka ragam itu.
Indonesia bagian Timur misalnya, memiliki beragam etnik dan budaya dan juga ratusan bahasa dan logat. Komunitas budaya ini merupakan mosaik yang tentu memiliki khasan dan keunikannya masing-masing. Tentu saja, dilihat dari keanekaragaman sub budaya tersebut, sudah sangat jelas terlihat keadaaan multikulur yang tercipta dalam kehidupan masyarakatnya.
Pada kesempatan ini akan lebih ditekankan pada kajian kesukubangsaan di wilayah Bali, NTB dan NTT. Keanekaragaman suku bangsa yang ada di ketiga wilayah ini amat kompleks secara secara kultural. Masing-masing wilayah memiliki kultur yang unik baik dalam adat-istiadat, bahasa, religi, dan lainnya. Perbedaan yang diperlihatkan dalam masyarakat diketiga wilayah Bali, NTB, dan NTT merupakan cerminan dari multicultural.

Dalam masyarakat yang multikultur ini, tampak jelas terjadi rasa saling menghargai dan di tengah perbedaan yang ada. Multikulturalisme akan dapat tercipta bila antar masyarakatnya dapat saling memahami arti perbedaan, dan dalam realisasinya tentu nilai-nilai multikultur dapat berjalan untuk saling menghormati, menghargai, toleransi dan menjaga keharmonisan antar sesamanya. Pada masyarakat yang mendiami wilayah Bali, NTB, NTT, pemahaman tentang mulikultur harus terus dilakukan secara kontinyu guna tetap terjaga keharmonisan dalam bingkai sembonyan Bhineka Tunggal Ika.

II. PENGERTIAN MULTIKULTUR DAN ETNIK
a. Pengertian Multikultur 
Istilah multikulturalisme, berasal dari dua patah kata yaitu multi dan kultural  isme.  Multi ( Latin ) dalam ( Badudu, 1996 : 916 ) berarti morfem terikat yang biasa diletakkan pada awal kata  dan berarti banyak. Contoh : multilingual, banyak bahasa. Sedangkan kata kultur ( Belanda  )  berarti : kebudayaan, sedangkan isme berarti paham/aliran (Badudu, 1996 : 736). Secara arti bebas multikulturalisme berarti  beraneka ragam paham kebudayaan.
Pada dasarnya multikultur adalah sebuah konsep yang memberikan pemahaman terkait dengan masalah pandangan ideologi yang mencerminkan adanya penghargaan akan perbedaan budaya yang terdapat dalam masyarakat. Secara etimologi multikultur dapat ditelaah ke dalam asal kata “multi” dan “kultur”. Kedua kata tersebut merupakan kata serapan dari bentuk bahasa Inggris. Kata multi cenderung bermakna banyak atau jamak dalam pengertian sesuatu yang lebih dari satu. Multi dalam pengertian yang lebih luas dapat dikatakan memiliki makna yang mengindikasikan sesuatu yang beragam dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan kata “kultur” merupakan kata serapan yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah “budaya”, kata “kultur” telah menjadi bahasa yang digunakan secara luas dalam wacana tentunya sesuai dengan keperluan dalam penulisannya. Kuper  (2000)  sebagaimana dikutip  Pupu Saeful Rahmat menyepadankan pendidikan multikultural dengan pendidikan multibudaya.

Multikulturalisme pada dasarnya merupakan gerakan memperjuangkan kehidupan bersama yang harmonis dan saling menghargai dalam satu tatanan masyarakat berbangsa/ bernegara. Dalam konteks kebudayaan multikulturalisme bisa berarti “berlakunya lebih dari satu identitas budaya dalam sebuah tatanan masyarakat (Hardjana dalam Darma Putra, 2008:121). Sebelum multikulturalisme populer dalam wacana publik dan akademik, istilah yang banyak dipakai adalah pluralism. Esensi kedua istilah itu sama yakni sama-sama mengakui kejamakan, kemajemukan, namun perbedaannya terletak pada wilayah kejamakannya. 

Multikulturalisme mengandaikan kejamakan antar etnik atau bangsa atau entitas, sedangkan pluralism mengandaikan kejamakan dalam satu etnik/bangsa dalam satu entitas ( Darma putra, 2008:120). Jadi pengertian multikultur dapat dipahami sebagai beranekaragamnya budaya yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat yang di dalamnya tumbuh saling hormat-menghormati dan saling menghargai antara komunitas budaya yang satu dengan komunitas budaya yang lainnya. Di Indonesia termasuk diwilayah kerja BPNB Badung (Bali NTB,NTT) wadah multikultur diwadahi  oleh etnik di samping diwadahi agama, dll. Dengan jumlah 58 etnik (suku bangsa).

b. Pengertian Etnik (suku bangsa)
Dalam bahasa populer etnik adalah kumpulan masyarakat yang mendiami sebuah wilayah yang memiliki identitas dan kebiasaannya tersendiri dan berbeda dengan masyarakat lainnya. Namun dalam bahasa yang lebih formal lebih dikenal dengan konsep suku bangsa dalam pengertian ini lebih dilihat dari segi geneologis geografisnya. Dalam sudut pandang geneologis memandang bahwa suku bangsa merupakan sebuah komuni yang berasal dari genetika yang sama dan secara turun temurun menempati sebuah suatu wilayah atau pulau baik secara geografis maupun dalam demarkasi adat. Namun namun pengertian di atas juga masih dipandang terbatas sehingga ada konstruksi definisi yang lain suku bangsa. Theodorson menyatakan bahwa kelompok etnik adalah suatu kelompok social yang memiliki tradisi kebudayaan dan rasa identitas yang sama sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang lebih besar (Hidayah, 1997 : xxii).

Istilah etnisitas juga merujuk pada keseluruhan aspek tentang masalah etnik (Akil, 1994). Menurut Narrol (1996), kelompok etnik pada umumnya dipahami sebagai suatu populasi orang atau penduduk yang mengandung ciri-ciri yaitu (1) secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan; (2) mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya; (3) membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri; dan (4) menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain. Lain halnya Fredick Bart (1998) kurang setuju terhadap batasan konsep tersebut, karena dengan cara itu, kemungkinan teramatinya fenomena-fenomena kelompok etnik secara keseluruhan serta posisi mereka dalam kehidupan masyarakat dan budaya dalam konteks historis, fungsi dan struktur dari kelompok etnis tersebut. Menurutnya kelompok etnik yang dapat diidentifikasi sebagai suku bangsa yakni, suatu kelopok etnik yang memiliki ciri dan kebersamaan secara intern dan perbedaan secara ekstern dengan kelompok lain, tidak saja karena memiliki nilai budaya, tetapi juga bahasa yang khas yang menjadi identitas kelompoknya. Ini berarti bahwa Etnisitas adalah penggunaan simbolik dari berbagai aspek kebudayaan untuk membuat perbedaan antara mereka dengan kelompok yang lainnya. Kelompok-kelompok etnik biasanya memanfaatkan semua aspek dari kebudayaan mereka tentang sejarah sebagai penanda identitas mereka.

