Selasa, 08 Oktober 2013

Begasingan Permainan Tradisional Lombok Timur



BEGASINGAN PERMAINAN TRADISIONAL LOMBOK TIMUR
 Oleh
I Made Satyananda


              Gasing merupakan salah satu alat permainan yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Permainan gasing saat ini sudah sangat langka, terutama di kota-kota besar di negara kita. Permainan ini sama nasibnya seperti permainan lainnya sudah kalah pamor oleh alat permainan yang menggunakan teknologi tinggi atau alat permainan elektronik seperti computer games, video games, play station, ninetendo dan yang lainnya. Permainan tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat berfungsi sebagai salah satu sarana penanaman nilai-nilai budaya.  Dahulu sebelum perkembangan teknologi pesat seperti sekarang ini, fungsi tersebut sangat efektif. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi keberadaan permainan tradisional  tersebut mulai tergeser oleh hadirnya berbagai jenis permainan modern seperti ; games, playstation dan sebagainya, yang oleh sebagian besar anak-anak sekarang dianggap lebih menarik.  Padahal apabila ditinjau dari segi manfaatnya sangat bertolak belakang dengan permainan tradisional. Permainan modern membentuk anak bersifat individual,  kurang kreatif, dan juga memerlukan biaya yang mahal.
Permainan tradisional atau permainan rakyat sebagai salah satu khasanah budaya bangsa merupakan suatu kegiatan jasmani yang seringkali dihubungkan dengan kebutuhan kehidupan yang memerlukan pembinaan keseimbangan organ tubuh. Melalui permainan tradisional dapat memenuhi tuntutan dan tempat menyalurkan rangsangan yang dapat menimbulkan berbagai kebutuhan yang melibatkan berbagai kegiatan sosial budaya, baik secara langsung maupun tidak langsung sebagaimana tercermin pada perkembangan berbagai bentuk permainan tradisional.

Rabu, 13 Februari 2013

UPACARA SIAT GENI DI DESA TUBAN KABUPATEN BADUNG

UPACARA SIAT GENI DI DESA TUBAN KABUPATEN BADUNG


Oleh:
I Made Suarsana
I Wayan Rupa
I Wayan Suca Sumadi
I Gusti Ngurah Jayanti
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, dan NTT



ABSTRAK

Siat Geni merupakan salah satu bentuk ritual religius magis. Kegiatan tersebut terselenggara secara kontinyu pada setiap pujawali Puranamaning Kapat, bertempat di Pura Dalem Kahyangan desa adat Kuta. Adapun permasalahan dalam tulisan yakni melihat Bagaimana bentuk Siat, Sarana dan Prasarana apa saja yang diperlukan dalam Siat Geni serta Apa fungsi dan makna dari Siat Geni tersebut. Sedangkan tujuan dalam penulisan ini adalah mengkaji dan menganalisis serta mendokumentasikan. Dalam pembahasan dijelaskan bahwa Siat Geni merupakan rangkaian prosesi keagaamaan dalam pujawali di Pura Dalem Kahyangan desa adat Kuta. Ritual Siat Geni dilakukan sebagai pelengkap dari sistem ritual yang menjadi syarat dalam pujawali. Siat Geni dimaknai sebagai sebuah symbol permainan yang dalam dunia niskala atau di luar logika manusia adalah para Buta kala melepaskan kekuatannya yang berupa Api Ludra untuk dipersembahkan sebagai rasa bakti kepada Bhatara Dalem. Dengan pelepasan Api Ludra tersebut, diyakini segala yang berbau negatif terlebur dan dinetralisir, sehingga keseimbangan buana alit dan buana agung dapat harmonis.
Kata kunci: Pujawali, Siat Geni, dan Desa Adat Tuban.


SISTEM KEPERCAYAAN DAN KESENIAN DESA ADAT PENGLIPURAN



Disampaikan dalam Rangka siaran di RRI Denpasar
SISTEM KEPERCAYAAN DAN KESENIAN DESA ADAT PENGLIPURAN[1]
 Oleh: I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si.


