Panorama Alam

Panorama Alam
Desa Talibeng, Kabupaten Karangasem, Bali

TEORI RESISTENSI DAN VARIAN TENUN IKAT


Varian tenun ikat adonara (Nusat Tenggara Timur)


TEORI RESISTENSI

Oleh
I Gusti Ngurah Jayanti

Para sosiologi industri secara umum sepakan bahwa konflik-konflik industri memiliki manifestasi yang bervariasi. Konflik-konflik seperti misalnya: pemogokan, sabotase, restriksi out-put, non-kooperasi, dan lainnya dapat terjadi dalam basis individu maupun kolektif. Semua hal tersebut adalah konflik-konflik yang terbuka dalam hubungan industrial. Di sisi lainnya ada konflik “terselubung” atau tersembunyi dan dikenal sebagai “konflik laten.” Konflik laten biasanya muncul i mana terdapat kontrol organisasional kuat yang berusaha mendominasi atau mendubordinasi para buruh. Dalam kasus disfungsi organisasi-organisasi pekerja ditingkat pabfik serta kegagalan mereka untuk mengartikulasikan kepentingan-kepentingan para buruh, konflik-konflik antara majikan dan para buruh memiliki tendensi untuk lebih terselubung daripada terbuka.[1]
Dahrendorf, mengungkapkan bahwa pada setiap asosiasi atau dalam konteks ini perusahaan akan seslalu ditandai oleh pertentangan antara yang ikut dalam struktur kekuasaan dan yang tunduk pada struktur tersebut. Kepentingan kelompok penguasa merupakan nilai-nilai yang merupakan ideologi keabsahan kekuasaannya, sementara kepentingan-kepentingan kelompok bawah (buruh) melahirkan ancaman bagi ideologi pengusaha serta hubungan sosial yang terkandung di dalamnya. Kepentingan yang dimaksud Dahrendorf, bida bersifat manifes (disadari) dan kepentingan potensial (laten). Kepentingan laten lebih merujuk pada tingkah loaku potensial yang telah ditentukan bagi seorang karena menduduki peranan tertentu, tetapi masih belum disadari. Jadi kepentingan-kepentingan yang tidak disadari atau laten bida muncul kepermukaan dalam bentuk tujuan-tujuan yang disadari, seperti persamaan gaji, persamaan kesempatan kerj. Dari sinilah akan muncul kelompok-kelompok manifes yang sadar akan hak dan kewajibannya. Akhirnya Dahrendorf menyimpulkan bahwa konflik itu akan selalu ada, karena ada perbedaan kekuasaan, dan usaha yang mencoba untuk menkan atau menghapuskan pertentangan tersebut adalah sia-sia.[2]
Menurut Coser[3] ada dua konsekwensi dipendamnya konflik atau kepentingan yang berlawanan, pertama, dipendamnya konflik dapat mengakibatkan putusnya hubungan. Kalau terlibat emosional para anggotanya sudah sudah tinggi, berakhirnya hubungan itu mungkin dipercepat dengan meledaknya konflik secara tiba-tiba dan parah, di mana ketegangan dan permusuhan yang menggunung sejak lama meledak dalam bentuk amukan yang keras. Konsekuensi kedua, yang mungkin terjadi karena dipendamnya konflik adalah mengelakan perasaan bermusuhan itu dari suber yang sebenarnya, dan mengembangkan suatu saluran alternatif untuk mengungkapkannya. Alternatif seperti itu adalah sejenis katup pengaman dengan mana dorongan-dorongan agresif atau permusuhan dapat dungkapkan dengan cara-cara yang tidak mengancam atau merusak solidaritas.
Ada dua hal yang penting dilihat dari kehidupan buruh yaitu survival dan gerakan. Survivalitas adalah bagaimanan mereka dapat bertahan hidup, sedangkan gerakan reaksi buruh adalah dari ketidakmampuan mereka dalam nenghadapi realitas ekonomi. Dalam melihat gerakan sosial, terdapat dua bentuk yaitu pertama, pola struktur dan kedua pola non struktur. Dalam pola struktur, resistensi yang dilakukan adalah terhadap penguasa atau penguasa. Secara struktur, ada kelompok lain yang sifatnya menindas. Dalam hal ini, terdapat perbedaan kelas yang tajam seperti kelas buruh dengan penguasa maupun budak dengan majikan.[4]