Jadi pengertian suku bangsa tidak hanya sebatas pada sekumpulan komunitas yang memiliki geneologi yang sama dan secara turun-temurun menempati suatu wilayah tertentu namun lebih dari itu suku bangsa adalah masyarakat yang hidup bersama memiliki adat dan tradisi budaya yang sama dan telah terintegrasi ke dalam wadah sebagai suatu pengakuan dalam identitas yang sama sebagai suatu ciri dari suku bangsa tersebut. Dengan adanya pengakuan terhadap identitas tersebut maka akan memperkuat solidaritas etnik dan integrasi dalam pencapaiannya. Etnik-etnik yang terdapat di Indonesia sepenuhnya merupakan sebuah konstruksi social yang terbentuk sejak dahulu dan dunia luar lah yang memberikan identitasnya masing masing seperti yang tampak sekarang ini. Apa yang menjadi identitas Bali, Lombok, ataupun yang lain tidak lepas dari geneologi sejarah yang membentuknya.

III. PENDIDIKAN MULTIKULTUR DALAM BUDAYA ETNIK
Dalam masyarakat multikultur sesungguhnya banyak nilai yang dapat diaktualisasi, seperti halnya nilai yang saling menghargai, toleransi, hormat-menghormati dan kerjasama dan lain sebagainya. Sebagai Negara yang multikultur sudah semestinya saling memahami akan perbedaan tersebut, sebagai sebuah kenyataan yang wajar yang tentunya dapat dijadikan sebuah kekayaan budaya di negeri kita ini. Pendidikan multikulturalisme dapat dilihat dari bentuk kerjasama antar etnik dalam menjaga keharmonisan.
Mengacu kepada gagasan Hernandez ( dalam Wija, 2007 : 10 ) menawarkan general theori tentang pendidikan multikultural, termasuk di dalamnya adalah tujuan yang ingin dicapai sebagai berikut : 
  1. meningkatkan pemahaman tentang betapa pentingnya perbaikan  sistem pendidikan agar dapat menyadarkan dan meyakinkan warga masyarakat tentang keragaman budaya, dan keragaman itu berpengaruh pada kepentingan sosial politik suatu bangsa
  2. pendidikan multikultural bukan saja berlangsung kepada anak didik saja melainkan juga para guru dan masyarakat supaya lebih memahami apa itu multi budaya
  3. pemahaman terhadap pengetahuan lintas budaya, agama dan etnis.
  4. mengubah sebuah sistem pendidikan agar tak boleh melayani sebagian  murid dari etnik nasional tertentu, tetapi mengajarkan kepada semua etnik agar seimbang
  5. mendidik  para orang tua sebagai lingkungan pertama yang memberikan pengetahuan kepada anak-anaknya. Jadi orang tua adalah guru multi etnik dan guru multikultur.
  6. meningktakan interaksi kelas antara guru dengan murid. Interaksi harus didukung oleh mayoritas kelas, dan bukan sekedar oleh kelompok orang .

Melalui cara-cara pembelajaran di atas peran keluarga sangat penting dalam memberikan pendidikan multikultural, bahkan boleh dianggap sebagai guru yang utama dan pertama.  Maksudnya  bagaimana agar sebuah kelompok sosial yang ada ( agama, sosial, etnik minoritas ) dapat berlandaskan multikultural pemikirannya. Sehingga mereka dapat hidup berdampingan di tengah-tengah multikulturalisme. Keanekaragaman ini justru kita sarikan sebagai sebuah berkah yang harus kita jalani selama hidup ini.Dengan pendidikan pemberian pemahaman ( pendidikan ) seperti ini etnis yang ingin bertikai dapat terhindar melalui sebuah pendekatan
Sedikit ada tiga hal yang memungkinkan terjadinya hubungan kerjasama yang intim dan mengarah kepada integrasi antar etnik yang berbeda-beda. Pertama, adanya titik temu antar budaya etnik yang berbeda tersebut, karena selain berbeda-beda, budaya etnik tersebut, selalu pula memiliki sifat-sifat yang mirip satu sama lainya (Bart,1988). Kedua, adanya system perekonomian etnik yang berbeda, dan dalam keadaan demikian mereka saling membutuhkan sehingga mereka saling tergantung, dan ini dapat berkembang menjadi hubungan kerjasama secara komplementer (Wolf, 1983); Koentjaraningrat, 1984). Ketiga, adanya kesadaran dikalangan etnik-etnik yang berbeda, bahwa selain melalui konflik, melalui kerjasama pun suatu tujuan dapati dipenuhi baik kebutuhan ekonomi, dan social maupun kebutuhan psikologis terutama akan rasa aman yang kesemuanya ini merupakan kebutuhan dasar manusia (Goble, 1987; Sanderson, 1993).
Pada dasarnya kerjasama tidak lepas dari jariangan social yang melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang berbeda, misalnya jaringan social ketetanggan, jaringan social kekerabatan, dan jaringan social pasar. Selain itu ada juga jaringan social yang berbasiskan teritorial, suatu jaringan social yang melibatkan komunitas-komunitas tertentu, dalam jaringan social tersebut, suatu komunitas dapat menempati posisi sebagai supra komunitas yang dengan kesatuaanya mampu memaksakan kehendaknya terhadap komunitas-komunitas lain yang ada di bawahnya (Redfield, 1978). 
James A. Banks, dalam The Routledge International Companion to Multicultural Education (2009), menegaskan beberapa dimensi pendidikan multikultural dalam rangka membahani para praktisi pendidikan dan akademisi untuk mengkonseptualisasi dan mengembangkan praktek, teori dan penelitian di lapangan. Adapun dimensi dimaksud adalah: integrasi muatan, proses membangun pengetahuan, pengurangan prasangka, suatu keadilan pedagogi, dan seperangkat pemberdayaan budaya sekolah dan tatanan sosial. Pertama, integrasi muatan (content integration) – berkaitan dengan sejauh mana guru memperkaya proses pendidikan dengan menggunakan contoh-contoh dan muatan atau makna dari berbagai budaya dan kelompok untuk menggambarkan konsep-konsep kunci, prinsip-prinsip, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori dalam matapelajaran atau disiplin ilmu mereka. Kedua, proses membangun pengetahuan (the knowledge construction process) – menjelaskan proses kegiatan mengajar yang dapat membantu siswa untuk memahami, menyelidiki dan menentukan bagaimana asumsi-asumsi budaya tersirat, bingkai dari referensi, perspektif, dan anggapan-anggapan dari peneliti dan penulis buku mempengaruhi cara dimana pengetahuan dibangun. Ketiga, pengurangan prasangka (prejudice reduction) – dimensi ini bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan sikap demokratis terhadap ras dan tentu saja berbagai unsur pluralitas lainnya yang ada dalam lingkungan pergaulan. Hal ini juga membantu siswa untuk memahami bagaimana identitas etnis dan budaya dipengaruhi oleh konteks sekolah, sikap dan kepercayaan dari kelompok dominan. Keempat, suatu keadilan pedagogi (an equity pedagogy) – Suatu keadilan pedagogi akan ada apabila para pendidik memodifikasi pengajaran mereka dengan cara-cara yang akan memfasilitasi prestasi akademik para siswa dari berbagai kelompok. Ini termasuk menggunakan berbagai gaya pengajaran dan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik belajar dari berbagai budaya dan kelompok etnis. Hal ini juga mencakup kerjasama menggunakan teknik pembelajaran dalam matematika, dan instruksi pengetahuan untuk meningkatkan prestasi akademik siswa dari etnis atau budaya minoritas. Kelima, seperangkat pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (an empowering school culture and social structure) – Pemberdayaan budaya sekolah melibatkan restrukturisasi dan budaya organisasi pada sekolah agar siswa dari berbagai kelompok bersentuhan dengan pengalaman kesetaraan. (http://pulautimor.wordpress.com/rakyat-cerdas/peluang-pendidikan-multikultural-di-ntt/).