I. PENDAHULUAN
Dalam perkembanganya komunitas adat di Indonesia semakin berani menonjolkan diri dan telah banyak mendeklarasikan keberadaan komunitasnya, sebagai cara untuk dapat eksis dan berkembang dan memperkenalkan corak budayanya. Masing-masing komunitas adat sudah tentu memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Keadaan ini wajar terjadi karena perbedaan ekologi maupun system kepercayaan yang dianutnya. Namun dalam mengkaji sebuah masyarakat dalam arti yang lebih sepesifik adalah kumunitas adat masih banyak yang mempertahankan ajaran-ajaran leluhurnya sebagai pola bagi kelakuan masyarakat tersebut. Di samping itu mereka banyak yang masih percaya akan kekuatan diluar kemampuan akal manusia. Salah satu cirinya sangat kental akan ritual-ritual dan sangat menonjol dalam setiap pelaksanaan kegiatan upacara pada setiap fase atau siklus hidup selalu ditandai dengan melakukan penghormatan terhadap roh leluhur.

Kepercayaan Komunitas Adat Kepercayaan Komunitas Adat Kampung Bena



Disampaikan dalam Rangka siaran di RRI Denpasar Tanggal 11 Februari 2011
Judul : Kepercayaan Komunitas Adat Kampung Bena

Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si[1].


A.  Latar Belakang Penelitian
Pada suku-suku bangsa di Indonesia, kepercayaan atau religi merupakan salah satu unsur dalam kehidupan masyarakat yang hingga kini masih eksis. Religi atau kepercayaan merupakan suatu unsur kebudayaan yang bersifat sangat abstrak, apa yang diyakini oleh masyarakat antara komunitas kebudayaan yang satu dengan  komunitas kebudayaan yang lain akan berbeda, begitu juga dalam bentuk prilaku dalam mengaktualisasikan kepercayaan yang di yakininya. Seperti halnya di Pulau Flores yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki sistem kepercayaan yang beragam baik dalam pemaknaannya maupun dalam bentuk-bentuk ritualnya. Pada masyarakat Flores dan khususnya komunitas Kampung Bena, pemujaan terhadap roh leluhur masih sangat dipelihara hingga saat ini.

Selasa, 13 November 2012

Perkawinan Pada Gelahang di Bali



Resensi Buku
Judul : Perkawinan Pada Gelahang di Bali.
Cetakan : I (Pertama) Tahun 2009
Penerbit : Udayana University Press
Pengarang: I Wayan Windia, dkk
Tebal halaman : x + 129 hlm ; 14 x 21 cm

I Gusti Ngurah Jayanti
BPNB, Denpasar

Sebagai suatu proses dalam kehidupan, tentu saja akan melewati berbagai kewajiban-kewajiban yang terkadang mutlak untuk dilakukan demi eksistensi hidupnya. Salah satu proses yang paling sering dilakukan dalam menginjak berbagai fase kehidupan adalah dengan mengadakan ritual-ritual baik adat maupun agama. Dalam kehidupan masyarakat Bali tidak dapat lepas dari dua unsur struktur tersebut. Adat merupakan wadah bagi komunitas untuk menjalankan berbagai kepentingan-kepentingan dalam kehidupan masyarakat. Karena adanya kepentingan-kepentingan tersebut, maka dalam struktur social secara khusus membuat berbagai pranata social yang nantinya dapat berfungsi sebagai wadah, mengkomunikasikan berbagai urusan baik secara internal maupun ekstrenal. Nampak bahwa perubahan yang terjadi di tengah masyarakat terjadi begitu dinamis dan mengalami dinamikanya tersendiri. Hal ini dapat dilihat seperti keberadaan desa adat dan norma-norma atau peraturannya dibeberapa wilayah telah mengalami perubahan sesuai dengan keadaan jamannya. Salah satu pranata sosial yang umum dalam masyarakat adalah lembaga yang mengesahkan seseorang menginjak ketingkat fase-fase kehidupan, dalam hal ini adalah inisiasi yang dilakukan untuk meligitimasi seseorang dalam menata kehidupannya.

