Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

TEORI RESEPSI


Oleh
 I Gusti Ngurah Jayanti

Secara umum teori resepsi diartikan sebagai penerimaan, penyambutan, tanggapan, reaksi, dan sikap pembaca terhadap suatu karya sastra. Dalam teori yang demikan, teori resepsi, pembaca memegang peranan penting. Pembaca adalah mediator, tanpa pembaca karya sastra seolah-olah tidak memiliki arti. Tanpa peran serta audiens, seperti: pendengar, penikmat, penonton, pemirsa, penerjemah, dan para pengguna lainnya, khususnya pembaca itu sendiri, maka keseluruhan aspek kultur seolah-olah kehilangan maknanya. Teori Resepsi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Resepsi secara sinkronis, peneliti dalam kaitannya dengan pembaca sezamannya.
  2. Resepsi diakronis, penelitian dalam kaitannya dengan pembaca sepanjang sejarahnya.
Resepsi sinkronis, dilakukan oleh para pembaca terhadap sebuah atau beberapa karya sastra. Baik pembaca ataupun karya sastra berada dalam ciri-ciri periode yang relatif sama. Sedangkan resepsi diakronis, dilakukan oleh para pembaca yang berada pada periode yang berbeda beda.
Teori resepsi dalam perkembangannya diperluas wilayah kajiannya ke studi kultural sehingga berfungsi untuk memahami gejala-gejala kebudayaan secara lebih baik. Sebagai teori kontemporer, relepansi teori resepsi adalah:
  1. Pembalikan fundamental dari legitimasi penulis sebagai pencipta pertama ke penerimaan pembaca sebagai pencipata kedua.
  2. Pergeseran pemahaman dari pembaca individual ke pembaca transindividual, dari subjek tunggal ke subjek kolektif.
Dikaitkan dengan studi kultural, pergeseran paradigma inilah yang melahirkan pusat baru, pusat-pusat itu pun berubah secara terus menerus. Dalam kaitanya dengan khazanah kultural, bukanlah keabadian keindahanya yang terpenting, melainkan bagaimana khazanah tersebut diresepsi secara berbeda-beda sepanjang zaman. Dalam perubahan penilainan tersebutlah, yang pada dasarnya bersumber dari audiens, terkandung dinamika studi kultural.
Chris Barker dalam bukunya Cultural Studies juga menyatakan bahwa studi resepsi (studi konsumsi) menyatakan bahwa apa pun yang dilakukan analisis makna tekstual sebagai kritik masih jauh dari kepastian tentang makna yang teridentifikasi yang akan diaktifkan oleh pembaca/audien/konsumen. Yang dimaksud bahwa audien merupakan pencipta aktif makna kaitannya dengan teks (Barker, 2004 : 34).
Teori resepsi juga digunakan dalam wacana media komunikasi. Dalam bukunya James Lull yang berjudul media komunikasi budaya suatu pendekatan global juga meyediakan perdebatan wacana yang memunculkan teori komunikasi. Aliran ini amat menentang perspektif dampak media yang telah mendominasi riset empiris dalam komunikasi, khususnya yang berasal dari Amerika Utara sejak akhir Perang dunia II. Menurut teori ini, Khalayak ramai bukanlah dianggap sebagai penerima atau korban pasif media massa. Inilah yang dimaksud dengan “khlayak aktif”( James Lull, 1998 : 107).

DAFTAR PUSTAKA

Barker, C., (2004). Cultural Studies Praktek dan Teori. Penerjemah Nurhadi. Penerbit: Kreasi wacana Yogyakarta.
Kutha Ratna, I Nyoman., (2005). Sastra dan Cultural Studies “Representasi Fiksi dan Fakta”. Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Lull, J., (1998). Media Komunikasi Kebudayaan Suatu Pengantar Global. Pengantar Parakitri T. Simbolon. Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Peta