V. NILAI-NILAI MULTIKULTUR DALAM BUDAYA ETNIK

Tilaar (2003:173) menyatakan bahwa pendidikan multikultural diharapkan dapat mempersiapkan anak didik secara aktif sebagai warga negara yang secara etnik, kultural, dan agama beragam, menjadi manusia-manusia yang menghargai perbedaan, bangga terhadap diri sendiri, lingkungan, dan realitas yang majemuk. Keragaman bangsa-bangsa di dunia menuntut warga dunia mengenal perbedaan agama, kepercayaan, ideologi, etnik, ras, warna kulit, gender, seks, kebudayaan, dan kepentingan (Yaqin, 2005:4).
Andersen dan Cusher (1994:320) mengartikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Kemudian, James Banks (1993: 3) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah Tuhan). Dimana dengan adanya kondisi tersebut kita mampu untuk menerima perbedaan dengan penuh rasa toleransi.
Seperti definisi di atas, Muhaemin el Ma’haddi berpendapat bahwa pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai pendidikan keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan. 
Adapun Paulo Freire seorang pakar pendidikan pembebasan mendefinisikan bahwa pendidikan bukan merupakan “menara gading” yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Melainkan pendidikan itu harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan suatu kelas sosial sebagai akibat dari kekayaan dan kemakmuran yang diperolehnya.
Pendidikan multikultural merupakan respons terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan yang mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya, seperti gender, etnis, ras, budaya, strata sosial, dan agama.
James Bank menjelaskan, bahwa pendidikan multikultural memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan satu dengan yang lain, yaitu:
  1. Content Integration, yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep dasar, generalisasi, dan teori dalam mata pelajaran / disiplin ilmu.
  2. The knowledge construction process, yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya kedalam sebuah mata pelajaran.
  3. An equity paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya, ataupun sosial.
  4. Prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka. Kemudian, melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, berinteraksi dengan seluruh staff dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya akademik yang toleran dan inklusif.

Dalam aktivitas pendidikan manapun, peserta didik merupakan sasaran (objek) dan sekaligus sebagai subjek pendidikan, oleh karena itu, dalam memahami hakikat pendidikan perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum peserta didik. Setidaknya, secara umum peserta didik memiliki lima ciri, yaitu:
  1. Peserta didik sedang dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuan, kemauan, dan sebagainya.
  2. Mempunyai keinginan untuk berkembang kearah dewasa.
  3. Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.
  4. Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individual.

Oleh karena itu pemahaman multikulturalisme pada usia dini akan dapat lebih berdampak dan mengkristal mengapresiasi nilai nilai yang sesungguhnya ada dan terjadi secara faktual di masyarakat. Proses pemahaman mengenai multikultur ini juga perlu terus disosialisasikan dan pada kesempatan ini lebih difokuskan di wilayah Bali dan Nusa Tengara Barat dan Nusa Tenggara Timur. 
Sejak dahulu, Bali telah dibentuk oleh proses sejarah dan migrasi dari berbagai kelompok etnis ke berbagai wilayah di kawasan itu dalam kerangka masyarakat multibudaya (Ardana dalam cf. Mintzel, 1997, passim). Tidak hanya Bali namun pada masyarakat di pulau Lombok dan Nusa Tenggara Timur, juga mengalami proses sejarahnya masing-masing. Ini mengindikasikan bahwa pembentukan terjadinya multikultur adalah karena terjadinya pertemuan etnik dalam suatu tempat atau wilayah sehingga terbentuklah masyarakat multietnik. Seiring dengan perjalanan waktu, etnis-etnis tersebut kini memainkan peran yang penting dalam aspek sosial budaya, ekonomi, perdagangan, dan politik. Meskipun secara historis mereka sudah bermigrasi ke Bali, NTB dan NTT, namun kelompok etnik itu tetap memiliki ikatan sosial-budaya yang kuat dengan daerah asal yaitu Jawa, Sulawesi Selatan, Lombok, Timor dan yang lainnya. Sebagai contoh bentuk multikulur yang telah tertanam sejak dahulu dapat dilihat dari proses perkawian. Dalam sejarah Lombok perkawinan beda agama juga telah terjadi seperti halnya seorang raja Hindu menikah dengan wanita muslim bangsawan Sasak, yaitu Dende Nawangsasih dari Lotim, lalu ia diboyong ke Mataram. Dende tetap memilih menganut Islam bahkan ia menuntut dibangunkan Masjid di komplek Pura Meru. Masjid tersebut sampai kini masih ada bernama Babus Salam di bagian Barat Pura Meru dan Sebelah Timur Pasar Cakranegara. Contoh lain, taman Mayura dibangun atas kerjasama lintas agama yaitu H. Abdul Kadir, seorang warga Inggris dan pedagang Cina. Sampai kini dalam komplek tersebut ada patung haji, saudagar, pendeta, dan burung, untuk mengabadikan interaksi antara etnis dan agama (Israil, dkk. 2004).

Multikultur dalam konteks Bali dapat dilihat dari proses historis pembentukannya. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa terdapat aspek budaya India dan Cina yang turut mempengaruhi kebudayaan Bali. Selain budaya luar tersebut, tampak pengaruh tradisi budaya Jawa Timur, juga tampaknya sangat kental yang mempengaruhi kebudayaan Bali. Etnik Bali sekarang ini adalah keturunan etnis yang sama sebagaimana perkembangan pada masa Jawa-Hindu atau sebelum Jawa-Islam dalam pengertian keduanya berada di bawah kebudayaan dan etnis yang sama. Inilah yang menjadi dasar-dasar toleransi misalnya antara etnis Jawa dengan etnis Bali di masa modern ini, yang menurut dinamika sejarah kedua etnis sudah memiliki kaitan tradisi sejarah yang cukup lama (Ardana, 2012: 7). Hubungan yang sangat lama antara Jawa Timur dan Bali tampak sangat intens, sehingga karakter kedua etnis itu dapat menjunjung nilai-nilai harmoni untuk dapat hidup saling berdampingan dan kebersamaan. Didasari pada ikatan tradisi sejarah yang cukup lama khususnya pada masa Jawa-Hindu  itu, etnis Bali pun mampu mengadopsi dan mengadaptasi nilai-nilai luar itu untuk memperkaya khazanah budaya nenek moyang yang dimilikinya hingga sekarang ini. System kekerabatan juga membawa peranan terhadap proses terbentuknya masyarakat multikultur. 