Senin, 18 Juni 2012

MENGENAL PESONA WISATA FLORES TIMUR


MENGENAL PESONA WISATA FLORES TIMUR

            Flores Timur (FloTim) dengan ibu kota Larantuka, merupakan sebuah kabupaten kepualauan di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mencakup Flotim daratan, pulau Adonara dan pulau Solor. Karakter geografis ini ternyata mengandung sumber daya yang begitu kaya, berupa jejak-jejak kepurbakalaan, sejarah kebudayaan dan kesenian, flora-fauna, serta kebaharian yang padat potensi.
            Kabupaten ini secara administrasi terdiri dari 13 kecamatan dan 17 kelurahan, 198 desa, dengan jumlah penduduk 150.000 jiwa (data 2004). Umumnya masyarakat masih menggantungkan hidupnya atau bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, dengan sebagian lainnya sebagai pegawai baik pada instansi pemerintah maupun swasta, serta sebagai pengusaha diberbagai sektor kehidupan.

Kamis, 14 Juni 2012

BERLIBUR MELIHAT KOMODO


SEKILAS WISATA :
BERLIBUR MELIHAT KOMODO
Taman Nasional Pulau Komodo



Pulau komodo adalah sebuah pulau yang relative kecil dengan luas 280 km2 . Pulau ini terletak di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores. Sesuai penamaannya pulau ini dikenal dengan reftil purbanya yaitu Komodo (varanus Comodoensis) dalam bahasa setempat disebut “ora”. Komodo merupakan reftil langka yang masih ada dan diperkirakan mulai langka sehingga dijadikan binatang yang dilindungi. Komodo yang mendiami di Pulau Komodo memiliki ukuran yang bervariasi tergantung usia. Komodo bisa mencapai panjang 3 – 4 meter dan berumur setengah juta tahun yang lalu. Reftil semacam ini merupakan jenis herbifora yang memakan daging seperti hewan kambing, rusa, dan bangkai lainnya. Kelangkaan jenis binatang ini menjadi perhatian pemerintah sehingga patut dilindungi dengan undang-undang. Perhatian tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk perlindungan, Pulau Komodo menjadi Taman Nasional yang di dalamnya tidak hanya spesies komodo saja namun terdapat juga beberapa spesies langka seperti burung, rusa, babi hutan yang akan menjadi mangsa komodo.

Rabu, 16 Mei 2012

INFO SEJARAH KOTA RUTENG






Info Sejarah Kota
Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti
SEJARAH KOTA RUTENG NUSA TENGGARA TIMUR
Sejarah Kota Ruteng selama ini kurang mendapat perhatian dan seolah-olah terlantarkan. Tidak banyak yang menyadari bahwa sejarah Kota Ruteng paling unik di Nusa Tenggara Timur bahkan di segenap Indonesia, karena awal pendiriannya sinkron dengan awal administrasi kolonialisme Belanda di Manggarai. Disamping itu juga sangat erat hubungannya dengan usia perlawanan berdarah rakyat Manggarai melawan kolonealime Belanda atau pendirian administratif koloneal Belanda di Manggarai. Mengenai keunikan dan proses perlawanan sehingga terbentuknya Kota Ruteng, kemungkinan banyak yang masih tahu lewat penurunan tradisi sejarah lisan, terlebih yang masih sangat segar beredar di dalam lingkungan keluarga yang pernah terlibat dalam peristiwa bersejarah tersebut. Tetapi kepastian tahun suatu peristiwa bersejarah tidak terekam secara jelas, karena tradisi lisan sejarah di Manggarai memang hanya mementingkan unsur ceritanya, dan tidak mempunyai kebiasaan budaya dengan perhitungan kalender modern. Ketidakacuhan tentang penanggalan/tahun sangat jelas tercermin dalam kesimpangsiuran mencantumkan angka tahun dalam naskah peserta-peserta dalam “Sayembara Montang Rua”  dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 1973 di masa Bupati Frans Sales Lega. Namun secara keseluruhan gaung sayembara ini sangat berhasil menggaerahkan kembali “kesadaran harga diri kemanggaraian”. Kesadaran sejarah, baik yang bernama sejarah nasional ataupun sejarah daerah, dewasa ini menuntut kita membetulkan ketakacuhan konsepsional dan penahunan tersebut, karena tidak adanya kesadaran sejarah akan dapat berakibat hilangnya orientasi tentang identitas (harga diri) dalam pembangunan daerah. Sedangkan hilangnya kesadaran sejarah  tentang Kota Ruteng, dapat berarti atau berakibat pada hilangnya kecintaan dan “rasa memiliki” kota yang dihuni, dan ternyata dibentuk dengan mengorbankan harta, jiwa para pahlawan rakyat Manggarai beberapa tahun silam yang memang tidak mau diperintah oleh bangsa lain di negerinya sendiri (Toda, 1989: 1).     

