Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

TEORI EVOLUSI DAN DIFUSI


Oleh
I Gusti Ngurah Jayanti

I.              TEORI-TEORI EVOLUSI KEBUDAYAAN

1.1.Proses Evolusi Sosial Secara Universal

Kehadiran para cendekiawan dan para ahli filsafat di Eropa Barat akan keanekaragaman ciri-ciri ras, bahasa dan kebudayaan umat manusia di dunia, melahirkan cara berfikir evolusionisme universal yang dapat diterapkan dalam ilmu Biologi. Atas dasar itu pula menyebabkan munculnya konsepsi tentang proses evolusi sosial secara universal. Proses evolusi sosial secara universal adalah; semua hal harus dipandang dalam rangka masyarakat manusia yang telah berkembang dengan lambat (berevolusi) dari tingkat-tingkat terendah dan sederhana, ke tingkat-tingkat yang makin lama makin tinggi dan komplex. Proses evolusi seperti itu akan dialami oleh semua masyarakat manusia di muka bumi, walaupun dengan kecepatan yang berbeda-beda. Dengan demikian yang dimaksud dengan Proses Evolusi Sosial secara Universal adalah suatu perubahan/perkembangan budaya manusia dari tingkat yang terendah dan sederhana secara perlahan-lahan ketingkat yang makin lama makin tinggi dan komplex.

1.2.Konsep Evolusi Sosial Universal H. Spencer
Ahli filsafat Inggris H. Spencer (1820-1903) dan A. Comte dari Prancis, yang menganut aliran cara berfikir positivisme, yaitu aliran dalam ilmu filsafat yang bertujuan menerapkan metodologi eksak yang telah dikembangkan dalam ilmu fisika dan alam, dalam studi masyarakat manusia. Konsep evolusi sosial universal H. Spencer adalah seluruh alam, baik yang berwujud nonorganis, organis maupun superorganis, berevolusi karena didorong oleh kekuatan mutlak yang disebutnya evolusi universal.

1.3.Teori Evolusi Keluarga J.J. Bachopen
            Diseluruh dunia keluarga manusia berkembang melalui empat tingkat evolusi, yaitu :
a.     Adat Exogami, adalah hubungan antara ibu dan anak-anaknya sebagai suatu kelompok keluarga inti dalam masyarakat, anak-anak hanya mengenal ibunya, tetapi tidak mengenal ayahnya. Kelompok keluarga seperti itu, ibunyalah yang menjadi kepala keluarga.
b. Matriarchate, adalah perluasan dari adat exogami yang memperhitungkan garis keturunan berdasarkan garis ibu.
c.   Patriarchate, akibat tidak puasnya kaum laki-laki pada keadaan matriarchate, mendorong para lelaki untuk menarik calon-calon istrinya dan membawanya ke kelompok mereka. Lambat laun terbentuk keluarga dengan ayah sebagai kepala keluarganya.
d.      Exogami, adalah akibat perkawinan diluar kelompok dan berubah menjadi endogami dimana anak dapat berhubungan dengan keluarga ibu maupun keluarga ayah.

1.4.Teori Evolusi Kebudayaan Di Indonesia
G.A. Wilken (1847-1991) merumuskan teori tentang sejumlah gejala kebudayaan dalam kemasyarakatan, misalnya tentang teknonimi (Wilken, 1875), tentang hakekat maskawin, menurutnya pada mulanya hanya merupakan alat untuk menngadakan perdamaian antara pengantin pria dan keluarga pengantin wanita setelah berlangsung kawin lari, suatu kejadian yang sering terdapat dalam masa peralihan antara tingkat matriarkat ke tingkat patriarkat dan tentang sejumlah masalah serta gejala sosial dan kebudayaan lain.

1.5.Teori Evolusi Kebudayaan L.H. Morgan
Lewis H. Morgan (1818-1881) mengatakan bahwa, masyarakat dari semua bangsa di dunia sudah atau masih akan menyelesaikan proses evolusinya melalui kedelapan tingkat evolusi yaitu :
1.    Zaman Liar Tua, yaitu zaman sejak adanya manusia sampai ia menemukan api; dalam zaman ini manusia hidup dari meramu, mencari akar-akar dan tumbuh-tumbuhan liar.
2.   Zaman Liar Madya, yaitu zaman sejak manusia menemukan api, sampai ia menemukan senjata busur-panah; dalam zaman ini manusia mulai merubah mata pencaharian hidupnya dari meramu menjadi pencari ikan di sungai-sungai atau menjadi pemburu.
3.  Zaman Liar Muda, yaitu zaman sejak manusia menemukan senjata busur-panah, sampai ia mendapatkan kepandaian membuat barang-barang tembikar; dalam zaman ini mata pencaharian hidupnya masih berburu.
4.      Zaman Barbar Tua, yaitu zaman sejak manusia menemukan kepandaian membuat tembikar sampai ia mulai beternak atau bercocok tanam.
5.  Zaman Barbar Madya, yaitu zaman sejak manusia beternak atau bercocok tanam sampai ia menemukan kepandaian membuat benda-benda dari logam.
6.      Zaman Barbar Muda, yaitu zaman sejak manusia menemukan kepandaian membuat benda-benda dari logam, sampai ia mengenal tulisan.
7.      Zaman Peradaban Purba.
8.      Zaman Peradaban Masakini.