Seperti halnya Kedatangan penduduk pendatang di wilayah baru seperti yang mereka juluki sebagai “Suku Nyama Selam”, yang pada akhirnya memberikan keberhasilan tampaknya memberikan kesan adanya kemajuan yang diperoleh penduduk pendatang di wilayah yang didatanginya itu. Tidak mengherankan apabila pada akhirnya mengundang keinginan para kerabat mereka yang lain untuk mendatangi kawasan yang didatanginya itu. Selanjutnya, terjadinya proses kawin mawin antara penduduk pendatang dan penduduk asli yang di daerah asal yang dikenal dengan istilah Nyama Selam Menyama Bali (Ardhana, 2012: 12). 
Prakatek-praktek multikulturalisme di Bali sesungguhnya telah sejak jaman raja-raja yang berkuasa di Bali telah mewujudkan seperti ini. Hanya saja masyarakat lah yang sesungguhnya kurang memahami model-model ini. Misalnya sebuah  istilah nyama selam.  (Umat Hindu dipertemukan  bersaudara dengan umat muslim) itu telah dikumandangkan oleh raja-raja di Bali pada masa pemerintahan sebelumnya. Mereka dipertemukan  bersaudara dan diberi jabatan sebagai tameng kekuatan dalam pemerintahan oleh raja-raja Bali. 

Sehingga mencirikan bahwa dimana disebuah pusat pemerintahan kabupaten yang dulunya dipegang oleh raja, baik secara langsung maupun tidak langsung  disekitar batas pusat pemerintahan kerajaan terdapat pemukiman umat muslim. 
Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai multikultur telah terpraktekkan seperti yang terlihat pada masyarakat kepaon yang beragama Islam memiliki hubungan emosional terhadap kerajaan Badung (Kerajaan Pemecutan). Hingga saat ini hubungan itu sangat terjaga dan antara paham ideology agama ditoleransi sebagai bentuk perbedaan yang wajar namun tidak saling meniadaakan akan tetapi saling mengisi satu sama lainnya. Proses inkulturasi telah berjalan baik dan tidak ada lagi istilah mayoritas dan minoritas kedua belah pihak saling hormat-menghormati dan menjaga keharmonisan kerukunan antar umat beragama.

Bentuk inkulturasi juga terwujud dalam pembauran dalam kekerabatan masyarakat kepaon dengan penduduk sekitarnya yang mayoritas beragama Hindu. Pembauran itu terlihat telah terjadi kawin-mawin antara masyarakat kepaon yang beragama Islam dan yang berbagama Hindu. Dalam sejarahnya proses perkawinan beda agama telah terjadi sejak dahulu di mana Seorang Putri dari kerajaan Pemecutan menjadi Mualaf dan kawin dengan seorang pangeran dari Jawa, beragama Islam. Sebagai bukti dari pernikahan itu terdapat sebuah kuburan keramat yang dipercaya merupakan kuburan Putri raja Pemecutan yang telah beragama Islam. Kuburan tersebut, telah menjadi symbol perekat hubungan antara masyarakat muslim kepaon dengan masyarakat sekitar yang beragama Hindu.

Contoh yang lain terdapat di  Kerajaan Karangasem disekelilingnya ada perkampungan muslim. Di antaranya : Desa Ujung, Kecicang, Saren Jawa dan yang lainnya. Dengan dipertemukannya oleh raja sebagai saudara, masa sebelumnya bahkan sampai sekarang hubungan atau ikatan persaudaraan sampai kini masih tetap terjaga. Hubungan saling jotin   sebenarnya dari dulu telah dilaksanakan oleh kedua umat ( Hindu – Muslim ) dalam rangka lebih mendekatkan  tali persaudaraan yang berbeda agama. Umat Hindu ngejot pada hari Raya Galungan, sedangklan umat muslim ngejot pada Hari Raya Idul Fitri. Praktek multikulturalisme dalam upaya  mewujudkan sebuah tali persaudaraan telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Namun wujud Praktek multikulturalisme seperti ini,  kini terkesan kian memudar. Bahkan Aryantha Soetama pernah menulis di Harian Nusa, bahwa praktek penghubung tali persaudaraan semacam ini diduga telah sedikit bergeser akibat arus globalisasi yang semakin kuat serta pemahaman generasi yang mewarisinya. Masyarakat kini terkesan tidak lagi memikirkan akan arti dan hakikat dari pada hubungan persaudaraan ini.  Namun itu merupakan sebuah contoh kecil dari aspek negatifnya, tetapi dari aspek positifnya  masih banyak yang kita harus pertahankan dan lestarikan keberadaannya.   