Rabu, 25 April 2012

MENGENAL PARIWISATA MANGGARAI



MENGENAL PARIWISATA MANGGARAI
Oleh: I Gusti Ngurah Jayanti

Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian sebagai sumber devisa Negara/ daerah dan masyarakat. Sektor pariwisata mencakup berbagai bidang usah seperti : Hotel, restouran, biro perjalanan wisata, kawasan wisata, dan lain-lain. Peran pariwisata dala pembangunan secara garis besar berintikan tiga segi, yakni: segi ekonomi (kesempatan berusaha, sumber pendapatan, pajak-pajak dan lain-lain). Segi social (penciptaan lapangan kerja). Dan segi kebudayaan (memperkenalkan kebudayaan membangun citra). Sebagaiman sektor ekonomi lainya seperti industry, perdagangan, transportasi, demikianpun pariwisata mempunyai pengaruh dalam bidang social dan budaya.

Selasa, 24 April 2012

Wisata Ngada Destinasi Masa Depan

Oleh:  I Gusti Ngurah Jayanti
Potensi wisata budaya yang terdapat di kabupaten Ngada.

Nama Desa dan Potensinya di Kecamatan Aimere
No
Nama Potensi/Kampung Tradisional
Desa
Jarak
Keterangan
1
Belaraghi
Keligejo
47 km
·      Rumah Adat Ngadha
· Ngadhu (symbol leluhur laki-laki).
·  Bhaga (symbol leluhur perempuan).
·         Komplek Megalith
· Upacara-upacara tradisional
·      Permainan rakyat
·      Tari-tarian tradisional
· Berbagai ceritera rakyat
· Makanan khas tradional setempat
·     Kerajinan tangan dan industry tradisional.
·         Bahasa dialek local
· Sistem pertanian tradisional.
2
Lopi Jo
Keligejo
50 km
Sama dengan kampung di atas.
3
Watu
Sebowuli
65 km
Sama dengan kampung di atas.
4
Maghilewa
Inerie
63 km
Sama dengan kampung di atas.
5
Jere
Inerie
61 km
Sama dengan kampung di atas.
6
Sewowoto
Waebela
70 km
Sama dengan kampung di atas.
7
Delawawi
Waebwla
73 km
Sama dengan kampung di atas.
8
Leke
Sebowuli
64 km
Sama dengan kampung di atas.

KAMPUNG TRADISIONAL BENA
A.    Kondisi Objek dan Geografinya
Bena adalah sebuah kampung tradisional lengkap dengan peninggalan kompleks megalithnya yang berada di desa Tiwotiwu kecamatan Aimere kabupaten Ngada. Kampung ini terletak di atas sebuah bukit kecil dikelilingi jurang-jurang yang terjal yang berdampingan dengan sebuah gunung yang cukup dikenal yaitu Inerie.