Dalam gerakan sosial, resistensi yang dilakukan beragam coraknya. Rajendra Singh menyebutkan bahwa gerakan sosial merupakan tindakan yang mendayu-dayu (autopoietic) yang diterapkan masyarakat pada dirinya sendiri untuk survival dan berkelanjutan. Namun dalam praktiknya, gerakan seperti ini berjalan dalam waktu yang panjang dan tidak membutuhkan hasil dalam jangka pendek. Dalam mengkaji kelompok bawah (pinggiran) yang melahirkan gerakan sosial terdapat dua pola yaitu gerakan sosial yang berbentuk struktur dan gerakan sosial yang berbentuk non struktur. Dalam ungkapan lain, Singh menyebut bahwa dalam gerakan sosial ada bentuk gerkan sosial lama dan baru. Gerakan sosial lama bersifat menekankan unsur perbedaan kelas seperti petani buruh, dengan gerakan sosial baru yang menekankan pada resitensi tanpa kelas gerakan seperti gerakan mahasiswa, kelompok lingkungan, dan lain-lainnya.[5]
Robert Gurr[6] pernah mengungkapkan bahwa dasar gerakan sosial adalah the basic frustration, berarti gerakan sosial dimulai oleh rasa frustasi atas keadaan yang menimpa diri seseorang atau kelompok orang. Rasa frustrasi yang dimiliki oleh seseorang pada awalnya tidak menimbukkan reaksi apapun. Misalnya saja perwujudan dari sikap frustasi, awalnya hanya diam seperti itu sudah merupakan bentuk yang paling dasar dari protes sosial dalam masyarakat. Seorang anak misalnya, ketika disuruh oleh orang tuannya, ia tidak mau atau diam saja. Sikap ini sudah merupakan pembangkangan paling awal terhadap kondisi yang ada dan sudah merupakan bentuk yang paling dasar dari gerakan sosial.
Sementara itu Scott[7], menyatakan bahwa resistensi kelas itu memuat tidakan-tindakan apapun yang dilakukan oleh kaum yang kalah, yang ditujukan untuk mengurangi atau menolak klaim yang dibuat kelas atas berhadap dengan kaum yang kalah. Resistensi berfokus pada basi meteri hubngan antara kelas dan pertarungan antar kelas; berlaku baik sebagai tindakan resistensi perorangan maupun resistensi kolektif, juga bentuk-bentuk resistensi ideologi yang menantang definisi situasi yang dominandan menuntut berbagai standar keadilan dan kewajaran. Jadi resistensi berfokus pada maksud ketimbang pada konsekuensi, sehingga diakui bahwa banyak aksi resistensi mungkin gagal mencapai hasil yang dimaksud.
Ada sepasang bentuk resistensi, yaitu: Pertama, resistensi setiap hari, yaitu perjuangan yang biasa-biasa saja, namun terjadi terus menerus antara kaum tani dan orang yang berupaya untuk menarik tenaga kerja, makanan, pajak, dan keuntungan dari mereka. Umumnya bentuk resistensi ini tidak sampai pada tarap pembangkangan terang-terangan secara kolektif. Kedua, pembangkangan langsung /terbuka.[8]
Kedua bentuk resistensi ini sebenarnya sama-sama bertujuan untuk memperkecil atau menolak sama sekali klaim-klaim yang diajukan oleh kelas-kelas yang dominan atau mengajukan klaim-klaim dalam menghadapi kelas-kelas yang lebih dominan. Klaim-kalim biasanya berhubungan dengan segi material dari pertarungan antara kelas-pemilikan tanah, tenaga kerja pajak dan lainnya. Perbedaan resistensi setiap hari yang paling mencolok apabila dibandingkan dengan resistensi lainya adalah hal penolakan inplisit terhadap tujuan-tujuan publik dan simbolik. Apabila dunia perpolitik yang terlembaga itu bersifat formal, terbuka, dan berkenaan dengan perubahan yang sistematis yang bersifat de jure, maka resistensi sehari-hari itu adalah informal, sering tidak terbuka, dan pada umumnya berkenaan dengan hasil-hasil langsung yang bersifat de fakto.[9] 