Misalnya pada kehidupan masyarakat di banjar Saren Jawa, Desa Budakeling, Kabupaten Karangsem, praktek multikulturalisme masih berjalan seperti biasa. Seperangkat Gamelan Rudat milik umat muslim di Banjar Saren Jawa sering di undang untuk mengiringi rangkaian upacara keagamaan para Brahmana Bhuda di Desa Budakeling. Kesenian Rudat ini dianggap sebagai kesenian pelengkap dalam rangkaian  upacara, jika kesenian ini belum tampil, maka upacara yang dilakukan belum terasa sempurna. Kaum Brahmana Bhuda tidak pernah melupakan apa yang mereka warisi dari leluhurnya, karena mereka merasa dipertemukan bersaudara dan wajib saling mengasihi dan saling menghormati.
Hubungan atau komunikasi sosial antara masyarakat Saren Jawa dengan kaum Brahmana  Buddha sampai saat ini terjalin dengan baik, saling harga menghargai, serta saling hormat menghormati.  Mereka bisa hidup berdampingan dengan damai walaupun historis mereka berlatar belakang politis, di mana Kyai Jalil dulunya adalah utusan Kerajaan Islam Demak yang ingin menguasai Bali, namun kehendak sejarah yang pada hakekatnya merupakan kehendak Tuhan berkata lain. Kyai Jalil tidak berhasil menguasai Bali dan menjadi abdi Raja Waturenggong yang pada akhirnya menetap di Banjar Saren Jawa seperti sekarang ini.
Masyarakat Saren Jawa yang seluruhnya beragama Islam sampai saat ini sangat hormat dan bhakti pada kaum Brahmana Buddha yang ada di desa Budakeling.  Mereka berkomunikasi dengan bahasa Bali halus terhadap siapa saja, apalagi terhadap kaum Brahmana Buddha yang sangat mereka hormati. Ida Peranda (Pendeta Hindu) berfungsi sebagai payung di desa dan di lingkungannya yang menaungi serta mengayomi warga masyarakat.  Demikian juga sebaliknya, kaum Brahmana Buddha tetap bisa menjaga kehormatannya sehingga mereka tetap dihormati dan disegani oleh masyarakat desa Budakeling pada umumnya serta oleh masyarakat Saren Jawa pada khususnya.
Apabila ada upacara / yadnya terutama upacara yang berkaitan dengan Ida Peranda seperti Ngaben/Pelebon Ida Peranda di Geriya (di rumah kaum Brahmana Buddha), maka masyarakat Saren Jawa akan Ketog Semprong (masyarakat keseluruhan berduyun-duyun ngayah / bekerja secara tulus ikhlas) turut berpartisipasi atau hadir dengan bekerja mulai dari mencari bahan bakar, membawa beras, gula, kopi, jajan sekaligus memberikan doa-doa secara tulus ikhlas sesuai dengan agamanya agar arwah Ida Peranda yang diaben/ di Pelebon tersebut mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhan. Mereka juga ikut mengantar jenazah sampai ke Setra / kuburan.  Masyarakat Saren Jawa adalah masyarakat yang taat dan bhakti kepada kaum Brahmana Buddha.  Mereka juga menghadirkan dan menyajikan gamelan (Rebana).  Mereka hadir dengan tetap menghormati budaya dan adat Bali dengan hadir menggunakan ikat kepala / destar / udeng dan memakai kamben sebagaimana busana orang Bali. Mereka menyesuaikan diri dengan budaya dan adat-istiadat setempat, namun mereka tetap mempertahankan keyakinan atau ajaran agamanya (Islam). Demikian pula jika ada upacara penobatan Peranda / Pedanda dan upacara perkawinan, masyarakat Saren Jawa juga diundang oleh pihak keluarga kaum Brahmana Buddha untuk menyaksikan pelaksanaan upacaranya serta dipersilahkan untuk memberikan doa-doa dan ucapan selamat untuk Pendeta yang dinobatkan atau kepada mempelai berdua yang telah menikah.  Sebaliknya jika ada warga Saren Jawa yang akan naik Haji, maka tokoh-tokoh masyarakat dari kaum Brahmana Buddha juga diundang untuk menghadiri Demikian halnya dalam upacara perkawinan, tokoh-tokoh masyarakat dari kaum Brahmana Buddha juga diundang untuk menyaksikan upacara tersebut. Hal ini menunjukkan dan sekaligus membuktikan bahwa toleransi, solidaritas dan penghormatan antara umat yang berbeda agama betul-betul dijaga dan masih eksis keberadaannya sampai sekarang. Masyarakat Saren Jawa juga pernah didatangi oleh kelompok Islam yang agresif, namun mereka tetap bertahan pada tradisinya dan tetap kuat serta loyal kepada kaum Brahmana Buddha di Budakeling.  Hal ini membuktikan bahwa kesetiaan mereka terhadap Raja di jaman dahulu serta terhadap kaum Brahmana Buddha yang dihormati sudah tidak diragukan lagi sampai sekarang.

Beberapa keunikan yang ada pada masyarakat Saren Jawa di Desa Budakeling Karangasem adalah dengan adanya Al Qur’an tua yang berhuruf Bali, mereka menggunakan bahasa dengan tata bahasa Bali halus, dan namanya menggunakan panggilan sebagaimana orang Bali.  Misalnya, Ketut Ashari,  Wayan Muhammad,  Made Nurwahid, dan sebagainya. Mereka juga memiliki sarana-sarana kesenian seperti Rebana, Umroh, dan Rudat yang dikombinasikan dengan lingkungan seperti doa-doa dengan bahasanya sendiri. Hal itu membuktikan bahwa mereka telah berakulturasi dengan budaya setempat sehingga melahirkan keunikan-keunikan tersendiri (Suarsana, 2010: 329-331).
Lain pula halnya dengan umat Muslin dan Hindu di Kampung Sindu, Sidemen Karangasem, mereka mempunyai hubungan historis tersendiri terutama dalam hal hubungan kekerabatan, selama ini kehidupan dua umat  yang berbeda agama ini tetap rukun dan tetap memaknai apa yang mereka warisi dari pendahulunya. Di setiap kesibukan ritual, mereka tetap diberi kehormatan yaitu diundang untuk hadir untuk mengukuti prosesi ritual tersebut, mereka tetap menganggapnya  sebagai saudara  tua atau saudara  muda mereka. Uniknya setiap pelaksanaan upacara, terutama yang menyangkut sesuguhan  bagi umat muslim, misalnya Umat  Hindu ( Kaum Brahmana) memberikan daging halal ( sapi , kambing )  untuk diolah secara khusus oleh umat muslim  bersama-bersama. Praktek  model multikulturalisme seperti ini masih tetap berlangsung sampai kini.

Pada etnik Jawa dan Bugis yang beragama Islam  dan etnik Bali yang beragama Hindu ( Sudarma, 2001 : 148 ) di Desa Medewi  ternyata bisa melakukan wujud ritual secara bersama-sama yang disebut dengan upacara Ngusaba di Subak Medewi, Kabupaten Jembrana, Bali   yang beberapa penyelenggaraannya  bersamaan terutama di komplek  bendungan dan di laut. Bentuk ritual ini  diselenggarakan di Musola bagi umat Islam dan di Pura Subak bagi umat Hindu, namun lokasinya masih dalam satu komplek yaitu komplek Pura Subak Medewi. Jalinan ini telah dilakukan oleh pendahulunya sejak abad 16-17 dan mereka menganggapnya  bukan sebagai etnik lain dalam sosialisasi kesehariannya. Hubungan  yang bergitu erat ini bermula dari umat Muslim yang berasal dari Desa Yeh Kuning Jembrana kemudian menyebar ke Desa Medewi dan Umat Hindu di Mendoyo juga menyebar ke Medewi, konon di sana secara bersama-sama merambah hutan untuk dijadikan sebuah pemukiman yang disebut dengan Medewi sekarang. 
Bentuk jalinan keeratan  etnik Jawa dan Bugis yang beragama Islam dan Etnik Bali yang beragama Hindu dalam berbagai aspek di antaranya aspek ekonomi, kekerabatan, pertanian dan aspek relegi yang diwujudkan dalam bentuk Ngusaba  yang berkaitan dengan kegiatan pertanian yang dilakukan oleh etnik yang berbeda agama yang dapat mengimpun diri dalam sebuah organisasi pengairan tradisional yang disebut dengan subak
Selain itu berbagai jenis budaya dalam wujud seni pula berkembang di Negara umumnya dan Medewi khususnya. Bentuk seni seperti adrah dan telah lainnya tampak menyertai hari-hari besar keagamaan. Salah satu yang paling tradisi yang masih eksis sampai sekarang dikalangan orang bugis yang beragama Islam adalah tradisi berzanji. Kegiatan ini disertai dengan alunan musik rebana.