Penduduk kampung Bena terdiridari 9 sub klen yang dalam bahasa setempat disebut “Woe”. Masing-masing Woe (sub klan) memiliki rumah adat. 9 Woe Woe (sub klan) adalah: Bea, Deru Ka’e, Deru Azi, Wato, Dizi Ka’e, Ago, Ngadha, dan Kopa.
Kampung Bena Nampak bertingkat-tingkat/ berundak-undak yang disusun  dari Batu. Tiap tingkat memiliki pelataran yang disebut “loka”. Tiap loka dimiliki oleh sub klan tertentu yang mengakibatkan nama tertentu juga: Loka Dzi Ka’e (A), Loka Deru Ka’e (A) Loka Deru azi (B), Loka Dezi Azi (B), Kopa, Loka Bena, dan Loka yang paling tinggi adalah Loka Ago an Ngadha.

Sesuai dengan klan yang ada yakni Sembilan, begitu juga dalam tempat tinggalnya (rumah tradisional) terdapat Sembilan pasang. Sembilang dianggap angka yang sacral. Rumah dibagi ke dalam dua tipe yakni saka puu dan saka lobo dan keduanya berdampingan sebanyak Sembilan pasang.

Potensi dan Atraksi di kampung Bena
  1. Rumah Adat
Di dalam Woe dibagi dua kelompok yaitu Saka Pu’u dan Saka Lobo. Woe diibaratkan desagai pohon yang terdiri dari Pu’u (pangkal) dan Lobo (ujung). Masing-masing kelompok memiliki rumah adat yakni : Sao Saka Pu’u (leluhur perempuan) dan Sao Saka Lobo (leluhur Laki-laki).


  1. Ngadhu
Berupa satu tiang kayu bercabang dua paa ujungnya diberikan atap ijuk dan alang-alang berbentuk kerucut. Bangunan ini melambangkan leluhur laki-laki dan ditempatkan di tengah kampung.          
  1. Bhaga
Bentuknya menyerupai rumah adat tetapi berukuran kecil dengan satu ruang (1x2 meter). Bhagasebagai lambang leluhur perempuan, letaknya mengadap pintu masuk kampung. Ngadhu dan Bhaga letaknya berhadapan dan diberi nama pendiri Woe.


Selasa, 14 Februari 2012

JOURNAL: KEUNIKAN BUDAYA SUMBA

INFO BUDAYA
oleh: I Gusti Ngurah Jayanti

Salah satu sub budaya yang ada di wilayah timur Indonesia adalah Budaya Sumba. Yang paling terkenal dan kontinyu dilakukan adalah upacara ritual berkaitan dengan Pasola. berikut akan disajikan gambar-gambar rangkaian kegiatan Pasola di Sumba.
Seorang Peserta Pasola
Persiapan dalam rangkaian acara Pasola
Para tokoh masyarakat adat telah datang pertanda dimulainya upacara Pasola

Senin, 13 Februari 2012

TENUN IKAT ENDE NTT

Berbagai motif kain tenun ikat Ende, Nusa Tenggara Timur.
Oleh:
I Gusti Ngurah Jayanti

Kain Tenun Ikat tersebut merupakan corak dari adaptasi alam yang sebelumnya masih menggunakan pewarna alami atau dari getah-getah kayu. Namun belakangan ini karena sulitnya mencari bahan pewarna maka masyarakat mulai memanfaatkan pewarna modern. Namun corak dan motif dalam kain tenun ikat tersebut masih tetap dipertahankan. Sebagai gambaran dari corak kain tenun ikat Ende dapat dilihat dalam gambar-gambar dibawah ini. Mudah-mudahan ini dapat menjadi perkenalan, corak budaya kain tradisional Indonesia.

Sabtu, 28 Januari 2012

SELAYANG PANDANG KABUPATEN SIKKA


Oleh : 
I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos., M.Si.

