Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

TEORI DEPENDENSI



Oleh 
I Gusti Ngurah Jayanti


1.1    Paradigma Teori Ketergantungan (Dependensi)

Theotonio Dos Santos mendefinisikan ketergantungan: suatu keadaan yang membawa pengaruh yang amat kuat dimana kehidupan negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara lain, dimana negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Hubungan saling bergantungan antara dua sistem ekonomi atau lebih, dan hubungan antara sistem-sistem ekonomi ini dengan perdagangan dunia, menjadi hubungan ketergantungan bila ekonomi beberapa negara (yang dominan) mengalami perubahan hanya sebagai akibat, positif atau negatif (dalam Budiman, 1955, dan Ikbar, 1995).

Secara singkat, teori “dependensi” memandang perekonomian internasional ditandai oleh hubungan yang tak seimbang antara negara-negara  kapitalis industri maju di satu pihak dan terbelakang di pihak lain. Dapat dikatakan bahwa suatu premis umum yang dipegang oleh semua teoritisi “dependensi” memetapkan bahwa hubungan “pusat-periferi” tersebut sejak periode ekspansi kapitasisme melalui kolonialisme, hingga kini, ditandai oleh persistensi mekanisme-mekanisme “pertukaran yang tak seimbang” yang melestarikan surplus ekonomi dari periferi ke pusat.
Dua implikasi penting dari penjelasan watak dasar negara pasca-kolonial yang masih mengundang perdebatan, yaitu: pertama negara pasca-kolonial pada dasarnya hanya merupakan kelanjutan negara kolonial. Kedua, yaitu: negara pasca-kolonial pada dasarnya hanya merupakan alat dari kelas borjuis internasional, sehingga hanya mempunyai peranan untuk melestarikan dominasi kelas ini terhadap kelas-kelas domestik.
Bagi Frank misalnya, sifat negara pasca-kolonial dikondisikan oleh suatu proses “keterbelakangan” yang ditentukan oleh borjuis metropolitan dan kekuasaan negara metropolitan yang dipegang oleh borjuasi tersebut. Bagi Amin, negara pasca-kolonial dikondisikan oleh dominasi ekonomi asing sehingga membuat hegemoni kelas borjuasi lokal tidak berdaya. Frank, dalam tulisannya menyebutkan bahwa “Negara di Dunia Ketiga mungkin bersifat kuat dan otonom terhadap borjuasi lokanya, tetapi untuk sebagian besar ia merupakan alat dari borjuasi imprialis di metropolis”. Dalam konflik ini ia menambahkan  intra-kelas antara borjuasi asing dan lokal, sektor-sektornya, atau anggota-anggotanya, Negara Dunia Ketiga jauh lebih merupakan alat dari modal asing dibandingkan modal lokal.  
Marcusen dan Torp, dalam sebuah tinjauannya terhadap “dependensi”, seharusnya adalah: kelas-kelas dominan mana yang menguasai negara dan mengapa kepentingan-kepentingan mereka terwujud dalam negara yang hentervensionis? Mereka menekankan bahwa kelas-kelas yang dominan tersebut historisnya yang spesifik. Marcussen dan Torp juga menunjukan pada kemungkian kelas borjuasi domestik untuk berusaha memperkuat posisi mereka dengan mendorong intervensionisme negara dalam ekonomi.