Pembauran budaya semacam ini tentunya dapat memberikan hubungan yang lebih cair terhadap sekat-sekat primordialisme. Hubungan yang dapat mengantisipasi sekat ini salah satunya dengan pengelolaan atau control yang baik antara subbudaya yang berbeda menjadi suatu keharmonisan. Pembauran itu juga mengandung nilai-nilai yang secara emosional dapat saling menghormati akan perbedaan yang dimilikinya. Hubungan kekerabatan ini acap kali sangat efektif untuk dapat dijadikan modal sosial meredam  potensi konflik yang biasa terjadi di dalam kehidupan ini. Kesadaran akan adanya perbedaan  dalam kehidupan harus dijadikan fakta dan perlu diberikan semacam  pengetahuan secara dini kepada anak-anak dan masyarakat pada umumnya, sehingga secara perlahan tumbuh kesadaran yang secara alami bahwa kita dilahirkan sebagai mahluk manusia dalam keadaan yang berbeda numun memiliki derajat yang sama dan sepatutnya saling menghargai sebagai mahluk ciptaan-Nya. Nilai-nilai yang muncul dalam kesadaran itu tentu saja nilai humanis dan banyak lagi nilai yang dapat digali seperti nilai pendidikan akan pentingya multikulturalisme di tengah perbedaan itu sendiri.

Dalam mengembangkan pendidikan multikultural tersebut, Burnett (1994) dalam Naim dan Sauqi (2008:213) mengembangkan empat nilai. Keempat nilai tersebut adalah: apresiasi terhadap kenyataan pluralitas budaya dalam masyarakat;  pengakuan terhadap harkat dan martabat manusia dan hak asasi manusia; pengembangan tanggung jawab masyarakat dunia; dan pengembangan tanggung jawab manusia terhadap planet bumi. Nilai-nilai tersebut dapat diadopsi dalam prinsip dasar  pengembangan model pembelajaran berbasis pendidikan multikultural keiindonesiaan. Pertama, pendidikan multikultural sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Prinsip ini menekankan bahwa pendidikan multikultural harus dimulai dari pengenalan terhadap jati diri sendiri. Penanaman bahwa diri peserta didik merupakan bagian dari warga bangsa merupakan hal penting. Rasa bangga sebagai warga bangsa Indonesia harus menjadi pijakan. Kedua, pendidikan multikultural hendaknya dikembangkan agar pembelajar tidak mengembangkan sikap etnosentris kesukuan dan sebaliknya membangun kesadaran hidup dalam lingkup kebangsaindonesiaan. Dengan mengembangkan sikap yang nonetnosentris, kebencian dan konflik antaretnis dapat dihindarkan karena perasaan satu bangsa. Pendidikan  multikultural bertujuan  membangun kesadaran yang tidak bersifat egosentris yang mengunggulkan diri dan kelompoknya dan merendahkan kelompok  lain. Kesadaran satu bangsa meski berbeda kelompok sosial merupakan hal penting untuk ditumbuhkembangkan sebagai jembatan jiwa nasionalisme. Ketiga, pendidikan multikultural  dikembangkan secara integratif. Kurikulum pendidikan multikultural menjangkau seluruh isi pendidikan. Kurikulum pendidikan multikultural harus terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran, seperti bahasa, ilmu pengetahuan sosial, sains, pendidikan jasmani, kesenian, dan mata pelajaran lainnya. Keempat, pendidikan multikultural harus menghasilkan sebuah perubahan dalam bentuk perubahan sikap melalui pembiasaan. Praktik pembelajaran didesain dalam suasana masyarakat belajar yang menghargai perbedaan, toleransi, dan tujuan bersama mencintai bangsa dan negara. Untuk mencapai suasana demikian,  pembelajaran harus berorientasi pada proses, misalnya bermain peran, simulasi, diskusi, pembelajaran kooperatif, dan pembelajaran partisipatoris. Kelima, pendidikan multikultural harus mencakup realitas sosial dan kesejarahan dari agama,  etnis, dan suku  yang ada. Kontekstualisasi pendidikan multikultural harus bersifat lokal, nasional, dan global. Kebanggaan memiliki nilai kearifan lokal harus ditumbuhkan. Kesadaran nasionalisme harus  menjadi tujuan bersama pendidikan nasional. Kesadaran sebagai warga global dengan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian antar bangsa perlu dikembangkan. Kontekstualisasi semacam ini memiliki makna penting untuk menumbuhkan rasa hormat, toleran, dan menghargai keberagaman dalam lingkup kelompok sosial masyarakat, negara, dan dunia (Sariban, tt).

Salah satu contoh yang dapat dipetik dalam mewujudkan harmoni dan meminimalisasi konflik adalah dengan melakukan alkulturasi seperti tampak dalam photo gereja di atas yang tampak menggunakan ornament dan desain arsitektur adat Bali. Dalam hal ini tentu tampak ada komunikasi budaya yang mendialogkan antara budaya, agama, dan adat. Masyarakat Tuka yang beragama Kristen masih memanfaatkan atribut ala Hindu seperti pemakaian pakaian adat Bali lengkap dengan destar, kemudian pada pelaksanaan Natalan mereka tetap menghiasi lingkungan sekitarnya dengan penjor-penjor Bali asli. Momen ini merupakan salah satu wujud  inkulturasi  dalam bentuk  misionaris yang dilakukan oleh  umat Kristiani. 
Akulturasi budaya Hindu dan budaya Greja ( Kristiani )  di Desa Tuka merupakan proses transpormasi dua atau lebih unsur kebudayaan yang bertemu direinterpretasi secara terus menerus sehingga menghasilkan bentuk kebudayaan baru, tetapi ciri atau karateristik kebudayaan yang bertemu masih dipertahankan. Bentuk dua unsur  kebudayaan ini sampai kini masih tetap berlangsung dan dapat menghasilkan kebudayaan baru ( Hindu-Gereja )  tetap seiring dan sejalan mengikuti perkembangan jaman. Inkulturasi ini oleh masyarakat setempat ditanggapi positif, karena dua budaya ini sama-sama saling menghargai. Dengan adanya inkulturasi tersebut menepis tesis yang menyatakan akan terajadi benturan perdaban. Konflik antarbudaya yang disebut oleh Samuel P. Huntington (1993) sebagai benturan antar peradaban akan mendominasi politik global. Dalam bukunya yang terkenal, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, Hantington menyebutkan bahwa terjadinya  berbagai  konflik sosial dan etnis di berbagai belahan dunia antara lain disebabkan oleh perbedaan kebudayaan yang semakin nyata. Untuk menghindari benturan tersebut, atau setidaknya meminimalkan dampak dari benturan tersebut dengan memberikan pemahaman tentang keanekaragaman kebudayaan yang ada. Pada masyarakat suku Sasak, dalam menghadapi benturan antar budaya seperti apa yang dikatakan oleh Samuel P. Huntington bisa saja terjadi di mana saja namun ada penyelesaian yang sangat unik yang dilakukan oleh masyarakat berbeda keyakinan. Pada masyarakat Sasak ada symbol-simbol tertentu yang dapat dimainkan untuk memperekat hubungan antar umat atau antar suku dalam memelihara keharmonisannya. Salah satu cara tersebut adalah melakukan semacam ritual bersama dan ada semacam pengakuan terhadap jalannya sejarah masa lalu yang menempatkan pemuka-pemuka adat dan pemuka umat saling terjaga dan menghormati satu dengan yang lainnya. 
Pada masyarakat Sasak juga banyak memiliki keunikan baik dalam bentuk sistem kepercayaan maupun tradisi yang berhubungan juga dengan keagamaan. Seperti misalnya pada masyarakat Bayan di Lombok mengenal tradisi Maulid nabi atau maulid adat. Ritual nya sangat terasa sekali terjadi pengaruh komunikasi budaya Hindu, Buda, dan Muslim. Pengaruh ini membawa praktek keagamaan yang unik. Adatnya yang masih kuat sampai saat ini masih terus dipertahankan. Begitu juga sistem kepercayaan yang dianutnya masih melekat dan saling berkolaborasi beradaptasi dengan pengaruh agama besar yakni Islam yang sekarang ini telah di Anutnya. Walaupun agama Islam telah menjadi agama yang mayoritas namun ritual adat dan sistem kepercayaan masih tetap dijalankan oleh masyarakat Bayan sebagai penghormatan terhadap leluhur.