1.  Kondisi Geografis
Secara geografis, luas wilayah Kabupaten Sikka 7.553, 24 Km² terdiri atas luas daratan (Pulau Flores) 1.731,91 Km² dan luas lautan 5.821,33 Km². kabupaten Sikka terletak di antara 8”22 sampai dengan 8”50 derajat Lintang Selatan dan 121”55’40” sampai 122”41’30” Bujur Timur. Di sebelah timur, kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Flores Timur, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ende, di sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Sawu.

Sabtu, 31 Desember 2011

SELAMAT TAHUN BARU 2012

Pulau Bali menjelang detik-detik pergantian tahun baru menuju tahun 2012 menjadi ajang pertempuran kembang api diberbagai tempat, baik di plosok desa maupun perkotaan. Diperkirakan dari fakta yang terlihat bahwa ribuan kembang api dan mercon telah mewarnai jalannya pesta pergantian tahun yang tinggal 15 menit lagi. Bila dihitung secara ekonomis, kemungkina telah berapa meliar uang telah terbakar diudara. kini saatnya para pedanggang kembang api dan mercon panen rejeki. Dampak dari ribuan kembang api yang terbakar diudara, membuat langit Bali menjadi gelap karena asap dari kembang api tersebut. Setiap jengkal jalan di sepanjang kota Denpasar berjejer pedagang kembang api dan mercon.
Slamat tahun baru 2012 semoga pesta ini tidak hanya menjadihttp://draft.blogger.com/blogger.g?blogID=1068876981338935159#editor/target=post;postID=3930247811397409392 glamor kemeriahan materi semata namun pergantian tahun menjadi refleksi bagi kita semua untuk mengamalkan kebaikan dan kebajikan di bumi ini. Semoga kedamaian dunia ini terwujud dan tidak ada perang maupun kekerasan diberbagai negara.

Salam hangat dari Redaksi Varian Wisata Budaya Sunda Kecil.

Jumat, 16 Desember 2011

BUDAYA POPULER SEBAGAI KOMUNIKASI: DINAMIKA POPSCAPE DAN MEDIASCAPE DI INDONESIA KONTEMPORER



Penulis: Idi Subandy Ibrahim
Penerbit: Yogyakarta: Jalasutra
Cetakan: Pertama
Tahun: Desember 2007
Tebal dan Ukuran Buku: xxxii +379 hlm.; 18,5 × 23

Oleh :
I Gusti Ngurah Jayanti


Dalam pengaruh perkembangan globalisasi dan modernisasi hampir semua ranah dan ruang kehidupan menjadi tanpa sekat dan hampir sebagian tersaji dalam ranah publik. Ini sangat terasa karena komunikasi yang tercipta begitu cepat dan instan memasuki kehidupan masyarakat dunia. Istilah “globalisasi” diciptakan untuk menggambarkan ruang lingkup perkembangan-perkembangan yang sedang terjadi dalam komunikasi dan kebudayaan (Featherstone dalam Lull, 1998:178). Hal ini bisa terjadi karena komunikasi virtual telah memasuki seluruh area atau ruang dunia yang tanpa batas. Keadaan ini terjadi terutama pada masyarakat pedesaan maupun perkotaan yang telah terpengaruh oleh keadaan modernitas. Bagaimanapun pengaruh media membawa dampak yang luar biasa terhadap perubahan prilaku masyarakat yang dalam kata lain telah mempengaruhi kebudayaan dalam arti luas. Pada masyarakat perkotaan misalnya, sudah sangat inten menghadapi media, baik media masa maupun media elektronik seperti televisi maupun Internet yang belakangan ini telah memasuki ranah privasi. Media internet sebagai contoh dapat dikatakan telah menjadi kebutuhan dalam pola pergaulan dengan jejaring sosialnya. Dunia terasa ada dalam genggaman. Dalam dunia maya seperti ini setiap orang bebas bermain ‘tanda’ dan sesukanya merubah ‘makna’ sesuai kehendak. Inilah budaya populer yang sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia yang kontemporer. Tanda merupakan suatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita; tanda mengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri; dan bergantung pada pengenalan oleh penggunanya sehingga disebut tanda (Fiske, 2007:61). 