1.2    Kritik Terhadap Teori Dependensi
            Salah satu sumber kelemahan Teori dependensi ialah terletak pada inkonsitensi dalam metode analisis Marxis. Artinya, sekalipun jargon jargon Marxis, dipegunakan dikemukakan, esensi analisis Marxis yang berpijak ditingkat kelas hampir diabaikan. Akibat dari pengabaian ini adalah penarikan generalisasi-generalisasi mengenai sifat negara pasca-kolonial. Dalam konteks proses “pertukaran tak seimbang” antara pusat dan periveri sudah kadaluwarsa.
            Pertama: ciri inhern teori “dependen” untuk menekankan proses-proses “pertukaran tak seimbang” itu menyebabkan pengabaian terhadap proses-proses formasi dan konflik kelas yang dalam analisis Marxis mempunyai kedudukan yang penting. Akibatnya peranan dan sifat negara pada masyarakat pasca-kolonial kontemporer, yang pada analisis Marxis terkait pada proses-proses formasi dan konflik kelas, dalam teori “negara modern” direduksi menjadi persoalan menjaga kontinuitas aliran surplus ekonomi dari periferi ke pusat. Hal ini hanya dapat dipandang sebagai akibat kurangnya perhatian terhadap dinamika pembentukan kelas-kelas sosial bersamaan dengan perkembangan kapitalisme.
            Marxis ortodoks menyatakan bahwa tingkat analisis harus dikembalikan pada bidang produksi dan bukan terpaku pada pada proses-proses “pertukaran tak seimbang  di bidang sirkulasi. Ini bersumber pada kelas-kelas kapitasisme tidak terutama didefinisikan menurut hubungan – hubungan menurut pasar dimana proses-proses pertukanran terjadi, tetapi berdasarkan fungsi-fungsi dalam proses produksi. Yang dianalisis terhadap mereka adalah pergeseran-pergeseran diangkat mode produksi, contoh: dalam hal kecendrungan terhadap seluas-luasnya hubungan-hubungan buruh upahan pemilik modal, yang merupakan ciri dasar mode produksi kapitalis akibat penetrasi dan perkembangan kapitasisme.
            Hal ini mempunyai arti yang penting karena setidaknya padat menyiratkan suatu penolakan terhadap gagasan “perkembangan yang terhambat” yang cendrung statis, yang secara eksplisit dan inplisit terkandung dalam teori “dependen”. Karena, sesuai dengan dasar-dasar dari persepektif seperti ini, perkembangan tidak bisa dikatakan terhambat kalau terjadi pergeseran-pergeseran yang signifikan ke arah perluasan hubungan-hubungan produksi kapitasis. Perspektif ini juga bertentangan dengan teori “dependensi” yang mempostulasikan suatu keadaan perkembangan kelas yang cendrung bersifat statis, sehingga kemungkinan pembentukan kelas-kelas kapitalis pada formasi-formasi sosial periferal merupakan suatu yang sesungguhnya yang berada diluar kerangka teroritis.
            Dalam konteks pengembangan suatu teori negara pasca-kolonial nampaknya adalah lebih berguna pula untuk menelaah sifat dan peranan, atau watak dasar, negara pasca kolonial menurut kondisi-kondisi historis yang spesifik bagi suatu masyarakat. Oleh karena itu berarti asumsi intergral baru teori negara “dependen”, bahwa negara pasca-kolonial secara instrumental hanya merupakan perpanjangan dari kepentingan-kepentingan kelas borjuis internasional atau mertopolitan, dan berfungsi sekedari sebagai kelanjutan dari negara kolonial (dalam arti menjamin kepentingan-kepentingan modal asing), perlu ditinjau kembali.


Daftar pustaka

Amin, Samir, Giovanni Arright, Andre Gunder Frank, Immanuel Wallerstein. The Dymanics of Global Crisis. New York: Monthly Review Press, 1982.
Budiman, Arief Dr. 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Carnoy, Ronald. The State and Political Theory. Princeton: Princeton University Press, 1984.
Frank, Andre Gunder. Crisis: In the Third Word. London: New Left Books, 1976.
Ikbar, Yanuari. 1995. Ekonomi Politik Internasional. Bandung: Angkasa.
Suhanadji, Waspodo TS. 2004. Modernisasi dan Globalisasi Studi Pembangunan Dalam Perspektif Global. Perbit: Insan Cendeki
Marcussen, Henrik Secher dan Jens Erik Torp. Internalization of Capital: Prospects for the Third World, A Reexamination of Dependency Theory. London: Zed Books, 1982.

Peta