Tampak bahwa masyarakat Bayan dalam menjalankan ibadah solat menggunakan pakaian adat Sasak. Inilah keunikan yang tetap terjaga walaupun ada perbedaan dengan masyarakat Islam lainnya yang menganut sistem solat lima waktu. Dengan adanya kesadaran akan perbedaan tersebut, maka toleransi antara umat beragama pada masyarakat banyan masih tetap terjaga. Begitu juga dalam menjalankan tradisi ritual seperti melaksanakan maulud adat Bayan tetap berlangsung hingga saat ini.

Semua ritual itu merupakan tersebut di atas merupakan mosak yang terdapat di Lombok yang mengindikasikan adanya perbedaan dan untuk itu perlu perlu pemahaman multikultural. Ritual yang lain  dapat disimak sebagai contoh di pulau Lombok yang bernuansa multikultur yakni, ritual seperti perang topat misalnya di Lombok merupakan salah satu contoh yang dapat dijadikan sebagai bentuk nyata yang sifatnya kongkrit dapat memberikan media atau wadah mengintegrasikan perbedaan keyakinan menjadi hal yang dapat berjalan dan saling menjaga keharmonisan antara pemeluk suku Bali yang beragama Hindu dengan masyarakat suku Sasak yang mayoritas memeluk agama Hindu. 

Perang topat pada masyarakat sasak tidaklah sekedar perang-perangan semata tetapi lebih mencerminkan bahwa adanya kebersamaan. Dalam proses pelaksanaannya tentu saja ada landasan filosofi yang melatarbelakanginya. Landasan tersebut jelas mengandung implikasi dan fungsi social budaya tertentu dalam hubungan antar etnik Bali yang beragama Hindu  dan etnik Sasak yang beragama Islam. Dengan kata lain, konsepsi, implikasi,  dan fungsi upacara  tersebut merupakan muatan social budaya yang penting dalam hubungannya antar dua etnik tersebut, sehingga mereka melaksanakan upacara tersebut dengan cara yang sedemikan rupa. Dalam upacara itulah tampak secara nyata hubungan antar etnik Bali dan  etnik Lombok yang secara kuantitatif  mencerminkan suasana kerjasama dan konflik yang tidak ditangani sercara moderat akan cenderung menimbulkan suasana disorientasi, dan disintegrasi dalam hubungan  antar enik tersebut. 

Beberapa contoh yang juga dapat sebagai cerminan dari nilai-nilai multikultur dapat dilihat dalam ingatan sejarah masa lalu. Seperti yang terjadi di Buleleng terdapat peninggalan Alquran yang ditulis oleh seorang kerabat kerajaan Buleleng bernama I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi. Kitab Al Quran tersebut ditulis sekitar  tahun 1820-an pasca perang saudar di kerjaan Buleleng. Penulisan Al quran ini membuktikan bahwa telah terjadi hubungan yang sangat inten dikalangan pemeluh agama yang berbeda yang kebetulan disini adalah antara pemeluh umat Hindu dengan Islam. Peninggalan Alquran membuktikan bahwa mencerminkan suatu sikap toleransi yang telah terjadi pada masa itu. Hingga saat ini keberadaan kitab Alquran tersebut masih bisa ditemukan dan telah tersimpan di Masjid Agung Jami’ Singaraja. 
(http://ramadan.okezone.com/read/2013/07/20/427/839951/alquran-karya-ngurah-jelantik-simbol-toleransi-beragama-di-bali).

Dengan demikian memberikan pendidikan dan pemahaman mengenai multikulturalisme dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi mempunyai aneka ragam budaya masyarakat seperti Indonesia, maka pendidikan multikulturalisme ini menjadi penting dan perlu dikembangkan. Melalui pendidikan multikulturalisme ini diharapkan akan dicapai suatu kehidupan masyarakat  yang damai, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam undang-undang dasar.

VI.  PENUTUP
Pemahaman terhadap perbedaan dalam masyarakat, penting untuk terus disosialisasikan kepada generasi bangsa agar mengerti bahwa bangsa Indonesia hidup dalam bingkai kemajemukan baik budaya, suku, agama, golongan dan sebagainya yang terpencar dalam mozaik-mozaik itu sendiri. Oleh karena fakta bahwa perbedaan itu nyata dalam kehidupan berbangsa maka sudah sewajarnya perbedaan itu menjadi suatu yang unik dan dianggap sebagai kekayaan bangsa. Namun begitu dampak dari perbedaan yang terjadi tentu saja membawa resiko yang acap kali juga membawa konsekuensi dalam kehidupanan berbangsa dan bernegara. Hal inilah perlu untuk dipahami bahwa resiko terhadap negara yang memiliki perbedaan dalam arti kemajemukan sering terjadi benturan kepentingan baik secara sosial budaya maupun dalam bentuk yang lainnya. Bingkai dalam konsep multikulturalisme membawa kita pada ranah untuk mengkonstruksi kembali pemaknaan dari pemahamaan mengenai arti sebuah negara yang multikultur.  


DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, I Ketut. 2012. Sebuah makalah berjudul : “Pluralisme dan faktor global dalam membangun keindonesiaan di Bali”. Disampaikan pada Workshop Multikultur dengan tema “Keragaman Etnisitas Dalam Membangun Keindonesiaan di Bali”. pada tanggal 27 November 2012 di Hotel Puri Dalem Jalan Hang Tuah –Sanur Bali.   
Barth, Fredrik. 1988. Kelompok Etnik dan Batasannya. Jakarta: Universitas Indonesia UI Press.
Darma Putra, I Nyoman. 2008. Bali Dalam Kuasa Politik. Denpasar: Arti Foundation.
Goring, Eman R. Makna Wakna Walla Pada Sistem Kekerabatan Etnik Kodi Dalam Konteks Multicultural Society. Makalah Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia Fisip UI dan Fakultas Sastra UNUD.
Hidayah, Zulyani. 1997. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia.
Kaplan, David dan Albert A. Manners. 2000. Teori Budaya. Pengantar Dr. Laksono. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Koentjaraingrat. 1974. Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta: PT Dian Rakyat.
Koentjaraingrat. 1993. Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional, Jakarta: Universitas Indonesia.
Pelly, Usman. 1989. Hubungan Antar Kelompok Etnis Beberapa Kerangka Teoritis dalam Kasus Kota Medan dalam Interaksi Antar Suku Bangsa dalam Masyarakat Majemuk. Jakarta: Depdikbud.
Balipost Minggu, Mimbar Agama Hindu : 8 Januari 2012)
Abdurachim. 1979. Pengantar Masalah Penduduk. Bandung: Penerbit Alumni.
Agus, Bustanuddin. 2007. Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: PT. Grafindo Persada.
Banawiratma, 2002. Penghayat Kepercayaan dan Spirituali-Tas dalam Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Sebuah Wacana. Jakarta: Proyek Pemanfaatan  Kebudayaan Direktorat Tradisi dan Kepercayaan Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata.
Sedyawati, Edi. 2002. Integrasi Antar Etnik Berbeda Agama Melalui Upacara Agama Kajian Tentang Hubungan Antar Etnik Bali Dan Sasak Melalui Upacara Perang Topat di Pura Lingasar Lombok Barat. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Bagian Proyek Pengkajian dan Pemanfaatan Sejarah dan Tradisi Bali.
Puspa, I Wayan. 1984. System Kesatuan Hidup Setempat Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Kutha Ratna, I Nyoman. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakrata: Pustaka Pelajar.
Kutha Ratna, I Nyoman. 2005. Sastra dan Cultural Studies. “Representasi Fiksi dan Fakta.” Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ritzer, George. 2004. Teori Sosial Postmodern. (Terjemahan Muhammad Taufik). Yogyakarta: Kreasi Utama.
Ritzer, George-Douglas J. Goodman. (2004), Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Ritzer, George. 2004. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Terjemahan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Naim, Mochtar. 1979. Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Weda Kusuma, I Nyoman. 2005. Pluralisme Budaya Dalam Perspektif Reformasi: Kompetensi Budaya dalam Globalisasi. Ed. Dharma Putra & Windhu Sancaya. Kuta-Bali : Pustaka Larasan.
Banks,  J. 1993.  Multicultural Education: Historical Development, Dimension, and Practice. Review of Research in Education.
Burnett. 1994. Varieties of Multicultural Education: An Introduction. Eric Clearinghouse on Urban Education: Digest. 
Kuper, Adam & Jessica Kuper. 2000. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Naim, Ngainun dan Achmad Sauqi. 2008. Pendidikan Multikultural: Konsep  dan Aplikasi. Jokjakarta: Ar-Ruzz Media.
Suseno, Frans Magnis. 2000. “Pendidikan Pluralisme” dalam Suara Pembaharuan.
Tilaar, H.A.R. 2003. Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dari Perspektif Kultural. Magelang: Indonesia Tera.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Wuryanano. 2011. Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yaqin, M. Ainul. Pendidikan Multikultural: Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan 
Keadilan. Yogyakarta: Pilar Media. 
Atmaja, Nengah Bawa, 2007. Identitas Agma, Etnik, dan Nasional Dalam Perspektif Pendidikan Multikultural. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “ Multikulturaliusme, Agama dan Etnisitas “ diselenggarakan oleh Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI Denpasar tanggal 10 Agustus 2007.
Budhisantoso, 2001. Kemajemukan Masyarakat dan Keanekaragaman Kebudayaan Dalam Pembangunban Bangsa. Dalam Jnana Budaya( Media Informasi Sejarah, Sosial, dan Budaya. Denpasar : BP.  Budpar, BKSNT, Bali ,NTB, dan NTT. 
Dahrendorf, Ralf. 1976.  The Modern Social Conflict . Dalam Peter M. Blau ( ( ed ) : Approach to Study of Social Strukture. New York : The Fre Pers.
Dahrendorf, Ralf. 1986.  Konflik dan Konflik Dalam Masyarakat Industri, suatu Analisis Kritik. Edisi Indonesia. Jakarta : Rajawali.
Mulkhan, Abdul Munir 2007. The Others dalam Bhineka Tunggal Ika dan Beragama. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “ Multikulturalisme, Agama dan Etnisitas “ diselenggarakan oleh Magister Ilmu Agama dabn Kebudayaan UNHI Denpasar tanggal 10 Agustus 2007.
Sudarma, 2001 Kajian Antar Etnik Dalam Pelaksanaan Upacara Tradisional di Pura Subak Medewi. Dalam Jurnal Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional, Nomor 01/I/ 2001. ISSN.1411 - 6995.
Suteja, 2004. Hubungan Keragaman Etnis dan Agama di Bali dan Lombok. Proposal Penelitian. Denpasar : Balai Kajian  Jarahnitra Denpasar. 
Suarsana, 2010. Interaksi Muslim Saren Jawa dengan Kaum Brahmana Budha di Desa  Budakeling. Jurnal Penelitian Vol. 17 No. 2. September 2010.
Israil, dkk. 2004. Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat. Dalalm Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16.
Fay, Brian. 1996. Contemporary Philosophy of Social Sience: A Multicultural Approach. Oxrofd:Backwell. 
Freire, Paulo. 2000. Pendidikan Pembebasan. Jakarta: LP3S.
Hernandez, Hilda. 2002. Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking Context, Process, and Content. New Jersey & Ohio: Prentice Hall.
Media Indonesia, Rabu, 08 September 2008.
Munib, Achmad. 2009. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: Unnes Press.


Sumber Pustaka Internet
http://www.lombokbaratbangkit.com/profil-kecamatan/sekotong/66-kecamatan-sekotong. Thursday, 22 April 2010 09:49.
http://fact-and-information.blogspot.com/2011/08/pantai-sekotong-kepulauan-karibian.html
http://filsafat.kompasiana.com/2011/04/21/konsep-pluralisme-multi-kulturalisme-dan-pembangunan-perdamaian/
http://www.lombokbaratkab.go.id/wista.html
gurupintar.ut.ac.id/.../87-pendidikan-multikultural-pembentuk-karakter-...‎
http://ramadan.okezone.com/read/2013/07/20/427/839951/alquran-karya-ngurah-jelantik-simbol-toleransi-beragama-di-bali