KERAJINAN TRADISIONAL PERAK DAN KUNINGAN DI DESA KAMASAN DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF BERBASIS BUDAYA BALI


Kerajinan Tradisional Perak dan Kuningan
di Desa Kamasan
Dalam Pengembangan Industri Kreatif
Berbasis Budaya Bali





ABSTRACT
This research aims to reveal the kinds of silver and brass handicrafts, production and distribution in Kamasan village which still exist, moreover to understand the function and value of silver and brass crafts in Kamasan village based Balinesse culture. This study uses depth interviews and observation techniques to collect the data, then data analysis used the technique of qualitative analysis. Silver and brass crafts in Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung produce various kinds of handicrafts such as: bokor, batil (the container of holy water), dulang (the offerings place), caratan (place of holly water (ketle) and many others depend on costumer orders. The crafts are made of silver and brass by the craftsmen in Kamasan village has economic function, social function, cultural function and also contains religious values, spiritual values and aesthetic values.
Keywords: craft, function, value

Kamis, 24 November 2011

Tenun Ikat So'E dan Varian Motifnya

Salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia adalah hasil karya yang berupa kain tenun ikat. Kain tenun ikat, So'E tentu saja memberikan warna tersendiri terhadap warisan budaya dunia. Motif yang beragam menjadikan kain tenun ikat So'E memiliki identitasnya tersendiri. Tenunanya masih bersifat tradisional dan dikerjakan dengan manual.
Adapun Jenis dan corak dari tenun ikat So'E dapat dilihat sebagai berikut.

Kamis, 03 November 2011

KEGIATAN PERKUMPULAN BALI DARMA LAKSANA PADA MASA KOLONIAL


PADA MASA KOLONIAL


I Gusti Ngurah Jayanti

ABSTRAK
Perkembangan pendidikan masa kolonial di Bali sangat di pengaruhi oleh  perkembangan pendidikan di Pulau Jawa. Pemuda-pemuda Bali yang memiliki semangat untuk mengenyam ilmu pengetahuan banyak yang bersekolah di Jawa.Pemuda-pemuda Bali yang telah menempuh pendidikan inilah mulai mengembangkan pendidikan modern di Bali. Para pemuda banyak mewadahi dirinya dengan mendirikan perkumpulan yang salah satunya terbentuk adalah perkumpulan Bali Darma Laksana (BDL). BDL memfokuskan arah perjuangannnya dengan melakukan pencerdasan terhadap masyarakat untuk setidaknya mulai menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Disinilah BDL dalam aktifitasnya melakukan gerakan kemasyarakat Bali mengajak agar orang tua mau menyekolahkan anak-anaknya. BDL juga membuka kursus-kursus gratis kepada masyarakat. Selain itu menerbitkan sebuah majalah Djatajoe untuk memberikan penerangan dan pemikiran terhadap masyarakat khusunya di Bali.
Kata Kunci: Perkembangan Pendidikan, Bali Darma Laksana, dan kolonial.

ABSTRACT
Education development in colonial era in Bali is very influenced by the education development in Java. A lot of Balinese young men who have passion to received knowledge got his school in Java. Those Balinese youths who had education began to develop modern education in Bali. The young men accommodate themselves by founding a lot of associations and one of those associations is Bali Darma Laksana (BDL). The struggle of BDL focused to educate the society at least begins to raise awareness in the importance of education. BDL did Balinese social movement to invite Balinese parents should send their children for school. BDL also opened free courses to the public. Moreover it also published Djatajoe magazine to provide information and consideration to the society especially in Bali
Keywords: Education Development, Bali Darma Laksana, and colonial.