1.6.Teori Evolusi Religi E.B. Tylor
Edward B. Tylor (1832-1917), dalam bukunya yang berjudul Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Language, Art and Custom (1874). Teori tentang asal mula religi adalah kesadaran manusia akan adanya jiwa. Kesadaran akan faham jiwa itu disebabkan karena dua hal yaitu:
1.    Perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati, artinya suatu saat organisme hidup dan suatu saat mati, suatu saat bergerak-gerak dan suatu saat tak bergerak. Maka manusia mulai sadar akan adanya suatu kekuatan yang menyebabkan gerak itu, yaitu jiwa.
2.  Peristiwa mimpi. Dalam mimpi manusia melihat dirinya di tempat lain. Maka manusia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang ada di tempat tidur dan suatu bagian lain dari dirinya yang pergi ke tempat-tempat lain. Bagian lain itulah yang disebut jiwa. Kemudian Tylor melanjutkan teorinya tentang asal mula religi dengan suatu uraian tentang evolusi religi,  yang berdasarkan cara berfikir evolusionisme. Katanya, animisme yang pada dasarnya merupakan keyakinan kepada roh-roh yang mendiami alam semesta sekeliling tempat tinggal manusia merupakan bentuk religi yang tertua. Pada tingkat kedua dalam evolusi religi, manusia yakin bahwa gerak alam yang hidup itu juga disebabkan adanya jiwa di belakang peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala alam itu.

1.7.Teori J.G. Frazer Mengenai Ilmu Gaib dan Religi
J.G. Frazer (1854-1941), manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem penegetahuannya, tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya. Makin terbelakang kebudayaan manusia, makin sempit lingkaran batas akalnya. Soal-soal hidup yang tak dapat dipecahkan dengan akal dipecahkannya dengan magic, ilmu gaib.

 II.      TEORI-TEORI MENGENAI AZAS RELIGI

2.1.Tiga Pendekatan Terhadap Masalah Azas Religi
1.   Teori-teori yang pada pendekatannya berorientasi kepada keyakinan religi (A. Lang, R.R. Marett dan A.C. Kruyt);
2. Teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada sikap manusia terhadap alam gaib atau hal yang gaib (R. Otto);
3. Teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada upacara religi (W. Robertson Smith, K.Th. Preusz, R. Herz dan A van Gennep).

2.2.Teori-Teori Yang Berorientasi Kepada Keyakinan Religi
-   Teori Lang Tentang Dewa Tertinggi. Andrew Lang (1844-1912). Keyakinan kepada dewa tertinggi dalam Religi suku-suku bangsa tersebut sudah sangat tua, dan mungkin merupakan bentuk Religi manusia yang tertua yang kemudian terdesak kebelakang oleh keyakinan kepada mahluk halus lain seperti dewa-dewa alam, Roh nenek moyang, hantu dan lain-lain.
-     Teori Marett tentang Kekuatan Luar Biasa: bahwa, bentuk Religi yang tertua adalah berdasarkan keyakinan manusia akan adanya kekuatan gaib dalam hal-hal yang luar biasa dan yang menjadi sebab timbulnya gejala-gejala yang tak dapat dilakukan oleh manusia biasa.
-       Teori Marett tentang asal mula Religi manusia yaitu, bahwa pangkal Religi adalah suatu “emosi” atau suatu “getaran jiwa” yang timbul karena kekaguman manusia terhadap hal-hal dan gejala-gejala tertua yang sifatnya luar biasa, alam dimana hal-hal serta gejala-gejala itu berasal,oleh manusia purba dianggap sebagai dunia dimana terdapat berbagai kekuatan yang luar biasa.

2.3.Teori Yang Berorientasi Kepada Sikap Manusia Terhadap Hal Yang Gaib.
    Teori menurut Otto bahwa,sistem religi dan masyarakat bersahaja belum merupakan agama, tetapi hanya suatu tahap pendahuluan dari agama yang sedang berkembang.

