Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

TEORI INTERAKSI SIMBOLIK DAN PERANG PANDAN









Oleh

I Gusti Ngurah Jayanti



            Membicarakan tentang Teori Interaksi Simbolik tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokoh utamanya seperti; George Herberd Mead, Charles Horton Cooley, William I. Thomas, Herbert Blumer dan Erving Goffman. Interaksi simbolik menurut Ritzer (Kutha Ratna, 2005:192) dikembangkan atas dasar Teori Pragmatik dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Realitas pada dasarnya tidak berbeda dengan dunia nyata, diciptakan secara aktif pada saat bertindak.
  2. Manusia mendasarkan pengetahuannya mengenai dunia nyata pada apa yang telah terbukti berguna.
  3. Manusia mendefinisikan objek sosial dan fisik menurut kegunaannya.
  4. Memahami aktor, kita harus mendasarkan pemahaman itu menurut aktivitasnya.
Aspek yang paling mendasar dan terpenting dalam interaksi simbolik menurut Mead (Retzer, 2004:266) adalah tindakan yang berhubungan secara dialektis, yang terdiri atas:
  1. Impuls (impulse), yakni dorongan hati yang menampilkan rangsangan spontan dan kebutuhan untuk melakukan sesuatu terhadap rangsangan itu.
  2. Persepsi (perseption), yaitu tindakan seleksi terhadap objek rangsangan.
  3. Manipulasi (manipulation), yaitu tindakan jeda yang penting dalam proses tindakan berkenaan dengan objek yang diterima. Tindakan ini membedakan kemampuan manusia dengan binatang.
  4. Konsumsi (consumtion), yaitu keputusan mengambil tindakan untuk memuaskan dorongan hati.
Kekhasan Mead dalam Teori Interaksi Simbolik terletak pada penyediaan kondisi “jeda” untuk bertindak, sehingga tindakan sesuai dengan kata hati atau bukan paksaan. Dengan respons “jeda” akan dapat membedakan tindakan yang disadari dan tindakan yang tidak disadari, antara tindakan non signifikan dan tindakan signifikan (Kutha Ratna, 2005:193). Tindakan yang tidak disadari merupakan ciri binatang dan tindakan yang disadari merupakan ciri tindakan manusia. Manusia mempunyai kemampuan istimewa untuk menciptakan isyarat yang berhubungan dengan suara dan kemampuan, ini menimbulkan kemampuan khusus untuk mengembangkan dan menggunakan simbol signifikan (Ritzer, 2004:318). Tanda suara inilah menjadi bahasa sebab tanda bahasa yang menjadikan kita mendengar sendiri, seperti orang lain mendengarkannya, mempengaruhi pembicaraan sebagaimana mempengaruhi orang lain (Kutha Ratna, 2005:193). Akhirnya melalui bahasa sebagai simbol yang signifikan, manusia dapat melakukan interaksi simbolik dan dengan interaksi simbolik pula memungkinkan terbentuknya suatu masyarakat.
Kendatipun banyak teori interaksi simbolik, namun difokuskan pada Mead, mengingat Teori Mead pada prinsipnya menyetujui keunggulan dan keutamaan dunia sosial, sehingga dari sini muncul kesadaran, pikiran, diri dan seterusnya.
Dalam interaksi simbolik masyarakat didefinisikan sebagai proses sosial tanpa henti, eksistensinya mendahului pikiran dan diri. Masyarakat digambarkan sebagai aksi, bukan konsep-konsep seperti sistem, struktur sosial, posisi status peranan, pola-pola kebudayaan, norma dan sebagainya. Ciri-ciri struktural tersebut hanya menyediakan kondisi tindakan, tidak menentukannya (Kutha Ratna, 2004:198). Lebih lanjut Ritzer (2004:319) tentang Interaksi simbolik dapat diringkas dengan prinsip dasar sebagai berikut:
  1. Tidak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berpikir.
  2. Kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial.
  3. Dalam interaksi sosial manusia mempelajari makna dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir mereka yang khusus itu.
  4. Makna dan simbol memungkinkan manusia melakukan tindakan khusus dan berinteraksi.
  5. Manusia mampu mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka terhadap situasi.
  6. Manusia mampu memodifikasikan dan merubah, sebagian karena kemapuan mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka menguji serangkaian peluang, tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatifnya dan kemudian memilih satu diantara serangkaian peluang tindakan itu.
  7. Pola aksi dan interaksi yang saling barkelindan akan membentuk kelompok dalam masyarakat.
Akibat kemampuan berpikir manusia inilah teori interaksi simbolik dapat dilepas dari akarnya, yakni behaviorisme. Individu dilihat sebagai representasi unit-unit yang saling berinteraksi. Visi interaksi simbolik bahasa merupakan sistem simbol yang amat luas, kaya dan mutakhir/canggih. Dalam berinteraksi, manusia merespons secara aktif dengan cara mencipta ulang dunia tempat mereka berperanan (Kutha Ratna, 2004:199).
Charles H. Cooley sebagai tokoh interaksi simbolik memandang individu dan masyarakat ibarat dua sisi mata uang yang memiliki nilai yang sama, artinya dapat dilihat dari sisi individualnya maupun sosialitasnya. Individu tidak akan dapat dikenali identitasnya tanpa mengumpamakan dirinya hidup dalam masyarakat, sebagaimana individu yang tidak dapat mengenali wajahnya tanpa bercermin (Kutha Ratna, 2004:200).
Interaksi simbolik yang sudah dikenal sejak 1930, perlu diberikan tempat baru dengan identitas baru, khususnya dalam kaitannya dengan kelahiran studi Kultural dan Post Modernisme. Retzer (Kutha Ratna, 2004:200) meringkaskan empat ciri mengapa studi interaksi simbolik dianggap berperanan dalam kerangka studi kultural, sebagai berikut:
  1. Konsep-konsep interaksi simbolik pada dasarnya mengalami perkembangbiakan yang signifikan sejak masa jayanya di Universitas Chicago tahun 1920-1930an.
  2. Interaksi simbolik telah mengalami ekspansi dan dianggap telah melampaui ciri-ciri tradisionalnya.
  3. Interaksi simbolik juga telah menggabungkan konsep teoritis dari berbagai perspektif yang lain.
  4. Berbagai gagasan mengenai interaksi simbolik telah diterima oleh para sosiolog yang semula memiliki perspektif yang berbeda.
Daftar Pustaka :

George Ritzer-Douglas J. Goodman, 2004, Teori Sosiologi Modern, Kencana, Jakarta.
Kutha Ratna I Nyoman, 2005, Sastra Dan Cultural Studies, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Margaret M. Poloma, 2004, Sosiologi Kontemporer, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.


Peta