Dari penjelasan Scott di atas, bisa dikatakan bahwa keberhasilan resistensi de fakto itu acapkali berkorelasi langsung dengan kepatuhan simbolis yang menjadi samarannya. Memberikan perlawanan secara terbuka dalam hampir semua keadaan akan memancing suatu respon yang lebih cepat dan lebih kejam ketimbang suatu ketidakpatuhan yang mungkin tidak demikian meluas, akan tetapi tidak pernah membantah definisi formal hierarkhi dan kekuasaan. Bagi kebanyakan kelas bawah, yang sudah pasti dalam sejarah nyatanya sedikit sekali prospeknya untuk memperbaiki status mereka, maka bentuk resistensi de facto inilah pilihan satu-satunya (Sudarso dan Partini, 2004: 185).
Selanjutnya Scott[10], mengemukakan adanya perbedaan perspektif antara resistensi sungguh-sungguh disatu pihak dengan tanda-tanda kegiatan yang bersifat insidental dan aksi kecil-kecilan (terselubung) di pihak lain. Resistensi yang sesungguhnya bersifat: (a) terorganisasi, sistematis dan kooperatif; (b) berprinsip atau tanpa pamberih; (c) mempunyai akibat-akibat revolusioner; (d) mengandung gagasan dan tujuan yang meniadakan dasar dari dominasi itu sendiri. Sedangkan yang bersifat kegiatan kecil-kecilan (terselubung), insidental dan, gejala kejahatan sekunder adalah: (a) Tidak terorganisasi, tidak sistematis, dan individual; (b) bersifat untung-untungan dan berpamrih; (c) tidak mempunyai akibat-akibat revolusioner; (d) dalam maksud dan logikanya mengandung arti penyesuaian dengan sistem dominasi yang ada.
Meminjam istilah yang dipakai oleh Scott, memunjukan bahwa bentuk- bentuk resistensi sehari-hari dari kalangan buruh anak dalam bentuk resistensi terselubung muncul reaksi terhadap bentuk-bentuk tekanan sehari-hari yang dilakukan oleh pihak menejemen/perusahaan perkebunan. Tidak terjadinya resistensi terbuka bagi kaum yang lemah, miskin atau dalam kontek ini adalah buruh anak, menurut Scott, karena adanya faktor penghalang munculnya resistensi terbuka yaitu: pertama, struktur sosial yang tidak kondusif. Seperti yang pernah diungkapkan dalam hasil penelitiannya di Sedaka, bahwa konflik terbuka tidak muncul, karena transformasi dalam pertaniaannya telah menghapuskan kaum miskin dari proses produksi, sehingga kaum miskin semakin tersisih dan semakin sedikit pilihan dalam hubungan kerja dengan pemilik lahan. Jika keadaan ini dianalogikan dalam kehidupan buruh anak di perkebunan tembakau, nampak jelas bahwa bahwa berubahnya lahan pertanian, seperti menyempitnya lahan, menyebabkan anak tidak tertampung lagi dalam struktur pertanian tradisional, sehingga mereka dalam pekerjaan alternatif lain yang merupakan salah satu yang mungkin dilakukan untuk membantu ekonomi keluarga, yaitu di agroindustri tembakau tersebut. Penghalang kedua, adalah kebutuhan survival. Pekerjaan yang ditekuni buruh anak tersebut harus dijalani bukan semata-mata untuk keperluan jajan mereka atau mengisi waktu luangnya, tetapi ada kebutuhan yang penting, yaitu dalam rangka mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya yang umumnya tergolong keluarga miskin. Jadi tidak ada jalan lain, kecuali mencari cara penyesuaian dengan lingkungan kerja, supanya bisa terus bertahan diperkebunan.




[1] Susetiawan, Konflik Sosial, Kajian Sosiologis Hubungan Buruh, Perusahaan dan Negara di Indonesia. Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000, hal.216-217
[2] Poloma, Op. Cit. hal. 136-139
[3] Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi, Klasik dan Modern, Jilid II, Gramedia, Jakarta, 1986, hal. 201.
[4] Lihat di Zubir, Zaiyardam, Radikalisme Kaum Pinggiran, (2002), Insist Press, Yogyakarta, hal. 36
[5] Ibid, hal. 38-39
[6] Ibid, hal. 40
[7] Scott, James C. Senjatanya Orang-Orang yang Kalah Bentuk-Bentuk Resistensi Sehari-hari Kaum Tani, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2000, hal. 382
[8] Scott, Ibid, hal. 40-43
[9] Ibid, 44-45
[10] Scott, James C., Op.cit, hal. 287-386

Peta