2.4.Teori Yang Berorientasi Kepada Upacara Religi.
Teori W. Robertson Smith Tentang Upacara Bersaji (1846-1894). Bahwa, sistem keyakinan dan doktrin,sistem upacara juga mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat.Motivasi mereka tidak terutama untuk berbakti kepada Dewa atau Tuhannya, atau untuk mengalami kepuasan keagamaan secara pribadi, tetapi juga karena mereka menganggap bahwa melakukan upacara adalah suatu kewajiban sosial.  Konsep-konsep Preust mengenai azas-azas Religi (1869-1938) bahwa wujud Religi yang tertua berupa tindakan-tindakan manusia untuk mengadakan keperluan-keperluan hidupnya yang tak dapat dicapainya secara naluri atau dengan akalnya.

2.5.Beberapa Komponen Religi.
Sintesa N. Soderblom (1866-1931) tentang azas-azas dan asal mula Religi adalah bahwa keyakinan yang paling awal yang menyebabkan terjadinya Religi dalam masyarakat manusia adalah keyakinan akan adanya kekuatan sakti (mana) dalam hal-hal yang luar biasa dan yang gaib. Keyakinan terhadap kekuatan sakti yang bersifat kabur itu kemudian meluas menjadi keyakinan bahwa segala hal, tidak hanya hal-hal yang luar biasa dan gaib, tetapi banyak benda, tumbuh-tumbuhan sekeliling manusia yang diperlukannya dalam kehidupannya sehari-hari,dianggap seakan-akan berjiwa dan dapat berpikir seperti manusia (animatisme).Dalam proses perkembangannya adalah keyakinan tentang adanya berbagai macam Roh yang seakan-akan mempunyai identitas serta kepribadian sendiri-sendiri, menempati berbagai hal tertentu di sekeliling tempat tinggal manusia dan sebagian lagi menempati dunia gaib. Perkembangan terakhir ialah keyakinan akan adanya dewa-dewa bahwa mahluk halus (roh) mempunyai kepribadian dan identitas, juga mempunyai wujud yang lebih nyata dalam pikiran manusia. Sistem keyakinan dalam suatu Religi terwujud pikiran dan gagasan manusia, yang menyangkut keyakinan dan konsepsi manusia tentang sifat-sifat Tuhan, tentang wujud dari alam gaib (kosmologi), tentang terjadinya alam dan dunia (kosmogomi), tenteng zaman akhirat (esyatologi), tentang wujud dan ciri-ciri kekuatan sakti, roh nenek moyang, roh alam, dewa-dewa,roh jahat, hantu dan mahluk-mahluk halus lainnya. Sistem keyakinan juga menyangkut sistem nilai dan sistem norma keagamaan, ajaran kesusilaan dan ajaran doktrin Religi lainnya yang mengatur tingkah laku manusia.

 III.      TEORI- TEORI DIFUSI KEBUDAYAAN

3.1.Gejala Persamaan Unsur-Unsur Kebudayaan.
Adolf Bastian mengatakan bahwa persamaan unsur-unsur kebudayaan yang terdapat didaerah tertentu dengan yang ada didaerah lain, kendatipun tempatnya berjauhan, disebabkan karena persebaran atau difusi dari unsur itu ketempat-tempat atau daerah-daerah masing-masing atau akibat pengaruh Elementar Gedanken.

3.2.Sejarah Persebaran Unsur-Unsur Kebudayaan Manusia.
F. Ratzel (1844-1904) dan muridnya, L.Frobenius, mempunyai anggapan dasar bahwa, kebudayaan dasar itu pangkalnya satu dan disuatu tempat yang tertentu, yaitu pada waktu mahluk hidup baru saja muncul didunia ini. Kemudian kebudayaan induk itu berkembang, menyebar dan pecah kedalam banyak kebudayaan baru, karena pengaruh keadaan lingkungan dan waktu.Tokoh-tokoh penganut aliran difusionisme adalah F. Graebner dan W Schmidt (Eropa Tengah), W.H.R. Rivers (Inggris), F. Boas (Amerika).

3.3.Konsep Kulturkreis Dan Kulturschicht Dari Graebner.
F. Graebner (1877-1934) menyebutkan bahwa Kulturkreis adalah sekumpulan tempat dimana ditemukan benda-benda yang sama sifatnya.

3.4.Mazhab Schmidt
Wilhelm Schmidt (1868-1954) tentang keyakinan kepada dewa tertinggi dalam alam jiwa bahwa, agama berasal dari titah Tuhan yang diturunkan kepada manusia sewaktu ia muncul pertama kali dimuka bumi.

3.5.Teori Difusi Rivers
W.H.R. Rivers (1864-1922) mengatakan bahwa untuk mengetahui mengenai kehidupan suatu masyarakat dapat dianalisa berdasarkan daftar-daftar asal usul atau geneologi, yaitu mengenai bermacam-macam peristiwa yang menyangkut kaum kerabat dan nenek moyang suatu masyarakat.

3.6.Teori Difusi Elliot Smith Dan Perry
G. Elliot Smith (1871-1937) dan W.J. Perry (1887-1949) mengajukan teori bahwa dalam sejarah kebudayaan dunia pada zaman purbakala pernah terjadi suatu peritiwa difusi yang besar yang berpangkal di Mesir, bergerak kearah timur yaitu kedaerah-daerah sekitar Lautan Tengah, ke Afrika, ke India, ke Indonesia, ke Polinesia dan ke Amerika.

IV.      TEORI-TEORI FUNGSIONAL DAN STRUKTURAL
4.1.Fungsionalisme Malinowski
  Bronislaw Malinowski (1884-1942) teori tentang fungsi unsur-unsur kebudayaan yang sangat komplek bahwa, segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksudmemuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri dari manusia yang berhubungan dangan seluruh kehidupannya. Contoh: Kesenian terjadi karena bermula dari keinginan manusia untuk memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan.
4.2.Strukturalisme Radcliffe-Brown
A.R. Radcliffe-Brown (1881-1955) merumuskan bagian pertama dari  bab mengenai upacara, sebagai berikut: (1) agar suatu masyarakat dapat hidup langsung, maka harus ada suatu sentimen dalam jiwa para warganya yang merangsang mereka untuk berperilaku sesuai dengan kebutuhan masyarakat; (2) tiap unsur dalam sistem sosial dan tiap gejala atau benda yang dengan demikian mempunyai efek pada solidaritas masyarakat, menjadi pokok orientasi dari sentimen tersebut; (3) sentimen itu ditimbulkan dalam pikiran individu warga masyarakat sebagai akibat pengaruh hidup masyarakatnya; (4) adat-istiadat upacara adalah wahana dengan apa sentimen-sentimen itu dapat diexpresikan secara kolektif dan berulang pada saat-saat tertentu; (5) expresi kolektif dari sentimen memelihara intensitas sentimen itu dalam jiwa warga masyarakat, dan bertujuan meneruskannya kepada warga-warga dalam generasi berikutnya.

4.3.Teori Fungsional Struktural Hocart
Arthur Maurice Hocart (1883-1939) mengenai fungsi upacara dan raja dalam masyarakat manusia, bahwa ia mengembangkan hipotesa mengenai terjadinya organisasi pemerintah yang disebut negara dalam masyarakat manusia, serta hipotesa mengenai fungsi dari upacara serta tindakan-tindakan simbolik didalamnya.

4.4.Antropologi Sosial Di Inggris Sesudah Malinowski Dan Radcliffe-Brown
Radcliffe-Brown berpendapat bahwa struktur sosial sebagai jaringan hubungan antara person-person dan sesuatu hal yang seolah-olah diam dalam ruang waktu, maka Fortes memasukkan dimensi waktu kedalamnya, dan menganggapnya jaringan hubungan antara bagian-bagian dari suatu masyarakat yang memelihara azas-azasnya untuk jangka waktu. Fortes menyatakan bahwa, struktur sosial selalu berubah, baik dalam bentuknya maupun dalam wujudnya yang nyata; maka dengan itu Fortes membuat perbedaan diajukan oleh Radcliffe-Brown, yaitu bahwa bentuk-bentuk soaial yang terdiri dari person-person yang berinteraksi itu selalu berubah menjadi tidak relevan lagi. Menurut Firth, struktur sosial adalah hubungan yang ideal antara bagian-bagian masyarakat, sedangkan didalamnya dinamik kehidupan individu yang konkret dari satu angkatan ke angkatan berikutnya menyebabkan suatu proses perubahan yang dapat berlangsung lambat tetapi dapat juga cepat dan memberi dimensi waktu kepada suatu “struktur sosial”.

4.5.Teori Struktural Para Ahli Antropologi Belanda
Van Ossenbruggen, yang menggunakan teori Durkheim dan Mauss mengenai cara klasifikasi oleh manusia yang hidup dalam masyarakat primitif. Sistem pembagian masyarakat menjadi kerangka umur untuk segala macam klasifikasi dalam segala bidang berfikir dalam kebudayaan yang bersangkutan. Menurut Van Ossenbruggen sistem macapat menjadi kerangka klasifikasi dengan lima kategori dengan satu kategori pusat yang dikelilingi empat sub-kategori dan kedalam kerangka itulah digolongkan segala macam konsep yang dikenal dalam kebudayaan Jawa.



Peta